Isu Penggulingan SBY


Menjelang satu tahun pemerintahan SBY-Boediono pada 20 Oktober mendatang, merebak isu penggulingan pemerintahan. Isu ini tidak mungkin muncul tanpa adanya latar belakang. Karena itu SBY diminta lapang dada menerima kritik.
Harus diakui, bahwa saat ini memang banyak muncul perasaan kurang puas terhadap kiprah pemerintahan SBY-Boediono. Ketidakpuasan itu dilatari oleh banyaknya kebijakan pemerintah yang dinilai belum berpihak pada kepentingan rakyat.
Sejauh ini, pemerintah SBY dianggap masih tetap berkutat di seputar politik pencitraan (image building), yang pada realitasnya belum berimbas pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Rakyat masih tetap banyak yang melarat dan beberapa di antaranya nyaris sekarat.
Tak cuma di sektor peningkatan kesejahteraan rakyat saja, pemerintah terlihat belum maksimal. Upaya mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa (clean and gonernance) juga belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan harapan.
Sebagai contoh dalam kasus penanganan kasus cek pelawat pada pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia yang memenangkan Miranda S Goeltom. Sejumlah kalangan menilai, penetapan status tersangka kepada sejumlah politisi PDI Perjuangan, Golkar dan PPP itu, sarat dengan muatan politis.
Dengan kata lain muncul dugaan, penetapan status tersangka seperti dialamatkan kepada mantan Mensos Bachtiar Chamsyah, mantan Menteri Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra, dan mantan Kepala Bappenas Paskah Suzetta, tidaklah semata-mata karena mereka bersalah, melainkan karena adanya kepentingan-kepentingan lain di baliknya.
Begitu anggapan sementara sejumlah pengamat politik di negeri kita.
Kendati banyak terdapat ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintahan SBY-Boediono. Namun di sisi lain, kita juga mencatat sejumlah prestasi pemerintah, utamanya pada periode pertama pemerintahan SBY (bersama JK), yang lumayan konsisten dalam memperjuangkan peningkatan kesejahteraan guru serta pemberantasan korupsi.
Terkait dengan isu penggulingan SBY-Boediono, sejatinya hal itu merupakan hal yang lumrah terjadi di setiap negara.
Tetapi, kita juga tidak bisa menimpakan kesalahan hanya kepada mereka berdua saja. Para pembantunya (anggota kabinet) juga memiliki andil cukup besar berkenaan dengan belum optimalnya kinerja pemerintah.
Pada bahagian lain, tentu haruslah pula disadari, bahwa keinginan menggulingkan SBY, bukanlah perkara mudah. Pasalnya, naiknya SBY-Boediono ke tampuk kekuasaan melalui jalur konstitusional alias merupakan pilihan rakyat lewat Pemilu (Pilpres). Mustahil menggulingkan melalui MPR. Hanya dengan people power, hal itu memungkinkan dilakukan.
Karena itu, wajar jika dianggap isu penggulingan SBY hanya sebatas wacana belaka. Kendati demikian, isu ini harus disikapi sebagai sebuah ‘jeweran’ untuk pemerintah, agar bisa bekerja ekstra keras untuk memberikan kenyamanan dan rasa keadilan bagi rakyat dan mengurangi kebiasaan menyelesaikan persoalan lewat pidato belaka.

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 12 Oktober 2010, in Budaya, Politik. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Sekarang ini situasinya gawat pak, masa di bandung aja 3 kantor polisi diancurin. Gak tau ke depan gimana nih pak. Menurut bapak akhir tahun ini bakal ada apa pak kalo gini terus? Pak saya baru selesai nulis artikel tentang osteoporosis. Ini artikelnya:
    hendrybdg87.wordpress.com/2010/10/13/osteoporosis-dan-pencegahannya/
    hendrybdg87.wordpress.com/2010/10/13/sembuh-dari-derita-radang-sendi/
    hendrybdg87.wordpress.com/2010/10/13/mitos-mitos-osteoporosis/
    hendrybdg87.wordpress.com/2010/10/13/penyembuh-dari-dasar-samudera/
    Semoga bermanfaat pak.

  2. Kinerja pemerintahan SBY periode ke 2 ini memang jauh dari memuaskan. Para pembantu presiden (menteri dan staf ahli) terlihat kurang menguasai permasalahan, dan berkali-kali melakukan blunder. Kasus Jaksa Agung Hendarman Supanji yang lupa tidak dilantik kembali, pengangkatan menteri dan waki menteri yang tiba-tiba berubah, kasus pelanggaran batas oleh Malaysia yang disikapi dengan lembek, adalah sebagian contoh kinerja pemerintah yang membuat rakyat gemas.

    Tetapi saya setuju dengan pendapat Bang Mike, penggulingan SBY masih sebatas wacana saja, kemungkinan terealisasinya boleh dikata sangat kecil. People power? Kayaknya kita kekurangan tokoh yang cukup berkharisma untuk memimpin gerakan seperti itu.

    Jadi, apa yang bisa kita harapkan? Mungkin menunggu sampai pemilihan presiden berikut, ganti presiden, sambil terus mengawal pemerintahan sekarang dengan ketat …

  3. hahahahah ternyata pemimpin kita takut digulingkan karena hanya isu-isu aja sudah di tanggapi dengan serius. kadang saya berpikiran kalau kita ini hidup dalam dunia dongeng……… mungkin enak yah jadi seorang pemimpin sehingga saat mau di gulingkan ketakutannya sampe kebakaran jenggot.

  4. Ini adalah dalam kaitannya dengan kasus-kasus kekerasan terakhir seperti di Cikeusik, Temanngung dan Pasuruan. Cara melihatnya gampang. Kita juga bisa melihat berdasarkan urutan waktu. Pertama, ada pernyataan Tokoh Lintas Agama, dimotori Syafii Maarif, yang prihatin nasib bangsa. Pernyataan itu dipandang pemerintah/intelijen, bisa membahayakan stabilitas rejim ketika jutaan orang disini kian sulit akibat pemerintah yang tidak menciptakan roadmap dan pelaksanaan ekonomi yang jelas. Bila TLA ditindaklanjuti gerakan mahasiswa dan massa anti pemerintah saat ini, itu bisa memicu sebuah gerakan masif, berupa demo-demo dimana-mana, juga di depan DPR dan Istana. Kedua, tak lama kemudian, Tunisia dan Mesir meletus demo-demo besar, juga karena rakyat itu kian sulit akibat Ben Ali dan Mubarak yang kian sengsarakan rakyat mereka: Harga-harga terus naik. Rejim-rejim itu berjatuhan, melalui gerakan revolusi yang terpicu tak adanya daya-beli dan kelaparan. Di Indonesia, meski bukan diktator dan baru berkuasa 6 tahun berjalan, namun ketakutan seperti itu sudah dibacad. Perlu pengalihan isu yang efektif dan bertahan lama. Isu itu adalah isu SARA, meskipun ini terbukti tidak efektif untuk masa sekarang, ketika sebagian rakyat berpendidikan mengerti permainan dan taktik lama ini. Dulu di masa Suharto, cara pengalihan isu seperti itu efektif tapi lama-lama malahan membuat dia terguling. Sebetulnya taktik lama tidak perlu, sebab masih banyak penduduk ini yang bodoh-bodoh dan masih terpengaruh oleh hal-hal tahayul. Jadi mudah, buat saja “Selametan Minta Berkah” seperti yang kini dibuat bupati di Jawa Timur di bulan Maulud ini. Maka rakyat banyak berdatangan mandi air disana mereka berharap berkah. Gampang, Tidak perlu membunuh sesama manusia sebangsa lagi. Kesimpulannya juga, kalau kekerasan dibiarkan oleh pemerintah, maka semakin jelas bahwa itu semua upaya untuk mengalihkan usu dan bahkan pemerintah telah melakukan State Terrorism (terorisme oleh negara/pemerintah) terhadap rakyatnya, melalui preman-preman atas nama SARA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: