Kongres PDIP tak (Pernah) Menarik…!


Ajang perhelatan kongres, munas, atau muktamar partai politik, biasanya berlangsung panas. Bahkan tak jarang diramaikan dengan kentalnya praktik money politics serta upaya melakukan serangan menjatuhkan rival, melalui black campaign.
Fenomena ini misalnya sangat kental terasa pada penyelenggaraan Munas Partai Golkar di Pekanbaru, beberapa bulan lalu. Terjadi persaingan sangat tajam antara kubu Aburizal Bakrie dengan pesaing kuatnya, Surya Paloh.
Bahkan menjelang Munas, media televisi milik kedua pengusaha saling melancarkan serangan. Metrotv kala itu misalnya, gencar mengulas seputar Lumpur Lapindo. Sedangkan televisi milik keluarga Bakrie, sibuk pula melakukan pembelaan melalui TvOne dan Anteve.
Suasana riuh juga terjadi menjelang akan digelarnya Munas Partai Demokrat. Tiga kandidat kuat (Anas Urbaningrum, Marzuki Alie, dan Andi Mallarangeng) mulai sibuk saling mengklaim diri sebagai figur paling layak memimpin partai yang kelahirannya dibidani Soesilo Bambang Yudhoyono itu.
Andi Mallarangeng misalnya sudah sibuk mengkampanyekan diri di media televisi. Begitu juga Marzuki Alie dan Anas Urbaningrum sudah melakukan berbagai penggalangan, sekaligus mendeklarasikan pencalonannya.
Sebaliknya saat Kongres PDI Perjuangan akan digelar, yang tampak ke permukaan hanya iklannya Megawati Soekarnoputri. Arus bawah partai itu juga masih sibuk dengan statement akan kembali memilih putri proklamator itu sebagai Ketua Umum.
Itulah yang membuat kongres PDI Pejuangan tak (pernah) menarik dan kurang greget. Kongres partai ini, kurang memberikan pencerahan dalam perspektif pendidikan politik bagi generasi muda bangsa serta tidak kelihatan nuansa demokrasinya.
Karenya tak mengherankan, bila sejak doeloe hingga kini, banyak kader-kader partai itu memilih hengkang. Seperti misalnya, Sophan Sophiaan (alm), Kwik Kian Gie, Arifin Panigoro, Roy BB Janis, Laksamana Soekardi, Noviantika Nasution, dll. Sebab mereka merasa selama Megawati masih ada, peluangnya praktis tertutup menjadi ketua umum. Bahkan sekadar untuk mencalonkan diri saja, mereka sudah keder duluan.
Bahkan seorang Guruh Soekarnoputra sendiri, yang notabene merupakan adik kandung Mega, tidak diberi peluang untuk bersaing menjadi ketua umum. Soalnya, Megawati telah mempersiapkan ‘putri mahkota’ Puan Maharani, untuk melanjutkan kesinambungan kursi ketua umum di PDIP pasca kepemimpinannya.
Dari sini bisa ditebak, PDIP pasca Mega pun, tetap akan menggelar kongres yang tidak akan pernah menarik dicermati dari perspektif demokrasi. Pasalnya, jika PDIP berada di bawah kekuasaan Puan Maharani, hampir dapat dipastikan dia akan melanjutkan pola kepemimpinan ibundanya itu.
Jika pola seperti ini tetap dipertahankan, setiap kader PDIP kelihatannya harus rela mengubur mimpinya menjadi orang nomor satu di partai yang mengusung nama demokrasi tersebut. Cukuplah, merasa puas bisa menjabat sebagai orang nomor dua. Bahkan, itu sudah merupakan puncak pencapaian karier di PDIP.
Kendati begitu, masih terdapat sisi positifnya dengan PDIP tetap berada di bawah kepemimpinan Mega. Hampir dapat dipastikan partai ini akan tetap konsisten bersikap oposisi terhadap pemerintah alias tidak menjadi mitra koalisi SBY, seperti keinginan Taufik Kiemas.

karikatur dari sini

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 7 April 2010, in Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Saya sempat terpana menyaksikan pidato Mega. Kali ini pidatonya ‘berisi’, nggak baca teks pula (meskipun ternyata pakai teleprompter).Konon, salah satu konseptor pidato tsb adalah Prananda, putra Mega dari suami terdahulu, selain juga ada masukan dari Budiman Sujatmiko.
    Tentang tidak demokratisnya pemilihan ketua umum PDIP yg masih didominasi Mega, memang betul. Tapi yg saya salut, Mega berani berlawanan dg keinginan Taufik Kiemas. Ini menunjukkan dia memiliki pendirian teguh, dan tidak bisa dipengaruhi bahkan oleh suaminya sendiri. Saya rasa PDIP masih membutuhkan pemoimpin yang teguh seperti ini.

    @mikekono : betul, PDIP memang masih
    membutuhkan Megawati, cuma yang kita
    sayangkan, dia tidak mendorong regenerasi
    dan penguatan iklim demokrasi di PDIP
    thanks mbak tuti🙂

  2. selama Mega masih berkuasa
    dan selama keluarganya
    masih ingin menguasai PDIP
    selama itu pula kongres PDIP
    pasti tidak akan menarik
    bujur lih

    @mikekono : kira-kira begitulah
    PDIP sepertinya tak bs dilepaskan
    dan poros Mega….

  3. kmrin saya juga menyaksikan pidato panjang bu mega dalam kongres 3 ini di metro tv😀

    @mikekono : saya tak tertarik menyaksikannya🙂

  4. sejak dulu ketergantungan pdip terhadap figur keturunan bung karno begitu kuat, mas mike. apa kata mega selalu diturut. pembentukan dpp pun hanya sendika dhawuh. itu artinya sistem politik pdip ndak bisa jalan.

    @mikekono : ya, itulah yg sangat kita sayangkan mas sawali,
    dan ketergantungan itu kelihatannya tetap akan
    dipelihara sebagai kekuatan sekaligus kelemahan PDIP🙂

  5. Namun setidaknya mega mampu membawa PDIP menjadi partai yang di perhitungkan di Indonesia bukan ?

  6. Hmm..entah kenapa, saya paling males bicara tentang politik dan partai….
    Padahal seharusnya, partai apapun, tujuannya adalah untuk kepentingan rakyat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: