Sertifikasi dan Wartawan Copy Paste


Semua wartawan yang menjalankan profesi jurnalistik di tanah air,bakal disertifikasi. Namun tentu saja hanya wartawan yang memenuhi standar kompetensi yang disertifikasi.Hal ini terungkap dalam acara Sosialisasi Standar Kompetensi Wartawan di Hotel Danau Toba, Medan, kemarin.
Wina Armada Sukardi mewakili Ketua Dewan Pers Bagir Manan, yang berhalangan hadir mengemukakan, Dewan Pers telah menerbitkan peraturan Nomor 1/ Peraturan-DP/II/2010 tentang Standar Kompetensi Wartawan (SKW).
Peraturan yang disahkan di Jakarta semasa Ketua Dewan Pers dijabat Ichlasul Amal pada tanggal 2 Februari 2010 itu, lahir karena dilatarbelakangi banyaknya gugatan terhadap kemerdekaan pers yang cenderung ‘kebablasan’, akibat makin banyaknya wartawan tidak profesional, dan kerjanya sekadar copy paste.
Menurut saya, sertifikasi wartawan tidak sekadar perlu, melainkan sebuah keharusan dan sifatnya sangat mendesak. Pasalnya, keberadaan dan sepak terjang wartawan saat ini memang sudah sangat mengkhawatirkan. Kuantitas wartawan saat ini bisa disebut sudah over capacity.
Sayangnya, peningkatan secara drastis jumlah wartawan itu tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas. Menjadi wartawan sekarang, terkesan begitu mudah. Seolah tidak jelas seleksi dan pola rekrutmennya. Siapa saja sepertinya bisa dan berhak menyandang predikat wartawan.
Menjadi wartawan memang sangat mudah. Dengan berbekal email serta mempunyai teman wartawan beneran, seseorang bisa dengan mudah mendapatkan berita. Cukup dengan menunggui kiriman berita ke emailnya, selanjutnya berita itu dikirim ulang ke redaksi, maka jadilah dia seorang wartawan.
Apalagi, dewasa ini semakin menjamur media online, para wartawan ‘nakal’ dan tak berkualitas ini, tidak lagi merasa perlu repot-repot mencari berita, cukup dengan mengcopy paste saja berita-berita yang tersaji di media online itu, maka jadilah dia sukses menyumbangkan beritanya ke redaksi.
Keberadaan wartawan yang tak dibekali kualitas memadai ini, sejatinya tidak akan pernah eksis menjadi seorang wartawan, manakala pimpinan media tempat yang bersangkutan bekerja, menerapkan seleksi ketat dalam rekrutmen wartawan serta benar-benar menyeleksi setiap berita yang dikirimkan para wartawannya.
Namun, sayangnya tidak semua media, benar-benar berkualitas dan berkeinginan mendidik para wartawannya menjadi seorang jurnalis handal dan bermoral. Masih sangat banyak media, yang sepertinya sengaja ‘memelihara’ oknum wartawan ‘nakal’ dan tak berkualitas itu, sebagai ujung tombak untuk menakut-nakuti oknum pejabat, yang ditengarai memiliki segudang masalah.
Semakin deras kompetisi antarmedia, akan semakin mendesak pula keharusan bagi semua media di mana pun berada, untuk mempersiapkan jurnalis-jurnalis handal dan berkualitas. Media yang masih mempekerjakan wartawan tak berbobot dan sama sekali tidak mampu menulis berita, dipastikan tidak akan pernah bisa bersaing dengan media lainnya, yang telah maju dan eksis di mata para pembacanya.
Karena itu, rencana pihak Dewan Pers melakukan sertifikasi wartawan tersebut, patut dipresiasi dan harus segera dilaksanakan. Para wartawan memang sudah sepatutnya dibina menjadi penulis berita yang profesional dan bertanggung jawab, alias bukan sekadar copy paste, melainkan harus pula piawai menelisik berita dan menulisnya secara lugas dan cerdas.

Iklan

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 20 April 2010, in Budaya, Pendidikan and tagged , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Wah … saya baru tahu kalau sekarang ini banyak wartawan copy paste. Memang, waktu search sebuah topik di internet, saya menemukan banyak tulisan di media online yang sama, sampai ke kalimat-kalimatnya. Tapi waktu itu belum terpikir tentang merebaknya wartawan ko-pas ini.

    Nampaknya ini bentuk lain dari budaya instan yang sekarang melanda masyarakat kita. Orang tidak mau lagi bekerja (apalagi berjuang) susah payah untuk mencapai sesuatu. Maka yang dipakai adalah jalan pintas. Mau naik jabatan? Nyogok saja. Mau kirim tulisan? Kopas saja … 😦

    Kopas nampaknya bukan hanya dilakukan oleh wartawan, tapi juga bloger-bloger yang tidak bertanggungjawab. Sudah beberapa kali saya menemukan tulisan saya dikopas, bahkan ada yang dijiplak plek-ketiplek-duplek, tanpa menyebutkan blog saya sebagai sumbernya. Tidak tahu lagi siapa yang pertama menjiplak dan siapa-siapa yang kemudian ‘menternakkan’ tulisan itu menjadi berkembang-biak kemana-mana … 😦

    Kalau sudah begini, apa yang bisa kita lakukan, Bang?

    @mikekono : wartawan dan penulis copy paste
    semakin menjamur sekarang mbak tuti, dan tutinonka
    sendiri kan telah sering mengalaminya…..
    yang pasti mereka yg melakukan itu,
    sejatinya akan merugikan dirinya sendiri,
    karena dia selalu hidup dlm kepalsuan….
    lalu, apakah yg bs kita lakukan,
    mungkin salah satunya dgn sertifikasi itu tadi,
    selanjutnya ya….cuma bisa bersabar dan
    pasrah dalam ketidakrelaan …hmmm 🙂

  2. Ha ha….
    Tulisan saya pernah dicopy paste oleh sebuah media on line di Sumut. Dan banyak juga yang dicopypaste oleh blogger lain. Asal disebutkan sumbernya sih nggak masalah. Meskipun demikian, dari sisi kreativitas wartawan kayak gini pasti akan mandeg. Jadi, sangat setuju dengan sertifikasi wartawan yang katanya sudah over capacity itu.
    Btw, Abang ini wartawan koran apa?

    @mikekono : kelihatannya hampir semua
    blogger kreatif dan berkualitas pernah
    mengalami, karyanya dicopy paste…..
    btw, saya cuma seorang politisi dan
    pengamat, yang suka menulis, bung hery 🙂

  3. nggak cuma wartawan yang bisa kopipaste, Bang. tuuuh, banyak juga kok sarjana, doktor hasil kopipaste. entah apalagi. mungkin semua bidang akan bisa dikopipaste dan hasil kopipaste… lagi2, ini adalah masalah moralitas.

    @mikekono : kalau benar demikian, sungguh
    memprihatinkan sekali negeri ini. Nyaris di semua
    lini terdapat kebohongan……hiks 😦

  4. Fenomena kayak begini akan menurunkan semangat kreativitas dunia jurnalistik di negeri ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: