Monthly Archives: Mei 2010

Urbaningrum Bawa Demokrat Mengharum


Di sela kesibukan, Anas masih menyempatkan diri menulis....

Kemenangan Anas Urbaningrum dalam Kongres II Partai Demokrat, yang digelar di Bandung kemarin, bisa disebut tidak terlalu mengejutkan. Yang mengejutkan justru kegagalan Andi Mallarengeng melaju ke putaran kedua. Perolehan suara Andi yang cuma 82 atau sekitar 16 persen, sungguh di luar perkiraan serta sangat jauh bertentangan dengan gembar-gembor tim suksesnya selama ini, yang mengklaim didukung 80 % DPD.
Dukungan putra SBY, Edhie Baskoro alias Ibas kepada Andi Mallarangeng, ternyata tidak mampu menolong Andi. Posisi Andi dan pendukungnya semakin terjepit, sebab ternyata SBY selaku Ketua Dewan Pembina lebih memilih bersikap netral. Buyarlah impian Andi, yang sebelumnya yakin akan didukung SBY.
Dari perhelatan Kongres Demokrat ini, kita banyak memetik pelajaran politik berharga. Bahwa budaya restu-restuan, memang tidak sepatutnya lagi terjadi di tubuh partai dan institusi manapun di negeri ini. Dalam hal ini, SBY patut diberi acungan jempol, sebab dia mempersilahkan peserta kongres memilih sendiri pimpinannya yang dianggap paling layak.
SBY, yang sebelumnya diprediksi akan melakukan intervensi untuk memberikan keuntungan bagi salah satu di antara tiga kandidat, ternyata mampu memperlihatkan kedewasaannya dalam berpolitik, setidaknya di internal Partai Demokrat. Padahal, jika saja SBY mau campur tangan, misalnya mendorong pemilihan Ketua Umum secara aklamasi, demi memuluskan kandidat yang disukainya, dipastikan di antara ketiga kandidat itu tidak akan berani mbalelo.
Kita sudah barang tentu menyambut positif dan mengapresiasi sikap netral SBY. Pilihan sikap yang dilakukannya itu, sudah pasti akan berdampak positif bagi masa depan Demokrat di masa mendatang. Demokrat di bawah kepemimpinan Urbaningrum pun akan dapat melangkap mantap, tanpa dibayang-bayangi intervensi sang Ketua Dewan Pembina.
Diakui atau tidak, sikap netral itu pulalah yang menjadi salah satu key factor, mengapa Anas Urbaningrum, kemudian sukses mengungguli para pesaingnya. Para peserta Kongres Demokrat pun akhirnya secara leluasa mengaktualisasikan pilihannya sesuai dengan hati nuraninya masing-masing. Kita katakan demikian, sebab secara finansial, sejatinya Anas jauh berada di bawah Andi dan Marzuki, tetapi justru dia yang dipercaya ‘rakyat’ Demokrat menjadi pemimpin mereka.
Berbekal talenta dan gaya kepemimpinannya yang selalu akomodatif dan tidak reaktif, kita meyakini Urbaningrum akan dapat membawa Demokrat semakin harum. Anas memiliki bekal yang cukup untuk terus mengharumkan Demokrat, karena track recordnya memang sudah sangat teruji dalam dalam memenej sebuah organisasi. Dia misalnya sukses membuat PB HMI disegani saat menjabat sebagai Ketua Umum. Ketika menjadi anggota KPU pun, dia pula yang sering dipercaya sebagai juru bicara. Kini, Anas juga memimpin Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) pusat.
Pernyataan Anas usai memastikan mengungguli Marzuki, bahwa kemenangannya merupakan kemenangan Demokrat, memperlihatkan kematangannya dalam berpolitik. Pria kelahiran Blitar 15 Juli 1969 ini, juga telah menyatakan akan merangkul pesaingnya, Andi dan Marzuki. Demokrat melalui Kongresnya telah menjatuhkan pilihan kepada Anas. Ini merupakan pilihan yang tepat, dan menjadi modal berharga untuk mengantisipasi berbagai tantangan Demokrat, pasca pensiunnya SBY dari kursi Presiden.
Dengan berbagai nilai plus yang dimilikinya, Urbaningrum sangat berpeluang membawa Demokrat makin mengharum. Terpilihnya Anas juga dapat dipastikan akan membuat gentar para rival politiknya dari parpol lain. Sebab, seperti telah kita ketahui bersama, suami Atthiyah Laila ini dan bapak empat anak ini, merupakan sosok yang tidak pernah membuka peluang berkonflik dengan pihak manapun. Selamat Bung Anas. Buktikan, Demokrat tidak salah telah memberi amanah kepada Anda…..!(**)

Foto dari sini

Iklan

Demokrat : Jangan Salah Pilih !


Partai Demokrat menggelar Kongres II di Bandung, 21-23 Mei. Dalam pemberitaan, ramai dikedepankan soal persaingan tiga nama, memperebutkan jabatan Ketua Umum, yakni Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum, dan Marzuki Alie.
Siapapun yang terpilih menjadi Ketua Umum, sudah pasti tantangan yang dihadapi Partai Demokrat akan jauh lebih berat. Pasalnya, pada Pemilu 2014 mendatang, dipastikan SBY tidak lagi berstatus sebagai calon presiden.
Dengan kata lain, tidak akan mudah bagi partai ini, untuk tetap mampu mempertahankan statusnya sebagai pemenang Pemilu. Lagi pula popularitas SBY pun, diakui atau tidak, tak lagi secemerlang beberapa tahun silam.
Gonjang-ganjing yang terjadi di negeri ini, semisal meruyaknya kasus Bank Century, kriminilasasi KPK, ‘perang bintang’ di tubuh Polri, serta merebaknya makelar kasus (markus), sudah pasti ikut berdampak pada pemerintahan SBY-Boediono, yang dinilai sering lamban untuk ikut ‘berperan’ dalam menuntaskan berbagai masalah tersebut.
Karena itu, perhelatan Kongres Partai Demokrat, akan sangat menentukan perjalanan dan masa depan partai yang kelahirannya dibidani SBY itu, dalam konstelasi politik di tanah air. Salah menentukan (memilih) Ketua Umum, selanjutnya akan berdampak buruk dan bisa jadi akan membuat partai pemenang pemilu ini, kemudian terpuruk.
Yang kelihatan sangat berambisi menjadi Ketua Umum saat ini adalah Andi Mallarangeng. Dan peluangnya sangat besar, karena dia kabarnya didukung putra SBY, Ibas. Sementara pesaingnya Anas Urbaningrum seperti biasanya selalu tampil cool dan santun. Sedangkan Marzuki Alie, tak terlalu kelihatan gaungnya.
Dari segi kompetensi, Andi memang pantas menjadi Ketua Umum. Namun dari sisi pengalamannya dalam memenej partai, dia belum cukup teruji. Saat bergabung di Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK) bersama Ryass Rasyid, sebagai caleg, Andi justru gagal duduk di Senayan karena perolehan suaranya tak signifikan.
Selain itu Andi juga baru gabung ke Partai Demokrat di tengah jalan, sedangkan Anas dan Marzuki Alie merupakan kader murni Partai Demokrat. Andi juga terkesan ambisius, sementara Anas tampil sangat santun dan memiliki komunikasi politik mumpuni.
Kalau Demokrat ingin memiliki Ketua Umum yang punya waktu luang lebih banyak mengurus partai, maka pilihan tepat memimpin Demokrat adalah Anas Urbaningrum. Adapun Andi dalam kapasitasnya sebagai Menpora dan Marzuki yang Ketua DPR-RI, dipastikan kesibukan tugasnya akan membuat waktu untuk mengurus partai akan sangat minim.
Semuanya tentu terpulang kepada peserta Kongres dan pilihan SBY sendiri. Jika Demokrat ingin tetap eksis, disegani kawan dan lawan, sosok Anas Urbaningrum merupakan pilihan tepat memimpin Demokrat lima tahun mendatang. Mengapa ? Selain relatif bisa diterima di semua kalangan, Anas juga sudah teruji dalam memimpin organisasi, dan yang lebih penting lagi, dia juga disukai banyak orang, termasuk di luar komunitas Demokrat. Ini merupakan modal sangat berharga bagi sebuah partai.  Selain tak boleh salah pilih, dipastikan akan lebih riskan lagi, jika Demokrat justru kembali dipimpin oleh kerabat SBY. Semoga peserta kongres tidak salah dalam memilih….!

Foto dari sini

Pemilukada Medan : The Winner is Golput


Perhitungan sementara Pemilukada di Kota Medan, Kamis (13/5) kemarin, terjadi persaingan cukup ketat antara pasangan Rahudman Harahap-Dzulmi Eldin dengan Sofyan Tan-Nelly Armayanti. Namun siapapun yang bakal keluar sebagai pemenang nanti, pemenang sesungguhnya adalah golongan putih. Pemilukada Kota Medan, the winner is golput.
Mengapa dikatakan demikian ? Pasalnya tingkat partisipasi pemilih dalam menggunakan hak pilihnya pada Pemilukada Kota Medan, Rabu (12 Mei) memang sangat memprihatinkan, hanya sekitar 35 persen. Dengan kata lain 65 persen pemilih tidak menggunakan hak pilihnya.
Rendahnya tingkat partisipasi pemilih dalam Pemilukada Kota Medan ini, sebenarnya sudah diduga sebelumnya. Namun kita tidak pernah menyangka, persentasenya sedemikian rendah. Kemenangan golput dalam Pemilukada Kota Medan ini, bisa disebut persentase terbesar dalam sejarah Pemilukada di tanah air, sejauh ini.
Dalam perspektif pembelajaran politik dan penguatan demokrasi di tanah air pada umumnya dan di Kota Medan khususnya, sudah barang tentu kita merasa sangat kecewa. Hal itu sekaligus bermakna, demokratisasi belum berjalan sebagaimana mestinya, sesuai dengan yang diharapkan.
Pertanyaannya kemudian, mengapa golongan putih justru mendominasi dalam Pemilukada Kota Medan ? Dalam hal ini setidaknya terdapat dua hal menjadi penyebab utama tingginya angka golput. Pertama, karena sikap apatisme masyarakat terhadap figur-figur pasangan calon walikota. Kedua, masyarakat mulai jenuh dengan penyelenggaraan Pemilukada. Ketiga, tidak maksimalnya sosialisasi yang dilakukan oleh KPUD Kota Medan dan jajarannya.
Apatisme masyarakat terhadap figur calon walikota, bisa dianggap sebagai salah satu penyebab tingginya angka golput, karena mereka mulai tidak yakin dengan itikad baik para calon walikota tersebut. Sebab, rakyat sudah banyak disuguhi fakta, para kandidat hanya pintar mengumbar janji sebelum terpilih (saat kampanye), dan dengan mudahnya melupakan janji-janjinya itu setelah terpilih.
Dengan kata lain, bagi warga Kota Medan yang tidak terlibat dalam partai politik, sejatinya siapapun yang menjadi walikota, tidak akan ada pengaruhnya sama sekali. Keberadaan walikota, tidak akan banyak membantu mereka keluar dari himpitan beban hidup yang melanda selama ini. Karena itu pula, mereka merasa tidak terlalu banyak manfaatnya menggunakan hak pilihnya.
Di sisi lain, masyarakat juga sudah mulai jenuh dengan hiruk-pikuk penyelenggaraan Pemilukada, termasuk Pemilu legislatif dan Pilpres. Masyarakat merasakan gegap gempita perhelatan pesta demokrasi itu, hanya menguntungkan segelintir elite politik saja. Sedangkan rakyat kecil, yang miskin tetap miskin, yang menderita tetap terpuruk.
Dalam konteks demikian, kita berharap ke depan, siapapun yang bakal terpilih menjadi kepala daerah, hendaknya dapat memegang teguh janji-janji kampanyenya, ditandai dengan adanya bentuk konkrit merealisir janji-janjinya itu. Kalau janji kampanye tidak juga ditepati, hampir dapat dipastikan pada Pemilukada selanjutnya, pemenangnya masih tetap di pihak golput (the winner is golput).
Kemenangan atau dominasi golput dalam Pemilukada Kota Medan ini, hendaknya dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak, utamanya kalangan pemerintahan, pimpinan parpol dan penyelenggara Pemilukada.
Kemenangan golput, juga dapat dimaknai sebagai sebuah bentuk protes rakyat terhadap arogansi elite politik, yang selanjutnya berimbas pada rendahnya legitimasi terhadap kepala daerah terpilih. Hal ini merupakan kabar buruk bagi perkembangan demokrasi di negeri ini.

Ada Apa denganmu, Mbak Sri ?


Keputusan Menteri Keuangan Sri Mulyani memilih jabatan Managing Director Bank Dunia menjadi jalan keluar sementara dari kemelut yang menimpa dirinya.

Kepastian Sri Mulyani lebih memilih jabatan Managing Director Bank Dunia semakin nyata setelah keterangan Presiden SBY yang mengaku menerima surat pengunduran diri Sri Mulyani dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II.

Keputusan ini menjadi jalan keluar sementara atas kemelut yang menimpa Sri Mulyani. Mulai soal kasus Century yang melilit dirinya hingga kasus pajak Paulus Tumewu yang tengah bergulir di Komisi III DPR RI. Terkait kasus Century, Sri Mulyani bahkan telah diperiksa selama dua kali oleh KPK pada 29 April dan 4 Mei 2010.

Mundurnya Sri Mulyani, kendati terasa wajar dan merupakan hal yang lumrah. Namun tetap terasa mengejutkan. Sekaligus menimbulkan pertanyaan, ada apa denganmu Mbak Sri ? Pasalnya, selama ini tradisi mundur kurang dikenal dalam budaya politik, utamanya di kalangan pejabat Indonesia.

Karena itu, cukup menarik dicermati, kenapa Sri Mulyani merasa perlu menyatakan mundur dan lebih memilih jabatan yang juga lumayan presitisius, sebagai Managing Director Bank Dunia. Tentu, kita juga semua tahu, figur Sri Mulyani Indrawati memang sangat disegani di kalangan perbankan internasional, sebab sebelumnya dia juga pernah berkiprah di IMF.

Diakui atau tidak, jabatan Menteri Keuangan RI, merupakan salah jabatan penting dan sangat ‘basah’ di Kabinet Republik Indonesia. Karena itu, sangat wajar bila mundurnya sang menkeu yang smart dan terkesan cool itu, memunculkan sejumlah pertanyaan di benak banyak kalangan.

Benarkah Sri Mulyani mundur, karena merasa tertantang disodori jabatan Managing Director World Bank ? Atau dia ‘dipaksa’ mundur demi kepentingan politis alias karena adanya kompromi di kalangan elite, dengan cara memilih jalan terhormat bagi Sri Mulyani supaya tak lagi menjadi bulan-bulanan DPR, sekaligus mewujudkan suasana lebih kondusif antara koalisi pemerintah dengan pihak oposisi (PDIP, Hanura) plus Partai Golkar.

Namun bila pilihan sikap yang ditempuh Sri Mulyani itu murni, karena dirinya sudah merasa gerah, karena sudah terlalu lama menanggung beban akibat kasus Bank Century, kita juga patut memberikan apresiasi kepadanya.

Itu bermakna, dia lebih memilih mengorbankan dirinya, demi menjaga keutuhan kabinet SBY-Boediono, yang selama ini terus dijadikan sasaran hujatan, akibat keberadaan Sri Mulyani dan Boediono, yang dianggap sebagai titik lemah yang dapat mengganggu kelancaran program yang dicanangkan Presiden SBY.

Kendati begitu, mundurnya Sri Mulyani tentu tidak dengan serta merta menyelesaikan persoalan di seputar kasus Bank Century. Dengan atau tanpa dirinya di kabinet, KPK diharapkan harus terus ‘mengejar’ yang bersangkutan, sekaligus mempertanggungjawabkan perbuatannya, jika terbukti bersalah dalam kasus bail-out Bank Century tersebut.