Category Archives: Uncategorized

Semoga Klopp, Klop untuk The Kop


Seperti yang sudah ramai diberitakan selama sepekan ini, Liverpool akhirnya meresmikan pengangkatan Juergen Klopp sebagai manajer barunya menggantikan Brendan Rodgers.
“Liverpool Football Club dengan bangga mengumumkan Juergen Klopp telah ditunjuk sebagai manajer baru klub ini,” demikian pernyataan resmi The Reds di Anfield, Jumat (9/10).juergen-klopp-fc-liverpool
Tidak disebutkan durasi kontrak yang diberikan oleh Manajemen Liverpool, namun media-media Inggris menyebut Klopp akan berada di Anfield selama tiga tahun.
Penunjukan Juergen Klopp memang sejalan dengan harapan banyak kalangan, terutama para Liverpudlian serta pesepakbola legendaris yang pernah membela The Reds, semisal Dietmar Hamann, Robbie Fowler, Michael Owen, Jamie Carragher, dan lainnya.
Harus diakui catatan prestasi ditorehkan Klopp selama menjadi pelatih, luamayan menjanjikan. Klopp misalnya mampu membawa klub semenjana, Mainz promosi ke Bundesliga Jerman.
Sementara, selama menukangi Borussia Dortmund, Klopp sukses meruntuhkan dominasi Bayern Muenchen dan berhasil meraih dua trofi Bundesliga, satu trofi DFB-Pokal, dua Piala Super Jerman, dan finalis Liga Champions 2013.
Mencermati curriculum vitae-nya tersebut, wajar memang muncul harapan besar para penggemar Liverpool, di bawah racikan taktik dan strategi Juergen Klopp, The Reds akan kembali menorehkan prestasi gemilang seperti era keemasannya, pada 70 hingga 80-an.
Begitupun, tetap saja harus dimunculkan pertanyaan, benarkah Klopp akan klop untuk menangani The Reds. Benarkah di tangannya, tim legendaris Liverpool itu akan kembali berjaya di Inggris dan Eropa ?
Melihat pengalaman melatih Klopp yang hanya berkutat di tanah kelahirannya, Jerman, memang wajar pula jika terdapat sebahagian kalangan, yang meragukan Klopp bakal benar-benar klop untuk membangkitkan kejayaan The Reds.
Seharusnya, jika petinggi Liverpool ingin memperoleh prestasi instan, pilihan mestinya tertuju pada sosok Carlo Ancelotti, yang dalam karier kepelatihannya selalu sukses memberikan trofi kepada klub besutannya, termasuk saat melatih klub Inggris yang kini tengah terpuruk, Chelsea.
Tetapi, jika pemilik dan manajemen Liverpool ingin meraih kesuksesan by process serta mengasah potensi para pemain muda, maka pilihan terhadap Juergen Klopp memang sudah klop. Artinya, para Liverpudlian haruslah memiliki kesabaran, dan jangan berharap Klopp akan segera memberikan trofi pada tahun pertama kepelatihannya.
Namun, melihat durasi kontrak yang cuma tiga tahun. Hal itu bermakna, pada tahun kedua dan ketiga, Klopp sudah harus membuktikan kinerjanya, dengan adanya raihan trofi kepada para fans dan pemilik Liverpool.
Waktu yang dimiliki Juergen Klopp untuk membenahi Liverpool, memang tidaklah lama. Tetapi, jika dia benar-benar piawai dalam meramu taktik, tiga tahun merupakan waktu yang cukup baginya untuk memperlihatkan bukti kepiawaiannya.
Semoga pilihan terhadap Klopp, benar-benar klop untuk The Kop (nama julukan markas Liverpool di Anfield). Jika sampai Klopp tak juga klop, berarti bukan pelatihnya yang salah. Bisa jadi, Liverpool-nya yang tengah dilanda kesialan berkepanjangan atau tidak lagi dilindungi Dewi Fortuna.(**)

From Politisasi to Implementasi


setno-trumpWakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, ada pihak yang sengaja menggiring isu pertemuan Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon dengan bakal calon presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ke arah pergantian kursi pimpinan DPR.
Fahri mempersilakan jika ada pihak-pihak yang ingin mengambil kursi pimpinan yang kini ia duduki.”Siapa yang mau ambil kursi saya? Ambil ! Jijik deh saya. Biarlah buka pintu, ambil saja,” kata Fahri di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (8/9).
Terlepas dari ada atau tidak, manfaat pertemuan antara pimpinan DPR dengan capres independen USA, Donald Trump. Namun, yang pasti tanggapan berbagai pihak, utamanya para politisi di DPR-RI sendiri dan sejumlah pengamat, lebih menjurus pada adanya upaya politisasi.
Sangat menggelikan jika pertemuan dengan Donald Trump tersebut, sampai dibawa ke Majelis Kehormatan Dewan (MKD) dan mengarah pula pada keinginan melakukan kocok ulang pimpinan dewan segala. Padahal, pertemuan itu hanya biasa-biasa saja, dan sama sekali tidak ada implikasi politiknya bagi Pilpres di negerinya Paman Sam tersebut.
Karena itu, sangat arif wicaksono pernyataan Wapres Jusuf Kalla saat dimintai tanggapan soal pertemuan Setya Novanto dkk dengan Donald Trump. Kalla menilai, merupakan suatu hal yang wajar, jika seorang politikus seperti Setya Novanto dan Fadli Zon, berkawan dengan politikus negara lain.
Nah, dalam hal ini kita hendak menekankan, agar para politisi, pengamat, dan media di negeri hendaknya bisa mengubah mind-set serta berpindah haluan : from politisasi to implementasi. Tak elok jika semua permasalahan yang sejatinya remeh-temeh, selanjutnya dibesar-besarkan dan membuat seseorang menjadi pihak yang harus dicap telah melakukan kesalahan.
Kecenderungan melakukan politisasi terhadap berbagai persoalan di negeri ini, sepertinya telah menjadi sebuah pembenaran, belakangan ini. Akibatnya, kegaduhan politik antarelite seolah tidak pernah berhenti, yang notabene merugikan bangsa kita secara keseluruhan, di tengah ancaman krisis ekonomi, yang belum ditemukan obat mujarab untuk mengatasinya.
Dalam hal ini, kita ingin mengingatkan semua pihak di negeri ini, hendaknya tidak lagi sibuk melakukan manuver dan politisasi, melainkan lebih mengarah pada upaya meningkatkan implementasi kinerja sesuai dengan bidang tugas masing-masing, sehingga terlihat kontribusi nyata untuk negeri ini.
Dominasi politisasi selain menguras energi, juga akan membuat jalinan antarelite akan terus tercabik-cabik, sehingga masing-masing pihak terus terlibat dalam manuver saling intai, sehingga kegaduhan politik tidak pernah mereda.
Di tengah situasi perekonomian bangsa yang semakin sulit dan ancaman PHK (pengangguran) meruyak di seantero negeri, seharusnya elite politik dan petinggi pemerintahan, tidak lagi berbicara atas nama kepentingan kelompok. Semua harusnya berpikir dan bertindak untuk dan demi kepentingan bangsa. Hal ini hanya bisa dilakukan, jika ada kesadaran untuk hijrah, from politisasi to implementasi. (**)

‘Mengasapi’ Penyebar Asap


Kepala Staf Presiden Teten Masduki menanggapi beredarnya kabar Komunitas Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) yang mengirim surat ke Perdana Menteri Nazib Razak dan meminta Malaysia turun tangan menangani masalah asap di Riau. Menurut Teten, saat ini pemerintah terus berusaha agar masalah tersebut cepat selesai.HL-3
“Pemerintah sedang dan terus berusaha, Presiden sudah panggil seluruh kementerian terkait, Panglima, Kapolri dan pemerintah daerah untuk koordinasi tanggulangi asap ini,” kata Teten saat akan mengantar Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Riau di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (6/9).
Teten menyebut Jokowi telah meminta aparat terkait untuk terus mencari apa penyebab terjadinya kebakaran. Jika ada oknum yang melakukannya dengan sengaja, maka pelakunya akan dibawa ke ranah pidana.
Dampak penyebaran asap akibat pemkabaran hutan, yang kabarnya berasal dari Provinsi Riau dan Jambi, tidak saja potensial menimbulkan timbulnya penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).
Serbuan kabut asap yang melanda hampir semua daerah di Sumatera Utara khususnya, juga telah membuat kenyamanan masyarakat terganggu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Termasuk membuat sejumlah penerbangan di Bandara Kuala Namu International Airport (KNIA), terpaksa dibatalkan.
Dengan kata lain, multiplier effeck yang ditimbulkan kabut asap itu, telah bersifat sistemik dan massif. Karenanya, sangat wajar jika pemerintah, dalam hal ini aparat penegak hukum segera ‘mengasapi’ (menindak tegas) para pelaku pembakaran hutan tersebut.
Seperti diketahui, pembakaran hutan khususnya di daerah Riau, sudah berulangkali terjadi dan menimbulkan serbuan kabut asap yang menyebabkan tak saja seluruh masyarakat Sumut menderita, melainkan juga berdampak pada masyarakat di negeri jiran kita.
Tentu, negeri jiran wajar merasa geram dan kecewa dengan pemerintahan kita, yang dinilai tidak becus dan kurang cepat mengasapi (memberangus) para pelaku pembakaran lahan/ hutan, yang tidak bertanggungjawab tersebut.
Nah, dalam hal ini kita menunggu realisasi ketegasan pihak pemerintah sebagaimana disebutkan Teten Masduki di atas, bahwa Presiden Jokowi sudah memanggil kementerian terkait, untuk secepatnya menuntaskan permasalahan asap itu.
Jika pihak berkompeten khususnya jajaran kepolisian mau bertindak tegas dan cepat, dipastikan akan dengan mudah, mengendus para pelaku di balik meruyaknya kabut asap tersebut, sekaligus segera mengasapinya, supaya tidak lagi mengulangi perbuatan serupa di kemudian hari. Ditunggu…!(**)

Prediksi Meleset, Sinabung Meletus


Gunung Sinabung T Karo meletus

Melesetnya perkiraan dan analisis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Dinas Pertambangan dan Energi Sumut, yang menyebutkan Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo Sumatera Utara dalam kondisi aman, membuat warga Kecamatan Naman Teran dan Payung menjadi panik dan merasa tidak aman.
Penetapan status ‘B’ gunung berketinggian 2.460 meter itu, yang semula digembar-gemborkan tidak akan meletus, ternyata sangat jauh dari fakta di lapangan. Terbukti, Minggu (29/8) pukul 00.15 WIB dinihari gunung meletus dan mengeluarkan lava dan kabut disertai abu.
“Kita meminta ahli Vulkanologi, Mitigasi Bencana Geologi untuk melakukan penelitian dan terus mengawasi Gunung Sinabung itu. Bila akan ada lagi letusan yang lebih besar diharapkan segera menginformasikannya kepada masyarakat agar tidak ada korban jiwa. Melesetnya perkiraan dikeluarkan BMKG sangat kita sesalkan, untung saja warga setempat sudah banyak mengungsi,”ujar warga di sekitar Gunung Sinabung yang kini dalam lokasi pengungsian.
Kita berharap ke depan, seluruh institusi yang berwenang dalam hal ramalan tentang gempa dan gunung meletus serta bencana lainnya, hendaknya benar-benar bekerja serius dan tidak lagi menyajikan ramalan yang melenceng.
Di sisi lain, meletusnya Gunung Sinabung di bulan suci Ramadhan sungguh mengejutkan dan memprihatinkan. Dalam konteks ini, para elite penguasa di negeri ini sudah seharusnya melakukan introspeksi : mengapa bencana terus terjadi melanda bangsa ini ?
Jelas, hal ini tidak semata-mata sebagai sebuah fenomena alam, melainkan terdapat causalitas serta konsekuensi dari kebijakan negara dalam memenej alam serta lingkungan kita selama ini. Bencana juga merupakan isyarat dari Allah bahwa manusia banyak melakukan dosa di dunia ini. Bencana Sinabung cerminan hal itu juga.
Begitu banyaknya pengungsi akibat letusan Gunung Sinabung yang jumlahnya mencapai 30.000 jiwa, membuat seluruh lokasi penampungan penuh. Sebagian pengungsi pun kesulitan mendapatkan tempat beristirahat malam dan mulai terserang berbagai penyakit.
Agar musibah dan berbagai bencana tidak terus melanda negeri kita, sudah sepatutnya kita semua selalu melakukan introspeksi, termasuk introspeksi agar tidak salah melakukan prediksi serta menumbuhkan kesadaran, agar semua kita, utamanya para elite pemimpin bangsa, semakin mampu melindungi rakyatnya dari berbagai ancaman bencana.

Tak Jua Berubah….!


Di sana banjir, di sini digusur. Derita menimpa, bencana terus melanda, korupsi pun masih marak di mana-mana. Pejabat hidup nikmat, rakyat kecil tetap melarat….sekarat….!

Musim kampanye, mengumbar janji….., slalu peduli pada anak negeri. Saat kursi/ jabatan didapat, janji pun tak lagi diingat…..! Mereka asik sendiri, tak cuma lupa pada rakyat sendiri, bahkan abai pada anak-bini…..!

Wakil rakyat bicara penuh semangat, hasilnya…. rakyat tetap tengkurap. Mereka bicara keras soal Century, tapi semua tetap misteri, dan tak terungkap hingga kini…..

Negeri ini, doeloe dan kini tak jua berubah. Reformasi berjalan setengah hati. Banyak diskusi, miskin solusi. Hebat berterori, lemah antisipasi…..!

Pemimpin tak jua berubah. Tebar pesona ke mana-mana, kesejahteraan hanya sekadar wacana. Kemakmuran pun berhenti sebatas asa, tak kunjung terasa….!

55 tahun negeri ini merdeka sudah, sayangnya mereka tak jua berubah. Yang kaya makin kaya, warga desa tetap menderita. Banjir terus melanda, mati lampu setiap hari menimpa.

Negeri ini tak jua berubah…..,kalangan elit tetap sedikit. Yang pongah tak pernah berubah, selalu sumringah…serakah. Dan……rakyat cuma bisa berkeluh kesah, gelisah, gerah, pasrah……, entahlah !

foto dari sini

Antisipasi Implikasi Negatif FTA


Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan potensi terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai dampak terburuk dari perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) ASEAN-China yang mulai berlaku sejak 1 Januari lalu,  bisa mencapai 7,5 juta orang.
Hal itu bisa terjadi jika pemerintah tidak melakukan upaya-upaya konkrit untuk menekan imbas terburuk FTA seperti membendung serbuan produk-produk impor China dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Disebutkan, sekitar 7,5 juta orang terancam terdegradasi, setelah itu bisa menganggur, bisa jadi pengusaha dan lain-lain. “Ini kalau tidak ada upaya sama sekali.”

Kalau benar demikian, sudah barang tentu kita merasa prihatin. Apapun dalihnya, pemutusan hubungan kerja, tetaplah sebuah konsekuensi logis yang tidak mengenakkan, serta akan merugikan rakyat di level grass-root.

Ancaman PHK selalu ibarat palu godam atau semacam pil pahit yang tidak menyenangkan, dan selalu ingin dihindari setiap pekerja/ karyawan di manapun bekerja. PHK selalu menyakitkan bagi sang pekerja, lebih-lebih pada keluarganya.

Karena itu kita berharap pihak Pemerintah semestinya sudah mempersiapkan langkah antisipasi sejak dini, untuk meminimalisir dampak negatif pemberlakuan perdagangan bebas Free Trade Agreement (FTA) tersebut.

Antisipasi dini itu bisa berupa proteksi terhadap produk lokal, serta pemberian kemudahan pinjaman modal bagi kalangan pengusaha kecil. Pengembangan usaha di sektor riil, juga harus terus didorong dengan meningkatkan perhatian terhadap pengembangan program ekonomi mikro.

Dalam konteks ini, kita merasa prihatin dan kecewa dengan apa yang terjadi dengan kebijakan sejumlah pemerintahan provinsi dan kabupaten/ kota, yang mengabaikan ekonomi mikro. Hal ini bisa ditengarai dari tidak adanya penyebutan sektor ekonomi mikro dalam Rancangan Jangka Panjang dan Menengah Daerah (RJPMD).

Kendati kita akui, bahwa kesepakatan dalam FTA itu banyak melahirkan sisi negatif. Namun harus diakui pula banyak sisi positifnya. Keterlibatan Indonesia dalam FTA tersebut akan memberikan manfaat dalam bentuk perluasan pasar ekspor dan upaya untuk mencari sumber investasi.

Menurut keterangan, beberapa industri yang belum siap ikut dalam FTA, pemerintah telah menyiapkan dua skenario untuk mengatasinya. Skenario pertama adalah pertukaran barang yang belum siap dengan barang yang sudah siap. Kedua, adanya penundaan waktu dan modifikasi interval tarif.

Beberapa produk Indonesia yang diperkirakan akan memperoleh manfaat dari perluasan pasar ke China, antara lain kertas, alumina, permen, dan mebel. Implikasi positif FTA lain seperti penurunan biaya bahan baku sebesar  5 persen antara lain  untuk industri baja, bahan baku plastik, kain, hingga mesin pertanian

Kita berharap Pemerintah tidak bersifat pasif, dan defensif dalam menyikapi telah berlakunya FTA tersebut. Memang kesepakatan itu mengandung sisi positif. Namun di sisi lain, jika Pemerintah lamban, bisa jadi akan lebih dominan sisi negatifnya. Untuk itu diperlukan antisipasi dini dari segala lini pemerintahan, pusat, provinsi maupun kabupaten/ kota.

‘Politisi Lilin’, Adakah ?


politisi-lilinCap buruk dan imej negatif kerap kali dialamatkan kepada para politisi. Seolah-olah semua politisi itu, tidak bisa dipercaya serta suka menggunting dalam lipatan.

Asumsi demikian, terkadang memang ada benarnya. Para politisi memang banyak yang tak bisa dipercaya. Hari ini berkata A, besok berubah jadi B. Pemilu lalu mengenakan baju Partai Golkar, Pemilu kali ini sudah berbaju Demokrat.

Dalam konteks demikian, sudah sepatutnya rakyat diberi kesempatan untuk mencari ‘Politisi Lilin’. Yakni para politisi yang rela mengorbankan dirinya demi memperjuangkan kepentingan rakyat.

Rela mengorbankan tenaga, harta dan pikirannya demi rakyat, yang telah memberinya kepercayaan dan amanah menjadi representasi rakyat di DPRD Kabupaten/ Kota, Provinsi, DPR-RI dan DPD.

“Politisi Lilin’ ialah mereka yang tidak pernah mempolitisir rakyat demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. ‘Politisi Lilin’ senantiasa, tak kenal lelah dalam mendengar keluhan rakyat serta selalu tulus memberi bantuan kepada rakyat.

‘Politisi Lilin’ selalu siap berkorban dan tak cuma jelang Pemilu saja kelihatan batang hidungnya. Pertanyaannya, adakah politisi yang rela berkorban seperti halnya lilin. ‘Politisi Lilin’, adakah ?

‘Politisi Lilin’, mungkin saja ada. Tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Sebab pada kenyataannya, yang banyak berseliweran dalam panggung politik kita, adalah ‘politisi ular’, ‘politisi kalajengking’, ‘politisi labi-labi’, ‘politisi serigala berbulu domba’, dan ‘politisi hipokrit’…..!

karikatur dari sini

Tabloid Hiburan Makin Sopan !


Hans Miller Banureah, Pemred XO

Hans Miller Banureah, Pemred XO

xo-covers411Tabloid hiburan kini sangat jauh berbeda dibanding era 80 hingga 90-an. Sejak beberapa tahun terakhir ini, tabloid hiburan terlihat semakin sopan dan mulai meninggalkan bupati (buka paha tinggi-tinggi) dan sekwilda (sekitar wilayah dada)

Doeloe kalau tengah membaca tabloid, misalnya Monitor (pelopor jurnalisme lher) serta tabloid lain yang suka mengumbar sensualitas wanita, waddduh….bisa keringatan dan panas dingin.

Selain Monitor beberapa penerbitan lain kemudian coba mengikuti jejak sukses tabloid yang dikomandoi Arswendo Atmowiloto itu. Sehingga muncullah tabloid Lipstik, Dugem, Boss, Kisah Nyata, dll plus sejumlah majalah hot semisal Popular, Oke dan Playboy Indonesia.

Tetapi belakangan ini, tabloid hiburan kini lebih didominasi tabloid berkualitas dengan liputan investigatif, informatif, edukatif, inspiratif, komunikatif dan sesekali ngegosip.

Salah satu tabloid hiburan yang menarik perhatian saya sejak setahun terakhir ini adalah tabloid XO (eXtreme shOt). Setelah beberapa lama mencermati, saya merasa tabloid ini cukup layak dijadikan sebagai rujukan tabloid hiburan terlengkap.

Mengapa saya sampai tertarik menjadi pembaca setia tabloid XO ini ? Tentu saja alasannya sangat jauh dari pertimbangan subjektif. Tabloid yang masih berusia relatif muda ini memang benar-benar layak dibaca, karena dikemas dengan gaya bertutur nan lugas, cerdas, menarik, dan obyektif. Karenanya, jika ingin mengetahui mengetahui informasi hiburan dan gosip selebriti terkini, bergegaslah membaca tabloid XO. Dijamin, tidak akan kecewa….!

Beberapa rubrik tabloid XO yang menarik dibaca antara lain : Berita Sampul, yang mengupas tuntas gosip terkini seputar selebriti yang menjadi cover story. Edisi terakhir misalnya mengulas soal Andy Soraya yang masih berseteru dengan Catherine Wilson gara-gara duren (duda keren) Tommy Soeharto.

Rubrik lain seperti Film, TV, Musik, Klip, Horoskop, Cerber, Cermin, Acara Hiburan Sepekan, Refleksi, Gaya Hidup, Kabar Idola, Serba-Serbi, Inspirasi, Aktual, semuanya dikemas dalam sajian gaya bahasa yang menarik dibaca.

Bagi saya secara pribadi, rubrik Refleksi, Cermin, serta Jendela di halaman 3, yang selalu menyajikan semacam pengantar redaksi ditulis langsung sang Pemimpin Redaksi Hans Miller Banureah (mantan Pemred Tabloid Citra), juga sayang dilewatkan alias perlu dibaca untuk mengetahui perkembangan terkini jagad hiburan serta masalah-masalah aktual lainnya.

Semoga tabloid hiburan yang semakin sopan dan cerdas itu, tetap eksis serta semakin mampu menjalankan fungsinya sebagai media pendidikan bagi masyarakat. Performance yang sopan itu hendaknya muncul dari kesadaran sendiri, alias tak sebatas antisipasi lahirnya UU Pornografi.

Media yang bertanggung jawab memang sudah seharusnya ikut berperan dalam meningkatkan kualitas intelektual serta pencerahan moralitas generasi muda bangsa, seperti dilakoni tabloid XO selama ini.

Ambooooi….Senyummu itu Hillary


hilllary-clSenyum Hillary, yang tak pernah pudar selama kunjungannya ke Jakarta, tak ayal telah menghipnotis setiap orang yang sempat bertemu dengannya. Saya dan banyak orang yang cuma bisa menyaksikan lewat media elektronik juga ikut terpesona.

Ambooi……senyummu itu Hillary….. 🙂 sungguh menggetarkan. Dan istri salah seorang Presiden AS paling sukses (Bill Clinton) itu, bukan cuma bermodal senyuman saja.

Ibunda Chelsea ini juga dianugerahi talenta sebagai seorang politisi perempuan ulung nan cerdas, penuh perhitungan, berkepribadian terpuji dan teruji dalam menghadapi berbagai tantangan.

Tantangan paling berat yang pernah dihadapi mantan senator New York ini adalah saat suaminya Bill terlibat affair dengan Monica Lewinsky. Hillary tegar menghadapinya dan tak gampang mengumbar kata cerai seperti kebiasaan selebriti kita.

Tantangan berat lainnya saat dia mengalami kekalahan dari Obama pada konvensi Partai Demokrat. Hillary tegar dan tabah menerima kekalahan menyakitkan itu, bahkan berbalik memberikan dukungan sepenuhnya kepada capres pilihan partainya itu.

Dalam konteks ini lagi-lagi Hillary memberikan ‘jeweran’ dan pelajaran berharga bagi politisi negeri ini. Soalnya politisi kita, hanya karena nomor urut calegnya saja tak cocok, sudah ngambek dan seenaknya saja pindah partai. Bahkan ada pula politisi kita ganti partai setiap Pemilu.

Sungguh banyak pelajaran berharga yang telah diberikan Hillary kepada politisi dan para pemimpin kita. Bahwa seorang pemimpin, harus senantiasa ramah dan menebar senyum yang tulus kepada siapa saja, tanpa pandang status dan jabatan. Jangan senyum saat jelang Pemilu atau Pilkada saja.

Ahhhhhh……..senyummu itu Hillary. Seandainya saja dirimu jadi capres Indonesia pada Pilpres 2009 nanti, saya yakin Mbak Hillary akan mampu mengalahkan Mbak Mega dan Pak SBY….! Ini sekadar berandai-andai……hehehe 😆

foto dari sini

Agama Yes, Politisasi Agama No


umraojaan3pMajelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat meminta partai politik menghentikan kampanye dengan mempolitisasi agama untuk meraih suara pada pemilu legislatif, pilpres maupun pilkada.

Seruan MUI ini untuk merespons munculnya iklan kampanye pada harian lokal di Indramayu yang mengaitkan agama dengan kegiatan partai politik.

Pada iklan tersebut tertulis,”Pilih pimpinan Golkar yang terbaik. Sebab kalau tidak kita akan termasuk golongan orang yang mengkhianati Allah, Rasul, dan kaum muslimin. Hal ini demi terwujudnya Indramayu yang religius”. Iklan ini ditandatangani Ketua Umum Partai Golkar M Jusuf Kalla dan Bupati Indramayu Indrianto MS Syafiudin.

Seruan MUI kali ini terasa berbeda dengan berbagai fatwa MUI sebelumnya yang terkesan kontroversial, seperti fatwa haram golput, haram rokok, dan berbagai fatwa lainnya.

Apa yang diingatkan MUI itu sangat beralasan. Bahwa agama memang tidak sepatutnya dipolitisasi dan dimanfaatkan untuk meraih tujuan-tujuan berbau politis-duniawi (jabatan, kekuasaan dan keanggotaan di parlemen).

Agama yes, politisasi agama no. Politisi memang sudah seharusnya beragama dan atau akan lebih baik bila dalam kiprahnya sebagai politisi, mampu mengimplementasikan ajaran agamanya dengan baik.

Tetapi tidak sepatutnya, lambang, institusi agama, tempat beribadah pun kemudian dimanfaatkan pula sebagai sarana berkampanye. Masih banyak tempat lain, caleg tak selayaknya kampanye di masjid, gereja, kuil, vihara, dan sarana ibadah lainnya.

Politisi beragama (mampu menjalankan ajaran agamanya dengan baik), memang dambaan kita. Tetapi, tidak sepantasnya politisi mengklaim partainya lebih beragama dan bermoral, dibanding politisi partai lain.
Semua parpol pada intinya sama saja. Sebab, semuanya berorientasi pada kekuasaan. Barangkali yang membedakannya, cuma cara dalam meraih tujuan.

Nah, dalam kaitan dengan cara meraih tujuan itu pula, kita berharap para politisi di negeri ini tak lagi mengklaim lebih beragama, karena kebetulan berasal dari parpol berasaskan agama, sembari mendiskreditkan parpol lain kurang berkualitas keberagamaannya.

Kualitas dan tingkat pengamalan ajaran agama, tidaklah ditentukan klaim dan simbol-simbol agama yang melekat di ‘baju’, melainkan lebih ditentukan oleh komitmen nyata dan kepedulian pada sesama.

Agama terasa meng-ada, jika seseorang tampil dalam sosoknya nan tulus, dan selalu ikhlas berbuat baik pada sesama. Bukan berbuat baik mengatasnamakan agama demi kepentingan menjelang Pemilu saja. Agama yes, politisasi agama no….!