Category Archives: sport

Klopp dan Anomali Liverpool


kmlopppPerforma The Reds Liverpool sejak ditangani Jurgen Klopp khususnya pada musim 2016/2017, layak disebut bak sebuah anomali. Betapa tidak, ketika diragukan bakal tampil menang, Sadio Mane dkk justru tampil ‘menggila’ dan mampu memutarbalikkan prediksi para pengamat sepak bola, seperti dibuktikan, saat sukses menggebuk tim tangguh Arsenal dengan meyakinkan, 3-1, Minggu dinihari.
Padahal sebelum pertandingan digelar, hampir semua pemerhati sepak bola di seantero jagad, meragukan Jordan Henderson dkk akan mampu memetik kemenangan. Pemain legendaris Arsenal, Paul Merson misalnya hanya berani memprediksi, pertandingan yang digelar di Stadion Anfield itu, akan berakhir seri.
Pertandingan ini berarti sangat penting bagi kedua tim tersebut. Mereka akan ngotot untuk mecari kemenangan demi memuluskan misi masing-masing.”Karena itulah, saya memprediksi pertandingan ini akan berakhir imbang, dengan skor 1-1,”kata Merson sesaat sebelum pertandingan berlangsung.
Beberapa pekan sebelumnya saat menjamu Chelsea yang sedang onfire, para pengamat sepak bola juga memperkirakan Liverpool akan kesulitan dan diprediksi akan menerima kekalahan dari tim besutan Antonio Conte. Tapi, lagi-lagi prediksi itu melesat. Hasilnya memang seri 1-1, tapi dalam bentrok di lapangan, terlihat The Reds lebih mendominasi permainan.
Hasil-hasil pertandingan yang dilakoni Liverpool musim memang seperti sebuah anomali. Saat berhadapan dengan sesama tim penghuni papan atas, Philipe Coutinho dkk selalu berhasil menorehkan hasil positif. Bahkan, Liverpool merupakan satu-satunya tim di Primer League musim ini yang belum pernah menelan kekalahan saat menghadapi tim papan atas.
Pada pekan pertama misalnya, Liverpool sukses memecundangi Arsenal di Emirates Stadium dengan skor 4-3, lalu mempermalukan Chelsea di Stamford Bridge 2-1, menundukkan Manchester City 1-0, dan terakhir melibas Tottenham Hotspurs 2-0. Sejauh ini hanya Manchester United yang bisa menahahan gempuran Mane dkk, dan kedua tim sama-sama bermain seri, kandang dan tandang.
Hal yang bertolak belakang justru dilakoni tim besutan Jose Mourinho. Tim berjuluk The Red Devils pada musim ini tercatat lebih banyak mengalami kekalahan melawan tim papan atas, di antaranya dipermalukan Chelsea 4-0, ditundukkan Manchester City di Old Trafford 1-2, dan bermain imbang melawan Arsenal.
Hasil-hasil pertandingan yang dicatatkan tim asuhan Jurgen Klopp musim ini menjadi sebuah anomali, karena selain tidak sejalan dengan ekspektasi para Liverpudlian, juga kerap menorehkan hasil-hasil yang sama sekali di luar akal sehat dan tak pernah diperkirakan para pengamat sepak bola di negerinya Ratu Elizabeth tersebut.
Misalnya, ketika dianggap akan memetik kemenangan dengan mudah, karena lawan yang dihadapi tim papan bawah, Liverpool justru tampil melempem dan bahkan kerap mengalami kekalahan. Terbukti, musim ini harus takluk dan dipermalukan tim ‘ampas-ampas kelapa’ sekaliber Burnley, Swansea City, atau Hull City.
Sukses dan tampil ciamik saat menghadapi tim papan atas memang sangat membanggakan. Namun, ketika melawan tim semenjana juga kerap mengalami kekalahan, berarti masih banyak PR yang harus dikerjakan Jurgen Klopp, agar performa yang inkonsisten itu tidak berkelanjutan.
Musim ini kelihatannya akan menjadi milik Chelsea. Tetapi, apa pun hasilnya, Klopp tetap merupakan pilihan terbaik menangani Liverpool saat ini. Agar anomali Liverpool musim ini tidak terulang lagi, manajemen The Reds harus menyiapkan dana yang memadai kepada Klopp untuk mendatangkan beberapa pemain baru, utamanya untuk membenahi sektor pertahanan, yang menjadi kelemahan utama Liverpool musim ini. You’ll never walk alone…(**)

Iklan

Simeone, Antara Guardiola dan Mourinho


diego-simeone.jpgAtletico Madrid memang belum dipastikan lolos ke final Liga Champions 2016. Namun, kemenangan 1-0 atas Bayern Muenchen dinihari kemarin, kembali mempertegas sosok Diego Simeone sebagai pelatih jempolan. Sebab, sebelumnya di perempat final anak didiknya juga sukses menaklukkan juara bertahan Barcelona.
Keberhasilan Atletico menggebuk dua tim bertabur bintang dan kaya raya sekelas Barcelona dan Bayern Muenchen, sekali lagi memperlihatkan, betapa sebuah klub sepak bola juga bisa meraih kesuksesan tanpa harus memiliki pemain bintang bergaji super mahal. Seperti lazim dilakoni Real Madrid, Bayern Muenchen, PSG, dan Manchester United, jika klub itu berada di tangan pelatih ‘bertangan dingin’ sekelas Simeone.
Agaknya hal itu pulalah yang membedakan level kepelatihan antara Simeone dengan Pep Guardiola dan Jose Mourinho. Dari segi raihan trofi, Simeone memang masih sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan torehan gelar yang berhasil dicatatkan Guardiola dan Mourinho.
Namun, keberhasilan Atletico Madrid terus menjadi pesaing utama dua klub raksasa Spanyol (Barcelona dan Real Madrid), sejak berada di bawah didikan Simeone dan puncaknya sukses meraih Juara La Liga pada musim 2013-2014, di tengah kedigdayaan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, jelas merupakan prestasi sangat mencengangkan dan spektakuler.
Padahal, sebelum berada di bawah binaan Diego Simeone, Atletico Madrid selalu menjadi bulan-bulanan Barcelona dan Real Madrid. Bahkan, dalam derby antara Atletico dengan Real, kekalahan hampir selalu berada di pihak Atletico dengan skor yang selalu lumayan telak.Tetapi, setelah mendapatkan sentuhan magis Simeone, semuanya berbalik 180 derajat, Atletico hampir selalu keluar sebagai pemenang dalam derby Madrid.
Riwayat kepelatihan Simeone tak hanya sukses saat menukangi Atletico, melainkan juga pernah mencatatkan kegemilangan saat melatih klub Argentina, San Lorenzo, Estudiantes dan River Plate. San Lorenzo dan Estudiantes bukan termasuk klub kaya di negaranya, namun berkat Simeone, berhasil meraih sukses.
Nah, coba bandingkan dengan Mourinho yang banyak meraih gelar. Namun, semua prestasi diperolehnya saat melatih klub besar bertabur bintang. Guardiola sama saja. Gelar juara diraihnya hanya bersama klub hebat yang diperkuat para pemain kelas satu (Barcelona dan Muenchen).
Banyak kalangan meyakini, tanpa dilatih Guardiola pun, Barca yang diperkuat Messi akan mudah meraih gelar. Begitu juga Muenchen dengan segudang pemain hebat, dipastikan sangat mudah meraih gelar Bundesliga. Dengan kata lain, kalau sekadar mendapatkan gelar juara Bundesliga, tanpa Guardiola pun mudah dilakukan.
Dari fakta-fakta ini, tak berlebihan jika disimpulkan Diego Simeone jauh lebih piawai dan jenius dibanding Guardiola dan Mourinho. Sebab, dalam menjalankan tugasnya sebagai pelatih, Simeone mampu memoles pemain ‘antah berantah’ menjadi sangat terkenal atau pemain yang sudah dianggap ‘habis’ seperti Torres, kembali bersinar. Dengan kata lain, Simeone lah ‘the real special one’ sejati. Begitulah…(**)

Mengapa Barca Hancur Lebur ?


GambarAsisten Pelatih Barcelona Jordi Roura mempertanyakan keabsahan dua dari empat gol yang dicetak Bayern Munich ke gawang timnya. Dua gol itu ia nilai ilegal.
Empat gol dilesakkan para pemain Bayern ketika menjamu Barca di laga leg I semifinal Liga Champions di Allianz Arena, Rabu (24/4) dinihari WIB, dalam kemenangan 4-0. Dari empat gol tersebut, dua gol di antaranya disebut Roura ilegal.
Terlepas dari penilaian Roura tersebut, secara umum penampilan Barca kali ini memang sangat jauh di bawah standar. Terbukti, sepanjang 90 menit pertandingan, sama sekali tidak ada shot on goal or goal attemp, yang mengancam gawang Neuer.
Dari sisi ball possesion, Barca memang tetap seperti biasanya, masih dominan. Tapi, ketika hendak memasuki memasuki kotak penalti Munchen, Messi, Iniesta, Sanchez, Xavi, seperti membentur tembok, yang sangat sukar ditembus.
Kendati, secara teknis permainan, Munchen memang layak memenangkan pertandingan semi final Liga Champions leg pertama itu. Namun, kekalahan dengan skor mencolok 0-4, tetaplah merupakan hal yang sangat mengejutkan dan bisa disebut, tak seorang pun berani meramalkan, Barca akan kalah setelak itu.
Pertanyaannya, mengapa Barca sampai hancur lebur dan harus pulang dengan menanggu malu ? Jika dicermati, dari pertandingan melawan Munchen kemarin, setidaknya terdapat tiga hal penyebab kekalahan Barca.
Pertama, pelatih Tito Villanova kurang mampu menganalisis pertandingan dan melakukan pergantian pemain yang tepat. Dia juga terkesan kurang piawai dalam menerapkan strategi meredam permainan ‘ganas’ tim besutan Jupp Heynckes tersebut.
Setelah melihat kedigdayaan Munchen melibas tim sekelas Juventus di perempat final dengan agregat 5-0, mestinya Villanova mampu meramu taktik yang tepat, misalnya dengan cara memperkuat lini pertahanan, atau berupaya menerapkan man to man marking yang ketat.
Kedua, rapuhnya lini pertahanan Barca kelihatannya hingga kini belum juga bisa dibenahi Villanova dan Jordi Roura. Jangankan Munchen, tim sekelas Real Sociedad dan Malaga saja di La Liga, begitu mudah menembus jantung pertahanan Barca. Kelemahan sektor pertahanan inilah menyebabkan mudahnya pemain Munchen membobol gawang Valdes.
Ketiga, pasca mengalami cedera melawan PSG, kelihatannya Messi belum sepenuhnya pulih. Kondisi Messi yang tidak 100 persen fit itu, juga menjadi penyebab tidak keluarnya sentuhan magis ‘el pulga’ pada partai semifinal tersebut.
Last but not least, sepeninggal pelatih Jose ‘Pep’ Guardiola, harus diakui pula trend permainan Barca memang mengalami penurunan. Pola permainan Messi dkk memang tidak banyak mengalami perubahan dan tetap enak dinikmati, tapi sudah semakin gampang diredam tim lawan.
Jika pelatih Villanova tidak melakukan berbagai perubahan signifikan dalam taktik permainan serta segera melakukan pembenahan total di sektor pertahanan pada musim depan, dapat dipastikan, Barca akan semakin terpuruk dan sulit bersaing di level Liga Champions.(**)

Prestasi Bulutangkis Makin Terkikis….


GambarPrestasi bulutangkis Indonesia sejak lima tahun terakhir, benar-benar memprihatinkan. Puncaknya, pada perhelatan Olimpiade London 2012, tak satupun duta bulutangkis kita mampu menyumbangkan medali.
Pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang pada awalnya diyakini akan mampu menyumbang medali, akhirnya juga mengalami kegagalan. Medali perunggu yang sebelumnya bisa disumbangkan, juga tak bisa didapat.
Mereka dikalahkan dengan skor telak oleh pasangan Denmark, Joachim Fischer/Christinna Pedersen,
dengan angka 21-12 dan 21-12. Dengan demikian tak satupun medali berhasil disumbangkan.
Padahal, Indonesia sudah memulai menancapkan tradisi medali emas bulutangkis di Olimpiade, yang dimulai di Olimpade Barcelona 1992 lewat tunggal putra Alan Budikusuma dan dan tunggal putri, Susi Susanti.
Kegagalan bulutangkis ini makin diperparah dengan munculnya skandal bulutangkis di Olimpiade 2012, yang notabene melibatkan pasangan ganda putri Indonesia, Meilina Jauhari/Greysia Polli.
Mereka bersama dua pasangan Korea Selatan dan satu ganda China didiskualifikasi dari ajang olah raga
paling bergengsi sejagad tersebut karena ‘mencoba kalah’ dalam pertandingan mereka di babak grup pada Rabu lalu.
Sementara, Taufik Hidayat yang jauh sebelumnya tidak terlalu diharapkan, seperti diduga dengan
mudahnya dipecundangi jagoan China, Lin Dan. Sedangkan Simon Santoso juga kandas di tangan
pebulutangkis negeri jiran, Lee Chong Wei.
Lengkaplah sudah penderitaan bulutangkis Indonesia di ajang Olimpiade kali ini. Prestasi bulutangkis makin terkikis. Cabang bulutangkis yang selama ini memberikan kebanggaan dan kejayaan bangsa, kini harus pulang dengan kepala tertunduk disertai catatan hitam, karena terkena diskualifikasi.
Pertanyaannya, sampai kapan, prestasi bulutangkis akan terus terkikis ? Tentu, kita tidak bisa
memastikan, kapan prestasi bulutangkis Indonesia bisa dibangkitkan dan kembali disegani di kancah
internasional.
Pasalnya, belakangan ini, pemain-pemain kita sudah kurang disegani. Sebab, bertanding melawan
pebulutangkis Thailand atau Jepang saja, kita bisa mengalami kekalahan. Apalagi, jika berhadapan dengan China, kekalahan sudah pasti di depan mata.
Selama para petinggi PBSI dan Kementerian Olahraga kita, tidak mampu melakukan gebrakan revolusioner dalam melakukan pembinaan dan pencarian bibit-bibit baru pebulutangkis di negeri ini, agaknya hingga beberapa tahun mendatang, prestasi bulutangkis tetap hanya akan menyisakan cerita miris. Sungguh ironis…!(**)

Sudah Saatnya Pensiun, Sir Alex !


Hanya butuh hasil seri untuk lolos ke babak 16 besar. Namun, fakta berbicara Manchester United harus tersungkur di kandang klub antah berantah FC Basel, 1-2, Kamis kemarin. Dengan hasil ini, The Red Devils harus puas turun kasta, hanya bermain di Liga Europa.
Pencapaian ini, jelas merupakan sebuah kegagalan terbesar MU, yang baru setahun lalu menjadi runner up Liga Champions, setelah dikandaskan Barcelona. Ia pun terang-terangan mengaku kecewa dengan hasil yang didapat skuadnya.
Tak hanya itu, MU juga tiga kali menjadi finalis dalam empat musim terakhir Liga Champions. Menyikapi hal itu, Sir Alex Ferguson sendiri menyatakan, bahwa Liga Europa tidak pernah ada di benaknya. “Tentu saja kami kecewa. Tak mungkin ada perasaan lain selain itu,”ujarnya.
Tanda-tanda kegagalan MU tahun ini, memang sudah mulai terlihat, utamanya setelah Wayne Rooney dkk dibabakbelurkan tim sekotanya, Manchester City 1-6. Sejak kekalahan memalukan ini, permainan tim besutan Sir Alex mengalami penurunan drastis.
Kendati masih bisa bertahan di posisi kedua Liga Primeir Inggris, namun kemenangan yang diraih, hampir semuanya didapatkan dengan susah payah alias kurang meyakinkan. Terakhir misalnya, hanya mampu meraih kemenangan 1-0 melawan Aston Villa.
Pekan lalu, Nemanja Vidic dkk juga mengalami kekalahan memalukan di perempat final Piala Carling. Di kandang sendiri, ditundukkan tim kasta bawah Crystal Palace dengan skor 2-1.
Sejumlah hasil pertandingan yang ditorehkan MU belakangan ini memang, jauh dari kesan statusnya sebagai klub raksasa Inggris. Puncaknya, sudah barang tentu kegagalan melaju ke babak 16 besar, setelah dipecundangi klub yang tak pernah dikenal prestasinya di jagat sepakbola, yakni FC Basel.
Kiprah dan talenta Sir Alex sebagai salah satu manajer terbaik di dunia, tentu tidak akan pernah diragukan. Terbukti, dalam kariernya dalam menangani MU, sejak tahun 1986 lalu, Fergie telah memperoleh hampir semua trophy yang diperebutkan oleh klub sepakbola sejagat.
Namun, dengan torehan prestasinya belakangan ini, tidak ada salahnya pula jika kita menyarankan Sir Alex, agar segera pensiun. 25 tahun menangani sebuah klub sepakbola, merupakan sebuah rentang waktu yang sangat panjang.
Ibarat sebuah rezim pemerintahan, Sir Alex sudah terlalu lama berkuasa. Terbukti, kekuasaan yang terlalu lama berpusat pada seseorang, bisa memunculkan penyalahgunaan wewenang (abuse of power), atau setidaknya melahirkan sebuah kejenuhan.
Bisa jadi Sir Alex sudah jenuh, seiring dengan usianya yang sudah semakin renta. Karenanya, kini saatnya untuk pensiun, Sir Alex !

Piala Dunia Tetap Sebatas Mimpi


Ketika dibekuk Timnas Iran 0-3, pelatih timnas Indonesia Wim Rijsbergen berdalih kekalahan itu disebabkan faktor  kelelahan dan cuaca dingin di negeri-nya Mahmoud Ahmadinejad itu.
Lalu, saat dibekuk Bahrain 0-2 di kandang sendiri, Stadion Gelora Bung Karno Selasa malam kemarin, masih adakah alasan yang hendak dikedepankan sang pelatih ? Jangan-jangan dia berdalih, hal itu karena gangguan mercon dari penonton ?
Dengan dua kekalahan yang diderita tersebut, dapat dipastikan keinginan ratusan juta rakyat Indonesia melihat timnas kita berlaga di Piala Dunia, benar-benar tetap berhenti sebatas mimpi belaka.
Dan, hingga kini tidak bisa dipastikan, entah sampai kapan mimpi itu akan tetap sekadar mimpi yang tidak pernah mewujud dalam kenyataan.
Pertanyaannya, mengapa performance timnas kali ini terlihat begitu melempem, sehingga dalam dua pertandingan yang telah dilakoni di Grup E Pra Piala Dunia Zona Asia ini, belum sekalipun Christian Gonzalez dkk berhasil mencetak gol ke gawang lawan.
Jika dicermati lebih mendalam, kualitas permainan timnas kali ini, justru mengalami penurunan dibandingkan saat sukses mencapai babak final Piala AFF di Jakarta beberapa bulan lalu.
Dengan kata lain, ketika kursi pelatih beralih dari tangan Alfred Riedl ke tangan Wim Rijsbergen, yang terjadi bukan peningkatan kualitas taktik dan strategi permainan, melainkan penurunan sekaligus ketidakjelasan pola permainan.
Padahal, semasa timnas masih ditangani Riedl, belum diperkuat pemain penuh talenta Boaz Solossa. Namun, berkat tangan dingin Riedl, Irfan Bachdim dkk berhasil menyuguhkan permainan memukau serta kerja sama tim yang cukup padu.
Namun, apa yang terjadi sekarang, justru sangat memprihatinkan. Dengan materi yang relatif sama plus suntikan tenaga baru Boaz Solossa, timnas justru menjadi bulan-bulan. Bahkan, kini menjelma menjadi ‘lumbung gol’ bagi Iran dan Bahrain.
Itu bermakna, kebijakan PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin, yang buru-buru mendepak Riedl dan menggunakan jasa Wim Rijsbergen, bisa disebut sebagai sebuah langkah blunder.
Agaknya itu pulalah konsekuensi yang harus ditanggung, jika urusan sepakbola di tanah air masih tetap saja sarat diwarnai dengan kepentingan politik, selama itu pula bayang-bayang kegagalan akan terus mewarnai masa depan sepak bola Indonesia.
Tepatnya, selama PSSI masih dipengaruhi oleh vested interested pihak-pihak luar, yang terkait dengan politik kompromi serta keinginan memuaskan selera pihak-pihak tertentu, selama itu pula keikutsertaan timnas Indonesia di Piala Dunia, akan tetap berhenti sebatas mimpi belaka.(**)

Yang Kuat tak Selalu Menang


Terdapat fenomena aneh dan sangat mengejutkan pada perhelatan kejuaraan sepakbola paling bergengsi di Amerika Selatan, Copa Amerika, yang tengah berlangsung di Argentina.
Dua raksasa sepak bola dunia dan juga kawasan Amerika Selatan (Conmebol), Tim Tango Argentina dan Tim Samba Brasil, harus menanggung rasa malu, karena hanya mampu melangkah hingga ke babak perempat final.
Kedua negara raksasa sepak bola dunia itu, tersingkir lebih awal dan mengundang kekecewaaan ratusan penggemarnya di seluruh dunia. Lionel Messi dkk dipermalukan Diego Forlan dkk, kalah adu penalti 4-5.
Sementara Brasil juga kalah adu penalti melawan Paraguay. Tim besutan pelatih anyar Mano Manezes ini bahkan lebih memalukan lagi. Sebab pada adu penalti itu, empat penendangnya gagal menceploskan bola ke gawang Paraguay.
Tak cuma Brasil dan Argentina yang dipermalukan. Tim unggulan Chile, juga disingkirkan tim anak bawang, yang selalu menjadi bulan-bulanan di zona Conmebol, yakni Venezuela. Chile disingkirkan Venezuela dengan skor 1-2.
Sementara Tim Putri negeri sakura Jepang, yang sebelumnya dipandang sebelah mata, juga sukses membalikkan ramalan, dan membekuk tim unggulan Negeri Paman Sam, AS di final Piala Dunia sepak bola putri.
Fenomena ini, kembali memberikan pelajaran kepada kita semua, bahwa yang kuat tidak selalu menang. Kekuasaan yang diback-up senjata canggih militer pun kerap tumbang oleh desakan massa rakyat (people power), yang hanya bersenjatakan semangat dan tekad kuat dan kebersamaan.
Karenanya, ketika berada di puncak kekuasaan, janganlah pernah menganggap remeh kekuatan rakyat. Stabilitas politik yang terwujud lewat upaya merangkul kekuatan partai, tidak akan ada artinya, jika aspirasi dan kemauan rakyat selalu diabaikan.
Sudah sangat banyak sekali contohnya, pihak yang merasa dirinya kuat dan tidak akan mungkin mengalami kekalahan, tiba-tiba menemui batu sandungan dan terpuruk dalam kegagalan, yang sangat mengenaskan dan menyakitkan.

Politik di Balik PSSI vs LPI


Pengamat politik LIPI Ikrar Nusa Bakti yang mengingatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk tidak terlibat dalam konflik di tubuh persepakbolaan Indonesia. Ia menegaskan, merupakan hal yang memalukan apabila seorang presiden berada di dalam sebuah peta konflik persepakbolaan.
Namun dari keluarnya rekomendasi Menpora Andi Mallarangeng terhadap izin perhelatan Liga Primer Indonesia (LPI), sekilas bisa dibaca ke mana arah dukungan dan sikap politik Presiden SBY, terkait dengan munculnya kisruh antara LPI dengan PSSI itu.
Seperti diketahui, LPI adalah kompetisi yang digelar di luar struktur PSSI sehingga dianggap ilegal oleh otoritas sepak bola Indonesia. Liga yang digagas konglomerat Arifin Panigoro rencananya akan diikuti oleh 19 klub, termasuk tiga klub pindahan Indonesian Super League (ISL) yang berada di bawah koordinasi PSSI.
Namun, otoritas sepak bola dunia (FIFA) ternyata tidak mau tahu ke mana arah politik pihak penguasa terkait dengan perseteruan PSSI dengan LPI itu. FIFA konsisten hanya mengakui PSSI dan mengancam akan memberikan sanski kepada Indonesia bila kompetisi Liga Primer Indonesia jadi digelar Sabtu (8/1). Ancaman diungkapkan Direktur Keanggotaan dan Pengembangan FIFA, Thierry Regenass, di Doha, Qatar, Jumat.
Sebelumnya, PSSI sudah mengancam akan memberikan sanksi pada klub, pemain, dan semua pihak yang terlibat dalam LPI. PSSI juga melaporkan pengelola LPI ke polisi karena dianggap telah melanggar undang-undang, meski belakangan polisi menyatakan tak menemukan indikasi itu.
Sedangkan, berdasarkan Pasal 51 ayat (2) UU 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, tidak ada kompetisi yang bisa diselenggarakan tanpa rekomendasi dari induk cabang olahraga yang bersangkutan, dalam hal sepakbola (harus berdasarkan rekomendasi PSSI).
Pasal tersebut secara lengkap berbunyi : Penyelenggara kejuaraan olahraga yang mendatangkan langsung massa penonton wajib mendapatkan rekomendasi dari induk organisasi cabang olahraga yang bersangkutan dan memenuhi peraturan perundang-undangan.”
Mengacu pada ketentuan perundangan ini, sudah sepatutnya pihak Pemerintah (Menpora Andi Mallarangeng), tidak bersikap memihak dalam menyikapi permasalahan antara LPI dengan PSSI, atau antara Arifin Panigoro dengan Nurdin Halid (yang didukung Aburizal Bakrie) itu.
Pemihakan Menpora semakin menguatkan anggapan banyak kalangan, bahwa konflik di balik PSSI kontra LPI itu, sarat dengan muatan politis. Jika pendekatan politis selalu lebih dikedepankan dalam menyelesaikan konflik, dapat dipastikan hasilnya tidak akan pernah menguntungkan kepentingan nasional.
Arifin Panigoro, Menpora Andi Mallarangeng atau siapa pun, sah-sah saja merasa kecewa dengan kiprah Nurdin Halid sebagai Ketua PSSI. Tetapi, tidak sepatutnya institusi PSSI-nya yang diobok-obok. Kalau ingin ‘menghabisi’ Nurdin Halid, lengserkanlah lewat jalur konstitusional yakni melalui Kongres PSSI. Jika ingin membunuh tikus di lumbung padi, tak perlulah lumbungnya ikutan dibakar…!(**)

Manis Awalnya, Pahit Ujungnya


Kisah sukses di awal-awal pertandingan di Piala AFF, ternyata harus diakhiri dengan kesedihan. Pada babak penyisihan, para pesepakbola timnas tampil trengginas dan membabat habis lawan-lawannya. Namun, pada pertandingan final, ceritanya menjadi berbalik 180 derajat. Ya, cuma manis awalnya, pahit ujungnya.
Kegagalan Indonesia meraih gelar Juara Piala AFF, semakin menambah panjang daftar kegagalan tim nasional sepak bola kita di kancah internasional. Pada ajang Piala Asean Federation Football (AFF) ini, seolah memantapkan predikat kita sebagai spesialis runner up. Dengan kegagalan kemarin, sudah empat kali timnas hanya sekadar sukses mencapai pusingan akhir.
Timnas kita memang sukses menaklukkan Malaysia 2-1. Tapi, kemenangan tersebut tidak berarti apa-apa. Sebab, sebelumnya tim besutan Alfred Riedl itu, telah dipecundangi anak-anak asuhan K Rajagopal dengan angka yang sangat mencolok, 3-1.
Inilah yang sangat kita sayangkan, mengapa kekalahan di Stadion Bukit Jalil itu, marginnya demikian besar. Seandainya kita bisa menahan seri atau kalah dengan angka 0-1, pasti ceritanya akan lain. Atau sekiranya penalti yang dilesakkan Firman Utina berbuah gol, hasilnya niscaya akan berbeda.
Tapi, apa hendak dikata, semuanya telah terjadi. Kegagalan demi kegagalan, tak cuma di olah raga sepak bola, melainkan juga di berbagai sektor kehidupan lainnya, seolah sudah menjadi takdir kita. Kita sepertinya sudah sangat terbiasa dengan kisah kegagalan demi kegagalan.
Dari segi teknis permainan, sejatinya timnas tidak kalah dibandingkan dengan Malaysia. Terbukti, pada babak penyisihan, mereka telah kita ganyang, 5-1. Dilihat dari permainan yang ditampilkan Markus Horison dkk, penyebab kegagalan agaknya terkait dengan mentalitas para pemain kita, yang belum bermental juara.
Agaknya itu pula menjadi salah satu faktor penyebab, mengapa seorang pemain sarat pengalaman seperti Firman Utina, mendadak sontak menjadi demikian melempem saat mengambil sepakan 12 pas itu.
Kalah dan menang, gagal dan sukses memang merupakan hal yang lumrah dalam setiap pertandingan atau kompetisi di bidang apa pun, termasuk olah raga. Tapi, entah kenapa kegagalan timnas Indonesia kali ini agak berbeda. Perasaan sedih terasa lebih mendalam dan menusuk ke ulu hati, karena yang mengandaskan perlawanan kita adalah musuh bebuyutan, Malaysia. Ini sama halnya seperti saat Real Madrid dibabakbelurkan seteru abadinya, Barcelona, terasa memilukan bagi pendukung El Real. Ya, begitulah ceritanya, cuma manis awalnya, pahit ujungnya. Amangoi amang…..(**)

PSSI Melambung, PSMS Terhuyung


Para penggemar sepakbola di Sumatera Utara, pastilah sama-sama menginginkan timnas (PSSI) dan PSMS menorehkan prestasi gemilang dalam setiap event yang diikuti. Namun, kedua tim ini sekarang mencatatkan prestasi bertolak belakang alias kontradiktif.
PSSI tengah melambung, sedangkan PSMS terhuyung. Timnas kita memang belum mengamankan gelar juara AFF. Tapi, raihan prestasi sebagai juara grup tanpa pernah mengalami seri dan kalah serta barusan membekap Filipina, merupakan catatan prestasi yang lumayan gemilang dan wajar jika diberi acungan jempol.
Dari sisi permainan tim besutan Alfred Riedl itu, sangat banyak memperlihatkan kemajuan baik dari segi teknis maupun kerja sama tim. karenanya terbersit secercah harapan, timnas akan mampu memenuhi ekspektasi ratusan juta rakyat Indonesia, yang sudah lama merindukan gelar juara diraih PSSI.
Setelah sukses menunddukkan Filipina di semi final leg pertama, kita berkeyakinan Christian ‘El Loco’ Gonzales dkk akan sukses meraih kemenangan dan melangkah ke partai final menghadapi pemenang pertandingan antara Malaysia dengan Vietnam. Lazimnya, secara psikologis timnas, tidak terlalu memendam perasaan khawatir menghadapi mereka.
Selama ini negara yang selalu mencemaskan dan menghantui kita adalah Thailand. Untunglah negerinya Raja Bhumidol Abduyadej itu sudah dikandaskan Bambang Pamungkas di babak penyisihan. Begitupun, kita berharap Firman Utina dkk, tidak lengah dan terlena oleh kucuran bonus, sehingga lalai mempersiapkan diri dengan optimal.
Prestasi sebaliknya justru dialami tim kesayangan warga Kota Medan, PSMS. Tim berjuluk Ayam Kinantan itu, awalnya sempat memberi harapan, karena mencatat dua kemenangan di partai kandang.
Namun, pada tiga pertandingan di luar kandang, Gaston castano dkk hancur lebur, dipecundangi lawan-lawannya. Alhasil, PSMS hanya berada di papan tengah klasemen sementara Tim Divisi Utama.
Dari performa yang ditampilkan PSMS Medan itu, kelihatannya tim asuhan Zulkarnaen Pasaribu itu (kini digantikan Rudy W Keltjes), sulit untuk bangkit dan memuaskan harapan pecinta sepakbola di kota ini. Mengapa prestasi PSMS, tak kunjung membaik ?
Hal ini bisa jadi karena rekrutmen pemain sejak awal, tidak dilakukan dengan baik. Seorang Kurniawan Dwi Julianto, yang sudah berusia senja dan habis masa kejayaannya, tidak selayaknya direkrut. Mestinya, manajemen PSMS merekrut pemain-pemain muda berkualitas, bukan sebaliknya masih mengandalkan pemain tua yang sudah kehilangan tajinya.
Ya, begitulah faktanya, di saat timnas Indonesia tengah melambung, PSMS Medan justru kesandung dan terhuyung-huyung. Harapan untuk promosi ke Liga Super Indonesia, kelihatannya kini hanya sebatas fatamorgana. Sungguh ironis…..!