Imlek dan Harmoni Keragaman


Kita bersyukur perayaan Tahun Baru Imlek 2562 di seantero nusantara, berlangsung dengan relatif aman. Rangkaian acaranya pun berlangsung dengan seru. Mulai dari barongsai, kembang api, karnaval, pentas budaya Tionghoa, dan lain sebagainya.
Warga Tionghoa di Kota Medan serta sejumlah kota-kota lainnya di tanah air pun dengan nyaman melakukan ritual sembahyang di sejumlah vihara. Bahkan, sejumlah pejabat pemerintahan pun tidak sedikit yang terlibat langsung menyemarakkan Imlek tahun 2011 ini.
Setiap kali berbicara soal Imlek, warga Tionghoa di tanah air, hampir dipastikan akan terkenang mantan Presiden RI keempat almarhum KH Abdurrahman Wahid. Ayahanda Yenny Wahid ini dipastikan akan senantiasa mendapat tempat khusus di hati warga Tionghoa Indonesia.
Pasalnya berkat jasa Gus Dur lah, warga Tionghoa bisa mengekspresikan keberadaannya dengan keluarnya Keppres Nomor 6/2000, tentang pengakuan agama ini. Sejak itu perayaan Tahun Baru Imlek digelar secara terbuka. Pada perayaan Imlek nasional tahun ini, warga Tionghoa pun tetap teringat dengan Gus Dur.
Di Kota Malang misalnya, pada perayaan Imlek, foto tokoh pluralisme itu menjadi maskot batik motif Imlek.
Batik motif Imlek itu digagas Hanan Djalil (45), seorang perajin batik asal kampung Celaket, Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Teringat Gus Dur, membuat kita terkenang pula dengan sikap dan pemikirannya, yang selalu mengedepankan pentingnya toleransi dan apresiasi terhadap keragaman suku, agama, ras dan antargolongan.
Dalam konteks perayaan Imlek kali ini, serta dikaitkan dengan keberadaan Indonesia yang multietnik. Memang sudah sepatutnyalah komunitas Tionghoa, yang sudah turun-temurun menjadi warga negara Indonesia, berdiri sejajar (diperlakukan sama) dengan komunitas lainnya di negeri ini.
Keragaman etnis dan ‘warna kulit’ yang menjadi ciri Indonesia, sudah seharusnya dikelola dan dijaga dengan baik, dengan harapan seluruh warga tetap dapat hidup harmonis, berdampingan satu sama lainnya tanpa menimbulkan masalah dan prejudice.
Dengan kata lain, perayaan Imlek setiap tahun, hendaknya dapat dijadikan salah satu momentum untuk memantapkan harmoni keragaman di negeri kita.
Selanjutnya harmoni keragaman tersebut, harus pula disinergikan dalam upaya mengejawantahkan Indonesia, yang aman, damai dan sejahtera. Kemajemukan jangan dijadikan sebagai pembeda, melainkan sebagai sebuah kekuatan yang mewujud dalam harmoni keragaman, sehingga tercipta sebuah kombinasi manusia Indonesia yang unik, menarik dan selalu bersatu dalam perbedaan.
Gong xi fa chai. Semoga Tahun Kelinci Emas ini, dapat membuat kita semakin gesit dalam mengimplementasikan harmoni di tengah keragaman.(**)

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 4 Februari 2011, in agama, Budaya. Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. berkat Gus Dur
    Imlek menjadi Hari Raya Nasional
    Gong xi fa cai

  2. Memang sudah seharusnya warga negara Indonesia keturunan Tionghoa diakui haknya dan diberikan kesempatan yang sama untuk mengekspresikan budayanya di tengah masyarakat Indonesia. Semoga pula penerimaan yang utuh dari negara dan masyarakat Indonesia menjadikan WNI keturunan Tionghoa benar-benar menjadikan Indonesia sebagai tanah tumpah darah, dan tidak lagi terobsesi pada tanah leluhur mereka di daratan China …

    Gong Xi Fa Chai🙂

  3. selamat hari raya imlek

  4. Selamat merayakan Imlek..!
    Gong xi fa cai

  5. selamat hari raya imlek🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: