Pejabat Minim Empati


“Mentawai itu jauh, itu pulau, kalau disapu tsunami, itu risiko kita tinggal di pulau,”kata Ketua DPR-RI Marzuki Alie. Pernyataan ini dikemukakannya menjawab pertanyaan wartawan menyangkut pendapatnya terhadap upaya penanggulangan pemerintah atas bencana Mentawai.”
Marzuki melanjutkan, jika tinggal di Mentawai, meski ada peringatan dini (early warning) atas kejadian gempa maupun tsunami dua jam sebelum kejadian, dipastikan tidak bisa keluar dari musibah.
“Kalau tinggal di pulau itu, kalau sudah tahu dipandang berisiko, ya pindah saja,” cetusnya seraya menyebutkan tinggal di pulau yang dilewati jalur gempa, peringatan satu hari pun tidak cukup untuk menyelamatkan diri.
Entah sadar atau tengah mengigau, pernyataan Ketua DPR itu sudah pasti mengundang reaksi dan kecaman dari berbagai kalangan. Hal itu mencerminkan minimnya empati dari sang pemimpin institusi yang notabene bernama lembaga pengemban aspirasi rakyat.
Agaknya inilah pula konsekuensi dari sistem politik kita dewasa ini, yang mensyaratkan pimpinan DPR harus berasal dari partai peraih suara terbanyak.Alhasil, politisi dari partai terbesar kemudian diberi ‘jatah’ sebagai Ketua DPR.
Hal ini juga berlaku di DPRD kabupaten/ kota di seluruh Indonesia. Faktanya, banyak yang menduduki kursi penting dan sangat strategis itu, tidak didukung kompetensi yang bisa dipertanggungjawabkan.
Ketika Marzuki Alie, dalam kapasitasnya kerap melakukan blunder. Termasuk berbagai pembelaannya terhadap aktivitas dewan yang terkesan menghambur-hamburkan keuangan negara studi banding ke luar negeri, serta yang terbaru soal Mentawai itu, agaknya kesalahan tidak semata-mata menjadi miliknya Marzuki.
Partai yang menjadi induk semangnya, juga patut dipermasalahkan. Mestinya sebelum memberikan kepercayaan kepada seseorang untuk duduk (memimpin) lembaga sevital DPR-RI, Partai Demokrat sudah seyogianya harus terlebih dahulu melakukan penelitian tak sekadar dalam level fit and proper test, melainkan juga meninjaunya dari berbagai aspek.
Dari sisi kapasitas intelektual, mungkin saja Marzuki Alie tidak perlu diragukan lagi. Namun dari segi kepekaan sosial, yang bersangkutan barangkali belum cukup terlatih. Sosoknya yang sudah terpiasa mapan dan hidup berkecukupan kemungkinan menjadi salah satu faktor lemahnya empati mantan Sekjen partai yang kelahirannya dibidani SBY tersebut.
Sejatinya tak cuma Marzuki saja yang minim empati. Banyak pejabat publik di negara kita juga kerap melakukan hal yang sama. Ketika bencana melanda di daerahnya misalnya, masih terdapat banyak oknum pejabat di pusat dan daerah yang kerap lalai dan tidak cepat tanggap menangani permasalahan yang dialami warganya.
Pejabat yang minim empati ini tidak hanya disebabkan oleh kepribadian bersangkutan, yang sering hanya mendekati rakyat saat menjelang Pemilukada atau pemilu legislatif semata, melainkan juga karena kualitas kepribadiannya yang tidak terbiasa bersikap tulus dalam memikirkan kepentingan rakyat.
Pejabat minim empati pada akhirnya hanya akan dijauhi rakyat, selanjutnya tidak akan pernah menjadi pemimpin yang benar-benar terpatri di hati rakyat. Selanjutnya, dia hanya akan dikenal sebagai pejabat/ tokoh yang sekadar numpang lewat saja dalam sejarah perpolitikan di tanah air. Begitulah….(**)

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 1 November 2010, in Budaya, Politik. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Komentar Marzuki Alie itu memang menggelikan, dalam arti sebagai seorang Ketua DPR, kok bisa mengucapkan kalimat se’naif’ itu. Tetapi memang begitulah kebanyakan tokoh partai yang munculnya tiba-tiba, dan partainyapun besar (dan menang) secara tiba-tiba.

    Di sisi lain, banyak rakyat yang diam-diam, tanpa banyak bicara, langsung bekerja membantu para korban musibah di Mentawai, Merapi, dan Wasior. Rakyat melihat langsung, merasakan langsung, sehingga memiliki empati lebih besar daripada para pejabat yang sudah keenakan dengan segala fasilitas dan tak pernah bersentuhan langsung dengan rakyat …

  2. well, inilah sedihnya jadi rakyat di negri ini, bahkan para wakilnya yang terhormat pun tidak ber empati dengan pemilihnya😦

    saya pikir barangkali ini konsekuensi dari sistem politik massa mengambang, dimana rakyat tidak punya ikatan apa apa dengan partai politik pilihannya sehingga rakyat tidak bisa mengontrol partai politik tsb, lebih jauh ya begini, rakyat tidak bisa mengontrol wakilnya di dpr, dan wakil rakyat di dpr pun tidak punya empati pada rakyatnya😦

  3. Sy juga nulis ttg Ketua DPR ini, Pak. Di sini http://bit.ly/bdOstC. Tapi sy mengerucutkan pada ketidaksesuaian Ketua DPR dengan arah pembangunan negara.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: