Istri Walikota Itu pun Minta Cerai (Harta tak Lagi Memesona)


Hj Rini Syofianti, rela naik becak bersama suaminya Ali Umri, saat pencalonannya sebagai calon Gubernur Sumut 2008 lalu.

Nama Hj Rini Syofianti, tiba-tiba mencuat dan menjadi bahan perbincangan. Ibu muda lumayan anggun ini, melejit namanya ke permukaan bukan karena dia ikut menjadi bakal calon kepala daerah, seperti halnya Hj Helmiati (istri Bupati Asahan) atau Hj T Adlina (istri Bupati Labuhan Batu).

Rini, hingga kini masih tercatat sebagai istri Walikota Binjai Sumatera Utara, H Ali Umri SH MKn. Justru karena statusnya inilah, gebrakannya itu menjadi menarik untuk diperbincangkan sekaligus memunculkan pertanyaan : ada apa denganmu Rini ?

Mendadak sontak, ibu dua anak yang juga anggota DPRD Kota Binjai ini, tiba-tiba saja menyampaikan ke publik curahan hatinya nan dalam ; ingin berpisah dengan suaminya, sang  walikota H Ali Umri.

Padahal sejatinya, banyak perempuan rela antrian agar bisa menjadi istri pejabat, apalagi seorang kepala daerah. Sebab, menjadi istri pejabat memang sangat menggiurkan, karena otomatis akan memperoleh berbagai fasilitas mewah, harta melimpah serta pelayanan serba VIP.

Tapi, Rini telah memutuskan harus membuat pilihan dalam melakoni hidup. Dalam pengakuannya, dia selama ini menderita batin semasa menjadi istri sang kepala daerah. Kita tidak tahu persis, apakah pengakuan itu benar atau tidak. Namun faktanya, dia telah memutuskan mengajukan cerai kepada sang suami.

Dalam perspektif psikologis dan moralitas, apa yang dilakukan Rini tersebut, sesungguhnya merupakan hal yang lumrah. Sebab, keputusan itu dilakukannya ketika sang suami masih menjabat sebagai walikota, walaupun tengah berada di akhir-akhir masa jabatannya.

Artinya, keputusan cerai tidak diajukan Rini, saat Ali Umri tengah dirundung prahara, misalnya berurusan dengan aparat penegak hukum, sebagaimana dilakukan penyanyi dangdut Kristina, yang memutuskan bercerai dengan Amin Nur Nasution, saat suaminya itu dijebloskan KPK ke hotel prodeo.

Kebahagiaan hakiki, agaknya itulah yang tengah dicari Rini Syofianti. Dan memang, kalau kita ingin jujur, kebahagiaan hakiki tidaklah bisa diukur dari seberapa banyak harta yang telah ditumpuk atau seberapa mentereng jabatan yang disandang suami atau istri.

Ketika harta tak lagi memesona, saat jabatan sudah tidak lagi menggoda, maka di saat itulah manusia biasanya ingin memperoleh kebahagiaan hakiki. Yakni sebuah kehidupan yang diwarnai dengan suasana kebatinan yang bertabur kedamaian, keikhlasan, serta kasih sayang nan tulus.

Last but not least, cinta memang tak pernah berutang. Cinta juga tidak dapat dibeli. Anda boleh saja mendapatkan tubuh seseorang dengan mudahnya, tapi cintanya mungkin saja tak kunjung bisa Anda raih sampai kapan pun.

Saat harta tak lagi menjadi tujuan utama, ketika itulah muncul kerinduan terhadap cinta sejati. Muncul keinginan untuk bebas, lepas, dan ingin menjadi seseorang yang baru, yang hidup dalam limpahan kasih dan cinta dari segala lini.

Mungkin saja masih banyak lagi orang-orang (istri pejabat), yang mengalami situasi dilematis seperti dirasakan Hj Rini Syofianti itu.Tapi, agaknya mereka lebih suka memilih bersikap tabah dan tegar, seperti dilakoni Hillary Clinton, yang tetap setia mendampingi Bill Clinton, kendati mantan Presiden AS dua periode itu beberapa kali ketahuan selingkuh, utamanya dengan Monica Lewinsky, yang sampai mengundang impeachment terhadap sang presiden.

Rini, telah memutuskan, kita cuma bisa berharap dia bahagia dengan putusannya itu.

Iklan

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 24 Februari 2010, in Budaya, Kehidupan, Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Aduh, saya susah berkomentar untuk tulisan Abang yang ini … 😦

    Memang banyak istri yang memilih diam ketika merasa tidak bahagia karena diperlakukan secara tidak adil oleh suaminya, sebab kalau ia protes, sang suami justru akan memojokkan dan menunjukkan kekuasaannya. Tapi jangan salah, istri yang diam ini bukan berarti menyerah. Mungkin saja dia sedang mempersiapkan diri, hingga ketika saatnya tiba, dan ia merasa sudah siap, ia akan pamit untuk menggapai kebahagiannya sendiri ….

    Banyak suami merasa berkuasa ketika bisa memberikan harta berlimpah kepada istrinya. Padahal yang diinginkan sang istri bukan hartanya, melainkan kasih sayangnya.

    @mikekono : katanya, susah berkomentar
    ehhhh….komennya ternyata sangat brilian,
    sehingga saya pun kehilangan kata-kata
    untuk menanggapinya……hmmm 🙂

  2. saya tak bs menyalahkan
    keputusan Rini itu,
    kalau memang merasa
    tak lagi bahagia,
    buat apa dipertahankan

    @mikekono : bahagia atau tidak,
    tak selamanya, bercerai
    sebagai putusan terbaik

  3. yan9 tahu permasalahnnya beliau [ibu rini]

    dia yan9 bisa merasakan,maka ketika kebaha9ian hati suda tidak ada la9i

    yah..jika itu keputusan yan9 terbaik,maka cerailah..

    *n9omon9 apa seeh wien??

    @mikekono : iya seh…..si rini yang tau
    masalah dia, tapi untunglah
    wi3nd gak bercerai sm pacarnya ya ? hehe

  4. Kayaknya ada sesuatu kesalahan besar yang tidak bisa ditoleransi oleh seorang istri sehingga bersikukuh minta cerai. Tak terkecuali Bu Rini.

    @mikekono : ya, kita cuma bisa menduga-duga,
    yang paling tau masalah sebenarnya,
    tetaplah Bu Rini, semoga dia bahagia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: