Pemilukada Medan : The Winner is Golput


Perhitungan sementara Pemilukada di Kota Medan, Kamis (13/5) kemarin, terjadi persaingan cukup ketat antara pasangan Rahudman Harahap-Dzulmi Eldin dengan Sofyan Tan-Nelly Armayanti. Namun siapapun yang bakal keluar sebagai pemenang nanti, pemenang sesungguhnya adalah golongan putih. Pemilukada Kota Medan, the winner is golput.
Mengapa dikatakan demikian ? Pasalnya tingkat partisipasi pemilih dalam menggunakan hak pilihnya pada Pemilukada Kota Medan, Rabu (12 Mei) memang sangat memprihatinkan, hanya sekitar 35 persen. Dengan kata lain 65 persen pemilih tidak menggunakan hak pilihnya.
Rendahnya tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilukada Kota Medan ini, sebenarnya sudah diduga sebelumnya. Namun kita tidak pernah menyangka, persentasenya sedemikian rendah. Kemenangan golput dalam Pemilukada Kota Medan ini, bisa disebut persentase terbesar dalam sejarah Pemilukada di tanah air, sejauh ini.
Dalam perspektif pembelajaran politik dan penguatan demokrasi di tanah air pada umumnya dan di Kota Medan khususnya, sudah barang tentu kita merasa sangat kecewa. Hal itu sekaligus bermakna, demokratisasi belum berjalan sebagaimana mestinya, sesuai dengan yang diharapkan.
Pertanyaannya kemudian, mengapa golongan putih justru mendominasi dalam Pemilukada Kota Medan ? Dalam hal ini setidaknya terdapat dua hal menjadi penyebab utama tingginya angka golput. Pertama, karena sikap apatisme masyarakat terhadap figur-figur pasangan calon walikota. Kedua, masyarakat mulai jenuh dengan penyelenggaraan Pemilukada. Ketiga, tidak maksimalnya sosialisasi yang dilakukan oleh KPUD Kota Medan dan jajarannya.
Apatisme masyarakat terhadap figur calon walikota, bisa dianggap sebagai salah satu penyebab tingginya angka golput, karena mereka mulai tidak yakin dengan itikad baik para calon walikota tersebut. Sebab, rakyat sudah banyak disuguhi fakta, para kandidat hanya pintar mengumbar janji sebelum terpilih (saat kampanye), dan dengan mudahnya melupakan janji-janjinya itu setelah terpilih.
Dengan kata lain, bagi warga Kota Medan yang tidak terlibat dalam partai politik, sejatinya siapapun yang menjadi walikota, tidak akan ada pengaruhnya sama sekali. Keberadaan walikota, tidak akan banyak membantu mereka keluar dari himpitan beban hidup yang melanda selama ini. Karena itu pula, mereka merasa tidak terlalu banyak manfaatnya menggunakan hak pilihnya.
Di sisi lain, masyarakat juga sudah mulai jenuh dengan hiruk-pikuk penyelenggaraan Pemilukada, termasuk Pemilu legislatif dan Pilpres. Masyarakat merasakan gegap gempita perhelatan pesta demokrasi itu, hanya menguntungkan segelintir elite politik saja. Sedangkan rakyat kecil, yang miskin tetap miskin, yang menderita tetap terpuruk.
Dalam konteks demikian, kita berharap ke depan, siapapun yang bakal terpilih menjadi kepala daerah, hendaknya dapat memegang teguh janji-janji kampanyenya, ditandai dengan adanya bentuk konkrit merealisir janji-janjinya itu. Kalau janji kampanye tidak juga ditepati, hampir dapat dipastikan pada Pemilukada selanjutnya, pemenangnya masih tetap di pihak golput (the winner is golput).
Kemenangan atau dominasi golput dalam Pemilukada Kota Medan ini, hendaknya dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak, utamanya kalangan pemerintahan, pimpinan parpol dan penyelenggara Pemilukada.
Kemenangan golput, juga dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk protes rakyat terhadap arogansi elite politik, yang selanjutnya berimbas pada rendahnya legitimasi terhadap kepala daerah terpilih. Hal ini merupakan kabar buruk bagi perkembangan demokrasi di negeri ini.

Iklan

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 13 Mei 2010, in Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink. 15 Komentar.

  1. seperti biasanya tetap saja melenggang tak hirau pada banyaknya golput

    @mikekono : ya, begitulah …..mereka hanya peduli
    pada kelanggengan kekuasaannya…..:(

  2. Susah juga jadi pemilih, apalagi kalau hanya disodorkan dua calon dan keduanya merasa nggak sreg di hati….

    Lha sekarang aja, anakku udah berkata…”Pemilu berikutnya saya nggak akan pilih partai X..”…karena mengecewakan. Ini mungkin yang tak disadari, dianggap 5 tahun lagi sudah lupa. Bisa-bisa golput makin naik

    @mikekono : di negeri ini memang sukar sekali
    mengharapkan kesadaran pemimpin…..,
    alhasil rakyat terus semakin kecewa
    dan mulai dihinggapi apatisme 😦

  3. rakyat sudah mulai jenuh, dimana2 para kandidat hanya hebat di janji tapi payah di bukti…….

    @mikekono : bener banget, mereka kebanyakan
    pembual…yang tak lagi aktual 😦

  4. hehe.. lucu juga kalimatnya, … the winner is golput. apa memang sebesar itu jmlh rakyat yg memilih untuk golput bang? ck ck ck..

    @mikekono : memang begitulah faktanya,
    masya gak percaya seh……hehehe 🙂

  5. Jumlah golput 65% memang luar biasa besar. Partisipasi masyarakat yang sangat kecil ini memberikan makna bahwa pemilukada merupakan proses yang hanya menghamburkan waktu, biaya, dan tenaga. Kita tahu, biaya pilkada sangat besar, bukan saja dari anggaran pemerintah, tapi juga dari para kontestan. Pemilukada, yang sebenarnya ditujukan sebagai perwujudan demokrasi dan penghargaan kepada suara rakyat, ternyata tidak mencapai sasarannya.

    Pejabat yang terpilih hanya dengan 35% suara (itupun dibagi untuk dua pasangan calon), memang boleh dikata tidak memiliki legitimasi. Tetapi pada kenyataannya, setelah calon yang terpilih menjabat, ia tetap memiliki kekuasaan penuh bukan? Jadi, ‘kemenangan golput’ itu tetap tak ada artinya dalam konteks demokrasi.

    Maaf Bang … sok teu nih … hehehe 😀

    @mikekono : jangan-jangan di masa mendatang,
    golput terus bertambah, bisa-bisa mencapai 90 %
    kalau ini terjadi, baru benar-benar gawat…. 😦
    btw, mbak tuti memang allround,
    bicara apa saja selalu fasih, termasuk soal politik
    kerepoten gue jadinya……hehe 🙂

  6. ..
    Dimana-mana politik sama..
    Calon yg Mengumbar janji sih udah biasa..
    ..
    Tp aku gak pernah golput..
    Kayaknya kalo golput jd gak berhak mengkritisi calon yg terpilih..
    Hi..hi.. 😀
    ..

  7. Jujur politik menjenuhkan.,.. dan semoga mereka2 itu mengerti bahwa rakyat bosan dengan semua janji2 dan tingkah polah mereka..

    Apalagi Medan….. waktu lia pulang 4 bulan yang lalu…
    pakcik lia pernah cakap kalo dia benci dengan walikotanya.. abis banyak tak betulnya… 😦

    ehmmm apakah begitu memang ?

  8. apa masyarakt sudah pesimis dengan para pemimpin yang sekarang di Medan

  9. Semakin terkikis ya akhirnya kepercayaan masyarakat, apa yg ditanam itulah yg dituai, wahai yang diatas sana tanamkanlah sikap yg sepatutnya agar rakyat kembali percaya dan yakin

  10. yaah jadi meski golput menang tak ngaruh yah bang..

    bang kami mengundang anda untuk mengikuti gelaran kontes fiksi mini yaa

    ditunggu pasrtisipasinya di http://akubunda.wordpress.com/2010/05/16/wi3nda/

    trimakasi 🙂

  11. ruarrrr biasa nih golput…
    putaran kedua gimana prediksinya, bang?

  12. Kesadaran Politik anak bangsa ini yg rendah, siapapun pemenang PEMILUKADA harus kita hargai. Pak Rahudman Harahap, saya yakin Bapaklah sebagai pemenang, jangan melakukan blok di Kota Medan, tolong digandeng semua tanpa pilih buluh. Sukses untuk Bapak.

  13. Golput ciri khas masyarakat yang apatis, 10 pasang kandidat masa tidak ada satupun yang disukai?, imposible, yang rugi kite-kite juga karena tidak menyalurkan hak politiknya, selaku orang intelektual mari kita berikan pendidikan politik kepada masyarakat, betapa berdosa kita kalau hanya menghakimi, malah tidak memberi solusi, kalau ada yang salah dalam birokrasi mari kita protes dengan santun, kalau juga tidak dijawab Alahualam, nanti Tuhan akan memberi pelajaran yg setimpal kepadanya dan kepada anak cucunya. Saya berharap pada putaran kedua berikanlah suaraMu, pak Rahudman itu khan orang Medan, pasti dia akan memiliki hati nurani, atau siapapun Dia, karena secara filosofis jabatan itu adalah amanah yg harus dipertanggungjawabkan oleh Pejabat terpilih secara duniawi dan akhirat, Tuhan Memberkati kita semua. Mari kita hilangkan secara perlahan bahwa Medan sarang para penipu dan koruptor, itu tidak benar.

  14. GOLPUT, janagan ditiru, walaupun 10% yg menyalurkan haknya dari jumlah pemilih keseluruhan secara aturan no problem, tapi dimana Hatinurani kita sebagai anak Bangsa?, barangkali kalau diberikan dari negara 100rb kepada setiap org yg datang dan menyalurkan haknya di TPS, saya yakin yg umur dibawah 17 tahun bisa saja manipulasi umur spy ikut milih, tapi inilah perilaku anak bangsa yg jelek dan harus ada balas jasa. Jangan kita gadaikan dan hianati hak kesulungan kita, Horas Medan.

  15. Ngapaen harus GOLPUT….
    Apa yang GOLPUT itu juga sudah siap kalau ditunjuk jadi pemimpin??????????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: