Kejahatan Pasti Berujung Duka


Sepandai-pandai tupai melompat, suatu ketika pasti akan jatuh. Sehebat-hebatnya menyimpan kebusukan, pasti akan tercium juga. Perumpamaan di atas sering disampaikan para orangtua, sebagai taushiyah agar dalam meniti kehidupan selalu bersikap rendah hati dan tidak pongah ketika berada di puncak kekuasaan.
Cilakanya, petuah ini seringkali dilupakan. Akhirnya sejarah pun sering berulang. Mereka yang tengah berada di kursi kekuasaan, hampir selalu tak kuat menahan godaan. Godaan itu bisa berupa harta, wanita, pun juga godaan untuk terus mempertahankan kursi kekuasaan atau mencari kursi yang lain, setelah kursi sebelumnya terpaksa dilepas.
Sungguh mengherankan, begitu nikmatkah kursi kekuasaan, sehingga mereka begitu bernafsu dan ngotot untuk memperebutkan dan mempertahankannya ? Bukankah sudah lumayan banyak, oknum pejabat yang kesandung dan terpaksa berurusan dengan KPK, karena tak mampu mengelola keuangan negara dengan baik.
Betul sekali, kursi kekuasaan sejatinya memang menawarkan sejumlah kenikmatan. Dengan segenap kewenangan di tangan, hampir semuanya bisa diraih ; kekayaan, kehormatan, dan lainnya. Dengan kekuasaan di tangan pula, ‘dendam politik’ bisa dilampiaskan.
Karenanya tak mengherankan bila terjadi pergantian rezim penguasa, akan berganti pula para menteri, kepala SKPD, dan para penasihatnya. Akan ada semacam gerakan ‘pembersihan’ terhadap orang-orang yang dianggap sebagai bahagian dari rezim sebelumnya.
Dalam konteks demikian, kita hanya ingin menekankan, bahwa kejahatan, kezhaliman, dan kesewenang-wenangan pasti akan berujung duka. Sebaliknya kebaikan, kemuliaan serta keberpihakan kepada rakyat akan menuai suka dan kebahagiaan.
Sudah banyak sekali contoh, betapa rezim penguasa yang suka bertindak sewenang-wenang dan menyalahgunakan uang rakyat, selanjutnya akan menuai petaka di saat masih berkuasa atau setelah lengser keprabon. Misalnya Ferdinand Marcos, Idi Amin, Nicolae Ceasescu, Augusto Pinochet, Alberto Fujimori, dan lainnya.
Tidak cuma itu saja, di negeri kita juga sudah lumayan banyak pejabat yang perjalanan kariernya berujung duka, utamanya di era kejayaan KPK, misalnya Abdullah Puteh, Widjanarko Puspoyo, Danny Setiawan, Ismeth Abdullah, Amiruddin Baso Maula, Soewarna AF, Aulia Pohan, Oentarto Sindung Mawardi, dan lainnya.
Namun sayangnya, berbagai peristiwa tersebut, yang beberapa di antaranya masih segar dalam ingatan, tak juga menjadi/ dijadikan pelajaran oleh para pejabat kita. Banyak di antara mereka, masih tetap pongah, dan tidak serius dalam mengelola uang negara.
Karenanya, tidak terlalu mengejutkan, jika dalam beberapa waktu mendatang, akan tetap ada pejabat dan mantan pejabat, kesandung dugaan kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Dalam konteks demikian, kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan cuma bisa mengingatkan, setiap kejahatan pasti akan menuai petaka. Petaka itu bisa terjadi sekarang, beberapa tahun kemudian, dan akhirat kelak.

karikatur dari sini

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 26 April 2010, in Budaya, Kehidupan, Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. sebenarnya ya sudah tahu, tapi memang ga tahan godaan itu…….

    @mikekono : tak tahan godaan, akhirnya tertawan😦

  2. hehhe iya
    kapan yaw
    segera bertaubat dan insyafff gituuuuu
    gak belajar dari kesalahan owq😀

    @mikekono : bagi mereka yg tengah berkuasa,
    hampir selalu lupa untuk bertaubat…payahhh😦

  3. ya bang August, begitu memang kenyataan yg terjadi di negeri ini. seperti kata bang napi, kejahatan terjadi bukan cuma karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan..🙄
    o iya, 1 lagi. kurangnya iman kayanya yaa, hehe..😀

    @mikekono : kesempatan membuat mereka
    menjadi kesempitan. Banyak juga yg iman kuat,
    setelah berkuasa menjadi luntur…. 😉

  4. Berharap para pejabat bisa sadar sesadarnya agar bisa memperbaiki sistem kerjanya dengan sehat dan bisa berkah buat dirinya sendiri maupun buat masyarakat

    @mikekono : berharap pejabat sadar, harapan
    yang sulit menjadi kenyataan…..😦

  5. Para pejabat pada nggak kapok korupsi, karena sanksi hukumannya ringan (malah bisa bebas sama sekali). Kalaupun dihukum sekian tahun, akhirnya yang dijalani di penjara tidak selama masa hukuman yang dijatuhkan, karena ada remisi. Masyarakat sudah lupa, tidak lagi mengingat mereka.

    Lagipula, hasil korupsi mereka tidak disita negara, sehingga keluar dari penjara, mereka masih bisa hidup enak, kaya raya dan berfoya-foya. Lalu menyumbangkan sedikiiit dari hasil korupsi mereka untuk amal, sehingga masyarakat menyanjung mereka sebagai dermawan.

    Jadi kita semua bertanggungjawab atas langgengnya (bahkan semakin maraknya) korupsi di masyarakat kita. Pemerintah tidak menerapkan hukum dengan tegas, masyarakat tidak memberi sanksi sosial kepada pelaku korupsi, bahkan keluargapun tidak mengingatkan bahkan ikut menikmati hasil korupsi. Lengkaplah sudah.

    Mau gimana lagi, Bang?

    @mikekono : langgeng atau tidaknya korupsi, sangat
    tergantung pada political will dan political action
    pemerintah. Kalau clean government, hanya sebatas
    slogan, pastilah korupsi tetap akan merajalela…
    selain itu, kita berharap kiranya pemerintah
    dalam menegakkan hukum, hendaknya tidak
    dipengaruhi oleh sentimen kelompok dan
    kepentingan politis….,
    begitulah kira2 mbak tuti nan baik hati🙂

  6. hasrat ingin berkuasalah penyebabnya,….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: