Arsip Blog

Rakyat pun Kehilangan Nurani


your_money_your_voteJelang Pemilu, rakyat pun ikut terkontaminasi dan kehilangan nurani ? Ahhhh…..masya’ ?  Kalau tak percaya, tanyakanlah hal itu kepada para caleg.

Para caleg  yang kini pontang-panting dan ngos-ngosan itu, pasti akan berkata senada. Mereka kerap bingung memahami apa maunya rakyat. Seperti halnya janji politisi dan pejabat yang banyak isapan jempol, caleg juga tak lagi mudah percaya pada janji-janji rakyat.

Rakyat pun bisa disebut telah kehilangan nurani. Sebab tatkala caleg menawarkan visi-misinya, mereka tak peduli soal itu. Mereka lebih peduli dengan komitmen nyata sang caleg, yang ditandai dengan adanya pemberian bantuan langsung tunai.

Cilakanya hal itu dipertontonkan secara terbuka. Misalnya, ketika caleg A datang, rakyat meminta bantuan memperbaiki jalan. Bantuan pun diberikan. Hari berikutnya caleg B datang ke tempat yang sama,  mereka minta dana pembangunan masjid, juga diberikan. Selanjutnya caleg C datang, diminta  membeli peralatan olahraga, sang caleg juga memenuhinya. Ketika  semua caleg menyanggupi, lalu siapa yang bakal dicontreng ?

Bukan itu saja, rakyat yang ditemui juga tak sungkan-sungkan menegaskan, dirinya tidak akan mau memberikan dukungan, jika tidak ada kejelasan (uang) buat mereka. Ada pula yang mengklaim, mampu menggaransi akan menyumbangkan 5 ribu suara, kalau disediakan uang sekian-sekian.

Wooow…..semakin mengerikan dan memprihatinkan. Jelang Pemilu, saat para caleg sangat membutuhkan dukungan suara. Rakyat pun mengambil peluang. Seolah-olah caleg dianggap sebagai gudang uang. Caleg kini jadi semacam ‘sapi perahan’.

Ketika rakyat pun kehilangan nurani. Dan menjadikan Pemilu legislatif sebagai ajang mengeruk keuntungan (materi) sebanyak-banyaknya serta mencontreng caleg, hanya karena iming-iming uang.

Dapat dipastikan Pemilu legislatif nanti tetap akan menghasilkan para politisi busuk dan oportunis, yang selanjutnya akan berupaya sekuat tenaga mengembalikan modal pencalegannya yang sudah banyak tersedot akibat ulah oknum rakyat, yang telah kehilangan hati nurani itu… !

Iklan

Tertawa Dulu, Nangis Kemudian


Dalam menjalani kehidupan nan serba temporer dan tak ada apa-apanya dibanding kehidupan abadi kelak di akhirat,  kita sering tak menyadari atau bahkan dengan sengaja, telah melakoni sebuah pilihan keliru.

Pilihan keliru dimaksud ialah sangat ingin dan bersemangat meraih kesuksesan serba instan serta melakukan segala cara supaya bisa menikmati kemewahan. Alhasil disadari atau tidak, kita telah memilih tertawa atau larut dalam gembira-ria terlebih dahulu, baru menangis kemudian.

Seseorang yang sedari awal menyadari, dirinya tak punya basis massa yang signifikan, tetapi ngotot mencalonkan diri menjadi kandidat kepala daerah. Ujungnya seperti sudah ditebak, dia menuai kekalahan telak….tabungan ludes….utang di sana-sini, keharmonisan rumahtangga pun terganggu. Orang seperti ini juga lebih memilih tertawa dulu, menangis kemudian.

Para caleg yang saat ini diliputi kegembiraan dan optimisme berlebihan karena memperoleh nomor urut 1, pada sekitar Juni 2009 mendatang, kita akan sama-sama menyaksikan akan sangat banyak para caleg itu ‘menangis berjemaah’.

Mereka menangisi dan meratapi nasib sialnya, karena telah rela menjual mobil, sepeda motor, dan mengutang sana sini, demi membiayai keperluannya sebagai caleg. Tapi kursi yang diimpikan tak berhasil didapat. Para caleg yang gagal, ujungnya tak cuma sekadar menangis,  bisa jadi akan ikut tertawa juga, mereka tertawa-tawa, tertawa terusss….seorang diri !

Orang yang sudah berumahtangga, tiba-tiba terlibat dalam perselingkuhan, termasuk dalam kategori tertawa dulu, nangis kemudian. Sebab perselingkuhan lazimnya bisa menimbulkan perceraian bahkan pembunuhan.

Ketika palu perceraian diketok, barulah air mata mengalir bercucuran. Tak kuasa membayangkan derita akan segera berpisah dengan anak-istri, yang sebetulnya teramat sangat disayanginya.

Dalam hal ini King of Dankduth Rhoma Irama benar sekali saat bersenandung dalam bait lagunya, “Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga, sungguh berat hati ini, kehilangan dia”

Begitulah manusia, setelah kehilangan seseorang, barulah muncul penyesalan sangat mendalam. Setelah dirinya tiada, kita senantiasa teringat semua kebaikan serta sejuta kenangan indah kala bersamanya.

Kalau tak ingin tertawa dulu, nangis kemudian, seperti dialami anggota DPR-RI Hamka Yandhu, Max Moein, Al-Amin Nasution, Walikota dan Wakil Walikota Medan Abdillah-Ramli, si tukang jagal Ryan, dan lainnya…..hal yang perlu dilakukan, tiada lain senantiasa mensyukuri nikmat yang diberikanNya serta tak terlalu ngoyo dan ambisius menjalani kehidupan.

Dan satu hal yang lebih penting lagi, rajin-rajinlah bercermin. Dengan sering memandang dan menelanjangi diri sendiri di depan cermin, lambat laun akan muncul kesadaran tentang kelemahan dan kelebihan diri kita sendiri.

Kesadaran tentang jatidiri niscaya akan membuat kita selalu mawas diri dan selalu tahu persis kapan saatnya untuk tertawa serta tak pernah terkejut bila tiba saatnya menangis.