Mantan Gubernur pun Tak Lolos Cawalkot


Aneh….dan sunguh ironis. Sudah pernah menjabat Gubernur, tapi tak lolos jadi calon walikota Medan. Tapi, begitulah faktanya. Tanpa sungkan, KPU Kota Medan, membatalkan pasangan perseorangan (jalur independen), Rudolf Matzuoka Pardede (mantan Gubernur Sumut) yang berpasangan dengan Afifuddin Lubis, sebagai calon walikota dan wakil walikota Medan pada Pemilukada Kota Medan yang akan digelar 12 Mei mendatang.

Menurut Ketua KPU Medan Evi Novida Ginting, pencoretan Rudolf M Pardede, karena masalah ijazah pendidikan SMA-nya. “Berdasarkan surat dari Dinas Pendidikan Sukabumi, yang menyatakan kalau surat keterangan pengganti ijazah yang dimiliki Rudolf Pardede tidak bisa disamakan dengan ijazah. Karenanya, kita membatalkan penetapan Rudolf sebagai calon Walikota Medan,”katanya.

Keputusan KPU Kota Medan itu, bagi Rudolf-Afifuddin beserta segenap pendukungnya, jelas merupakan sebuah pukulan telak yang menyakitkan. Betapa tidak, Rudolf yang diyakini pendukungnya memiliki peluang untuk menang itu, akhirnya mengalami nasib mengenaskan, gagal sebelum bertanding.

Di sisi lain, kita juga merasa terkejut terhadap langkah berani KPU Medan itu. Pasalnya, selama ini sudah sangat sering sekali keberadaan ijazah Rudolf M Pardede itu dipersoalkan. Tapi, hasilnya nihil, dan yang bersangkutan pun melenggang mulus.

Sebagai contoh, saat mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur berduet dengan HT Rizal Nurdin (alm), KPU Sumut meloloskannya. Begitu juga ketika mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), nama Rudolf berikut kelengkapan ijazahnya, tidak pernah dipersoalkan KPU Sumut. KPU Kota Medan ternyata punya sikap berbeda dengan KPU Sumut.

KPU Medan, seolah ingin memperlihatkan ‘taring’nya dan ingin menegakkan kebenaran. Jika pertimbangannya semata-mata demi penegakan aturan yang berlaku, sudah barang tentu, kita patut memberi apresiasi sekaligus mengacungkan jempol kepada KPU Kota Medan di bawah kepemimpinan Evi Novida Ginting itu. Kalau merasa benar, memang tidak ada yang perlu ditakutkan.

Kendati begitu, kita tetap prihatin dengan kegagalan Rudolf-Afifuddin. Disadari atau tidak, pencoretan nama Rudolf itu, sudah pasti akan melahirkan implikasi positif sekaligus negatif. Sisi positifnya ialah, KPU Medan telah memberi pelajaran berharga perihal pentingnya konsistensi penegakan aturan tanpa pandang bulu.

Rudolf, yang notabene mantan Gubernur Sumut itu, tidak membuat KPU Medan gentar. Sekali lagi, hal ini patut dipresiasi dan diacungi jempol. Sisi negatifnya, bisa jadi akan muncul tudingan terhadap KPU Medan, bahwa keputusan pencoretan itu sarat dengan muatan politis. Sebab, diakui atau tidak, dengan tidak adanya Rudolf, akan memberi keuntungan politis bagi sejumlah kandidat lain. KPU Medan telah menegaskan sikapnya.

Kita berharap, keputusan yang relatif mengejutkan itu, tidak sampai memicu perlawanan menjurus chaos dari pihak-pihak yang tidak dapat menerima keputusan itu. Pengabdian bagi bangsa dan negara, tidak hanya menjadi kepala daerah. Rudolf, hingga kini masih berstatus sebagai anggota DPD-RI.

Pengabdian bagi Sumatera Utara dan Kota Medan, juga bisa dioptimalkan lewat institusi DPD itu. Wajar dan sah saja bila para pendukung Rudolf-Afifuddin mempersoalkan keputusan KPU Kota Medan itu secara hukum. Tapi, jangan sampai hal itu mengorbankan kondusifitas Sumut dan mengganggu kelancaran perhelatan Pemilukada Kota Medan.

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 14 Maret 2010, in Pendidikan, Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Memang keberanian KPU Medan harus diacungi jempol, terlepas dari alasan politis yang mungkin menyertainya. Soal ijazah palsu/tidak syah ini sudah sering terjadi. Bahkan Gubernur Banten, Ratu Atut juga pernah disinyalir memiliki ijazah palsu. Tapi kasusnya reda dan lenyap begitu saja.

    Banyak sekali masalah yang dihadapi bangsa kita ini berkaitan dengan para pemimpin kita ya Bang? Korupsi yang semakin sulit diberantas, palsu-memalsu ijazah yang kian marak. Sebagai rakyat rasanya kita jadi hopeless.

    Kayaknya dibutuhkan lebih banyak lagi Mario Teguh yang lain, yang mengajak kita untuk menjadi ‘manusia baik’ dan mengutamakan kebenaran …

    @mikekono : bener banget,
    KPU Medan memang patut diapresiasi
    sebab di negeri ini, sekarang
    makin sukar mencari orang
    yg berani menempuh risiko…..
    btw, soal Mario Teguh,
    sy justru mendambakan
    lbh bnyk tutinonka yg slalu
    jujur dan kreatif…. 🙂

  2. hanya satu kata :
    salut buat KPU Kota Medan
    semoga tetap konsisten

    @mikekono : setuju banget,
    konsistensi memang barang langka

  3. perjuangan belum selesai
    jangan menyerah pak rudolf

    @mikekono : dan pengabdian
    juga tak mesti jd walikota, bukan ?

  4. Kalau tak lolos jadi calon walikota, jadi camat pun jadilah….
    Ha ha….
    jangankan bekas gubernur, bekas menteri pun sudi jadi walikota seperti di Depok sana….

    @mikekono : hehe iya juga ya,
    tapi, beliau itu gak mungkinlah
    mau jadi camat, pengennya jd walikota
    thanks bro 🙂

  5. Lagian kok kebelet dan nafsu amat jadi pejabat. Pasti terasa enak waktu jadi pejabat, makanya walau demosi tetep aja dikejar. Semangat yang beginian pasti bukan pengabdian. Ampuuuun….

    @mikekono : itulah yang sangat kita sayangkan,
    di negeri ini memang sangat banyak
    yg tak pernah puas mengejar jabatan
    payahhhhhhhh 😦

  6. HUMALA SIMANJUNTAK

    koncinya : Sada roha, tampakna do rantosna Rim ni tahi do gogona.rim ni tahi= sinergy,tidak mengurang arti perbedaan pendapat,,pada saat tertentu KOMPAK. pengalaman thn 70 an 1 : hanya satu anggota dprd dari pertai katolik bisa menjadi Ketua DPRD Sum utara 2 : hanya 4 orang anggota dprd kota madya medan dari partai Perkindo bisa memenang kan Drs Syurkani, melawan Kol Rangkuti peritiwa itu membuktikan perlunya kekompakan kalaupun calonnya tidak gol tetapi kehendaknya jadi,supaya bersatu menghadapi yang kira2 siapa lawan yg menghalangi itu, tpersoalaninietapi harus tetap dalam koridor hukum .kejadian ini bukan lagi ironis atau aneh melainkan arogansi Politis pun harus berbudaya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: