Kita dan Trauma Gempa


warga Sinabang Aceh, berhamburan di jalan, akibat trauma gempa dan tsunami

Gempa berkekutan 7,2 skala richter, Rabu lalu melanda Simeuleu, Sinabang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dengan kedalaman 34 km. Dampak gempa juga dirasakan di Medan dengan kekuatan 3 sampai 4 mmi dengan lama gunjangan kurang lebih satu menit.
Walau tak sedahsyat gempa sebelumnya, peristiwa gempa tetap saja meninggalkan trauma. Tidak hanya bagi mereka yang pernah menjadi korban langsung terjadinya gempa tersebut, melainkan bagi siapa pun, yang dapat merasakan goncangan gempa tersebut.
Penduduk Kota Medan sendiri misalnya, yang lumayan jauh dari lokasi terjadinya gempa, juga ikut merasakan getaran gempa itu. Tak urung masyarakat yang tengah terlelap tidur, ramai-ramai bangun dari tidur, dan berhamburan keluar rumah dengan pakaian seadanya. Panik dan trauma akibat gempa.
Kepanikan itu dapat dipahami, sebab gempa memang selalu tak pernah kompromi. Gempa yang berkekuatan dahsyat, dapat dipastikan tidak pernah memilih-milih para korbannya. Tua-muda, kaya-miskin, tidak akan pernah mampu menghindar, bila gempa telah memperlihatkan kekuatannya.
Gempa juga selalu meninggalkan cerita duka. Tsunami di Aceh, gempa di Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Barat, Nias, dan daerah lainnya hingga kini masih terasa side effectnya, utamanya dari sisi psikologis. Para korban bencana dahsyat tersebut, niscaya tidak akan pernah melupakan peristiwa memilukan itu.
Sayangnya, kendati bencana gempa, banjir bandang, serta berbagai bencana lainnya, sudah berulangkali melanda negeri kita. Tetap saja belum terlihat langkah maksimal dari pemerintah dan institusi terkait untuk mengantisipasi sekaligus meminimalisir dampak yang ditimbulkan dari berbagai bencana silih berganti tadi.
Gempa, mungkin saja sukar diantisipasi. Tapi tetap diperlukan upaya-upaya riil, misalnya terkait dengan pembenahan tata ruang dan penataan bangunan-bangunan di negeri ini, agar lebih tahan saat berhadapan dengan kekuatan dan goncangan gempa.
Sedangkan bencana lain semisal banjir bandang misalnya, untuk beberapa daerah tertentu di Sumatera misalnya, acapkali sudah diketahui akar masalahnya, antara lain terkait dengan maraknya praktik illegal logging (pembabatan hutan secara liar). Namun hingga kini tidak terlihat upaya pencegahan optimal dari pemerintah dan aparat berkompeten.
Trauma gempa kelihatannya memang sukar sekali dihilangkan dari benak masyarakat kita, khususnya mereka yang pernah mengalaminya sendiri. Namun, apapun alasannya kita tidak boleh larut dalam suasana was-was dan ketakutan tak berkesudahan.
Pada akhirnya kata kunci,  agar dapat menghilangkan trauma gempa tiada lain, senantiasa berpegang teguh pada ajaran agama. Siapa pun yang senantiasa berpasrah diri hanya pada kehendakNYA dan percaya sepenuhnya pada qudrat dan iradat Allah, niscaya tidak akan pernah terkena pengaruh berlebihan terhadap trauma gempa atau bencana alam.

foto dari sini

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 9 April 2010, in Budaya, Kehidupan and tagged , , , . Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. Jika sampai gempa itu di Semarang Jateng, pasti lebih heboh lagi ya mas. Semoga yang menjadi korban diberikan kesabaran dan ketabahan mas.

    @mikekono : ya, semoga demikian adanya🙂

  2. saya juga merasa trauma
    dengan bencana
    diharapkan pemerintah
    bisa memberi solusi tepat
    mencegah makin banyaknya bencana alam
    salam kenal

    @mikekono : kita berharap pemerintah
    slalu cepat tanggap dan sigap🙂

  3. Ngeri ya…walau jauh tetap saja ngeri membayangkan nasib saudara2 kita yg kena gempa

    @mikekono : ngeri dan bikin jeri…..

  4. ya allah moga ajah tidak terjadi lagi gempa maupun tsunami
    dan bencana alam yang lain
    ngeri n puzink juga ngeliadnya

    @mikekono : amien ya rabbal alamien
    semoga bencana membaut kita makin dekat denganNYa

  5. Semoga tak ada lagi gempa yang dahsyatnya teramat sangat

    @mikekono : ya, semoga……….

  6. Saya pernah mengalami langsung gempa yang sangat besar, ketika terjadi gempa Yogya 27 Mei 2006. Rumah terguncang hebat, saya pikir saya akan mati tertimpa atap yang runtuh. Setelah gempa lewat, rumah sudah porak poranda. Tetangga sebelah runtuh rata tanah. Alhamdulillah kami semua selamat tak kurang suatu apa. Alhamdulillah juga saya tdk trauma gempa.
    Beberapa saat sesudah gempa, semua pihak, pemerintah maupun swasta, bicara tentang program antisipasi gempa. Macem2 pelatihan dilaksanakan. Tapi setelah beberapa lama, orang sudah mulai lupa. Begitulah ….

    @mikekono : pernah mengalami langsung gempa
    yang dahsyat, tapi tuti tetap kuat dan tak trauma gempa…,
    ya, wajar ajalah, soalnya mbak tuti kan udah kuat
    mental dan mantap pula imannya….hmmmm 🙂

  7. Saya sempat merasakan getarannya Boz…

    @mikekono : rasanya bagaimana, bozz ?

  8. iya, gempa yg kemaren aja sampai terasa di seluruh sumatera

    @mikekono : betul, terasa bikin nelangsa…..

  9. Siapapun yang pernah mengalami gempa dahsyat pasti akan trauma, beruntungnya kalimantan termasuk wilayah yang aman dari gempa.

    @mikekono : wahhh….,syukurlah kalau begitu,
    kalau sumatera selalu rawan gempa😦

  10. sering banget merasakan gempa dahulu waktu tinggal diperbatasan langkat (sumut) dan kuala simpang (aceh)
    :(( benar2 pengalaman yg tidak mengenakkan……

    @mikekono : ya…,di daerah itu memang seringkali
    mengalami bencana….,banjir, gempa, dan sejenisnya😦

  11. Gempa memang membuat trauma, apalagi yang pernah mengalaminya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: