Norman, Sang Brimob ‘Bollywood’


Nama anggota Brimob Brigadir Satu Norman Kamaru, mendadak sontak terkenal di seantero nusantara, berkat gayanya yang berlakon seperti seorang bintang Bollywood. Klip video yang di lypsinc Norman itu, adalah lagu yang sempat ngetop di era 90-an, “Chaiyya Chaiyya”, dinyanyikan Sukhwinder Singh dan Sapna Awasthi. Lagu ini muncul di film Dil Se (1998), dibintangi aktor kondang Shahrukh Khan,
Preity Zinta dan Malaika Arora. Musik ditata AR Rahman, yang pernah memenangi Oscar 2009 lewat aransemen musik film Slumdog Millionaire (2008).

Terkait dengan aksi Norman bergaya bak aktor Bollywood itu, juru bicara Polda Gorontalo, Ajun Komisaris Besar Wilson Damanik mengatakan, tindakan Norman dinilai tidak etis karena dua hal. Pertama, Norman tengah menggunakan seragam, dan aksinya dilakukan saat bertugas. Kedua, pihaknya juga akan mengusut bagaimana video itu bisa menyebar di youtube.
Polisi juga manusia, tentu butuh penyaluran akan hasrat seni–yang jelas dimiliki semua manusia. Ingat, seni adalah yang membuat manusia tetap menjadi manusia. Karenanya, memberikan sanksi kepada sang Brimob Bollywood itu, bukan merupakan tindakan bijaksana.
Pimpinan Polda Gorontalo sebaiknya tidak perlu terburu-buru memberikan sanksi kepada yang bersangkutan. Personel polisi seperti Norman justru seharusnya diberikan apresiasi dan kalau perlu diberikan kesempatan, untuk mengembangkan talentanya.
Agaknya, yang juga dianggap sebagai hal kurang lazim, karena personel Brimob, yang secara fisik dan tugas senantiasa berhadapan dengan hal-hal serba menantang, tidak pas memiliki ketertarikan kepada lagu-lagu Bollywood,yang bagi sebagian kalangan, tetap dianggap sebagai selera wong ndeso.
Di sinilah, letak kekeliruan banyak orang dalam memahami selera seni. Bahwa ketertarikan pada sebuah musik tertentu, sama sekali tidak terkait dengan profesi seseorang. Dengan kata lain, menyukai tarian dan nyanyian Bollywood, merupakan sebuah hal lumrah.
Bahkan, jika dibandingkan dengan kualitas dan kualitas film yang dihasilkannya, sineas Indonesia tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan kreativitas Bollywood, yang beberapa di antaranya artinya pernah meraih Oscar, penghargaan paling bergengsi di industri perfilman sejagad.
Dalam konteks demikian, sangat tepat dan arif sekali pernyataan yang dikemukakan Kapolri Jenderal Timur Pradopo, yang menyebut akan mempertimbangkan Briptu Norman, sebagai duta seni kepolisian. Ya, sang Brimob Bollywood itu memang tidak sepatutnya dihukum.
Norman harus diapresiasi dan diberi kesempatan mengembangkan bakatnya sebagai penikmat tarian dan nyanyian Hindustani, yang memang memikat hati. Jinke sar ho ishq ki chaaon, Paaon ke neeche jaanat hogi, Jinke sar ho ishq ki chaaon. Chal chaiyya chaiyya chaiyya chaiyya, Chal chaiyya Chaiyya chaiyya chaiyya,…..(**)

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 7 April 2011, in Budaya, Kehidupan and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. polisib butuh lebih bnyak
    orang seperti Briptu Norman.

  2. menurut sy tdk sehrsx diberikan sangsi kepada seorang norman brimob, krn itu adalah suatu hiburan yg mana seorng brimob tdk baik utk selalu tegang,,kasihan dia jg mempunyai hak utk menyukai seni,,yg penting it tdk merugikan n melanggar prtran pemrntah. hidup norman..yang semangat,,,yach…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: