Manis Awalnya, Pahit Ujungnya


Kisah sukses di awal-awal pertandingan di Piala AFF, ternyata harus diakhiri dengan kesedihan. Pada babak penyisihan, para pesepakbola timnas tampil trengginas dan membabat habis lawan-lawannya. Namun, pada pertandingan final, ceritanya menjadi berbalik 180 derajat. Ya, cuma manis awalnya, pahit ujungnya.
Kegagalan Indonesia meraih gelar Juara Piala AFF, semakin menambah panjang daftar kegagalan tim nasional sepak bola kita di kancah internasional. Pada ajang Piala Asean Federation Football (AFF) ini, seolah memantapkan predikat kita sebagai spesialis runner up. Dengan kegagalan kemarin, sudah empat kali timnas hanya sekadar sukses mencapai pusingan akhir.
Timnas kita memang sukses menaklukkan Malaysia 2-1. Tapi, kemenangan tersebut tidak berarti apa-apa. Sebab, sebelumnya tim besutan Alfred Riedl itu, telah dipecundangi anak-anak asuhan K Rajagopal dengan angka yang sangat mencolok, 3-1.
Inilah yang sangat kita sayangkan, mengapa kekalahan di Stadion Bukit Jalil itu, marginnya demikian besar. Seandainya kita bisa menahan seri atau kalah dengan angka 0-1, pasti ceritanya akan lain. Atau sekiranya penalti yang dilesakkan Firman Utina berbuah gol, hasilnya niscaya akan berbeda.
Tapi, apa hendak dikata, semuanya telah terjadi. Kegagalan demi kegagalan, tak cuma di olah raga sepak bola, melainkan juga di berbagai sektor kehidupan lainnya, seolah sudah menjadi takdir kita. Kita sepertinya sudah sangat terbiasa dengan kisah kegagalan demi kegagalan.
Dari segi teknis permainan, sejatinya timnas tidak kalah dibandingkan dengan Malaysia. Terbukti, pada babak penyisihan, mereka telah kita ganyang, 5-1. Dilihat dari permainan yang ditampilkan Markus Horison dkk, penyebab kegagalan agaknya terkait dengan mentalitas para pemain kita, yang belum bermental juara.
Agaknya itu pula menjadi salah satu faktor penyebab, mengapa seorang pemain sarat pengalaman seperti Firman Utina, mendadak sontak menjadi demikian melempem saat mengambil sepakan 12 pas itu.
Kalah dan menang, gagal dan sukses memang merupakan hal yang lumrah dalam setiap pertandingan atau kompetisi di bidang apa pun, termasuk olah raga. Tapi, entah kenapa kegagalan timnas Indonesia kali ini agak berbeda. Perasaan sedih terasa lebih mendalam dan menusuk ke ulu hati, karena yang mengandaskan perlawanan kita adalah musuh bebuyutan, Malaysia. Ini sama halnya seperti saat Real Madrid dibabakbelurkan seteru abadinya, Barcelona, terasa memilukan bagi pendukung El Real. Ya, begitulah ceritanya, cuma manis awalnya, pahit ujungnya. Amangoi amang…..(**)

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 30 Desember 2010, in Budaya, Kehidupan, sport and tagged , , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Tidak masalah meskipun kalah, memang sanagt disayangkan. Tapi, paling tidak sudah berusaha dengan baik🙂

  2. saya sampai tak selera makan
    akibat kegagalan timnas juara
    tp, sy yakin timnas sekarang bs diandalkan

  3. Tim Nas hanya kalah sekali selama piala AFF digelar.
    Dan secara keseluruhan,TIMNAS sudah jauh lebih baik.
    Jujur kita aku kekalahan telak saat tandang di Malaysia.
    Itupun tak lepas dari berbagai macam penekanan mental dari ulah suporter yang kampungan.
    Saya pstikan,kalaupun kalah tdk akan telak.
    Tahun mendatang semoga mental,dan permainan tim Garuda akan jauh lebih baik.

  4. saya melihat perjuangan luar biasa pemain indonesia. blum prnah mlihat smngat sprti ini sblumnya..

  5. Sorry Out Of topik.
    Bang Mike, aku sanksi dengan account FB abang ituh… masa ngirim pishing sampai 8 kali perhari ke inbox aku…. isinya minta pasword dan email fb yang dipishingkan lewat video mesum…. nggak steril. artinya masih ada pihak lain yg menggunakan account bang mike tuh.

    Pernah ngobrol di chat fb. Tapi ngalor ngidul… banyak yang nggak nyambungnya. di tanya A jawab B… ngapo bisa begitu?

  6. Belakangan ada issue bahwa Timnas disuap untuk kalah dari Malaysia. Wah, tambah runyam lagi nih ceritanya …😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: