Ada Apa denganmu, Mbak Sri ?


Keputusan Menteri Keuangan Sri Mulyani memilih jabatan Managing Director Bank Dunia menjadi jalan keluar sementara dari kemelut yang menimpa dirinya.

Kepastian Sri Mulyani lebih memilih jabatan Managing Director Bank Dunia semakin nyata setelah keterangan Presiden SBY yang mengaku menerima surat pengunduran diri Sri Mulyani dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II.

Keputusan ini menjadi jalan keluar sementara atas kemelut yang menimpa Sri Mulyani. Mulai soal kasus Century yang melilit dirinya hingga kasus pajak Paulus Tumewu yang tengah bergulir di Komisi III DPR RI. Terkait kasus Century, Sri Mulyani bahkan telah diperiksa selama dua kali oleh KPK pada 29 April dan 4 Mei 2010.

Mundurnya Sri Mulyani, kendati terasa wajar dan merupakan hal yang lumrah. Namun tetap terasa mengejutkan. Sekaligus menimbulkan pertanyaan, ada apa denganmu Mbak Sri ? Pasalnya, selama ini tradisi mundur kurang dikenal dalam budaya politik, utamanya di kalangan pejabat Indonesia.

Karena itu, cukup menarik dicermati, kenapa Sri Mulyani merasa perlu menyatakan mundur dan lebih memilih jabatan yang juga lumayan presitisius, sebagai Managing Director Bank Dunia. Tentu, kita juga semua tahu, figur Sri Mulyani Indrawati memang sangat disegani di kalangan perbankan internasional, sebab sebelumnya dia juga pernah berkiprah di IMF.

Diakui atau tidak, jabatan Menteri Keuangan RI, merupakan salah jabatan penting dan sangat ‘basah’ di Kabinet Republik Indonesia. Karena itu, sangat wajar bila mundurnya sang menkeu yang smart dan terkesan cool itu, memunculkan sejumlah pertanyaan di benak banyak kalangan.

Benarkah Sri Mulyani mundur, karena merasa tertantang disodori jabatan Managing Director World Bank ? Atau dia ‘dipaksa’ mundur demi kepentingan politis alias karena adanya kompromi di kalangan elite, dengan cara memilih jalan terhormat bagi Sri Mulyani supaya tak lagi menjadi bulan-bulanan DPR, sekaligus mewujudkan suasana lebih kondusif antara koalisi pemerintah dengan pihak oposisi (PDIP, Hanura) plus Partai Golkar.

Namun bila pilihan sikap yang ditempuh Sri Mulyani itu murni, karena dirinya sudah merasa gerah, karena sudah terlalu lama menanggung beban akibat kasus Bank Century, kita juga patut memberikan apresiasi kepadanya.

Itu bermakna, dia lebih memilih mengorbankan dirinya, demi menjaga keutuhan kabinet SBY-Boediono, yang selama ini terus dijadikan sasaran hujatan, akibat keberadaan Sri Mulyani dan Boediono, yang dianggap sebagai titik lemah yang dapat mengganggu kelancaran program yang dicanangkan Presiden SBY.

Kendati begitu, mundurnya Sri Mulyani tentu tidak dengan serta merta menyelesaikan persoalan di seputar kasus Bank Century. Dengan atau tanpa dirinya di kabinet, KPK diharapkan harus terus ‘mengejar’ yang bersangkutan, sekaligus mempertanggungjawabkan perbuatannya, jika terbukti bersalah dalam kasus bail-out Bank Century tersebut.

Iklan

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 5 Mei 2010, in Budaya, Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. Posting yang menarik, salam kompak dan semoga sukses.
    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru kami berjudul : “Pompa Turbin pertama di Kabupaten Sikka”, serta artikel lain yang bermanfaat, dan mohon diberi komentar. Terima kasih.

    @mikekono : thanks atas komentar dan kunjungannya
    segera akan berkunjung ke sana 🙂

  2. jujur saya sedih sekali mendengar berita pengunduran ibu sri mulyani kemarin, terlepas beliau salah atau tidak dalam skandal bank century negara ini masih membutuhkan tokoh seperti beliau…

    @mikekono : saya juga sedih….
    tapi begitulah Indonesia, bnyk yang menjadi korban
    intrik-intrik politik 😦

  3. Mundurnya Sri Mulyani tampaknya ada tarik menarik antara kepentingan politik dan ekonomi. Secara politik, ini menguntungkan kabinet SBY, tapi secara ekonomi nasional, sebenarnya merugikan. Secara politik, hijrahnya Sri Mulyani ke World Bank ‘menyelamatkan’ banyak pihak, tetapi secara ekonomi kita kehilangan menteri yang pintar dan berani menerapkan reformasi di departemennya (terlepas dari kasus Century).

    Yah, mungkin Mbak Sri gerah dan capek juga didemo terus. Di Washington kan jauh lebih nyaman …

    Yang jadi pertanyaan besar, bagaimana kelanjutan kasus Century?

    @mikekono : betul banget, secara profesional
    kita kehilangan menteri yang sebenarnya
    dangat kapabel di bidangnya
    kita berharap kasus Century ‘mengorbankan’
    seseorang yg belum tentu bersalah 😦

  4. Keputusan Bu Sri Mulyani untuk mundur memang mengagetkan…
    semoga saja itu memang keputusan yang telah dipikirkan dan dipertimbangkan matang-matang.
    Saya berharap, siapapun penggantinya kelak, bisa membawa perekonomian Indonesia lebih baik, dan semakin maju.

    @mikekono : bener banget, kita sejatinya
    merugi, kehilangan figur sehebat Sri Mulyani…
    tapi begitulah Indonesia, yang tidak punya
    cantolan politik, potensial tergusur 😦

  5. Saya suka membaca di Kompas, perdebatan para pakar dan pengamat ekonomi tentang kiprah bu Sri ini. Tulisan Sukardi Rinakit menggelitik dengan judul “Tego lorone ora tega patine” di
    http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/11/03354265/tidak.tega.patine

    Juga tulisannya Iman Sugema di
    http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/11/03021313/sri.mulyani.outside

    Terlihat, bahwa makin ke atas angin makin kencang…jika menduduki jabatan di atas, juga harus memahami politik di sekitarnya.

    (Walau saya tak suka politik)

    @mikekono : tulisan2 di kompas itu pasti
    menarik untuk ditelaah lebih jauhhhh,
    pastinya akan selalu ada prokontra
    menyangkut sri mulyani itu,
    btw, benar sekali bahwa semakin
    tinggi jabatan akan semakin kencang
    angin menerpa…thanks 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: