Category Archives: Kehidupan

Simeone, Antara Guardiola dan Mourinho


diego-simeone.jpgAtletico Madrid memang belum dipastikan lolos ke final Liga Champions 2016. Namun, kemenangan 1-0 atas Bayern Muenchen dinihari kemarin, kembali mempertegas sosok Diego Simeone sebagai pelatih jempolan. Sebab, sebelumnya di perempat final anak didiknya juga sukses menaklukkan juara bertahan Barcelona.
Keberhasilan Atletico menggebuk dua tim bertabur bintang dan kaya raya sekelas Barcelona dan Bayern Muenchen, sekali lagi memperlihatkan, betapa sebuah klub sepak bola juga bisa meraih kesuksesan tanpa harus memiliki pemain bintang bergaji super mahal. Seperti lazim dilakoni Real Madrid, Bayern Muenchen, PSG, dan Manchester United, jika klub itu berada di tangan pelatih ‘bertangan dingin’ sekelas Simeone.
Agaknya hal itu pulalah yang membedakan level kepelatihan antara Simeone dengan Pep Guardiola dan Jose Mourinho. Dari segi raihan trofi, Simeone memang masih sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan torehan gelar yang berhasil dicatatkan Guardiola dan Mourinho.
Namun, keberhasilan Atletico Madrid terus menjadi pesaing utama dua klub raksasa Spanyol (Barcelona dan Real Madrid), sejak berada di bawah didikan Simeone dan puncaknya sukses meraih Juara La Liga pada musim 2013-2014, di tengah kedigdayaan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, jelas merupakan prestasi sangat mencengangkan dan spektakuler.
Padahal, sebelum berada di bawah binaan Diego Simeone, Atletico Madrid selalu menjadi bulan-bulanan Barcelona dan Real Madrid. Bahkan, dalam derby antara Atletico dengan Real, kekalahan hampir selalu berada di pihak Atletico dengan skor yang selalu lumayan telak.Tetapi, setelah mendapatkan sentuhan magis Simeone, semuanya berbalik 180 derajat, Atletico hampir selalu keluar sebagai pemenang dalam derby Madrid.
Riwayat kepelatihan Simeone tak hanya sukses saat menukangi Atletico, melainkan juga pernah mencatatkan kegemilangan saat melatih klub Argentina, San Lorenzo, Estudiantes dan River Plate. San Lorenzo dan Estudiantes bukan termasuk klub kaya di negaranya, namun berkat Simeone, berhasil meraih sukses.
Nah, coba bandingkan dengan Mourinho yang banyak meraih gelar. Namun, semua prestasi diperolehnya saat melatih klub besar bertabur bintang. Guardiola sama saja. Gelar juara diraihnya hanya bersama klub hebat yang diperkuat para pemain kelas satu (Barcelona dan Muenchen).
Banyak kalangan meyakini, tanpa dilatih Guardiola pun, Barca yang diperkuat Messi akan mudah meraih gelar. Begitu juga Muenchen dengan segudang pemain hebat, dipastikan sangat mudah meraih gelar Bundesliga. Dengan kata lain, kalau sekadar mendapatkan gelar juara Bundesliga, tanpa Guardiola pun mudah dilakukan.
Dari fakta-fakta ini, tak berlebihan jika disimpulkan Diego Simeone jauh lebih piawai dan jenius dibanding Guardiola dan Mourinho. Sebab, dalam menjalankan tugasnya sebagai pelatih, Simeone mampu memoles pemain ‘antah berantah’ menjadi sangat terkenal atau pemain yang sudah dianggap ‘habis’ seperti Torres, kembali bersinar. Dengan kata lain, Simeone lah ‘the real special one’ sejati. Begitulah…(**)

‘Mengasapi’ Penyebar Asap


Kepala Staf Presiden Teten Masduki menanggapi beredarnya kabar Komunitas Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) yang mengirim surat ke Perdana Menteri Nazib Razak dan meminta Malaysia turun tangan menangani masalah asap di Riau. Menurut Teten, saat ini pemerintah terus berusaha agar masalah tersebut cepat selesai.HL-3
“Pemerintah sedang dan terus berusaha, Presiden sudah panggil seluruh kementerian terkait, Panglima, Kapolri dan pemerintah daerah untuk koordinasi tanggulangi asap ini,” kata Teten saat akan mengantar Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Riau di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (6/9).
Teten menyebut Jokowi telah meminta aparat terkait untuk terus mencari apa penyebab terjadinya kebakaran. Jika ada oknum yang melakukannya dengan sengaja, maka pelakunya akan dibawa ke ranah pidana.
Dampak penyebaran asap akibat pemkabaran hutan, yang kabarnya berasal dari Provinsi Riau dan Jambi, tidak saja potensial menimbulkan timbulnya penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).
Serbuan kabut asap yang melanda hampir semua daerah di Sumatera Utara khususnya, juga telah membuat kenyamanan masyarakat terganggu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Termasuk membuat sejumlah penerbangan di Bandara Kuala Namu International Airport (KNIA), terpaksa dibatalkan.
Dengan kata lain, multiplier effeck yang ditimbulkan kabut asap itu, telah bersifat sistemik dan massif. Karenanya, sangat wajar jika pemerintah, dalam hal ini aparat penegak hukum segera ‘mengasapi’ (menindak tegas) para pelaku pembakaran hutan tersebut.
Seperti diketahui, pembakaran hutan khususnya di daerah Riau, sudah berulangkali terjadi dan menimbulkan serbuan kabut asap yang menyebabkan tak saja seluruh masyarakat Sumut menderita, melainkan juga berdampak pada masyarakat di negeri jiran kita.
Tentu, negeri jiran wajar merasa geram dan kecewa dengan pemerintahan kita, yang dinilai tidak becus dan kurang cepat mengasapi (memberangus) para pelaku pembakaran lahan/ hutan, yang tidak bertanggungjawab tersebut.
Nah, dalam hal ini kita menunggu realisasi ketegasan pihak pemerintah sebagaimana disebutkan Teten Masduki di atas, bahwa Presiden Jokowi sudah memanggil kementerian terkait, untuk secepatnya menuntaskan permasalahan asap itu.
Jika pihak berkompeten khususnya jajaran kepolisian mau bertindak tegas dan cepat, dipastikan akan dengan mudah, mengendus para pelaku di balik meruyaknya kabut asap tersebut, sekaligus segera mengasapinya, supaya tidak lagi mengulangi perbuatan serupa di kemudian hari. Ditunggu…!(**)

Tipelogi Caleg


ImageIni dia tipelogi atau jenis-jenis calon legislatif (caleg) yang akan ‘mengasah parang’ pada Pileg 2014, dari perspektif eceg-eceg…
1. Caleg monek (modal nekad)
2. Caleg monyong (modal nyolong)
3. Caleg montok (modal rontok)
4. Caleg monika (modal nipu kawan)
5. Caleg modar (modal alakadar)
6. Caleg motif (modal tipis)
7. Caleg mogok (modal nyogok)
8 .Caleg mokondo (modal kombur doang)
9. Caleg monita (modal nipu mertua)
10.Caleg modom (modal dompet, tebal)……!

Ketika Pejabat Jadi Penjahat


Gambar
Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terkait adanya dugaan suap yang diterima pejabat Pemkab Mandailing Natal dan seorang swasta di Medan, pada Selasa lalu.
Tim baru saja menangkap Bupati Mandailing Natal, Hidayat Batubara, Rabu (15/5) sekitar pukul 16.00 WIB  “HIB baru saja ditangkap di Medan sekitar pukul 16.00 WIB, kemungkinan akan dibawa ke Jakarta,” kata juru bicara KPK, Johan Budi SP dalam jumpa pers di kantor KPK, Jakarta, Rabu (15/5).
Berita seputar penangkapan pejabat oleh KPK bukan lagi kabar yang mengejutkan. Di era kejayaan KPK saat ini, kabar penangkapan pejabat (menteri, gubernur, bupati, wali kota, pimpinan parpol, dan anggota dewan), sudah dianggap bukan lagi berita yang menarik.
Mungkin kiprah KPK baru akan dianggap spektakuler dan meninggalkan legacy monumental bagi rakyat Indonesia, jika para penyidik KPK berani, misalnya menjadikan Wakil Presiden atau Presiden RI yang masih aktif, sebagai tersangka sekaligus melakukan penahanan ?
Pasalnya, bagi masyarakat, perilaku pejabat yang menjelma menjadi penjahat (menguras uang negara) demi kepentingan pribadi/ kelompok, serta menyalahgunakan wewenang demi memperkaya diri, seolah sudah menjadi rahasia umum.
Sejatinya, jika mau jujur dan objektif, hampir semua pejabat, tidak ada yang benar-benar bersih. Jika kini mereka selamat dan aksi penjarahan uang negara yang dilakukannya tidak terendus KPK. Hal itu bisa jadi disebabkan, dirinya masih dilindungi dewi fortuna dan atau sangat piawai memproteksi diri, sehingga aksi kejahatannya tidak bisa tercium KPK.
Namun, dalam hal maraknya pejabat yang berubah menjadi penjahat (ekonomi) itu, agaknya patut pula dijadikan kajian mendalam ; apakah semua pejabat terlibat korupsi itu, memang benar-benar bermasalah
atau bisa jadi pula, mereka hanya ketiban apes atau terbawa rendong oleh berbagai tekanan yang dihadapinya dalam mengamankan jabatannya.
Kita meyakini, di antara para pejabat itu sebenarnya masih banyak yang tidak ingin terlibat dalam aksi kejahatan (menyalahgunakan kekuasaan). Tidak tertutup kemungkinan, mereka ‘dipaksa’ oleh keadaan atau juga karena sudah telanjur banyak mengeluarkan dana saat Pilkada, hingga tergoda untuk mengembalikan uang yang telah digelontorkannya itu.
Ketika pejabat pun menjadi penjahat, sudah pasti kondisi ini akan merugikan rakyat dan bangsa Indonesia. Dalam konteks ini diperlukan solusi bersama, agar stabilitas negara tidak sampai terganggu, akibat semakin banyaknya pejabat yang terpaksa menghuni jeruji besi. Harus ada way out mengatasi situasi ini, supaya para pejabat di negeri ini tidak ‘dipaksa’ menjadi penjahat.(**)

Wakil Rakyat Memang Tak Merakyat



Anggota DPR-RI dari Partai Demokrat, Ruhut Sitompul mengaku, memiliki jam tangan Rolex yang selalu melekat di pergelangan tangannya, dengan harga yang sangat fantastis mencapai Rp 450 juta.
“Jam tanganku Rolex Yacht Master II, keluaran terbaru dong. Harganya Rp 450 juta. Itu kubeli waktu aku jadi lawyer tahun 2007 lalu, kalau sudah jadi anggota DPR sih berat,” kata Ruhut sambil tersenyum, Selasa (28/2).
Sementara, Wakil Ketua DPR dari PKS, Anis Matta juga pengguna jam tangan merek Rolex. Anis mengaku, tak begitu paham seri jam tangan Rolex yang dibelinya sekitar 5 tahun lalu tersebut. “Waktu beli sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu Rp 70 jutaan,” katanya.
Nah, omong-omong soal jam tangan, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso ternyata punya beberapa koleksi jam tangan. Jam tangan favoritnya merek Mont Blanc. Berapa harganya ? “Jam tangan favorit saya itu Mont Blanc warna hitam, dulu saya beli Rp 22 juta,” kata Priyo.
Ruhut, Anis, dan Priyo, sah-sah saja memiliki jam tangan dengan harga selangit itu. Namun, dalam kapasitasnya selaku wakil rakyat, tidak sepatutnya mereka memamerkan kemewahan dan gaya hidup mereka yang sangat trendy dan terkesan materialis itu.
Lagi pula mengoleksi dan mengenakan jam tangan yang serba mahal itu, juga potensial mengundang kecurigaan dan pertanyaan ; layakkah seorang anggota DPR-RI yang ‘hanya’ menerima honor resmi Rp 50 jutaan, mengoleksi jam tangan seharga puluhan hingga ratusan juta ?
Memang dengan honor beberapa bulan saja, jam tangan mewah itu sudah bisa dibeli. Tapi, dalam kapasitasnya sebagai wakilnya rakyat, tidak sepatutnya anggota DPR-RI mempertontonkan gaya hidup konsumerisme yang penuh dengan kemewahan dan sedikit arogan.
Selagi masih berstatus sebagai anggota dewan, yang diberi amanah sebagai pengemban aspirasi rakyat, akan lebih elegan dan terhormat, jika anggota DPR-RI mempertontonkan pola hidup yang sederhana dan tidak mengumbar kemewahan.
Memakai dan mengoleksi jam tangan berharga puluhan hingga ratusan juta, bermakna wakil rakyat tidak mampu berempati dengan penderitaan rakyat yang diwakilinya. Agaknya, mereka lebih suka mengikuti seleranya sendiri dan mengabaikan selera rakyat.
Sejatinya, rakyat pun sudah lama menyadari, bahwa para wakilnya di DPR/ D, memang tidak bisa diharapkan akan mampu berbuat optimal dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
Cilakanya, selain tidak mampu memperjuangkan aspirasi rakyat, para wakil rakyat itu pun seolah ‘mengejek’ kemiskinan rakyat, dengan mempertontonkan gaya hidup serba glamour. Payahhh……

Angelina Sondakh Tak Berakhir Indah…


Angelina Sondakh tidak sekadar cantik, tapi juga intelek. Paduan kecantikan dan intelektualitasnya itu pula yang menyebabkan wanita kelahiran Australia 28 Desember 1977 ini, terpilih sebagai Putri Indonesia pada tahun 2011 lalu.   
Nama Angie, begitu dia biasa disapa semakin mentereng, setelah sukses menjadi anggota DPR-RI melalui Partai Demokrat, sejak tahun 2004. Dengan kata lain, kini dia sudah memasuki periode kedua duduk di Senayan.
Angie juga semakin dikagumi banyak kalangan, karena pilihannya untuk menerima lamaran Adjie Massaid (juga anggota DPR) tahun 2009, dinilai sebagai pilihan sangat tepat, dan menjadikan pasangan ini sebagai the best couple yang mengundang kekaguman plus ‘kecemburuan’.
Namun, Adjie Massaid kemudian mendadak dipanggil Sang Khaliq, 5 Februari 2011 lalu. Tangis dan duka berkepanjangan Angie meratapi kepergian suaminya, juga mengundang simpati banyak kalangan.
Tapi, pada perkembangan selanjutnya, banyak kalangan mulai kecewa dengan sikap Angie, yang dinilai terlalu cepat menggandeng calon pengganti almarhum Adjie, yakni Kompol Brotoseno. Sebagai seorang wanita yang penuh gizi, wajar memang Angie butuh pendamping. Namun, kurang elok jika pencarian pengganti dilakukan terlalu cepat.
Ya, akhirnya Angelina Sondakh memang tak berakhir indah. Kemarin, Ketua KPK Abraham Samad telah mengumumkan statusnya sebagai tersangka dalam kasus Wisma Atlet.
Angie dijerat dengan pasal penyuapan terkait kasus Wisma Atlet. Bahkan, dia dijuga dikenakan pasal alternatif bila suap itu tidak terbukti. Ancaman hukumannya 5 tahun penjara.
“Pasal dikenakan kepada yang bersangkutan adalah Pasal 5 ayat dua, atau Pasal 11, atau Pasal 12 huruf a UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi,” kata Abraham Samad, saat jumpa pers di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Jumat (3/2).
Ancaman hukuman dalam pasal tersebut adalah, “Setiap orang yang melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 209 Kitab Undang-undang Hukum Pidana, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun dan atau denda paling sedikit Rp 50.000.000 dan paling banyak Rp 250.000.000,00.”
Berbicara soal Angelina Sondakh sejatinya berkaitan dengan keindahan. Tak cuma keindahan dari segi fisiknya, melainkan juga keindahan dari berbagai prestasi yang pernah ditorehkannya.
Dia misalnya pernah tercatat sebagai Juara I Favorit & Busana Terbaik, Putri Cempaka Manado 1995, Juara I Noni Sulut 1996, Juara I lomba Pidato Bahasa Inggris se-Sulut 1996, Juara I Lomba Debat Ilmiah se-Sulut 1996, Juara I Penataran P-4 Unika Atmajaya 1996, Juara I Lomba Pemandu Wisata Sulawesi Utara 1997, Miss Novotel Indonesia 2000, dan penghargaan Satya Karya Kemerdekaan dari Mensos RI 2002.
Begitulah kehidupan, perjalanan karier Angelina Sondakh (untuk sementara) tak berakhir indah. Agaknya, itu merupakan konsekuensi pilihan kariernya yang banting setir ke politik. Tentang ini, Angie sendiri mengakui : ‘politics never fair play‘. Akhir yang miris, sungguh ironis….

Ketika Rakyat Salah Memilih


Ketua DPR Marzuki Alie mengimbau seluruh anggota DPR untuk bekerja lebih baik pada tahun 2012. Jangan sampai rakyat menyesal memilih wakilnya di DPR !
“Kita masih punya waktu 2,5 tahun lagi sampai pemilu 2014. Kalau tahun-tahun lalu kita kedodoran, mungkin karena perlu adaptasi. Tahun 2013 partai-partai akan sudah mempersiapkan diri untuk pemilu, maka tinggal tahun 2012 yang tersisa untuk berkarya yang terbaik,” kata Marzuki, Selasa (3/1).
Marzuki seakan pura-pura tidak tahu, padahal sebenarnya sudah sejak lama rakyat merasa salah dan menyesal sejumlah anggota DPR/ D yang tidak optimal memperjuangkan aspirasi rakyat tersebut.
Sejatinya, tidak hanya dalam hal memilih anggota DPR/ D saja, sebahagian rakyat merasa menyesal karena ternyata telah salah pilih, melainkan juga saat memilih para pemimpin mereka di daerah (gubernur, bupati dan wali kota). Bahkan, kini merasa menyesal karena dulu telah memilih SBY-Boediono.
Terbukti, tidak cuma wakil rakyat di DPR/ D saja, yang terlalu disibukkan dengan manuver-manuver politik untuk kepentingan partai dan dirinya sendiri, para kepala daerah dan pemimpin tertinggi di negeri ini, juga belum cukup memuaskan kinerjanya dalam hal peningkatan kesejahteraan rakyat.
Rakyat sejahtera yang terbebas dari kemiskinan dan pengangguran, hanya tertuang dalam visi-misi yang dengan berapi-api disampaikan para calon kepala daerah, presiden, dan wakil rakyat, saat menggelar kampanye.
Ketika kursi empuk kekuasaan sudah berada di genggaman, mereka pun dengan begitu mudahnya melupakan janji-janji dan visi-misi tersebut. Yang ada di benak mereka, justru bagaimana melakukan berbagai manuver, yang mengarah pada politik pencitraan yang tidak terlalu dirasakan rakyat manfaatnya.Lalu, ketika rakyat telah terbukti salah dalam memilih, selanjutnya apa yang mesti dilakukan ? Dalam konteks ini, diimbau kepada segenap rakyat Indonesia, agar pada event pemilihan kepala daerah dan Pemilu legislatif dan Pilpres mendatang, tidak lagi salah pilih.
Selain itu, perlu segera diinventarisasi anggota DPR/ D mana saja, yang selama ini kinerjanya tidak optimal dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Begitu juga kepala daerah yang cuma piawai pidato dan nihil prestasi, harus segera ‘diberi pelajaran’. Mereka (anggota dewan dan kepala daerah) yang melempem itu, tidak boleh dibiarkan terpilih kembali.
Nah, untuk Presiden RI mendatang, rakyat pun seharusnya sudah bisa mendeteksi sejak dini, siapa saja figur yang layak dan akan benar-benar berbuat untuk rakyat, jika diberi mandat menjadi kepala negara. Kesalahan dalam menjatuhkan pilihan tidak selayaknya terjadi berulang kali. Semoga….

Sudah Saatnya Pensiun, Sir Alex !


Hanya butuh hasil seri untuk lolos ke babak 16 besar. Namun, fakta berbicara Manchester United harus tersungkur di kandang klub antah berantah FC Basel, 1-2, Kamis kemarin. Dengan hasil ini, The Red Devils harus puas turun kasta, hanya bermain di Liga Europa.
Pencapaian ini, jelas merupakan sebuah kegagalan terbesar MU, yang baru setahun lalu menjadi runner up Liga Champions, setelah dikandaskan Barcelona. Ia pun terang-terangan mengaku kecewa dengan hasil yang didapat skuadnya.
Tak hanya itu, MU juga tiga kali menjadi finalis dalam empat musim terakhir Liga Champions. Menyikapi hal itu, Sir Alex Ferguson sendiri menyatakan, bahwa Liga Europa tidak pernah ada di benaknya. “Tentu saja kami kecewa. Tak mungkin ada perasaan lain selain itu,”ujarnya.
Tanda-tanda kegagalan MU tahun ini, memang sudah mulai terlihat, utamanya setelah Wayne Rooney dkk dibabakbelurkan tim sekotanya, Manchester City 1-6. Sejak kekalahan memalukan ini, permainan tim besutan Sir Alex mengalami penurunan drastis.
Kendati masih bisa bertahan di posisi kedua Liga Primeir Inggris, namun kemenangan yang diraih, hampir semuanya didapatkan dengan susah payah alias kurang meyakinkan. Terakhir misalnya, hanya mampu meraih kemenangan 1-0 melawan Aston Villa.
Pekan lalu, Nemanja Vidic dkk juga mengalami kekalahan memalukan di perempat final Piala Carling. Di kandang sendiri, ditundukkan tim kasta bawah Crystal Palace dengan skor 2-1.
Sejumlah hasil pertandingan yang ditorehkan MU belakangan ini memang, jauh dari kesan statusnya sebagai klub raksasa Inggris. Puncaknya, sudah barang tentu kegagalan melaju ke babak 16 besar, setelah dipecundangi klub yang tak pernah dikenal prestasinya di jagat sepakbola, yakni FC Basel.
Kiprah dan talenta Sir Alex sebagai salah satu manajer terbaik di dunia, tentu tidak akan pernah diragukan. Terbukti, dalam kariernya dalam menangani MU, sejak tahun 1986 lalu, Fergie telah memperoleh hampir semua trophy yang diperebutkan oleh klub sepakbola sejagat.
Namun, dengan torehan prestasinya belakangan ini, tidak ada salahnya pula jika kita menyarankan Sir Alex, agar segera pensiun. 25 tahun menangani sebuah klub sepakbola, merupakan sebuah rentang waktu yang sangat panjang.
Ibarat sebuah rezim pemerintahan, Sir Alex sudah terlalu lama berkuasa. Terbukti, kekuasaan yang terlalu lama berpusat pada seseorang, bisa memunculkan penyalahgunaan wewenang (abuse of power), atau setidaknya melahirkan sebuah kejenuhan.
Bisa jadi Sir Alex sudah jenuh, seiring dengan usianya yang sudah semakin renta. Karenanya, kini saatnya untuk pensiun, Sir Alex !

Fenomena Mundurnya Briptu Norman


Briptu Norman Kamaru pertama kali menggegerkan publik di tanah air, karena aksi lipsync-nya mencontoh aksi Shahrukh Khan dalam lagu ‘Chaiyya-chaiyya’ dari film ‘Dil Se’, yang aslinya dinyanyikan Sukhwinder Sigh, seorang background singer Bollywood, yang kariernya tidak sementereng Mohammad Rafi, Kishore Kumar atau Sonu Nigam.
Setelah pemunculannya yang menarik perhatian publik dalam video yang diupload ke youtube itu, Briptu Norman kemudian mendadak sontak berubah menjadi selebriti. Aksi dan kehadirannya banyak ditunggu-tunggu. Bahkan media televisi pun rebutan ingin menampilkan sosoknya.
Setelah pamornya sebagai selebriti dadakan mulai meredup, Briptu Norman kembali membuat kejutan. Dia menyatakan ingin mundur dari keanggotaannya di Brimob Polda Gorontalo. Konon, pengunduran dirinya karena sudah merasa capek bertugas sebagai polisi dan ingin lebih eksis mengembangkan karier sebagai penyanyi.
Karuan saja keinginan Norman ini layak dinilai sebagai sebuah sikap yang mengejutkan. Karenanya, tidak berlebihan
jika pimpinan Polri merasa bak ‘kebakaran jenggot’. Tidak aneh pula, jika Mabes Polri kemudian tidak bisa begitu saja mengabulkan permohonan Briptu Norman Kamaru untuk mundur dari Brimob. Norman diwajibkan membayar ganti rugi atas biaya pendidikan yang dikeluarkan negara selama ini untuknya.
“Setelah masuk polisi dididik dan disekolahkan, yang dibiayai dari uang rakyat. Polisi mengemban amanat rakyat, kalau
mendidik polisi kan uang rakyat. Makanya ada peraturan internal kepolisian,” ujar Karopenmas Brigjen Pol I Ketut
Untung Yoga Ana saat dihubungi wartawan, Senin (19/9).
Yoga mengatakan, ikatan dinas bagi seorang anggota bintara yakni 10 tahun. Sementara Briptu Norman baru berdinas
6 tahun.”Peraturan Polri mengemban amanat rakyat. Saya belum baca detailnya keluarnya atas keluar sendiri atau
polisi, jadi harus mengganti biaya itu,” jelas Yoga.
Yoga tidak menjelaskan berapa total jumlah yang harus dibayarkan Briptu Norman. Namun sesuai aturan, Briptu Norman
harus mengganti uang yang selama ini dikeluarkan negara untuknya.”Kan sudah mengeluarkan uang untuk pendidikan
itu,” imbuhnya.
Fenomena Briptu Norman ini memang menarik untuk dicermati. Dan, dipastikan sosoknya akan lebih menarik dan
ditunggu penggemarnya, jika yang bersangkutan tetap menyandang status sebagai anggota kepolisian.
Dengan menanggalkan statusnya sebagai anggota Polri, hal itu bermakna Briptu Norman Kamaru telah ‘mengkhianati’
institusi yang telah membesarkan namanya. Patut diingat, jika yang melakukan lipsync “Chaiyya-chaiyya’ itu, bukan
seorang Norman, yang anggota Brimob itu, niscaya tidak akan mengundang antuasias masyarakat untuk
mengunduhnya.
Hal inilah yang mungkin tidak disadari oleh Norman. Tanpa menyandang status Briptu di pundaknya, dia tidak akan
‘diterge’ masyarakat, dan hampir dipastikan obsesinya menjadi penyanyi sukses, akan membentur tembok besar. (**)

Bencana tak Henti Melanda


Gempa berkekuatan 6,7 skala richter (SR) yang terjadi di kawasan Singkil Baru, Provinsi Aceh pukul 00.55 WIB, Selasa dinihari terasa cukup kencang di sejumlah daerah di Sumatera Utara, termasuk di Kota Medan.
Bencana gempa tersebut misalnya, juga menimbulkan kerusakan puluhan rumah di Kabupaten Dairi, Tanah Karo, dan Pakpak Bharat. Dampak gempa juga terasa hingga ke Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, dan berbagai daerah lainnya di Sumatera Utara.
Sudah barang tentu, sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Aceh, kita sangat prihatin dengan terjadinya gempa tersebut. Gempa ini mungkin tidak sedahsyat gempa sebelumnya, yang terjadi berulang kali di Aceh dan sekitarnya.
Namun, apa pun ceritanya, gempa tetap berdampak pada timbulnya korban. Ada yang meninggal, dan tentu lebih banyak lagi warga dan saudara kita yang terpaksa kehilangan tempat tinggal, karena luluh lantak diterjang gempa tersebut.
Di sisi lain, sebagai hambaNya yang percaya pada kehendak dan takdir Sang Maha Kuasa, Allah Azza wa Jalla, kita juga berkewajiban melakukan introspeksi dan melakukan kontemplasi (perenungan), mengapa berbagai bencana seolah tiada henti melanda negeri ini ?
Adakah hal itu sebagai sebuah hukuman terhadap manusia Indonesia, yang kini cenderung semakin terpola pada tradisi hidup yang individualis, kapitalis, serta hipokrit ? Atau, berbagai bencana yang diturunkan Allah itu, hanya sekadar ujian bagi hambaNya agar semakin ingat kepadaNya ?
Apa pun yang menjadi faktor penyebab banyaknya bencana yang melanda negeri ini, satu hal yang pasti, dibutuhkan introspeksi dari semua pihak di negeri ini, agar dapat mencari alternatif solusi dalam mengantisipasi sekaligus meminimalisir dampak negatif berbagai bencana tersebut.
Tidak tepat lagi, jika pemerintah dan pihak-pihak terkait hanya memikirkan langkah-langkah riil pasca terjadinya gempa, banjir, longsor, serta berbagai bencana lainnya.
Hal mendesak, yang mestinya juga harus segera dilakukan pemerintah dari pusat hingga ke daerah adalah melakukan upaya nyata menyiasati kemungkinan terjadinya bencana, sekaligus melakukan sosialisasi kepada segenap rakyat Indonesia, bagaimana kiat menghadapi ancaman berbagai bencana tersebut, agar masyarakat tidak panik dan larut dalam kecenderungan traumatis.
Namun, seolah sudah menjadi takdir rakyat Indonesia, apa pun yang hendak dikatakan dan diusulkan kepada pemerintah dan jajarannya, semua itu seolah akan menguap begitu saja, alias tidak jelas follow-up nya.
Karena itu, ketika berbagai bencana tiada henti melanda, rakyat hanya bisa bersikap pasrah dan selanjutnya berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, agar tidak menjadi sasaran bencana yang maha dahsyat tersebut.(**)