Boediono dan Posisi Dilematis SBY


Keberadaan Wapres Boediono, diakui atau tidak, telah menempatkan posisi Presiden SBY pada situasi dilematis. Keputusan paripurna Pansus angket Bank Century, yang memenangkan opsi C alias menyalahkan kebijakan bail-out Bank Century di masa Boediono menjabat Gubernur BI menyebabkan posisi Boediono semakin kurang berwibawa sebagai Wapres.
Jika tidak hati-hati dan segera melakukan langkah-langkah arif dan wicaksono menyangkut keberadaan Boediono itu, dipastikan pemerintahan periode kedua SBY ini akan terus-menerus berada dalam sorotan. Dan sudah pasti akan mengganggu kelancaran jalannya pemerintahan.
Memang sejak awal penunjukannya sebagai kandidat Wapres oleh SBY, sudah sangat kuat resistensinya. Banyak pihak secara tegas menyampaikan penolakannya. Figur Boediono dinilai tidak akan banyak membantu, antara lain karena yang bersangkutan dinilai sangat lemah dalam hal lobi politik.
Apa yang diragukan banyak kalangan seputar sisi minus Boediono tersebut, ternyata terbukti kini. Tatkala Presiden SBY terus ‘diserang’ lawan-lawan politiknya, tidak terlihat sama sekali ‘bantuan’ Boediono untuk menghempang berbagai pressure politik dari segala lini itu.
Lemahnya lobi politik Boediono memang dapat dipahami, sebab yang bersangkutan memang tidak punya jam terbang memadai dalam konstelasi perpolitikan di tanah air. Boediono sejatinya memang seorang profesor ekonomi, yang kebetulan saja beruntung diberi kepercayaan oleh SBY untuk mendampinginya.
Posisi dilematis SBY itu, juga menguak fakta betapa berbedanya Boediono dengan Jusuf Kalla (JK). Semakin dapat dipahami, ternyata figur seperti JK lah sejatinya paling tepat mendampingi SBY. Sebab, sosok lincah JK diperlukan untuk memback-up style SBY, yang sering terkesan terlalu hati-hati.
Di sisi lain, pribadinya yang bersahaja dan suka bergerak cepat sekaligus sebagai sosok penting di partai politik, menyebabkan JK selalu mampu ‘melindungi’ SBY dari kemungkinan tekanan serta serangan politik membahayakan dari lawan-lawannya.
Semuanya telah terjadi, Presiden SBY harus menerima konsekuensi logis memiliki seorang pendamping (Wapres), yang kini namanya secara terang-benderang disebut fraksi-fraksi di DPR-RI, sebagai salah seorang yang mesti bertanggung jawab terhadap bail-out Century yang penuh masalah itu.
Situasi dilematis itu kelihatannya tetap akan sukar dicari solusinya. Pasalnya, banyak kalangan menilai, pemakzulan Boediono dianggap sebagai solusi terbaik demi menjaga kelancaran jalannya pemerintahan SBY dan kabinetnya mengakhiri periode keduanya ini.
Sebagai bahagian dari masyarakat Indonesia, kita hanya bisa berharap, semoga Presiden SBY bisa segera menemukan alternatif penyelesaian jitu, menyangkut keberadaan Wapresnya Boediono plus Menkeu Sri Mulyani Indrawati, yang terus berada dalam sorotan itu.
Semoga saja pertimbangan utama Presiden SBY, supaya segera bisa beringsut dari situasi dilematis itu, tetap mengacu pada kepentingan mayoritas rakyat Indonesia, bukan sekadar memenuhi selera segelintir elite politik semata.(**)

karikatur dari sini

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 4 Maret 2010, in Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. SBY dan JK adalah pasangan yg serasi, BILA mereka sama-sama punya persepsi yang sama dalam menjalankan roda pemerintahan.
    SBY yang penuh kehati-hatian dan matang dalam pertimbangan sebenarnya saling mengisi dengan JK yang lebih responsif dan berapi-api, sekali lagi, BILA mereka satu persepsi.
    Sayangnya keduanya memiliki pandangan dan kepentingan yang berbeda yang sulit untuk disatukan.

    @mikekono : sebetulnya bisa disatukan,
    bila keduanya tetap berpikir dalam
    kerangka kepentingan bangsa….

  2. Marudut Simbolon

    Melihat kinerja Boediono sejauh ini,
    memang JK lebih pas mendampingi SBY
    Saya jadi merindukan gaya meledak2 JK

    @mikekono : loh…kalau begitu,
    kenapa kemarin tak nyoblos JK ?

  3. Hahaha, terus terang saya kangen sosok Bapak Jusuf Kalla, bang 🙂 🙂 🙂 Apalagi pas ingat diakhir2 masa jabatannya sbg Wapres….Wow tindak tanduknya betul2 mencerminkan sosok pemimpin. Tegas, strategi dan tindakannya cepat, namun bijak. Saya suka itu🙂

    Yach seperti slogan beliau : Lebih cepat lebih baik !!!!

    Pak JK, I miss you….Indonesia butuh orang-orang seperti Pak JK🙂 🙂 🙂

    Terus terang saya mulai bosan baca artikel, dengar berita apalagi lihat kelakuan para anggota Dewan yang terhormat itu Bang, terus masalah yang dibahas nggak habis2 Century lagi…century lagi….Hem benar2 cerminan mrk bukan sosok wakil rakyat impian rakyat…. (Meski tetap ada bbrp yang memperjuangkan rakyat ????)

    Hahaha….jadi rada ngocol nich komen saya yach bang 🙂 🙂 🙂

    Bang gimana kabarnya ?. Hahaha….

    Best regard,
    Bintang

    @mikekono : setuju banget, sosok pemimpin seperti JK
    memang ngangenin. Dia, memang figur pemimpin
    yang sederhana dan apa adanya serta
    selalu kelihatan lincah dlm
    bekerja buat kepentingan rakyat
    thanks sista🙂

  4. bener banget yang
    dibilang elinda di atas,
    saya juga suka gaya JK

    @rini : hmmmm…begitu ya

  5. Siapa saja wakilnya kalau amanah pasti berwibawa

    @mikekono : mestinya begitu, faktanya ternyata tak demikian

  6. Saya setuju analisa Bang Mike. Boediono memang tampak hanya menjadi ‘ekor’ SBY, tanpa mampu berbuat apa-apa. Bahkan terkesan ia hanya menjadi ‘beban’ bagi SBY. Bagaimana tidak, baru saja menjabat wapres, sudah digoyang gonjang-ganjing kasus Century, dimana Boediono nyaris tidak mampu membela diri dalam kemelut itu.

    Selain lemah dalam lobi politik, Boediono juga tidak punya posisi tawar (bargaining position) terhadap SBY. Jabatan wapres itu dia peroleh sebagai ‘hadiah’, bukan hasil keringatnya sendiri. Maka, sangat wajar kalau Boediono hanya akan ‘ikut’ saja apa kata SBY.

    Sampai sekarang banyak orang (termasuk saya) tidak habis mengerti, apa pertimbangan SBY memilih Boediono sebagai wapres. Kalau hanya karena keahlian ekonominya, kan tidak harus menduduki jabatan wapres yang strategis dan politis. Dudukkan saja di jabatan Menko Ekuin.

    Entahlah …

    @mikekono : mungkin saja penunjukan Boediono,
    karena SBY merasa ‘pusing’ memiliki wapres yg kuat
    seperti JK dulu.
    Tapi, apapun latar belakangnya
    kelihatannya SBY menginginkan
    dirinya tak ingin ‘direcokin’ wapresnya
    hmmm….thanks mbak tuti🙂

  7. sejauh ini,kinerja boediono belum nampak

    *ini seeh epndapatnya si wiend yan9 oran9 awam tea ban9 *

    @mikekono : pendapat wi3nd kelihatannya
    mengandung kebenaran🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: