Piala Dunia Tetap Sebatas Mimpi


Ketika dibekuk Timnas Iran 0-3, pelatih timnas Indonesia Wim Rijsbergen berdalih kekalahan itu disebabkan faktor  kelelahan dan cuaca dingin di negeri-nya Mahmoud Ahmadinejad itu.
Lalu, saat dibekuk Bahrain 0-2 di kandang sendiri, Stadion Gelora Bung Karno Selasa malam kemarin, masih adakah alasan yang hendak dikedepankan sang pelatih ? Jangan-jangan dia berdalih, hal itu karena gangguan mercon dari penonton ?
Dengan dua kekalahan yang diderita tersebut, dapat dipastikan keinginan ratusan juta rakyat Indonesia melihat timnas kita berlaga di Piala Dunia, benar-benar tetap berhenti sebatas mimpi belaka.
Dan, hingga kini tidak bisa dipastikan, entah sampai kapan mimpi itu akan tetap sekadar mimpi yang tidak pernah mewujud dalam kenyataan.
Pertanyaannya, mengapa performance timnas kali ini terlihat begitu melempem, sehingga dalam dua pertandingan yang telah dilakoni di Grup E Pra Piala Dunia Zona Asia ini, belum sekalipun Christian Gonzalez dkk berhasil mencetak gol ke gawang lawan.
Jika dicermati lebih mendalam, kualitas permainan timnas kali ini, justru mengalami penurunan dibandingkan saat sukses mencapai babak final Piala AFF di Jakarta beberapa bulan lalu.
Dengan kata lain, ketika kursi pelatih beralih dari tangan Alfred Riedl ke tangan Wim Rijsbergen, yang terjadi bukan peningkatan kualitas taktik dan strategi permainan, melainkan penurunan sekaligus ketidakjelasan pola permainan.
Padahal, semasa timnas masih ditangani Riedl, belum diperkuat pemain penuh talenta Boaz Solossa. Namun, berkat tangan dingin Riedl, Irfan Bachdim dkk berhasil menyuguhkan permainan memukau serta kerja sama tim yang cukup padu.
Namun, apa yang terjadi sekarang, justru sangat memprihatinkan. Dengan materi yang relatif sama plus suntikan tenaga baru Boaz Solossa, timnas justru menjadi bulan-bulan. Bahkan, kini menjelma menjadi ‘lumbung gol’ bagi Iran dan Bahrain.
Itu bermakna, kebijakan PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin, yang buru-buru mendepak Riedl dan menggunakan jasa Wim Rijsbergen, bisa disebut sebagai sebuah langkah blunder.
Agaknya itu pulalah konsekuensi yang harus ditanggung, jika urusan sepakbola di tanah air masih tetap saja sarat diwarnai dengan kepentingan politik, selama itu pula bayang-bayang kegagalan akan terus mewarnai masa depan sepak bola Indonesia.
Tepatnya, selama PSSI masih dipengaruhi oleh vested interested pihak-pihak luar, yang terkait dengan politik kompromi serta keinginan memuaskan selera pihak-pihak tertentu, selama itu pula keikutsertaan timnas Indonesia di Piala Dunia, akan tetap berhenti sebatas mimpi belaka.(**)

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 7 September 2011, in sport and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. PSSI kualat karena
    semena-mena memecat Alfred Riedl

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: