Bencana tak Henti Melanda


Gempa berkekuatan 6,7 skala richter (SR) yang terjadi di kawasan Singkil Baru, Provinsi Aceh pukul 00.55 WIB, Selasa dinihari terasa cukup kencang di sejumlah daerah di Sumatera Utara, termasuk di Kota Medan.
Bencana gempa tersebut misalnya, juga menimbulkan kerusakan puluhan rumah di Kabupaten Dairi, Tanah Karo, dan Pakpak Bharat. Dampak gempa juga terasa hingga ke Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, dan berbagai daerah lainnya di Sumatera Utara.
Sudah barang tentu, sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Aceh, kita sangat prihatin dengan terjadinya gempa tersebut. Gempa ini mungkin tidak sedahsyat gempa sebelumnya, yang terjadi berulang kali di Aceh dan sekitarnya.
Namun, apa pun ceritanya, gempa tetap berdampak pada timbulnya korban. Ada yang meninggal, dan tentu lebih banyak lagi warga dan saudara kita yang terpaksa kehilangan tempat tinggal, karena luluh lantak diterjang gempa tersebut.
Di sisi lain, sebagai hambaNya yang percaya pada kehendak dan takdir Sang Maha Kuasa, Allah Azza wa Jalla, kita juga berkewajiban melakukan introspeksi dan melakukan kontemplasi (perenungan), mengapa berbagai bencana seolah tiada henti melanda negeri ini ?
Adakah hal itu sebagai sebuah hukuman terhadap manusia Indonesia, yang kini cenderung semakin terpola pada tradisi hidup yang individualis, kapitalis, serta hipokrit ? Atau, berbagai bencana yang diturunkan Allah itu, hanya sekadar ujian bagi hambaNya agar semakin ingat kepadaNya ?
Apa pun yang menjadi faktor penyebab banyaknya bencana yang melanda negeri ini, satu hal yang pasti, dibutuhkan introspeksi dari semua pihak di negeri ini, agar dapat mencari alternatif solusi dalam mengantisipasi sekaligus meminimalisir dampak negatif berbagai bencana tersebut.
Tidak tepat lagi, jika pemerintah dan pihak-pihak terkait hanya memikirkan langkah-langkah riil pasca terjadinya gempa, banjir, longsor, serta berbagai bencana lainnya.
Hal mendesak, yang mestinya juga harus segera dilakukan pemerintah dari pusat hingga ke daerah adalah melakukan upaya nyata menyiasati kemungkinan terjadinya bencana, sekaligus melakukan sosialisasi kepada segenap rakyat Indonesia, bagaimana kiat menghadapi ancaman berbagai bencana tersebut, agar masyarakat tidak panik dan larut dalam kecenderungan traumatis.
Namun, seolah sudah menjadi takdir rakyat Indonesia, apa pun yang hendak dikatakan dan diusulkan kepada pemerintah dan jajarannya, semua itu seolah akan menguap begitu saja, alias tidak jelas follow-up nya.
Karena itu, ketika berbagai bencana tiada henti melanda, rakyat hanya bisa bersikap pasrah dan selanjutnya berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, agar tidak menjadi sasaran bencana yang maha dahsyat tersebut.(**)

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 7 September 2011, in Budaya, Kehidupan and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. mungkin Tuhan sudah muak melihat
    tingkah elite bangsa ini
    maka bencana sering menimpa negeri kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: