Kebenaran Tergantung Kepentingan ?


Benar dan adil menurut ajaran agama serta aturan perundangan, belum tentu benar dan adil dalam aplikasi kebijakan pemerintahan, maupun tindakan para pemimpin dan politisi.

Saat ini, kebenaran dan keadilan, seringkali lebih tergantung pada kepentingan (vested interested). Seseorang bisa jadi memiliki track record yang buruk. Tapi, dia tetap saja dipercaya memimpin sebuah institusi atau mengemban jabatan penting, karena atasannya menyukai yang bersangkutan.

Anda boleh-boleh saja merasa kredibel, pintar dan memiliki rekam jejak yang bersih. Namun berbekal itu saja kerap kali tidaklah memadai. Sebab, yang lebih menenukan adalah sejauh mana Anda memiliki kedekatan dan lobi yang bagus kepada atasan. So, piawai dan terampil saja tidaklah mencukupi.

Karena itu pula, tidak terlalu berlebihan bila seorang mantan Wapres JK misalnya, meradang melihat fakta, bahwa kasus Bank Century hingga kini masih misteri. KPK justru lebih disibukkan dengan mengurusi kasus-kasus lain yang skala kerugian negara, lebih kecil.

Di sisi lain PDI Perjuangan juga murka. Pasalnya, sejumlah elite politik mereka kini menjadi tersangka dalam kasus aliran dana BLBI. Sebaliknya, sejumlah kader Partai Demokrat yang pernah diperiksa KPK semisal Johnny Allen Marbun dan Amrun Daulay, hingga kini hanya berstatus sebagai saksi.

Ya, begitulah realitas yang ada di negeri kita. Dari doeloe hingga sekarang, penegakan hukum dan perwujudan rasa keadilan, masih sangat dipengaruhi oleh kepentingan (penguasa). Kalau benar-benar ingin menegakkan keadilan dan kebenaran, mestinya bukan cuma Bachtiar Chamsyah saja yang dijadikan sebagai tersangka atau Yusril terus diobok-obok, karena kasus Sisminbakum.

Masih lebih banyak lagi yang patut dijerat hukum karena perbuatannya merugikan keuangan negara. Tapi mereka lolos, karena memiliki kedekatan dengan elite politik dan pihak-pihak yang tengah berkuasa. Sebaliknya, mereka yang kritis dan tak punya bargaining politis yang kuat, dengan mudahnya dijadikan tersangka.

Dalam kehidupan sehari-hari, hal serupa juga sering terjadi. Pertemanan juga seringkali dipengaruhi oleh kepentingan dan sejauh mana Anda dinilai bisa memberi manfaat. Silaturrahmi kini (banyak) yang tidak lagi tulus alias lebih didominasi basa-basi serta sarat kepentingan.

karikatur dari sini

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 19 September 2010, in Budaya, Kehidupan and tagged , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Pemikirannya menarik pak, tapi dewasa ini saya lihat kebudayaan yang terbentuk di dalam masyarakat ya seperti itu, selalu berdasarkan kepentingan pribadi / golongan, jarang yang memikirkan kepentingan orang banyak. Mungkin manusia sekarang ada di penghujung jaman ya pak🙂

  2. kebenaran hakiki itu ada pada hati nurani.
    keangkuhan duniawi telah menutupinya,
    sehingga nurani sudah tak lagi berfungsi…🙂

  3. Keangkuhan duniawi ya… kalau dipikir betul juga pak. Jaman ini semua orang lebih mentingin materi gak pake nurani…

  4. Selamat Idul fitri 1431 H, maaf lahir dan batin.
    Selamat berjuang terus….

  5. jadi sampai kapan kepentingan itu akan usai bang?

    *fiuuhhh,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: