Monthly Archives: Februari 2011

Duka Angelina, Duka Kita Juga….


Meninggalnya Adjie Massaid, dalam perspektif ajaran agama bukanlah hal mengejutkan. Sebab, agama mengisyaratkan, setiap yang bernyawa pasti akan mati. Ketika ajal tiba, tak seorang pun bisa mencegahnya.
Tetapi, sebagai hamba Allah yang dhaif (lemah), sangat wajar jika seorang mantan Putri Indonesia yang kini berstatus sebagai anggota DPR-RI, Angelina Sondaakh terlihat sangat shock dan larut dalam kesedihan meratapi kepergian mengejutkan sang suami tercinta.
Tak cuma Angie, bahkan saya, Anda dan mungkin banyak lagi rakyat Indonesia, turut merasa sedih atas meninggalnya Adjie Massaid yang terkesan sangat mendadak dan mengejutkan itu. Bagi orang-orang terdekatnya, berpulangnya anggota DPR-RI dari Partai Demokrat itu, terasa seperti disambar petir di siang bolong.
Mengapa tak hanya sang istri, Angelina yang ikut merasakan kesedihan ? Mengapa pula banyak orang, yang mungkin tidak pernah bertemu langsung, juga seakan larut dalam duka nan mendalam ?
Hal ini terjadi, karena mereka berempati, membayangkan jika hal sedemikian menimpa dirinya. Seorang istri yang memiliki anak kecil serta punya suami yang baik, dipastikan akan sangat merasakan kehilangan teramat sangat, jika sang suami mendadak sontak dipanggil Ilahi.
Dalam konteks demikian, sangat bisa dipahami, manakala banyak kaum ibu, matanya berkaca-kaca berurai air mata menyaksikan tayangan di televisi, seputar pemakaman bintang film dan sinetron, yang banting setir menjadi politisi itu.
Hal prinsipil lainnya yang membuat nama Adjie seakan menghipnotis, tidak cuma karena sosoknya yang ngguanteng, yang lebih penting ialah figurnya sebagai suami dan ayah yang sangat bertanggung jawab.
Ketika dia ‘ditinggal’ istri pertamanya Reza Artamevia misalnya, Adjie sangat telaten merawat kedua anaknya, Zalwa dan Alya. Dan, kedua putrinya pun terlihat lebih nyaman berada di dalam asuhan papanya, ketimbang sang ibu, Reza.
Baru beberapa tahun setelah berstatus duda, Adjie kemudian menemukan cinta sejati di dalam diri Angelina Sondaakh. Sahibul hikayah, kedua politisi Demokrat ini selanjutnya memutuskan mengikat tali cinta dalam sebuah pernikahan nan sakral. Dari pernikahan ini, lahirlah Keanu Jabbar.
Lengkaplah sudah kebahagiaan dua sejoli ini. Karier yang bagus, serta keluarga yang utuh. Dalam hal ini, kita sangat mengapresiasi pengorbanan seorang Angelina. Dia telah berbakti menjadi ibu yang seutuhnya bagi Zalwa dan Alya, yang notabene bukan darah dagingnya, sehingga kedua putri Reza Artamevia itu benar-benar merasakan kasih seorang ibu.
Di sisi lain, demi cinta sejatinya kepada Adjie. Angelina juga rela berpindah agama, menjadi muslimah. Segalanya sudah diberikan Angelina. Cinta nan tulus ini juga telah dibalas oleh sang suami. Sayangnya, ketika cinta Angelina masih mekar-mekarnya, Adjie mendadak pergi meninggalkannya untuk selamanya. Ouhhh….sungguh tragis. Duka Angelina, duka kita juga. Selamat jalan Mas Adjie, semoga memperoleh tempat yang layak di sisiNYA. (**)

Imlek dan Harmoni Keragaman


Kita bersyukur perayaan Tahun Baru Imlek 2562 di seantero nusantara, berlangsung dengan relatif aman. Rangkaian acaranya pun berlangsung dengan seru. Mulai dari barongsai, kembang api, karnaval, pentas budaya Tionghoa, dan lain sebagainya.
Warga Tionghoa di Kota Medan serta sejumlah kota-kota lainnya di tanah air pun dengan nyaman melakukan ritual sembahyang di sejumlah vihara. Bahkan, sejumlah pejabat pemerintahan pun tidak sedikit yang terlibat langsung menyemarakkan Imlek tahun 2011 ini.
Setiap kali berbicara soal Imlek, warga Tionghoa di tanah air, hampir dipastikan akan terkenang mantan Presiden RI keempat almarhum KH Abdurrahman Wahid. Ayahanda Yenny Wahid ini dipastikan akan senantiasa mendapat tempat khusus di hati warga Tionghoa Indonesia.
Pasalnya berkat jasa Gus Dur lah, warga Tionghoa bisa mengekspresikan keberadaannya dengan keluarnya Keppres Nomor 6/2000, tentang pengakuan agama ini. Sejak itu perayaan Tahun Baru Imlek digelar secara terbuka. Pada perayaan Imlek nasional tahun ini, warga Tionghoa pun tetap teringat dengan Gus Dur.
Di Kota Malang misalnya, pada perayaan Imlek, foto tokoh pluralisme itu menjadi maskot batik motif Imlek.
Batik motif Imlek itu digagas Hanan Djalil (45), seorang perajin batik asal kampung Celaket, Kelurahan Samaan, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
Teringat Gus Dur, membuat kita terkenang pula dengan sikap dan pemikirannya, yang selalu mengedepankan pentingnya toleransi dan apresiasi terhadap keragaman suku, agama, ras dan antargolongan.
Dalam konteks perayaan Imlek kali ini, serta dikaitkan dengan keberadaan Indonesia yang multietnik. Memang sudah sepatutnyalah komunitas Tionghoa, yang sudah turun-temurun menjadi warga negara Indonesia, berdiri sejajar (diperlakukan sama) dengan komunitas lainnya di negeri ini.
Keragaman etnis dan ‘warna kulit’ yang menjadi ciri Indonesia, sudah seharusnya dikelola dan dijaga dengan baik, dengan harapan seluruh warga tetap dapat hidup harmonis, berdampingan satu sama lainnya tanpa menimbulkan masalah dan prejudice.
Dengan kata lain, perayaan Imlek setiap tahun, hendaknya dapat dijadikan salah satu momentum untuk memantapkan harmoni keragaman di negeri kita.
Selanjutnya harmoni keragaman tersebut, harus pula disinergikan dalam upaya mengejawantahkan Indonesia, yang aman, damai dan sejahtera. Kemajemukan jangan dijadikan sebagai pembeda, melainkan sebagai sebuah kekuatan yang mewujud dalam harmoni keragaman, sehingga tercipta sebuah kombinasi manusia Indonesia yang unik, menarik dan selalu bersatu dalam perbedaan.
Gong xi fa chai. Semoga Tahun Kelinci Emas ini, dapat membuat kita semakin gesit dalam mengimplementasikan harmoni di tengah keragaman.(**)