Monthly Archives: Agustus 2010

Prediksi Meleset, Sinabung Meletus


Gunung Sinabung T Karo meletus

Melesetnya perkiraan dan analisis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Dinas Pertambangan dan Energi Sumut, yang menyebutkan Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo Sumatera Utara dalam kondisi aman, membuat warga Kecamatan Naman Teran dan Payung menjadi panik dan merasa tidak aman.
Penetapan status ‘B’ gunung berketinggian 2.460 meter itu, yang semula digembar-gemborkan tidak akan meletus, ternyata sangat jauh dari fakta di lapangan. Terbukti, Minggu (29/8) pukul 00.15 WIB dinihari gunung meletus dan mengeluarkan lava dan kabut disertai abu.
“Kita meminta ahli Vulkanologi, Mitigasi Bencana Geologi untuk melakukan penelitian dan terus mengawasi Gunung Sinabung itu. Bila akan ada lagi letusan yang lebih besar diharapkan segera menginformasikannya kepada masyarakat agar tidak ada korban jiwa. Melesetnya perkiraan dikeluarkan BMKG sangat kita sesalkan, untung saja warga setempat sudah banyak mengungsi,”ujar warga di sekitar Gunung Sinabung yang kini dalam lokasi pengungsian.
Kita berharap ke depan, seluruh institusi yang berwenang dalam hal ramalan tentang gempa dan gunung meletus serta bencana lainnya, hendaknya benar-benar bekerja serius dan tidak lagi menyajikan ramalan yang melenceng.
Di sisi lain, meletusnya Gunung Sinabung di bulan suci Ramadhan sungguh mengejutkan dan memprihatinkan. Dalam konteks ini, para elite penguasa di negeri ini sudah seharusnya melakukan introspeksi : mengapa bencana terus terjadi melanda bangsa ini ?
Jelas, hal ini tidak semata-mata sebagai sebuah fenomena alam, melainkan terdapat causalitas serta konsekuensi dari kebijakan negara dalam memenej alam serta lingkungan kita selama ini. Bencana juga merupakan isyarat dari Allah bahwa manusia banyak melakukan dosa di dunia ini. Bencana Sinabung cerminan hal itu juga.
Begitu banyaknya pengungsi akibat letusan Gunung Sinabung yang jumlahnya mencapai 30.000 jiwa, membuat seluruh lokasi penampungan penuh. Sebagian pengungsi pun kesulitan mendapatkan tempat beristirahat malam dan mulai terserang berbagai penyakit.
Agar musibah dan berbagai bencana tidak terus melanda negeri kita, sudah sepatutnya kita semua selalu melakukan introspeksi, termasuk introspeksi agar tidak salah melakukan prediksi serta menumbuhkan kesadaran, agar semua kita, utamanya para elite pemimpin bangsa, semakin mampu melindungi rakyatnya dari berbagai ancaman bencana.

Iklan

Kinerja Wakil Rakyat belum Optimal


Brilian Moktar, satu di antara sedikit wakil rakyat yang peduli pada rakyatnya

Brilian Moktar, satu di antara sedikit wakil rakyat yang peduli pada rakyatnya

Sudah sekitar setahun, anggota DPR periode 2009-2014 menduduki kursi empuk sebagai representasi rakyat di legislatif. Namun, sejauh ini kita melihat kinerja para wakil rakyat tersebut, kurang optimal alias belum sepenuhnya mampu menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai wakilnya rakyat.

Tiga fungsi anggota dewan itu yakni fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan. Ketiga fungsi pokok ini, bisa disebut belum berjalan dengan baik di DPR. Pasalnya, aktivitas anggota dewan cenderung lebih mengarah pada rutinitas.

Rutinitas itu lebih banyak berupa rapat-rapat di internal dewan, rapat antara pimpinan dewan dengan pimpinan fraksi, rapat dengan berbagai mitra kerja serta sejumlah rapat-rapat lainnya. Sayangnya, berbagai rapat yang digelar itu seringkali lebih kental nuansa politisnya dan lebih cenderung membahas seputar kebutuhan para wakil rakyat itu, serta kurang menyentuh pada kepentingan rakyat.

Bahkan tidak jarang gedung DPR dalam waktu-waktu tertentu, yang notabene bukan libur umum, kelihatan sunyi senyap, terkesan seperti gedung tak berpenghuni. Akibatnya, tidak jarang sejumlah komponen masyarakat yang menggelar aksi unjukrasa ke rumah rakyat itu, kemudian harus rela menelan pil pahit kekecewaan, karena para wakilnya sedang tidak berada di tempat.

Sebagai contoh di DPRD Sumatera Utara,  hampir dalam rentang waktu dua kali dalam sebulan, selalu saja terdapat agenda perjalanan kunjungan kerja (kunker) anggota DPRD Sumut ke luar provinsi. Dari Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara, hampir seluruhnya sudah dijalani anggota DPRD Sumut yang baru menduduki kursi empuknya sekitar enam bulan itu.

Baru enam bulan saja, sudah demikian jauh perjalanan kunjungan anggota DPRD Sumut. Bila sampai waktunya hingga ke ujung periode selama lima tahun, tidak mustahil akan terjadi kekurangan pulau/ kota, yang akan dikunjungi, karena sudah hampir seluruhnya didatangi mereka.

Anehnya, selama melakukan kunjungan ke luar provinsi itu, pilihan daerah yang disambangi cenderung lebih berorientasi pada daerah-daerah empuk semisal Bali, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Kalimantan. Kenapa misalnya mereka tidak pernah terpikir berkunjung ke daerah-daerah yang selama ini rawan konflik seperti Aceh, Maluku atau Papua ?

Dari sini kita mencium gelagat kurang sehat, betapa tujuan kunjungan dewan itu tidak semata-mata bertujuan untuk melakukan comparative study, melainkan juga dalam rangka berdarmawisata alias sambil menyelam minum air. Sejatinya, program comparative study para wakil rakyat itu sah-sah saja dan dibenarkan perangkat perundangan.

Selanjutnya bisa berubah menjadi tidak wajar dan patut dipertanyakan, karena kuantitas kunjungannya sudah cenderung over. Karenanya, tidak mengherankan bila anggota DPRD Sumut saat ini beberapa di antaranya mulai ‘asing’ dengan keluarganya, karena kebanyakan tugas luar. Di sisi lain manfaat dan follow-up kunjungan itu sendiri, hingga kini tidak terlalu jelas juntrungannya.

Dalam konteks demikian, kita berharap kiranya pimpinan DPRD Sumut dapat mengevaluasi kembali frekuensi kunker DPRD Sumut yang sudah cenderung over-capacity itu. Sebab, diakui atau tidak, hal itu turut mempengaruhi melempemnya kinerja DPRD Sumut. Para wakil rakyat sudah seharusnya lebih banyak berdiam di rumahnya, bekerja keras memikirkan sekaligus mencari solusi berbagai permasalahan yang dihadapi rakyat. (**)