Kita dan Tragedi Sumiati


Lagi-lagi Tenaga Kerja Indonesia di luar negeri, mengalami nasib malam. Kini, peristiwa menyedihkan itu menimpa Sumiati (23), yang bekerja di Madinah Arab Saudi. Dia disiksa majikannya dengan sangat kejam.
Selain sering dipukuli, bibir bagian atas perempuan malang ini sobek karena digunting majikannnya. Sumiati baru saja bekerja menjadi pembantu rumah tangga di Arab pertengahan Juli lalu.
Akibat siksaan yang dialaminya, dia mengalami luka bakar serius di beberapa bagian tubuhnya, kedua kaki juga nyaris lumpuh.
Peristiwa serupa sudah sering sekali menimpa tenaga kerja kita di mancanegara. Tak cuma mendapat perlakuan semena-mena, bahkan di negeri jiran Malaysia, sejumlah TKI juga beberapa waktu lalu terancam terkena hukuman mati.
Hampir senada dengan peristiwa menghebohkan yang diperlihatkan Gayus Tambunan, yang begitu mudahnya keluar masuk rumah tahanan. Negeri ini memang seolah tidak pernah belajar dan memetik hikmah dari peristiwa-peristiwa sebelumnya.
Seperti halnya Gayus, Arthalita Suryani juga dulu sudah melakukannya. Tak cuma dengan relatif mudah keluar masuk penjara. Namun, di rumah tahanan yang didiaminya juga dilengkapi dengan fasilitas serba mewah.
Dalam konteks derita yang dialami Sumiati, seperti kejadian serupa beberapa waktu lalu, pihak-pihak terkait di negeri ini hanya mampu memperlihatkan follow-up sebatas keprihatinan dan kekecewaan.
Presiden SBY misalnya telah bereaksi dengan memanggil Menlu Marty Natalegawa sekaligus menyatakan kesedihannya.
Tapi, lagi-lagi masih seperti peristiwa-peristiwa sebelumnya, kemampuan kita dalam melawan kesewenang-wenangan majikan tak bermoral tersebut, hanya berhenti sebatas kecaman.
Tidak terlihat upaya-upaya konkret yang benar-benar menusuk dan mampu membuat para majikan kejam itu, kapok dan tak lagi berani mengulangi perbuatan culasnya.
Terbukti, sudah begitu kejadian seperti yang dialami Sumiati itu merebak ke permukaan. Namun, sejauh ini langkah-langkah penertiban Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) nakal di tanah air, tidak pernah benar-benar maksimal dilakukan institusi berwenang, dalam hal ini Departemen Tenaga Kerja.
Kendati penyiksaan TKI terus berulangkali terjadi, penyetopan pengiriman TKI, bukanlah solusi tepat. Pasalnya, selama negara kita masih seperti sekarang, berkubang dalam lumpur penderitaan dan kemiskinan, selama itu pula TKI akan tetap mengalir deras ke luar negeri.
Agaknya, yang dibutuhkan dalam meminimalisir hal seperti dialami Sumiati itu adalah, dengan cara memantapkan lobi kita politik kita di kalangan dunia internasional, serta membangun negeri ini semakin sejahtera. Untuk itu, kita memerlukan sosok pemimpin yang tegas, berwibawa, serta serius meningkatkan kesejahteraan penduduk negeri.(**)

Iklan

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 21 November 2010, in Budaya, Kehidupan. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Ia tahu negerinya tak mampu
    Ia tahu negerinya tak peduli
    Ia ingin meringankan beban negerinya Indonesia
    Ia pun pergi mengadu nasib
    Ia orang berani
    yang tak mau berpangku tangan
    Ia mungkin tidak tahu
    Bahwa sebuah negeri berkewajiban
    membelanya sebagai warga negara.

    @mikekono : bangsa kita memang sering
    lalai dalam melindungi rakyatnya..
    … 😦

  2. aq mampir bang.. 🙂

    @mikekono :
    selamat mampir….

  3. Sedih membaca derita Sumiati …
    Sedih melihat ketidakseriusan Pemerintah RI …
    Berpikir keras, apa yang bisa kita perbuat?

    @mikekono : bener sekali, pemerintah
    memang tidak mampu menghilangkan
    kesedihan rakyatnya… 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: