Monthly Archives: Agustus 2012

Prestasi Bulutangkis Makin Terkikis….


GambarPrestasi bulutangkis Indonesia sejak lima tahun terakhir, benar-benar memprihatinkan. Puncaknya, pada perhelatan Olimpiade London 2012, tak satupun duta bulutangkis kita mampu menyumbangkan medali.
Pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang pada awalnya diyakini akan mampu menyumbang medali, akhirnya juga mengalami kegagalan. Medali perunggu yang sebelumnya bisa disumbangkan, juga tak bisa didapat.
Mereka dikalahkan dengan skor telak oleh pasangan Denmark, Joachim Fischer/Christinna Pedersen,
dengan angka 21-12 dan 21-12. Dengan demikian tak satupun medali berhasil disumbangkan.
Padahal, Indonesia sudah memulai menancapkan tradisi medali emas bulutangkis di Olimpiade, yang dimulai di Olimpade Barcelona 1992 lewat tunggal putra Alan Budikusuma dan dan tunggal putri, Susi Susanti.
Kegagalan bulutangkis ini makin diperparah dengan munculnya skandal bulutangkis di Olimpiade 2012, yang notabene melibatkan pasangan ganda putri Indonesia, Meilina Jauhari/Greysia Polli.
Mereka bersama dua pasangan Korea Selatan dan satu ganda China didiskualifikasi dari ajang olah raga
paling bergengsi sejagad tersebut karena ‘mencoba kalah’ dalam pertandingan mereka di babak grup pada Rabu lalu.
Sementara, Taufik Hidayat yang jauh sebelumnya tidak terlalu diharapkan, seperti diduga dengan
mudahnya dipecundangi jagoan China, Lin Dan. Sedangkan Simon Santoso juga kandas di tangan
pebulutangkis negeri jiran, Lee Chong Wei.
Lengkaplah sudah penderitaan bulutangkis Indonesia di ajang Olimpiade kali ini. Prestasi bulutangkis makin terkikis. Cabang bulutangkis yang selama ini memberikan kebanggaan dan kejayaan bangsa, kini harus pulang dengan kepala tertunduk disertai catatan hitam, karena terkena diskualifikasi.
Pertanyaannya, sampai kapan, prestasi bulutangkis akan terus terkikis ? Tentu, kita tidak bisa
memastikan, kapan prestasi bulutangkis Indonesia bisa dibangkitkan dan kembali disegani di kancah
internasional.
Pasalnya, belakangan ini, pemain-pemain kita sudah kurang disegani. Sebab, bertanding melawan
pebulutangkis Thailand atau Jepang saja, kita bisa mengalami kekalahan. Apalagi, jika berhadapan dengan China, kekalahan sudah pasti di depan mata.
Selama para petinggi PBSI dan Kementerian Olahraga kita, tidak mampu melakukan gebrakan revolusioner dalam melakukan pembinaan dan pencarian bibit-bibit baru pebulutangkis di negeri ini, agaknya hingga beberapa tahun mendatang, prestasi bulutangkis tetap hanya akan menyisakan cerita miris. Sungguh ironis…!(**)