Arsip Blog

Penyusunan Bacaleg Sarat Nepotisme


Partai politik masih menerapkan politik dinasti saat ini. Di Pemilu 2014, sejumlah parpol mengajukan bakal caleg (bacaleg), yang memiliki hubungan kekeluargaan.
Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formapi) mencatat ada 5 parpol yakni GambarDemokrat, Golkar, PPP, Gerindra dan PAN, yang mengajukan bakal caleg memiliki hubungan kekeluargaan seperti suami-istri dan bapak-anak.
Dari 5 parpol, Demokrat yang paling banyak dengan mengajukan 6 bakal caleg suami istri. “Ini menggambarkan dua hal, satu parpol cenderung menjadi milik segelintir elite atau keluarga tertentu dan kedua cermin mandegnya proses rekrutmen sehingga tanpa selektif semua dimasukkan,” kata Koordinator Formapi, Sebastian Salang dalam jumpa pers di sekretariatnya Jalan Matraman, Jaktim, Minggu (28/4).
Selain adanya sejumlah ambisi elite partai yang ingin membangun dinasti pada partai yang dipimpinnya, seperti terlihat paling mencolok di tubuh Partai Demokrat ; Ketua Umum DPP dijabat Susilo Bambang Yudhoyono (Bapak) dan Sekjen dijabat Edhy Baskoro Yudhoyono (anak).
Selain nuansa dinasti, penyusunan nama-nama bacaleg juga sarat dengan nepotisme. Karena kuatnya pengaruh nepotisma itu, elite partai kemudian lebih mengedepankan saudara atau teman akrab berdasarkan kualitas kedekatan hubungannya, dan bukan berdasarkan kompetensinya.
Tidak heran, jika pasca penyusunan nama-nama bacaleg tersebut, kemudian muncul berbagai kekisruhan di internal partai. Kisruh yang terjadi tidak lagi hanya sekadar memrotes kebijakan elite partai, bahkan ada pula sampai melakukan tindakan perusakan kantor partai, seperti melanda DPC PDIP Langkat.
Memang lazimnya dalam berpartai, sejak dahulu para pengurus dan kader parpol, dalam kiprahnya hampir selalu mengutamakan kepentingan di atas segalanya. Demi kepentingan, semuanya seolah siap dinafikan dan dikorbankan. Karenanya, benar ungkapan yang menyebut, tidak ada teman/ musuh yang abadi di wilayah politik.
Namun, dalam konteks pendidikan politik dan penguatan kualitas demokrasi di tanah air, nepotisme dalam penyusunan bacaleg, jelas tidak bisa ditolerir. Silahkan saja memasukkan keluarga dan teman, menjadi caleg, tapi hal itu hendaknya tetap didukung kompetensi yang bersangkutan. Penyusunan bacaleg, tetaplah harus objektif, rasional dan menghormati fatsun dalam berpolitik…!(**)