Category Archives: Budaya

‘Mengasapi’ Penyebar Asap


Kepala Staf Presiden Teten Masduki menanggapi beredarnya kabar Komunitas Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) yang mengirim surat ke Perdana Menteri Nazib Razak dan meminta Malaysia turun tangan menangani masalah asap di Riau. Menurut Teten, saat ini pemerintah terus berusaha agar masalah tersebut cepat selesai.HL-3
“Pemerintah sedang dan terus berusaha, Presiden sudah panggil seluruh kementerian terkait, Panglima, Kapolri dan pemerintah daerah untuk koordinasi tanggulangi asap ini,” kata Teten saat akan mengantar Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan ke Riau di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (6/9).
Teten menyebut Jokowi telah meminta aparat terkait untuk terus mencari apa penyebab terjadinya kebakaran. Jika ada oknum yang melakukannya dengan sengaja, maka pelakunya akan dibawa ke ranah pidana.
Dampak penyebaran asap akibat pemkabaran hutan, yang kabarnya berasal dari Provinsi Riau dan Jambi, tidak saja potensial menimbulkan timbulnya penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA).
Serbuan kabut asap yang melanda hampir semua daerah di Sumatera Utara khususnya, juga telah membuat kenyamanan masyarakat terganggu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Termasuk membuat sejumlah penerbangan di Bandara Kuala Namu International Airport (KNIA), terpaksa dibatalkan.
Dengan kata lain, multiplier effeck yang ditimbulkan kabut asap itu, telah bersifat sistemik dan massif. Karenanya, sangat wajar jika pemerintah, dalam hal ini aparat penegak hukum segera ‘mengasapi’ (menindak tegas) para pelaku pembakaran hutan tersebut.
Seperti diketahui, pembakaran hutan khususnya di daerah Riau, sudah berulangkali terjadi dan menimbulkan serbuan kabut asap yang menyebabkan tak saja seluruh masyarakat Sumut menderita, melainkan juga berdampak pada masyarakat di negeri jiran kita.
Tentu, negeri jiran wajar merasa geram dan kecewa dengan pemerintahan kita, yang dinilai tidak becus dan kurang cepat mengasapi (memberangus) para pelaku pembakaran lahan/ hutan, yang tidak bertanggungjawab tersebut.
Nah, dalam hal ini kita menunggu realisasi ketegasan pihak pemerintah sebagaimana disebutkan Teten Masduki di atas, bahwa Presiden Jokowi sudah memanggil kementerian terkait, untuk secepatnya menuntaskan permasalahan asap itu.
Jika pihak berkompeten khususnya jajaran kepolisian mau bertindak tegas dan cepat, dipastikan akan dengan mudah, mengendus para pelaku di balik meruyaknya kabut asap tersebut, sekaligus segera mengasapinya, supaya tidak lagi mengulangi perbuatan serupa di kemudian hari. Ditunggu…!(**)

Ketika Pejabat Jadi Penjahat


Gambar
Tim Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terkait adanya dugaan suap yang diterima pejabat Pemkab Mandailing Natal dan seorang swasta di Medan, pada Selasa lalu.
Tim baru saja menangkap Bupati Mandailing Natal, Hidayat Batubara, Rabu (15/5) sekitar pukul 16.00 WIB  “HIB baru saja ditangkap di Medan sekitar pukul 16.00 WIB, kemungkinan akan dibawa ke Jakarta,” kata juru bicara KPK, Johan Budi SP dalam jumpa pers di kantor KPK, Jakarta, Rabu (15/5).
Berita seputar penangkapan pejabat oleh KPK bukan lagi kabar yang mengejutkan. Di era kejayaan KPK saat ini, kabar penangkapan pejabat (menteri, gubernur, bupati, wali kota, pimpinan parpol, dan anggota dewan), sudah dianggap bukan lagi berita yang menarik.
Mungkin kiprah KPK baru akan dianggap spektakuler dan meninggalkan legacy monumental bagi rakyat Indonesia, jika para penyidik KPK berani, misalnya menjadikan Wakil Presiden atau Presiden RI yang masih aktif, sebagai tersangka sekaligus melakukan penahanan ?
Pasalnya, bagi masyarakat, perilaku pejabat yang menjelma menjadi penjahat (menguras uang negara) demi kepentingan pribadi/ kelompok, serta menyalahgunakan wewenang demi memperkaya diri, seolah sudah menjadi rahasia umum.
Sejatinya, jika mau jujur dan objektif, hampir semua pejabat, tidak ada yang benar-benar bersih. Jika kini mereka selamat dan aksi penjarahan uang negara yang dilakukannya tidak terendus KPK. Hal itu bisa jadi disebabkan, dirinya masih dilindungi dewi fortuna dan atau sangat piawai memproteksi diri, sehingga aksi kejahatannya tidak bisa tercium KPK.
Namun, dalam hal maraknya pejabat yang berubah menjadi penjahat (ekonomi) itu, agaknya patut pula dijadikan kajian mendalam ; apakah semua pejabat terlibat korupsi itu, memang benar-benar bermasalah
atau bisa jadi pula, mereka hanya ketiban apes atau terbawa rendong oleh berbagai tekanan yang dihadapinya dalam mengamankan jabatannya.
Kita meyakini, di antara para pejabat itu sebenarnya masih banyak yang tidak ingin terlibat dalam aksi kejahatan (menyalahgunakan kekuasaan). Tidak tertutup kemungkinan, mereka ‘dipaksa’ oleh keadaan atau juga karena sudah telanjur banyak mengeluarkan dana saat Pilkada, hingga tergoda untuk mengembalikan uang yang telah digelontorkannya itu.
Ketika pejabat pun menjadi penjahat, sudah pasti kondisi ini akan merugikan rakyat dan bangsa Indonesia. Dalam konteks ini diperlukan solusi bersama, agar stabilitas negara tidak sampai terganggu, akibat semakin banyaknya pejabat yang terpaksa menghuni jeruji besi. Harus ada way out mengatasi situasi ini, supaya para pejabat di negeri ini tidak ‘dipaksa’ menjadi penjahat.(**)

Ketika Rhoma Kalahkan Ical dan JK


GambarPopularitas Raja Dangdut Rhoma Irama semakin terdongkrak. Elektabilitas Rhoma Irama di ajang Pemilihan Presiden 2014, bahkan mengalahkan politisi-politisi terkemuka.
Politisi senior yang harus mengakui keunggulan Bang Haji adalah, Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Wiranto dan Hatta Rajasa. Elektabilitas Rhoma Irama berada di urutan keempat hasil survei Pusat Data Bersatu (PDB), yang dirilis Rabu (6/2) lalu.
Lembaga survei yang dipimpin Didik J Rachbini itu memilih 13 kandidat capres potensial.  Survei yang dilakukan sejak 3 Januari-18 Januari 2013 itu melibatkan 1.200 responden di 30 provinsi di Indonesia secara acak.
Dalam hasil survei itu, Gubernur DKI Jakarta, Jokowi menempati urutan teratas, dengan dukungan 21,2 persen suara responden. Urutan kedua ditempati Prabowo Subianto (18,4 persen). Berturut-turut disusul Megawati Soekarnoputri (13), Rhoma Irama (10,4), Aburizal Bakrie (9,3), Jusuf Kalla (7,8), Wiranto (3,5), Mahfud MD (2,8), Dahlan Iskan (2,0), Surya Paloh (1,3), Hatta Rajasa (1,2), Chairul Tanjung (0,4) dan Djoko Suyanto (0,3 persen suara).

Melihat hasil survei tersebut, mungkin banyak yang terkejut dan sedikit kurang percaya. Namun, menimbang sosok Didik J Rachbini, yang berada di balik lembaga survei tersebut, mau tidak mau, kita harus percaya, bahwa hasil survei itu sangat objektif.
Pasalnya, selama ini Didik J Rachbini dikenal sebagai sosok intelektual yang kritis, cerdas dan lugas. Dapat dipastikan, yang bersangkutan tidak akan mau mengorbankan integritasnya, dan menjadikan wadah dipimpinnya sebagai lembaga survei pesanan.
Pertanyaannya, mengapa elektabilitas seorang Rhoma Irama bisa mengalahkan tokoh sekaliber Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla (JK), Wiranto, Mahfud MD, Dahlan Iskan, Surya Paloh, dan Hatta Rajasa ?
Hal ini tiada lain, karena sosok Rhoma Irama sejatinya bukan sekadar raja dangdut atau musisi biasa. Lebih dari itu, ayah penyanyi Ridho Rhoma ini juga dianugerahi kelebihan, sebagai cendekiawan dan seorang da’i.
Dan, hanya sedikit artis/ seniman di pentas musik tanah air, yang talentanya bisa disejajarkan dengan Rhoma Irama, sebutlah misalnya Iwan Fals, Ebiet G Ade, Deddy Mizwar, Eros Djarot, dan Ahmad Dhani.
Sosok Rhoma memiliki kharisma yang membuatnya memiliki pengaruh kuat, tidak saja di dunia keartisan, tetapi juga merambah ke dunia politik.
Lagi pula, kiprah Rhoma di bidang politik bukanlah hal baru. Dia sudah pernah tercatat sebagai politisi PPP, dan menjadi anggota DPR-RI melalui Golongan Karya. Dengan segudang pengalaman yang dimilikinya, sangat wajar, jika dia merasa mampu menjadi Presiden RI.

Di sisi lain, hampir seluruh rakyat Indonesia, tidak ada yang tak tahu dengan nama Rhoma Irama. Sejumlah lagu-lagunya hingga kini masih tetap populer dan menjadi lagu wajib di setiap acara kondangan, seperti Syahdu, Malam Terakhir, Kehilangan, Pantun Cinta, Cuma Kamu, Menunggu, Kerinduan, Keramat dan lainnya.
Dengan kata lain, sebagai seorang raja dangdut, Rhoma sudah memiliki modal dasar (basis pendukung) para penggemar fanatik lagu-lagunya. Karenanya, sangat masuk akal, jika survei membuktikan, elektabilitasnya mengalahkan Ical dan JK.(**)

Beda Puasa, Tujuan Sama


Beda Puasa, Tujuan Tetap SamaSetelah pemantauan hilal dilakukan di beberapa titik di Indonesia, akhirnya ditetapkan 1 Ramadan 1433 H jatuh pada Sabtu, 21 Juli 2012. Tidak ada perbedaan pendapat dalam sidang itsbat yang digelar malam ini dengan melibatkan sejumlah ormas Islam.
“Sesuai laporan tadi dan pencermatam pertimbangan yang dilakukan di berbagai tempat tadi, bahwa hilal tidak bisa dilihat. Oleh karenanya, 1 Ramadan 1433 H jatuh pada hari Sabtu 21 Juli 2012,” ujar Menteri Agama Suryadharma Ali dalam jumpa pers usai sidang isbat di Kantor Kemenag, Jalan MH Thamrin, Kamis (19/7).
Sementara, Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) telah menetapkan bahwa awal Ramadhan 1433 Hijriyah jatuh pada Jumat, 20 Juli 2012. Sementara 1 Syawal atau hari pertama Lebaran pada Minggu, 19 Agustus 2012.Gambar
Perbedaan hari memulai ibadah puasa, bukanlah hal baru di tanah air. Muhammadiyah dan berbagai ormas Islam, hampir selalu lebih dahulu berpuasa, dibanding pemerintah. Apalagi selama ini, pihak pemerintah c/q Menteri Agama lebih sering dijabat sosok yang lebih cenderung berafiliasi ke NU. Hal ini sering pula ikut mempengaruhi keptusan pemerintah menetapkan hari H permulaan puasa.
Namun, perbedaan awal puasa tidaklah perlu diperdebatkan, apalagi dipertentangkan. Di dalam ajaran Islam, perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah, bahkan sering disebut sebagai rahmah. Karenanya, perbedaan pendapat tidak boleh menjurus pada perpecahan dan menipiskan ukhuwah antarumat Islam.
Awal menjalankan ibadah puasa, boleh saja berbeda, tapi sejatinya tetaplah bermuara pada tujuan yang sama. Sebagaimana digariskan dalam AlQuran Surah Albaqarah 183, ‘Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.”
Dengan kata lain, umat Islam yang berpuasa mulai Jumat atau Sabtu, tujuan yang hendak dicapai adalah la’allakum tattaquun (agar menjadi orang yang bertakwa). Nah, bagi mereka yang berpuasa dan hanya memperoleh lapar dan dahaga saja, dipastikan akan sia-sia belaka puasa yang dimulainya, apakah itu sejak Jumat atau Sabtu.
Sejalan dengan telah masuknya bulan Ramadan 1433 H, dan saudara kita sesama muslim, sudah ada yang melaksanakan ibadah puasa mulai hari ini. Kita berharap, semua kalangan hendaknya dapat menghormati umat Islam yang tengah menjalankan ibadah puasa. Marhaban ya Ramadhan, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa !(**)

Ketika Rakyat Salah Memilih


Ketua DPR Marzuki Alie mengimbau seluruh anggota DPR untuk bekerja lebih baik pada tahun 2012. Jangan sampai rakyat menyesal memilih wakilnya di DPR !
“Kita masih punya waktu 2,5 tahun lagi sampai pemilu 2014. Kalau tahun-tahun lalu kita kedodoran, mungkin karena perlu adaptasi. Tahun 2013 partai-partai akan sudah mempersiapkan diri untuk pemilu, maka tinggal tahun 2012 yang tersisa untuk berkarya yang terbaik,” kata Marzuki, Selasa (3/1).
Marzuki seakan pura-pura tidak tahu, padahal sebenarnya sudah sejak lama rakyat merasa salah dan menyesal sejumlah anggota DPR/ D yang tidak optimal memperjuangkan aspirasi rakyat tersebut.
Sejatinya, tidak hanya dalam hal memilih anggota DPR/ D saja, sebahagian rakyat merasa menyesal karena ternyata telah salah pilih, melainkan juga saat memilih para pemimpin mereka di daerah (gubernur, bupati dan wali kota). Bahkan, kini merasa menyesal karena dulu telah memilih SBY-Boediono.
Terbukti, tidak cuma wakil rakyat di DPR/ D saja, yang terlalu disibukkan dengan manuver-manuver politik untuk kepentingan partai dan dirinya sendiri, para kepala daerah dan pemimpin tertinggi di negeri ini, juga belum cukup memuaskan kinerjanya dalam hal peningkatan kesejahteraan rakyat.
Rakyat sejahtera yang terbebas dari kemiskinan dan pengangguran, hanya tertuang dalam visi-misi yang dengan berapi-api disampaikan para calon kepala daerah, presiden, dan wakil rakyat, saat menggelar kampanye.
Ketika kursi empuk kekuasaan sudah berada di genggaman, mereka pun dengan begitu mudahnya melupakan janji-janji dan visi-misi tersebut. Yang ada di benak mereka, justru bagaimana melakukan berbagai manuver, yang mengarah pada politik pencitraan yang tidak terlalu dirasakan rakyat manfaatnya.Lalu, ketika rakyat telah terbukti salah dalam memilih, selanjutnya apa yang mesti dilakukan ? Dalam konteks ini, diimbau kepada segenap rakyat Indonesia, agar pada event pemilihan kepala daerah dan Pemilu legislatif dan Pilpres mendatang, tidak lagi salah pilih.
Selain itu, perlu segera diinventarisasi anggota DPR/ D mana saja, yang selama ini kinerjanya tidak optimal dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Begitu juga kepala daerah yang cuma piawai pidato dan nihil prestasi, harus segera ‘diberi pelajaran’. Mereka (anggota dewan dan kepala daerah) yang melempem itu, tidak boleh dibiarkan terpilih kembali.
Nah, untuk Presiden RI mendatang, rakyat pun seharusnya sudah bisa mendeteksi sejak dini, siapa saja figur yang layak dan akan benar-benar berbuat untuk rakyat, jika diberi mandat menjadi kepala negara. Kesalahan dalam menjatuhkan pilihan tidak selayaknya terjadi berulang kali. Semoga….

Sudah Saatnya Pensiun, Sir Alex !


Hanya butuh hasil seri untuk lolos ke babak 16 besar. Namun, fakta berbicara Manchester United harus tersungkur di kandang klub antah berantah FC Basel, 1-2, Kamis kemarin. Dengan hasil ini, The Red Devils harus puas turun kasta, hanya bermain di Liga Europa.
Pencapaian ini, jelas merupakan sebuah kegagalan terbesar MU, yang baru setahun lalu menjadi runner up Liga Champions, setelah dikandaskan Barcelona. Ia pun terang-terangan mengaku kecewa dengan hasil yang didapat skuadnya.
Tak hanya itu, MU juga tiga kali menjadi finalis dalam empat musim terakhir Liga Champions. Menyikapi hal itu, Sir Alex Ferguson sendiri menyatakan, bahwa Liga Europa tidak pernah ada di benaknya. “Tentu saja kami kecewa. Tak mungkin ada perasaan lain selain itu,”ujarnya.
Tanda-tanda kegagalan MU tahun ini, memang sudah mulai terlihat, utamanya setelah Wayne Rooney dkk dibabakbelurkan tim sekotanya, Manchester City 1-6. Sejak kekalahan memalukan ini, permainan tim besutan Sir Alex mengalami penurunan drastis.
Kendati masih bisa bertahan di posisi kedua Liga Primeir Inggris, namun kemenangan yang diraih, hampir semuanya didapatkan dengan susah payah alias kurang meyakinkan. Terakhir misalnya, hanya mampu meraih kemenangan 1-0 melawan Aston Villa.
Pekan lalu, Nemanja Vidic dkk juga mengalami kekalahan memalukan di perempat final Piala Carling. Di kandang sendiri, ditundukkan tim kasta bawah Crystal Palace dengan skor 2-1.
Sejumlah hasil pertandingan yang ditorehkan MU belakangan ini memang, jauh dari kesan statusnya sebagai klub raksasa Inggris. Puncaknya, sudah barang tentu kegagalan melaju ke babak 16 besar, setelah dipecundangi klub yang tak pernah dikenal prestasinya di jagat sepakbola, yakni FC Basel.
Kiprah dan talenta Sir Alex sebagai salah satu manajer terbaik di dunia, tentu tidak akan pernah diragukan. Terbukti, dalam kariernya dalam menangani MU, sejak tahun 1986 lalu, Fergie telah memperoleh hampir semua trophy yang diperebutkan oleh klub sepakbola sejagat.
Namun, dengan torehan prestasinya belakangan ini, tidak ada salahnya pula jika kita menyarankan Sir Alex, agar segera pensiun. 25 tahun menangani sebuah klub sepakbola, merupakan sebuah rentang waktu yang sangat panjang.
Ibarat sebuah rezim pemerintahan, Sir Alex sudah terlalu lama berkuasa. Terbukti, kekuasaan yang terlalu lama berpusat pada seseorang, bisa memunculkan penyalahgunaan wewenang (abuse of power), atau setidaknya melahirkan sebuah kejenuhan.
Bisa jadi Sir Alex sudah jenuh, seiring dengan usianya yang sudah semakin renta. Karenanya, kini saatnya untuk pensiun, Sir Alex !

Fenomena Mundurnya Briptu Norman


Briptu Norman Kamaru pertama kali menggegerkan publik di tanah air, karena aksi lipsync-nya mencontoh aksi Shahrukh Khan dalam lagu ‘Chaiyya-chaiyya’ dari film ‘Dil Se’, yang aslinya dinyanyikan Sukhwinder Sigh, seorang background singer Bollywood, yang kariernya tidak sementereng Mohammad Rafi, Kishore Kumar atau Sonu Nigam.
Setelah pemunculannya yang menarik perhatian publik dalam video yang diupload ke youtube itu, Briptu Norman kemudian mendadak sontak berubah menjadi selebriti. Aksi dan kehadirannya banyak ditunggu-tunggu. Bahkan media televisi pun rebutan ingin menampilkan sosoknya.
Setelah pamornya sebagai selebriti dadakan mulai meredup, Briptu Norman kembali membuat kejutan. Dia menyatakan ingin mundur dari keanggotaannya di Brimob Polda Gorontalo. Konon, pengunduran dirinya karena sudah merasa capek bertugas sebagai polisi dan ingin lebih eksis mengembangkan karier sebagai penyanyi.
Karuan saja keinginan Norman ini layak dinilai sebagai sebuah sikap yang mengejutkan. Karenanya, tidak berlebihan
jika pimpinan Polri merasa bak ‘kebakaran jenggot’. Tidak aneh pula, jika Mabes Polri kemudian tidak bisa begitu saja mengabulkan permohonan Briptu Norman Kamaru untuk mundur dari Brimob. Norman diwajibkan membayar ganti rugi atas biaya pendidikan yang dikeluarkan negara selama ini untuknya.
“Setelah masuk polisi dididik dan disekolahkan, yang dibiayai dari uang rakyat. Polisi mengemban amanat rakyat, kalau
mendidik polisi kan uang rakyat. Makanya ada peraturan internal kepolisian,” ujar Karopenmas Brigjen Pol I Ketut
Untung Yoga Ana saat dihubungi wartawan, Senin (19/9).
Yoga mengatakan, ikatan dinas bagi seorang anggota bintara yakni 10 tahun. Sementara Briptu Norman baru berdinas
6 tahun.”Peraturan Polri mengemban amanat rakyat. Saya belum baca detailnya keluarnya atas keluar sendiri atau
polisi, jadi harus mengganti biaya itu,” jelas Yoga.
Yoga tidak menjelaskan berapa total jumlah yang harus dibayarkan Briptu Norman. Namun sesuai aturan, Briptu Norman
harus mengganti uang yang selama ini dikeluarkan negara untuknya.”Kan sudah mengeluarkan uang untuk pendidikan
itu,” imbuhnya.
Fenomena Briptu Norman ini memang menarik untuk dicermati. Dan, dipastikan sosoknya akan lebih menarik dan
ditunggu penggemarnya, jika yang bersangkutan tetap menyandang status sebagai anggota kepolisian.
Dengan menanggalkan statusnya sebagai anggota Polri, hal itu bermakna Briptu Norman Kamaru telah ‘mengkhianati’
institusi yang telah membesarkan namanya. Patut diingat, jika yang melakukan lipsync “Chaiyya-chaiyya’ itu, bukan
seorang Norman, yang anggota Brimob itu, niscaya tidak akan mengundang antuasias masyarakat untuk
mengunduhnya.
Hal inilah yang mungkin tidak disadari oleh Norman. Tanpa menyandang status Briptu di pundaknya, dia tidak akan
‘diterge’ masyarakat, dan hampir dipastikan obsesinya menjadi penyanyi sukses, akan membentur tembok besar. (**)

Bencana tak Henti Melanda


Gempa berkekuatan 6,7 skala richter (SR) yang terjadi di kawasan Singkil Baru, Provinsi Aceh pukul 00.55 WIB, Selasa dinihari terasa cukup kencang di sejumlah daerah di Sumatera Utara, termasuk di Kota Medan.
Bencana gempa tersebut misalnya, juga menimbulkan kerusakan puluhan rumah di Kabupaten Dairi, Tanah Karo, dan Pakpak Bharat. Dampak gempa juga terasa hingga ke Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, dan berbagai daerah lainnya di Sumatera Utara.
Sudah barang tentu, sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Aceh, kita sangat prihatin dengan terjadinya gempa tersebut. Gempa ini mungkin tidak sedahsyat gempa sebelumnya, yang terjadi berulang kali di Aceh dan sekitarnya.
Namun, apa pun ceritanya, gempa tetap berdampak pada timbulnya korban. Ada yang meninggal, dan tentu lebih banyak lagi warga dan saudara kita yang terpaksa kehilangan tempat tinggal, karena luluh lantak diterjang gempa tersebut.
Di sisi lain, sebagai hambaNya yang percaya pada kehendak dan takdir Sang Maha Kuasa, Allah Azza wa Jalla, kita juga berkewajiban melakukan introspeksi dan melakukan kontemplasi (perenungan), mengapa berbagai bencana seolah tiada henti melanda negeri ini ?
Adakah hal itu sebagai sebuah hukuman terhadap manusia Indonesia, yang kini cenderung semakin terpola pada tradisi hidup yang individualis, kapitalis, serta hipokrit ? Atau, berbagai bencana yang diturunkan Allah itu, hanya sekadar ujian bagi hambaNya agar semakin ingat kepadaNya ?
Apa pun yang menjadi faktor penyebab banyaknya bencana yang melanda negeri ini, satu hal yang pasti, dibutuhkan introspeksi dari semua pihak di negeri ini, agar dapat mencari alternatif solusi dalam mengantisipasi sekaligus meminimalisir dampak negatif berbagai bencana tersebut.
Tidak tepat lagi, jika pemerintah dan pihak-pihak terkait hanya memikirkan langkah-langkah riil pasca terjadinya gempa, banjir, longsor, serta berbagai bencana lainnya.
Hal mendesak, yang mestinya juga harus segera dilakukan pemerintah dari pusat hingga ke daerah adalah melakukan upaya nyata menyiasati kemungkinan terjadinya bencana, sekaligus melakukan sosialisasi kepada segenap rakyat Indonesia, bagaimana kiat menghadapi ancaman berbagai bencana tersebut, agar masyarakat tidak panik dan larut dalam kecenderungan traumatis.
Namun, seolah sudah menjadi takdir rakyat Indonesia, apa pun yang hendak dikatakan dan diusulkan kepada pemerintah dan jajarannya, semua itu seolah akan menguap begitu saja, alias tidak jelas follow-up nya.
Karena itu, ketika berbagai bencana tiada henti melanda, rakyat hanya bisa bersikap pasrah dan selanjutnya berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, agar tidak menjadi sasaran bencana yang maha dahsyat tersebut.(**)

Penegak Hukum Melanggar Hukum


KPK resmi menetapkan Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Syarifudin dan seorang kurator PT Skycamping, Puguh Wirayana sebagai tersangka.”Sudah kita sudah tetapkan keduanya sebagai tersangka,” jelas Wakil Ketua KPK M Jasin melalui pesan singkat, Kamis (2/6).
Syarifudin dan Puguh ditangkap satuan penyidik, di dua tempat berbeda. Syarifudin ditangkap di kediamannya. Sedangkan Puguh di sebuah hotel kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Keduanya dijadikan tersangka  karena diindikasikan terlibat kasus dugaan suap.
Dalam penangkapan di rumah Syarifudin, petugas menemukan uang yang tersebar di dalam tas, laci, dan amplop. Sebanyak Rp 250 juta dalam amplop coklat dan Rp 141 juta di amplop lainnya. Petugas KPK juga menemukan uang asing, yakni 84.228 dolar AS, 284.900 dolar Singapura, 20 ribu yen, dan 12.600 bath.
Penangkapan hakim, yang sejatinya bertugas sebagai aparat penegak hukum dan memberikan rasa keadilan kepada masyarakat itu, bukanlah hal mengejutkan. Sebab, sebelumnya juga sudah sangat banyak sekali aparat penegak hukum, yang kesandung persoalan hukum, misalnya Jaksa Cirus Sinaga.
Tertangkapnya Hakim Syarifudin, setidaknya juga menimbulkan pertanyaan dan kecurigaan terhadap berbagai sepak terjangnya sebelumnya. Sebab, belum lama ini, dia merupakan Hakim Ketua, yang memvonis bebas terdakwa korupsi Agusrin Najamuddin (Gubernur nonaktif Bengkulu, yang juga kader Partai Demokrat).
Terkait dengan tertangkapnya Hakim Syarifudin beserta sejumlah uang cash, yang jumlahnya lumayan fantastis itu, patut dipertanyakan kembali, apakah putusannya membebaskan Agusrin Najamuddin sudah tepat, atau jangan-jangan putusan itu juga beraroma suap ?
Terlepas dari benar-tidaknya kecurigaan berkenaan dengan vonis bebas Agusrin Najamuddin tersebut, agaknya hal itu patut ditelusuri oleh pihak-pihak yang berkompeten. Jangan sampai orang yang sejatinya korup, justru dibiarkan bebas menghirup udara segar, sementara yang belum terbukti korup, sudah menjadi pesakitan.
Di sisi lain, penangkapan Hakim Syarifudin juga sekaligus sebagai bukti, bahwa penegakan hukum (law enforcement), belum berjalan sesuai dengan harapan rakyat. Bagaimana mungkin penegakan hukum bisa diharapkan memberikan rasa keadilan, jika para penegak hukum sendiri masih terlibat dalam tindakan melanggar hukum ?
Selain itu, tertangkapnya Hakim Syarifudin hendaknya bisa dijadikan sebagai momentum bagi KPK, untuk terus mengendus sepak terjang para aparat penegak hukum, agar mereka tidak ‘bermain api’ saat melakukan penegakan hukum !
Aparat penegak hukum yang menyalahgunakan wewenangnya, harus dikenakan ganjaran hukum yang lebih berat. Sebab, mereka yang mafhum soal hukum, tidak sepatutnya melakukan tindakan melanggar hukum. (**)

Kita dan Euforia Bieber


Penyanyi asal Kanada Justin Bieber tampil memukau dalam konser bertajuk “Justin Bieber My World Tour” di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Sabtu 23 April 2011. Pelantun lagu “Baby” tersebut membuat histeris penggemarnya yang mayoritas remaja putri itu.
Tidak kurang 10 ribu penonton menjadi saksi aksi panggung Justin Bieber tadi malam. Membuka konser dengan lagu “Love Me”, Justin mengenakan jaket dan celana putih. Klik di sini untuk melihat foto-foto aksi panggung remaja yang diorbitkan musisi Usher tersebut.
Dengan usia masih sangat belia itu, harus diakui Justin Bieber memang hebat. Pengakuan terhadap kehebatannya bisa dilihat dari sejumlah penghargaan yang diraihnya, antara lain anugerah artist of the year American Music Awards, best male MTV Music Europe Awards, favorite male singer Nickelodeon Kids’ Choice Awards, nominasi Grammy Award dan sejumlah penghargaan bergengsi lainnya.
Pesona Bieber membuat remaja Indonesia terperangkap pada euforia berlebihan. Lihatlah misalnya, pengakuan sejumlah remaja kita. “Justin itu suaranya bagus, kepribadiannya menarik, cakep,” kata Tirza (15), Yeni (15) dan Inggrid (15) kompak, siswi kelas satu SMA di Jakarta yang mengenakan kaus ungu, warna favorit penyanyi kelahiran 1994 itu.
Berbagai atribut dikenakan para penggemar Bieber seperti baju warna ungu, kaus bertuliskan “I Love JB”, stiker bertuliskan “beliebers” yang ditempel di pipi, sepatu khas Bieber atau dengan membawa poster bergambar pemuda yang bakatnya ditemukan dari situs “Youtube” tersebut. “Saya sudah beli tiket sejak tiga bulan lalu dan membayar orang untuk antri penukaran voucher dengan tiket,” kata seorang bapak asal Samarinda yang tidak ingin disebutkan namanya.
Ia tiba di Jakarta dari Samarinda, Kalimantan Timur, Jumat (22/3) bersama kedua putrinya yang duduk di bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama serta seorang keponakannya yang juga masih SMP, ketiganya perempuan.”Total saya habis 20 juta, termasuk ongkos pesawat dan tiket konser,” katanya yang saat menunggu pintu gedung pertunjukan dibuka pada pukul 18.00 WIB.
Performance Justin Bieber memang yahuudd…., tapi tidak sepatutnya kita terjebak pada sikap euforia serta terlalu melebih-lebihkan kehebatannya, apalagi sampai mengkultuskannya.
Kalau mau jujur, Justin Bieber belumlah sehebat Rhoma Irama, Iwan Fals, atau Ahmad Dhani. Level Bieber sebenarnya masih sekelas Agnes Monica, Gita Gutawa atau Afghan. Tapi, begitulah persepsi sebahagian masyarakat kita, yang masih suka ‘mengagung-agungkan’ segala sesuatu yang berbau asing, atau seseorang yang ngetop di Amerika. Silahkan mengagumi Bieber, tapi janganlah berlebihan….!(**)