Amerika Bukan Polisi Dunia


Amerika Serikat dan sekutunya akhirnya melancarkan serangan ke sejumlah pos pertahanan udara Libya. Pada serangan tahap pertama tersebut, sedikitnya 112 rudal ditembakkan sejumlah kapal perang dan kapal selam milik Amerika Serikat dan Inggris.
Sebanyak 20 fasilitas pertahanan milik Muammar Khadafi menjadi sasaran rudal-rudal Tomahawk itu. Tujuannya, demi membersihkan area agar patroli angkatan udara bisa mendarat.
Associated Press, Minggu, 20 Maret 2011 mengabarkan, seorang pejabat senior dari Departemen Pertahanan AS menyebutkan, meski dampak pengeboman belum diketahui, pihaknya yakin dengan akurasi rudal jelajah milik pasukan kedua negara itu. Sejumlah fasilitas pertahanan udara Libya diperkirakan mengalami banyak kerusakan.
Serangan udara Amerika Serikat dan sekutunya ke beberapa daerah Libya, membuat Presiden Moammar Khadafi murka. Pemimpin Libya ini menegaskan, negaranya siap untuk “perang panjang” dengan kekuatan-kekuatan Barat yang telah menyerang pasukannya dengan serangan rudal.
Dalam keterangannya kepada media televisi pemerintah, Khadafi mengatakan “tidak ada pembenaran” untuk campur tangan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Ia menilai, serangan udara itu sebagai terorisme.
Dengan serangan yang dilakukan terhadap Libya itu, Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Bush maupun Obama, ternyata sama saja. Amerika tetap setia dengan habitatnya sebagai negara yang suka mencampuri urusan dalam negeri negara lain.
AS seolah ingin menegaskan, mereka merupakan polisi dunia, yang berhak ‘mengamankan’ negara lain. Padahal, tidak ada satupun lembaga di muka bumi, yang memberikan mereka kewenangan untuk melakukan intervensi urusan dalam negeri negara lain. Tegasnya, Amerika bukanlah polisi dunia.
Serangan membabibuta yang dilancarkan kepada Libya, seolah AS ingin mengulangi agresi yang sama, seperti pernah mereka lakukan saat membombardir Irak, serta sukses menggulingkan Presiden Saddam Husein. Ujung-ujungnya Pemerintahan Irak sekarang berada di bawah kendali AS.
Harus diakui, rezem pemerintahan Muammar Khadafi memang sudah terlalu lama berkuasa, dan sudah sepantasnya dia mengalihkan kepemimpinan kepada generasi muda bangsanya. Namun, tidak berarti AS dan sekutunya boleh berlaku semena-mena mencampuri internal Libya.
Mestinya perubahan kepemimpinan di negeri kaya minyak itu, dibiarkan berlangsung secara alami, sesuai kehendak dan aspirasi rakyat Libya. Tidak satupun negara lain dibenarkan menjajah negeri lain yang berdaulat, tidak juga oleh Amerika.
Sebab, harus diingat AS hanyalah satu di antara negara di dunia yang berdaulat. Amerika bukan polisi dunia, yang merasa punya hak mengatur negara lain. Camkan itu, Mr Obama…!(**)

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 22 Maret 2011, in Budaya, Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. itulah amerika…………………. dia bukan super power cm berani klo ada koalisi ato bantuan dr negara lainnya……………pengecut amerika

    salam persahabatan dr menone

  2. saya selalu tak pernah percaya pd Amerika
    Obama yg diharapkan,
    akhirnya memberi kekecewaan

  3. tetapi kalau melihat khadafi yang secara terus menerus membantai rakyatnya siapa yg harus menghentikannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: