Arsip Blog

From Politisasi to Implementasi


setno-trumpWakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, ada pihak yang sengaja menggiring isu pertemuan Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon dengan bakal calon presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ke arah pergantian kursi pimpinan DPR.
Fahri mempersilakan jika ada pihak-pihak yang ingin mengambil kursi pimpinan yang kini ia duduki.”Siapa yang mau ambil kursi saya? Ambil ! Jijik deh saya. Biarlah buka pintu, ambil saja,” kata Fahri di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (8/9).
Terlepas dari ada atau tidak, manfaat pertemuan antara pimpinan DPR dengan capres independen USA, Donald Trump. Namun, yang pasti tanggapan berbagai pihak, utamanya para politisi di DPR-RI sendiri dan sejumlah pengamat, lebih menjurus pada adanya upaya politisasi.
Sangat menggelikan jika pertemuan dengan Donald Trump tersebut, sampai dibawa ke Majelis Kehormatan Dewan (MKD) dan mengarah pula pada keinginan melakukan kocok ulang pimpinan dewan segala. Padahal, pertemuan itu hanya biasa-biasa saja, dan sama sekali tidak ada implikasi politiknya bagi Pilpres di negerinya Paman Sam tersebut.
Karena itu, sangat arif wicaksono pernyataan Wapres Jusuf Kalla saat dimintai tanggapan soal pertemuan Setya Novanto dkk dengan Donald Trump. Kalla menilai, merupakan suatu hal yang wajar, jika seorang politikus seperti Setya Novanto dan Fadli Zon, berkawan dengan politikus negara lain.
Nah, dalam hal ini kita hendak menekankan, agar para politisi, pengamat, dan media di negeri hendaknya bisa mengubah mind-set serta berpindah haluan : from politisasi to implementasi. Tak elok jika semua permasalahan yang sejatinya remeh-temeh, selanjutnya dibesar-besarkan dan membuat seseorang menjadi pihak yang harus dicap telah melakukan kesalahan.
Kecenderungan melakukan politisasi terhadap berbagai persoalan di negeri ini, sepertinya telah menjadi sebuah pembenaran, belakangan ini. Akibatnya, kegaduhan politik antarelite seolah tidak pernah berhenti, yang notabene merugikan bangsa kita secara keseluruhan, di tengah ancaman krisis ekonomi, yang belum ditemukan obat mujarab untuk mengatasinya.
Dalam hal ini, kita ingin mengingatkan semua pihak di negeri ini, hendaknya tidak lagi sibuk melakukan manuver dan politisasi, melainkan lebih mengarah pada upaya meningkatkan implementasi kinerja sesuai dengan bidang tugas masing-masing, sehingga terlihat kontribusi nyata untuk negeri ini.
Dominasi politisasi selain menguras energi, juga akan membuat jalinan antarelite akan terus tercabik-cabik, sehingga masing-masing pihak terus terlibat dalam manuver saling intai, sehingga kegaduhan politik tidak pernah mereda.
Di tengah situasi perekonomian bangsa yang semakin sulit dan ancaman PHK (pengangguran) meruyak di seantero negeri, seharusnya elite politik dan petinggi pemerintahan, tidak lagi berbicara atas nama kepentingan kelompok. Semua harusnya berpikir dan bertindak untuk dan demi kepentingan bangsa. Hal ini hanya bisa dilakukan, jika ada kesadaran untuk hijrah, from politisasi to implementasi. (**)