Politik Dinasti, Abaikan Nurani


Hj Helmiati, istri Bupati Asahan maju menggantikan posisi suaminya

Belakangan ini upaya alih kekuasaan dari suami ke istri, atau dari bapak ke anak, cenderung mengalami peningkatan mencengangkan. Dari fenomena itu, tentu yang paling mencolok, terjadi pada Pemilukada Kabupetan Kediri, yang bakal digelar 12 Mei 2010 mendatang.

Dua istri bupati disebut-sebut akan bersaing ketat dalam perhelatan Pemilukada tersebut. Yakni Hj Haryanti, yang tercatat sebagai istri sah Bupati Kediri saat ini, Sutrisno serta Hj Nurlaila, tercatat sebagai istri kedua dengan status nikah sirri. NurIaila juga dikenal sebagai Kepala Desa Wates, Kecamatan Wates. Sedangkan suami pertamanya
meninggal dunia karena perampokan beberapa tahun silam.

Lantas mengapa kedua istri Bupati Kediri tersebut bersaing untuk memperebutkan kursi kepala daerah menggantikan suaminya, yang jabatannya akan resmi berakhir 19 Agustus 2010 mendatang ? Kalau bersaing untuk merebut hati sang suami, mungkin masih sah-sah dan wajar saja. Tapi, kalau sampai bersaing secara terbuka demi
mewarisi jabatan empuk sang suami, sungguh sulit diterima akal sehat.

Apa pun yang melatari keinginan kedua istri bupati itu, tampil secara bersama-sama dalam pemilihan kepala daerah, dapat dipastikan sang suami sudah mengetahui rencana itu sebelumnya. Tidak tertutup kemungkinan Sutrisno memang menginginkan dirinya digantikan oleh salah satu di antara kedua istrinya.

Namun kalau mau jujur, dari segi kalkulasi politik, akan lebih memungkinkan meraih kemenangan, jika yang maju dalam bursa pencalonan, hanya satu di antara keduanya. Misalnya cuma istri tua yang maju, dan istri muda yang juga punya basis massa sangat signifikan itu, turut aktif memberikan dukungan.

Bila keduanya harus saling berhadap-hadapan, hal itu bermakna, di antara kedua istri bupati, selama ini memang senantiasa terjadi persaingan terselebung. Kini, persaingan itu akan semakin menajam, serta terbuka ke area publik.

Atau, jangan-jangan Sutrisno memang sudah punya kalkulasi sendiri, bahwa keduanya memang sengaja dianjurkan untuk maju, sehingga siapapun yang bakal menang, tetap bahagian dari rezim lama alias istrinya juga.

Peluang menang bagi Haryanti dan Nurlaila memang relatif besar. Sebab, sebagai pejabat incumbent, Bupati Sutrisno sudah barang tentu memiliki banyak ‘peluru’ untuk menembak kandidat lain yang dianggap potensial, agar tak turun gelanggang.

Alhasil, yang muncul menjadi pesaing kedua istrinya, hanyalah sejumlah kandidat, yang sejatinya tidak memiliki modal cukup untuk bersaing dalam meraih kemenangan.

Fenomena yang terjadi di Kediri tersebut, ternyata juga menjadi trend di sejumlah kabupaten/ kota di Sumatera Utara dan mungkin juga di daerah lainnya. Di Kabupaten Asahan misalnya, Bupati Drs H Risuddin kini mendukung istrinya sendiri, Hj Helmiati untuk maju menggantikan dirinya sebagai bupati.

Demikian halnya di Kabupaten Labuhan Batu, Bupati HT Milwan juga telah lama mempersiapkan istrinya  Hj T Adlina bersaing dalam Pemilukada. Sementara di Kota Tebingtinggi, Walikota Abdul Hafiz Hasibuan tengah memoles dan bekerja ekstra keras mendudukkan adiknya Umar Zunaidi Hasibuan menjadi pengganti dirinya.

Sebenarnya politik dinasti ini tak cuma berlaku di Indonesia. Di negeri lain, seperti AS, India, Malaysia, Philipina, dan lainnya, juga terjadi hal serupa. Politik dinasti, memang tak selamanya negatif. Misalnya seorang Hillary Clinton, yang notabene istri mantan Presiden Bill Clinton, memang layak menjadi kandidat Presiden AS.

Pertanyannya, apakah istri Bupati Kediri dan yang lainnya itu sudah memenuhi syarat sebagai kepala daerah ? Jawabnya tak ada di sini. Kita cuma bisa berharap ; segeralah bercermin dan introspeksi diri.

Memaksakan istri, anak dan menjadi pengganti di kursi kekuasaan, apalagi tanpa didukung kualitas dan kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan, selain tak sesuai nurani, juga potensial memunculkan bumerang dan menuai penyesalan di kemudian hari. Karenanya, sebelum terlambat, segeralah berhenti melakoni politik dinasti yang irrasional itu.

Foto dari sini

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 19 Maret 2010, in Budaya, Kehidupan, Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. kabarnya Bantul juga begitu bang mike…
    soal “mewarisi” itu sesungguhnya tidaklah jadi masalah, tapi kompetensilah yang seharusnya menjadi pertimbangan…
    masyarakat kita sebetulnya sudah sangat cerdas dalam memilih pemimpin, hanya saja, kecerdasan itu seringkali dipakai untuk membenarkan “hadiah” yang diterima karena bersedia memilih seseorang…🙂

    @mikekono : selain Bantul, mungkin masih
    banyak lagi, Uda Vizon
    btw, bener sekali bahwa jika yg
    bersangkutan memiliki kompetensi,
    hal demikian tak prl dipersoalkan
    faktanya, kebanyakan mereka nihil skill,
    minus kualitas…..:(

  2. nice post
    saya juga heran
    kenapa ya para pejabat itu
    terkesan memaksakan keluarganya
    menggantikan dirinya,
    macam punya dia aja negara ini

    @mikekono : bujur silih,
    itu dikarenakan mereka
    rakus jabatan dan kekuasaan

  3. haduch..haduch..

    heran kenapa seeh apda se9itunya men9icar abatan itu?

    apala9i ini para istri..

    ckckck,…

    @mikekono : itulah yang mengherankan,
    sekaligus sangat disayangkan,
    untunglah wi3nd, tak begitu….:)

  4. hal itu menandakan bahwa bupati Sutrisno memang tak rela turun dari kursi empuknya. lebih mengherankan lagi kedua istrinya menaboh genderang perang dalam pemilu mndatang. rupanya kekuasaan sudah memburamkan mata mereka. salam kenal bung…

    @mikekono : padahal, kl dipkir2,
    membiarkan kedua istrinya ‘berperang’
    bisa menuai petaka dan penyesalan,
    salam kenal juga….

  5. hmmm jadi ingat tulisan AS laksana di Jawapos minggu lalu🙂

    @mikekono : mohon maaf, saya kebetulan tak baca Jawapos,
    karena di Medan, payah mendapatkannya

  6. Huahahaha…… tadinya sebelum saya membaca isinya (baru judulnya) disangkanya si istri dipaksa untuk ganti suaminya sendiri dengan suaminya orang lain. Eh, nggak tahunya untuk menggantikan posisi suaminya sebagai bupati toh?? Mbok ya, bang, judulnya diganti jadi “Istri dipaksa menggantikan suami” kalau “Istri dipaksa ganti suami” itu kesannya kayak ganti baju atau ganti sarung gitu loh…. wahahaha…..

    Memang calonnya cuma dua itu ya bang?? Kalau cuma dua, ya berarti pemilihan tersebut “kurang sehat” bang. Nah, jikalau calonnya lebih dari dua, dan jikalau kita tidak suka dengan nepotisme, maka pilihlan calon yang lain, kalau cuma dua calonnya, ya sudah, kita tinggal milih salah satu, atau kalau tidak suka dengan kedua2nya, ya tidak usah memilih aja bang…

    @mikekono : yang saya ulas di sini, bukan cuma
    soal di Kediri itu, melainkan fenomena yang
    melanda Indonesia. Di bnyk tempat, semakin
    menguat keinginan mendorong kerabat sendiri
    untuk maju sebagai calon kepala daerah…
    begitu mas Yari🙂

  7. Semakin gak sehat saja ranah politik kita ya bang?
    Apa khabar bang mike?

    @mikekono : ya, begitulah faktanya..
    mungkin karena masih tahap euforia demokrasi😦

%d blogger menyukai ini: