Monthly Archives: September 2011

Fenomena Mundurnya Briptu Norman


Briptu Norman Kamaru pertama kali menggegerkan publik di tanah air, karena aksi lipsync-nya mencontoh aksi Shahrukh Khan dalam lagu ‘Chaiyya-chaiyya’ dari film ‘Dil Se’, yang aslinya dinyanyikan Sukhwinder Sigh, seorang background singer Bollywood, yang kariernya tidak sementereng Mohammad Rafi, Kishore Kumar atau Sonu Nigam.
Setelah pemunculannya yang menarik perhatian publik dalam video yang diupload ke youtube itu, Briptu Norman kemudian mendadak sontak berubah menjadi selebriti. Aksi dan kehadirannya banyak ditunggu-tunggu. Bahkan media televisi pun rebutan ingin menampilkan sosoknya.
Setelah pamornya sebagai selebriti dadakan mulai meredup, Briptu Norman kembali membuat kejutan. Dia menyatakan ingin mundur dari keanggotaannya di Brimob Polda Gorontalo. Konon, pengunduran dirinya karena sudah merasa capek bertugas sebagai polisi dan ingin lebih eksis mengembangkan karier sebagai penyanyi.
Karuan saja keinginan Norman ini layak dinilai sebagai sebuah sikap yang mengejutkan. Karenanya, tidak berlebihan
jika pimpinan Polri merasa bak ‘kebakaran jenggot’. Tidak aneh pula, jika Mabes Polri kemudian tidak bisa begitu saja mengabulkan permohonan Briptu Norman Kamaru untuk mundur dari Brimob. Norman diwajibkan membayar ganti rugi atas biaya pendidikan yang dikeluarkan negara selama ini untuknya.
“Setelah masuk polisi dididik dan disekolahkan, yang dibiayai dari uang rakyat. Polisi mengemban amanat rakyat, kalau
mendidik polisi kan uang rakyat. Makanya ada peraturan internal kepolisian,” ujar Karopenmas Brigjen Pol I Ketut
Untung Yoga Ana saat dihubungi wartawan, Senin (19/9).
Yoga mengatakan, ikatan dinas bagi seorang anggota bintara yakni 10 tahun. Sementara Briptu Norman baru berdinas
6 tahun.”Peraturan Polri mengemban amanat rakyat. Saya belum baca detailnya keluarnya atas keluar sendiri atau
polisi, jadi harus mengganti biaya itu,” jelas Yoga.
Yoga tidak menjelaskan berapa total jumlah yang harus dibayarkan Briptu Norman. Namun sesuai aturan, Briptu Norman
harus mengganti uang yang selama ini dikeluarkan negara untuknya.”Kan sudah mengeluarkan uang untuk pendidikan
itu,” imbuhnya.
Fenomena Briptu Norman ini memang menarik untuk dicermati. Dan, dipastikan sosoknya akan lebih menarik dan
ditunggu penggemarnya, jika yang bersangkutan tetap menyandang status sebagai anggota kepolisian.
Dengan menanggalkan statusnya sebagai anggota Polri, hal itu bermakna Briptu Norman Kamaru telah ‘mengkhianati’
institusi yang telah membesarkan namanya. Patut diingat, jika yang melakukan lipsync “Chaiyya-chaiyya’ itu, bukan
seorang Norman, yang anggota Brimob itu, niscaya tidak akan mengundang antuasias masyarakat untuk
mengunduhnya.
Hal inilah yang mungkin tidak disadari oleh Norman. Tanpa menyandang status Briptu di pundaknya, dia tidak akan
‘diterge’ masyarakat, dan hampir dipastikan obsesinya menjadi penyanyi sukses, akan membentur tembok besar. (**)

Bencana tak Henti Melanda


Gempa berkekuatan 6,7 skala richter (SR) yang terjadi di kawasan Singkil Baru, Provinsi Aceh pukul 00.55 WIB, Selasa dinihari terasa cukup kencang di sejumlah daerah di Sumatera Utara, termasuk di Kota Medan.
Bencana gempa tersebut misalnya, juga menimbulkan kerusakan puluhan rumah di Kabupaten Dairi, Tanah Karo, dan Pakpak Bharat. Dampak gempa juga terasa hingga ke Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, dan berbagai daerah lainnya di Sumatera Utara.
Sudah barang tentu, sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Provinsi Aceh, kita sangat prihatin dengan terjadinya gempa tersebut. Gempa ini mungkin tidak sedahsyat gempa sebelumnya, yang terjadi berulang kali di Aceh dan sekitarnya.
Namun, apa pun ceritanya, gempa tetap berdampak pada timbulnya korban. Ada yang meninggal, dan tentu lebih banyak lagi warga dan saudara kita yang terpaksa kehilangan tempat tinggal, karena luluh lantak diterjang gempa tersebut.
Di sisi lain, sebagai hambaNya yang percaya pada kehendak dan takdir Sang Maha Kuasa, Allah Azza wa Jalla, kita juga berkewajiban melakukan introspeksi dan melakukan kontemplasi (perenungan), mengapa berbagai bencana seolah tiada henti melanda negeri ini ?
Adakah hal itu sebagai sebuah hukuman terhadap manusia Indonesia, yang kini cenderung semakin terpola pada tradisi hidup yang individualis, kapitalis, serta hipokrit ? Atau, berbagai bencana yang diturunkan Allah itu, hanya sekadar ujian bagi hambaNya agar semakin ingat kepadaNya ?
Apa pun yang menjadi faktor penyebab banyaknya bencana yang melanda negeri ini, satu hal yang pasti, dibutuhkan introspeksi dari semua pihak di negeri ini, agar dapat mencari alternatif solusi dalam mengantisipasi sekaligus meminimalisir dampak negatif berbagai bencana tersebut.
Tidak tepat lagi, jika pemerintah dan pihak-pihak terkait hanya memikirkan langkah-langkah riil pasca terjadinya gempa, banjir, longsor, serta berbagai bencana lainnya.
Hal mendesak, yang mestinya juga harus segera dilakukan pemerintah dari pusat hingga ke daerah adalah melakukan upaya nyata menyiasati kemungkinan terjadinya bencana, sekaligus melakukan sosialisasi kepada segenap rakyat Indonesia, bagaimana kiat menghadapi ancaman berbagai bencana tersebut, agar masyarakat tidak panik dan larut dalam kecenderungan traumatis.
Namun, seolah sudah menjadi takdir rakyat Indonesia, apa pun yang hendak dikatakan dan diusulkan kepada pemerintah dan jajarannya, semua itu seolah akan menguap begitu saja, alias tidak jelas follow-up nya.
Karena itu, ketika berbagai bencana tiada henti melanda, rakyat hanya bisa bersikap pasrah dan selanjutnya berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, agar tidak menjadi sasaran bencana yang maha dahsyat tersebut.(**)

Piala Dunia Tetap Sebatas Mimpi


Ketika dibekuk Timnas Iran 0-3, pelatih timnas Indonesia Wim Rijsbergen berdalih kekalahan itu disebabkan faktor  kelelahan dan cuaca dingin di negeri-nya Mahmoud Ahmadinejad itu.
Lalu, saat dibekuk Bahrain 0-2 di kandang sendiri, Stadion Gelora Bung Karno Selasa malam kemarin, masih adakah alasan yang hendak dikedepankan sang pelatih ? Jangan-jangan dia berdalih, hal itu karena gangguan mercon dari penonton ?
Dengan dua kekalahan yang diderita tersebut, dapat dipastikan keinginan ratusan juta rakyat Indonesia melihat timnas kita berlaga di Piala Dunia, benar-benar tetap berhenti sebatas mimpi belaka.
Dan, hingga kini tidak bisa dipastikan, entah sampai kapan mimpi itu akan tetap sekadar mimpi yang tidak pernah mewujud dalam kenyataan.
Pertanyaannya, mengapa performance timnas kali ini terlihat begitu melempem, sehingga dalam dua pertandingan yang telah dilakoni di Grup E Pra Piala Dunia Zona Asia ini, belum sekalipun Christian Gonzalez dkk berhasil mencetak gol ke gawang lawan.
Jika dicermati lebih mendalam, kualitas permainan timnas kali ini, justru mengalami penurunan dibandingkan saat sukses mencapai babak final Piala AFF di Jakarta beberapa bulan lalu.
Dengan kata lain, ketika kursi pelatih beralih dari tangan Alfred Riedl ke tangan Wim Rijsbergen, yang terjadi bukan peningkatan kualitas taktik dan strategi permainan, melainkan penurunan sekaligus ketidakjelasan pola permainan.
Padahal, semasa timnas masih ditangani Riedl, belum diperkuat pemain penuh talenta Boaz Solossa. Namun, berkat tangan dingin Riedl, Irfan Bachdim dkk berhasil menyuguhkan permainan memukau serta kerja sama tim yang cukup padu.
Namun, apa yang terjadi sekarang, justru sangat memprihatinkan. Dengan materi yang relatif sama plus suntikan tenaga baru Boaz Solossa, timnas justru menjadi bulan-bulan. Bahkan, kini menjelma menjadi ‘lumbung gol’ bagi Iran dan Bahrain.
Itu bermakna, kebijakan PSSI di bawah kepemimpinan Djohar Arifin, yang buru-buru mendepak Riedl dan menggunakan jasa Wim Rijsbergen, bisa disebut sebagai sebuah langkah blunder.
Agaknya itu pulalah konsekuensi yang harus ditanggung, jika urusan sepakbola di tanah air masih tetap saja sarat diwarnai dengan kepentingan politik, selama itu pula bayang-bayang kegagalan akan terus mewarnai masa depan sepak bola Indonesia.
Tepatnya, selama PSSI masih dipengaruhi oleh vested interested pihak-pihak luar, yang terkait dengan politik kompromi serta keinginan memuaskan selera pihak-pihak tertentu, selama itu pula keikutsertaan timnas Indonesia di Piala Dunia, akan tetap berhenti sebatas mimpi belaka.(**)