Monthly Archives: April 2010

Menang tapi Kalah…..


lionel messi and his girl-friend, antonella

Puluhan juta pendukung atau fans Barcelona, pasti tengah uring-uringan, sebab tim besutan Josep ‘Pep’Guardiola itu, akhirnya tersungkur  dan gagal ke Final Liga Champions, setelah hanya bisa menang 1-0 saat berhadapan dengan Inter Milan di Nou Camp, Kamis dinihari lalu.

Menang tapi kalah…., itulah yang dialami tim berjuluk Azulgrana,  Barcelona. Kekalahan 1-3 ada leg pertama di kandang Inter, membuat kemenangan lewat gol semata wayang, Gerard Pique itu menjadi percuma belaka, sebab Barca kalah agregat 2-3.

Bagi pecinta sepakbola yang menyaksikan secara live pertandingan itu, tentunya tidak akan bisa membantah,bahwa Lionel Messi dkk memang menang di segala lini dalam pertandingan prestisius tersebut.

Hampir sepanjang pertandingan, anak-anak asuhan Guardiola mengurung barisan pertahanan Inter Milan. Tak heran, jika statistik ball possition sangat njomplang, 80 % berbanding 20 % untuk keunggulan Barcelona.

Namun kita juga mesti memberi apresiasi dan acungan jempol buat pelatih Inter Milan Jose ‘special one’Mourinho. Strategi pertahanan ala cattennacio yang diterapkannya mampu meredam gencarnya aliran serangan yang dilancarkan Xavi Hernandez dkk.

Lionel Messi yang biasanya gemar melakukan solo run membawa bola, nyaris tidak berkutik di bawahpengawalan ketat Esteban Cambiasso, Javier Zanetti dan Walter Samuel, yang notabene rekan senegara Messi (Argentina). Alhasil, hanya satu dua kali Messi memiliki peluang emas yang berhasil ditepis dengan jitu oleh kiper Inter, Julio Cesar.

FC Barcelona memang menang dalam pertandingan semi final kedua itu, tapi Inter Milan lah yang berhak melaju ke final dan akan berhadapan dengan Bayern Muenchen di Stadion Barnebeue Madrid, Mei mendatang. Inter menang karena memainkan negative football, menumpuk hampir semua pemainnya di jantung pertahanan, sehingga parapemain Barcelona kesulitan melepaskan tembakan ke mulut gawang.

Kemenangan memang tak selalu berarti keberhasilan, dan kekalahan juga tidak bermakna telah mengalami kegagalan. Hal ini tidak hanya berlaku dalam dunia olahraga, melainkan juga dalam berbagai dimensi kehidupan.Bahwa, semua yang kita alami dan rasakan harus senantiasa dijadikan pelajaran, agar semakin dewasa dan arif wicaksono melakoni hidup.

Kekalahan yang dialami hari ini, tidak boleh membuat patah arang dan meradang. Inter Milan boleh saja merasa senang telah sukses menyingkirkan Barcelona. Namun mayoritas penggemar sepakbola pasti sependapat, dari segi skill dan kepiawaian memainkan suguhan sepakbola nan menghibur, sejauh ini Barcelona masih tetap yang terbaik dibanding klub manapun di seantero jagad.

Jose Mourinho dengan strateginya yang brilian boleh saja telah sukses ‘mematikan’ pergerakan Lionel Messi, tetapi Messi tetaplah yang terbaik, dan jauh lebih baik dibanding pemain asuhan Mourinho, semisal Diego Milito dan Samuel Eto’o. Hari ini Mourinho boleh menepuk dada, tetapi bisa jadi esok, pasti akan terkena giliran, merana. Kalah dan menang, itu biasa. Yang penting, jangan menghalalkan segala cara meraih kemenangan.

Iklan

Kejahatan Pasti Berujung Duka


Sepandai-pandai tupai melompat, suatu ketika pasti akan jatuh. Sehebat-hebatnya menyimpan kebusukan, pasti akan tercium juga. Perumpamaan di atas sering disampaikan para orangtua, sebagai taushiyah agar dalam meniti kehidupan selalu bersikap rendah hati dan tidak pongah ketika berada di puncak kekuasaan.
Cilakanya, petuah ini seringkali dilupakan. Akhirnya sejarah pun sering berulang. Mereka yang tengah berada di kursi kekuasaan, hampir selalu tak kuat menahan godaan. Godaan itu bisa berupa harta, wanita, pun juga godaan untuk terus mempertahankan kursi kekuasaan atau mencari kursi yang lain, setelah kursi sebelumnya terpaksa dilepas.
Sungguh mengherankan, begitu nikmatkah kursi kekuasaan, sehingga mereka begitu bernafsu dan ngotot untuk memperebutkan dan mempertahankannya ? Bukankah sudah lumayan banyak, oknum pejabat yang kesandung dan terpaksa berurusan dengan KPK, karena tak mampu mengelola keuangan negara dengan baik.
Betul sekali, kursi kekuasaan sejatinya memang menawarkan sejumlah kenikmatan. Dengan segenap kewenangan di tangan, hampir semuanya bisa diraih ; kekayaan, kehormatan, dan lainnya. Dengan kekuasaan di tangan pula, ‘dendam politik’ bisa dilampiaskan.
Karenanya tak mengherankan bila terjadi pergantian rezim penguasa, akan berganti pula para menteri, kepala SKPD, dan para penasihatnya. Akan ada semacam gerakan ‘pembersihan’ terhadap orang-orang yang dianggap sebagai bahagian dari rezim sebelumnya.
Dalam konteks demikian, kita hanya ingin menekankan, bahwa kejahatan, kezhaliman, dan kesewenang-wenangan pasti akan berujung duka. Sebaliknya kebaikan, kemuliaan serta keberpihakan kepada rakyat akan menuai suka dan kebahagiaan.
Sudah banyak sekali contoh, betapa rezim penguasa yang suka bertindak sewenang-wenang dan menyalahgunakan uang rakyat, selanjutnya akan menuai petaka di saat masih berkuasa atau setelah lengser keprabon. Misalnya Ferdinand Marcos, Idi Amin, Nicolae Ceasescu, Augusto Pinochet, Alberto Fujimori, dan lainnya.
Tidak cuma itu saja, di negeri kita juga sudah lumayan banyak pejabat yang perjalanan kariernya berujung duka, utamanya di era kejayaan KPK, misalnya Abdullah Puteh, Widjanarko Puspoyo, Danny Setiawan, Ismeth Abdullah, Amiruddin Baso Maula, Soewarna AF, Aulia Pohan, Oentarto Sindung Mawardi, dan lainnya.
Namun sayangnya, berbagai peristiwa tersebut, yang beberapa di antaranya masih segar dalam ingatan, tak juga menjadi/ dijadikan pelajaran oleh para pejabat kita. Banyak di antara mereka, masih tetap pongah, dan tidak serius dalam mengelola uang negara.
Karenanya, tidak terlalu mengejutkan, jika dalam beberapa waktu mendatang, akan tetap ada pejabat dan mantan pejabat, kesandung dugaan kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power). Dalam konteks demikian, kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan cuma bisa mengingatkan, setiap kejahatan pasti akan menuai petaka. Petaka itu bisa terjadi sekarang, beberapa tahun kemudian, dan akhirat kelak.

karikatur dari sini

Sertifikasi dan Wartawan Copy Paste


Semua wartawan yang menjalankan profesi jurnalistik di tanah air,bakal disertifikasi. Namun tentu saja hanya wartawan yang memenuhi standar kompetensi yang disertifikasi.Hal ini terungkap dalam acara Sosialisasi Standar Kompetensi Wartawan di Hotel Danau Toba, Medan, kemarin.
Wina Armada Sukardi mewakili Ketua Dewan Pers Bagir Manan, yang berhalangan hadir mengemukakan, Dewan Pers telah menerbitkan peraturan Nomor 1/ Peraturan-DP/II/2010 tentang Standar Kompetensi Wartawan (SKW).
Peraturan yang disahkan di Jakarta semasa Ketua Dewan Pers dijabat Ichlasul Amal pada tanggal 2 Februari 2010 itu, lahir karena dilatarbelakangi banyaknya gugatan terhadap kemerdekaan pers yang cenderung ‘kebablasan’, akibat makin banyaknya wartawan tidak profesional, dan kerjanya sekadar copy paste.
Menurut saya, sertifikasi wartawan tidak sekadar perlu, melainkan sebuah keharusan dan sifatnya sangat mendesak. Pasalnya, keberadaan dan sepak terjang wartawan saat ini memang sudah sangat mengkhawatirkan. Kuantitas wartawan saat ini bisa disebut sudah over capacity.
Sayangnya, peningkatan secara drastis jumlah wartawan itu tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas. Menjadi wartawan sekarang, terkesan begitu mudah. Seolah tidak jelas seleksi dan pola rekrutmennya. Siapa saja sepertinya bisa dan berhak menyandang predikat wartawan.
Menjadi wartawan memang sangat mudah. Dengan berbekal email serta mempunyai teman wartawan beneran, seseorang bisa dengan mudah mendapatkan berita. Cukup dengan menunggui kiriman berita ke emailnya, selanjutnya berita itu dikirim ulang ke redaksi, maka jadilah dia seorang wartawan.
Apalagi, dewasa ini semakin menjamur media online, para wartawan ‘nakal’ dan tak berkualitas ini, tidak lagi merasa perlu repot-repot mencari berita, cukup dengan mengcopy paste saja berita-berita yang tersaji di media online itu, maka jadilah dia sukses menyumbangkan beritanya ke redaksi.
Keberadaan wartawan yang tak dibekali kualitas memadai ini, sejatinya tidak akan pernah eksis menjadi seorang wartawan, manakala pimpinan media tempat yang bersangkutan bekerja, menerapkan seleksi ketat dalam rekrutmen wartawan serta benar-benar menyeleksi setiap berita yang dikirimkan para wartawannya.
Namun, sayangnya tidak semua media, benar-benar berkualitas dan berkeinginan mendidik para wartawannya menjadi seorang jurnalis handal dan bermoral. Masih sangat banyak media, yang sepertinya sengaja ‘memelihara’ oknum wartawan ‘nakal’ dan tak berkualitas itu, sebagai ujung tombak untuk menakut-nakuti oknum pejabat, yang ditengarai memiliki segudang masalah.
Semakin deras kompetisi antarmedia, akan semakin mendesak pula keharusan bagi semua media di mana pun berada, untuk mempersiapkan jurnalis-jurnalis handal dan berkualitas. Media yang masih mempekerjakan wartawan tak berbobot dan sama sekali tidak mampu menulis berita, dipastikan tidak akan pernah bisa bersaing dengan media lainnya, yang telah maju dan eksis di mata para pembacanya.
Karena itu, rencana pihak Dewan Pers melakukan sertifikasi wartawan tersebut, patut dipresiasi dan harus segera dilaksanakan. Para wartawan memang sudah sepatutnya dibina menjadi penulis berita yang profesional dan bertanggung jawab, alias bukan sekadar copy paste, melainkan harus pula piawai menelisik berita dan menulisnya secara lugas dan cerdas.

Penghormatan, karena jabatan


Semua orang pasti ingin dihormati atau setidaknya diuwongke. Saat memiliki posisi atau pangkat lebih tinggi, kemudian diperlakukan semena-mena atau disepelekan oleh orang yang pangkatnya lebih rendah,  semua orang pasti merasa kecewa dan sedih.

Penghormatan yang diberikan seseorang, memang acapkali sangat tergantung pada jabatan atau kekuasaan yang dimiliki. Ketika kekuasaan tak lagi di tangan, saat jabatan sudah melayang, banyak orang berpaling, dan tak lagi merasa perlu merasa hormat.

Mengapa tradisi atau kecenderungan semacam itu, demikian kental terasa di negeri kita ? Hal ini terjadi, karena jabatan atau kekuasaan acapkali dijadikan sebagai power, untuk menjalankan kebijakannya. Kebijakan yang lebih dominan didasari oleh power, hampir selalu mengabaikan nurani dan terjerumus pada sikap semena-mena.

Alhasil promosi dan rekrutmen yang dilakukan lebih didasari kepentingan (vested interested), serta pertimbangan like or dislike. Bahkan tak jarang mesti menyediakan upeti dulu, baru mendapat jabatan yang diinginkan.Akibatnya bermunculanlah pejabat berpangkat ‘nagabonar’ serta penunjukan pejabat tidak sesuai dengan kompetensinya.

Jabatan dan kekuasaan memang selalu menawarkan kemewahan. Sebab, dengan jabatan di tangan, seseorang bisa dengan mudah ‘mengutak-atik’ struktur pejabat di bawahnya, sekaligus menebar keresahan, yang membuat para bawahan merasa perlu, untuk selalu rajin ‘setor muka’ dan ‘angkat telor’.

Memenej sebuah institusi atau pemerintahan dengan pola manajemen konflik, selanjutnya akan melahirkan ekses, tumbuh suburnya sikap saling curiga, antara atasan dengan bawahan, bahkan antara sesama bawahan. Sikap curiga memang diperlukan untuk memperkuat sikap mawas diri.

Namun, sikap yang selalu mencurigai siapa dan apa pun, dapat dipastikan akan berdampak buruk bagi sebuah perusahaan/ institusi. Sebab, hal itu akan menyebabkan semakin menguatnya suasana kurang kondusif, yang bermuara pada menurunnya vitalitas kerja.Karena itu, diingatkan bagi semua kalangan yang tengah berada di sentra kekuasaan atau tengah memiliki jabatan strategis, hendaknya tidak lupa diri.

Tidak sepatutnya, jabatan yang disandang membuatnya terninabobokkan serta kehilangan jatidirinya sebagai makhluk sosial (homo socius), yang seharusnya tidak boleh teralienasi dari komunitas yang telah membesarkannya selama ini. Jabatan jangan sampai membuat Anda berumah di angin dan kehilangan sense of humour.

Seseorang yang (hanya) dihormati karena jabatannya, berarti yang bersangkutan tidak mampu menjadikan jabatannya itu sebagai washilah (jalan) untuk memberi kesejukan dan kedamaian bagi bawahannya dan orang-orang di sekitarnya.

Jabatan mestinya benar-benar dimanfaatkan untuk lebih banyak menabur kebajikan, sehingga ketika lengser dari jabatan tersebut, tetap dihormati dan dikenang sebagai seorang pemimpin yang arif wicaksono dan selalu berpihak pada rakyat . Begitulah….!

Kita dan Trauma Gempa


warga Sinabang Aceh, berhamburan di jalan, akibat trauma gempa dan tsunami

Gempa berkekutan 7,2 skala richter, Rabu lalu melanda Simeuleu, Sinabang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dengan kedalaman 34 km. Dampak gempa juga dirasakan di Medan dengan kekuatan 3 sampai 4 mmi dengan lama gunjangan kurang lebih satu menit.
Walau tak sedahsyat gempa sebelumnya, peristiwa gempa tetap saja meninggalkan trauma. Tidak hanya bagi mereka yang pernah menjadi korban langsung terjadinya gempa tersebut, melainkan bagi siapa pun, yang dapat merasakan goncangan gempa tersebut.
Penduduk Kota Medan sendiri misalnya, yang lumayan jauh dari lokasi terjadinya gempa, juga ikut merasakan getaran gempa itu. Tak urung masyarakat yang tengah terlelap tidur, ramai-ramai bangun dari tidur, dan berhamburan keluar rumah dengan pakaian seadanya. Panik dan trauma akibat gempa.
Kepanikan itu dapat dipahami, sebab gempa memang selalu tak pernah kompromi. Gempa yang berkekuatan dahsyat, dapat dipastikan tidak pernah memilih-milih para korbannya. Tua-muda, kaya-miskin, tidak akan pernah mampu menghindar, bila gempa telah memperlihatkan kekuatannya.
Gempa juga selalu meninggalkan cerita duka. Tsunami di Aceh, gempa di Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatera Barat, Nias, dan daerah lainnya hingga kini masih terasa side effectnya, utamanya dari sisi psikologis. Para korban bencana dahsyat tersebut, niscaya tidak akan pernah melupakan peristiwa memilukan itu.
Sayangnya, kendati bencana gempa, banjir bandang, serta berbagai bencana lainnya, sudah berulangkali melanda negeri kita. Tetap saja belum terlihat langkah maksimal dari pemerintah dan institusi terkait untuk mengantisipasi sekaligus meminimalisir dampak yang ditimbulkan dari berbagai bencana silih berganti tadi.
Gempa, mungkin saja sukar diantisipasi. Tapi tetap diperlukan upaya-upaya riil, misalnya terkait dengan pembenahan tata ruang dan penataan bangunan-bangunan di negeri ini, agar lebih tahan saat berhadapan dengan kekuatan dan goncangan gempa.
Sedangkan bencana lain semisal banjir bandang misalnya, untuk beberapa daerah tertentu di Sumatera misalnya, acapkali sudah diketahui akar masalahnya, antara lain terkait dengan maraknya praktik illegal logging (pembabatan hutan secara liar). Namun hingga kini tidak terlihat upaya pencegahan optimal dari pemerintah dan aparat berkompeten.
Trauma gempa kelihatannya memang sukar sekali dihilangkan dari benak masyarakat kita, khususnya mereka yang pernah mengalaminya sendiri. Namun, apapun alasannya kita tidak boleh larut dalam suasana was-was dan ketakutan tak berkesudahan.
Pada akhirnya kata kunci,  agar dapat menghilangkan trauma gempa tiada lain, senantiasa berpegang teguh pada ajaran agama. Siapa pun yang senantiasa berpasrah diri hanya pada kehendakNYA dan percaya sepenuhnya pada qudrat dan iradat Allah, niscaya tidak akan pernah terkena pengaruh berlebihan terhadap trauma gempa atau bencana alam.

foto dari sini

Kongres PDIP tak (Pernah) Menarik…!


Ajang perhelatan kongres, munas, atau muktamar partai politik, biasanya berlangsung panas. Bahkan tak jarang diramaikan dengan kentalnya praktik money politics serta upaya melakukan serangan menjatuhkan rival, melalui black campaign.
Fenomena ini misalnya sangat kental terasa pada penyelenggaraan Munas Partai Golkar di Pekanbaru, beberapa bulan lalu. Terjadi persaingan sangat tajam antara kubu Aburizal Bakrie dengan pesaing kuatnya, Surya Paloh.
Bahkan menjelang Munas, media televisi milik kedua pengusaha saling melancarkan serangan. Metrotv kala itu misalnya, gencar mengulas seputar Lumpur Lapindo. Sedangkan televisi milik keluarga Bakrie, sibuk pula melakukan pembelaan melalui TvOne dan Anteve.
Suasana riuh juga terjadi menjelang akan digelarnya Munas Partai Demokrat. Tiga kandidat kuat (Anas Urbaningrum, Marzuki Alie, dan Andi Mallarangeng) mulai sibuk saling mengklaim diri sebagai figur paling layak memimpin partai yang kelahirannya dibidani Soesilo Bambang Yudhoyono itu.
Andi Mallarangeng misalnya sudah sibuk mengkampanyekan diri di media televisi. Begitu juga Marzuki Alie dan Anas Urbaningrum sudah melakukan berbagai penggalangan, sekaligus mendeklarasikan pencalonannya.
Sebaliknya saat Kongres PDI Perjuangan akan digelar, yang tampak ke permukaan hanya iklannya Megawati Soekarnoputri. Arus bawah partai itu juga masih sibuk dengan statement akan kembali memilih putri proklamator itu sebagai Ketua Umum.
Itulah yang membuat kongres PDI Pejuangan tak (pernah) menarik dan kurang greget. Kongres partai ini, kurang memberikan pencerahan dalam perspektif pendidikan politik bagi generasi muda bangsa serta tidak kelihatan nuansa demokrasinya.
Karenya tak mengherankan, bila sejak doeloe hingga kini, banyak kader-kader partai itu memilih hengkang. Seperti misalnya, Sophan Sophiaan (alm), Kwik Kian Gie, Arifin Panigoro, Roy BB Janis, Laksamana Soekardi, Noviantika Nasution, dll. Sebab mereka merasa selama Megawati masih ada, peluangnya praktis tertutup menjadi ketua umum. Bahkan sekadar untuk mencalonkan diri saja, mereka sudah keder duluan.
Bahkan seorang Guruh Soekarnoputra sendiri, yang notabene merupakan adik kandung Mega, tidak diberi peluang untuk bersaing menjadi ketua umum. Soalnya, Megawati telah mempersiapkan ‘putri mahkota’ Puan Maharani, untuk melanjutkan kesinambungan kursi ketua umum di PDIP pasca kepemimpinannya.
Dari sini bisa ditebak, PDIP pasca Mega pun, tetap akan menggelar kongres yang tidak akan pernah menarik dicermati dari perspektif demokrasi. Pasalnya, jika PDIP berada di bawah kekuasaan Puan Maharani, hampir dapat dipastikan dia akan melanjutkan pola kepemimpinan ibundanya itu.
Jika pola seperti ini tetap dipertahankan, setiap kader PDIP kelihatannya harus rela mengubur mimpinya menjadi orang nomor satu di partai yang mengusung nama demokrasi tersebut. Cukuplah, merasa puas bisa menjabat sebagai orang nomor dua. Bahkan, itu sudah merupakan puncak pencapaian karier di PDIP.
Kendati begitu, masih terdapat sisi positifnya dengan PDIP tetap berada di bawah kepemimpinan Mega. Hampir dapat dipastikan partai ini akan tetap konsisten bersikap oposisi terhadap pemerintah alias tidak menjadi mitra koalisi SBY, seperti keinginan Taufik Kiemas.

karikatur dari sini

Bollywood : Mereka yang Terlupakan


Diilhami postingan Tutinonka soal Bollywood, saya jadi tergoda untuk mengulas sedikit soal sosok yang sering dilupakan di balik kesuksesan bintang beken semisal Shah Rukh Khan, Aamir Khan, Salman Khan, Govinda,  Kajol, Rani Mukherjee, Kareena Kapoor, atau bintang-bintang tempo doeloe, seperti Raj Kapoor, Dilip Kumar, Dev Anand, Dharmendra,  Shashi Kapoor, Rishi Kapoor, Nargis, Madhubala, Hema Malini, Rekha, Zeenat Aman dan lainnya.

Sejak doeloe hingga kini, Bollywood movies tetap belum bisa melepaskan diri dari tarian dan nyanyian. Hanya satu atau dua film saja, yang tidak menonjolkan tarian dan nyanyian.

Nah, para penyanyi dan penata musik hebat di balik suksesnya film Bollywood itu, kerap menjadi sosok terlupakan. Minimal, bagi para penikmat film Hindustani di negeri kita.

Yang selalu terngiang di benar pecinta Bollywood, tidak pernah terlepas dari figur tenar sekaliber SRK, Salman, Aamir, Hritik Roshan, Saif Ali Khan, Akhsay Kumar, Kajol, Katrina Kaif, Kareena Kapoor, Priyanka Chopra, dll.

Padahal di balik layar terdapat sejumlah nama penting, para penyanyi yang selalu menyumbangkan suara emasnya, mengisi suara para bintang beken itu, saat menyanyi dan menari dalam film tersebut.

Pada era 40 hingga 60-an misalnya, penyanyi Mukesh selalu mengisi lagu-lagu dalam film-nya aktor legendaris Raj Kapoor. Sementara pada era  60 hingga 80-an, dua penyanyi paling laris di masa itu adalah Mohammad Rafi dan Kishore Kumar. Kedua penyanyi pria bersuara merdu ini disebut-sebut, hingga kini belum ada tandingannya.

Pada masa jayanya, lagu-lagu hits Rafi antara lain : Chaudvin Ka Chand Ho, Teri Pyaari Pyaari Suraat Ko, Chahunga Mein Tujhe Saanjh Savere, Kya Hua Tera Waada, Aap Hamare Paas, Yeh Dinya Yeh Mehfil, Chura Liya Hain Tumne, Ghulabi Ankhen, Aye Gulbadan Aye Gulbadan, Mere Mehboob Tujhe, Itna To Yaad Main Tujhe, Badi Mastana Hai. Selama kariernya pria kelahiran 24 Desember 1924 ini,  tercatat tak kurang telah membawakan 28 ribu lagu dari sekitar 5000 film, hingga akhir hayatnya. Rafi meninggal pada usia 55 tahun pada 1981.

Satu lagi penyanyi legendaris Bollywood, yang bersama Rafi dianggap tak tergantikan hingga kini adalah Kishore Kumar. Dia juga berjaya di era 60 hingga akhir 80-an. Rafi dan Kishore Kumar, memiliki kehebatan masing-masing. Kalau diibaratkan pesepakbola zaman sekarang, antara keduanya ibarat Messi dan Christiano Ronaldo. Rafi seperti Messi cenderung lebih cool, sedangkan Kishore mirip Ronaldo cenderung playboy dan meledak-ledak.

Rafi dan Kishore pulalah, yang menjadi icon dan mengilhami penyanyi-penyanyi hebat Bollywood sekarang, seperti Udit Narayan, Sonu Nigam, Kumar Sanu, Abhijeet, Vinod Rathood dan lainnya. Sonu Nigam dan Udit Narayan (yang kerap mengisi suara nyanyian SRK) cenderung mengadopsi gaya bernyanyi Rafi, sementara Kumar Sanu, Abhijeet dan Vinod Rathod mengidolakan Kishore.

Faktanya, Sonu Nigam dan Udit Narayan dianggap lebih sukses. Sebab hampir seluruh film-film sukses era 90- hingga 2000-an yang dibintangi aktor-aktor papan atas, selalu menyertakan suara merdu keduanya. Sebaliknya Kumar Sanu, Abhijeet dan Vinod Rathod, hanya menjadi penyanyi latar film-film menengah.

Tentunya selain nama penyanyi legendaris Mohammad Rafi dan Kishore Kumar, kita juga tak bisa menafikan penyanyi wanita paling hebat di Bollywood, yaitu Lata Mangeshkar, yang pernah beberapa kali berduet dengan Rhoma Irama. Selain Lata, terdapat nama Asha Bhosle. Sedangkan pada sepuluh terakhir ini, nama-nama penyanyi wanita Bollywood yang paling bersinar adalah Alka Yagnik, kemudian Shreya Goshal,Sunidhi Chauhan, Sadhana Sargam, Alisha Chinoy, dan beberapa nama lainnya.

Tanpa keberadaan penyanyi-penyanyi hebat di atas, sudah pasti Bollywood movies akan seperti sayur tanpa garam. Nama-nama mereka tentu sangat tenar dan dihormati di negerinya Mahatma Gandhi itu. Namun di Indonesia, mereka seperti sosok yang terlupakan….!