Pesta Pasti Berakhir…


Makan-minumlah senang-senanglah, dalam pesta kehidupan dunia, tapi ingatlah gunakan pikir, bahwa pesta pasti ‘kan berakhir. Dunia hanyalah persinggahan, dari sebuah perjalanan panjang, dunia bukanlah tujuan. Namun hanya ladang tempat bertanam.
Ungkapan di atas hanyalah sepenggal bait dari lagu-nya si Raja Dangdut Rhoma Irama, yang kebetulan berjudul Pesta Pasti Berakhir. Tapi, kita tidak sedang membahas perihal sepak terjang si penyanyi legendaris nan kesohor itu.
Sebagai sesama hamba Tuhan, kita hanya merasa sangat prihatin dengan fenomena dan lalu lintas kehidupan manusia dewasa ini, yang terkesan semakin terlena dengan rupa-rupa kemewahan dunia. Mereka, seolah-olah merasa akan hidup selamanya di dunia, seakan kejayaan dunia adalah segalanya.
Demi melanggengkan kekuasaan, banyak orang rela menempuh segala cara untuk tetap bertahan di kursi kekuasaannya. Agar bisa sekadar menduduki jabatan sebagai kepala dinas saja, seseorang pun selalu tak segan-segan mengeluarkan biasa ratusan hingga miliaran rupiah untuk menyuap atasannya.
Seseorang yang haus dengan ilmu pengetahuan selalu tak pernah berhenti belajar, belajar dan belajar. Sedangkan mereka yang haus dan rakus jabatan, selalu tak pernah berhenti membohongi banyak orang, bahkan membohongi dirinya sendiri.
Berbagai intrik, semua cara dihalalkan demi ambisi meraih kekuasaan. Ketika jabatan telah berhasil diraih, berbagai cara pula dilakukan demi mempertahankannya selama mungkin. Bahkan mereka tak segan berpesta di atas penderitaan orang lain.
Dalam perspektif politik, selalu digunakan idiom : tak ada musuh dan teman abadi. Yang abadi adalah kepentingan. Selama kepentingannya sama, selama itu pula akan bisa berjalan seiring. Ketika kepentingan sudah sudah tak lagi bisa dikompromikan, maka segala cara akan ditempuh untuk menghabisi orang-orang yang dianggap tidak lagi bisa sejalan seiring itu.
Namun, seperti telah diingatkan Rhoma Irama dalam lagunya. Suatu saat Pesta Pasti Berakhir. Kekuasaan tidak akan pernah abadi. Jabatan tidak akan selamanya bisa disandang. Ada masanya pensiun dan ada saatnya rezim akan berganti.
Karena itu sebelum pesta berakhir, sebaiknya segera bersiap dan mempersiapkan diri menghadapi masa-masa di mana kekuasaan dan jabatan tidak lagi berada dalam genggaman. Mentalitas siap kehilangan power dan kekuasaan, harus selalu ditumbuhkembangkan.
Pesta pasti berakhir. Karena itu ketika masih berada di kursi kekuasaan, jadikanlah kekuasaan yang dimiliki itu untuk memberi manfaat bagi banyak orang (rakyat). Bukan sebaliknya kekuasaan dijadikan sebagai sarana menzhalimi orang lain dan menumpuk kekayaan.
Setiap kebaikan pasti akan berujung kebahagiaan, setiap kazhaliman pasti akan berujung duka, minimal di akhirat kelak. Dalam konteks demikian, kita cuma bisa berharap kiranya semua orang yang kini memegang legalitas sebagai pemimpin, apakah itu presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, dan sejenisnya, hendaknya tidak gelap mata dan sewenang-wenang saat diberi amanah sebagai pemimpin….! Ingat, pesta pasti berakhir …!

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 19 Februari 2010, in Budaya, Kehidupan, Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink. 8 Komentar.

  1. Betul Bang, pesta pasti berakhir. Masalahnya, kadang berakhirnya itu lamaaaa sekali (bisa sampai 32 tahun), dan rakyat yang menunggu keburu mati kekeringan.

    Bagaimanapun, saya setuju bahwa siapapun yang sekarang sedang memegang kekuasaan dan jabatan harus ingat bahwa pesta pasti akan berakhir, dan berakhirnya bisa sangat cepat tanpa terduga. Contoh sudah cukup banyak. Ada yang baru sesaat memegang tampuk kekuasaan sudah dilengserkan …

    @mikekono : itu termasuk tugas Mbak Tuti,
    untuk mengingatkan penguasa agar tak larut
    dalam pesta berkepanjangan…..
    btw, sayangnya pesta dengan
    mbak Tuti tak kan mungkin berakhir,
    karena memang tak prnh dimulai
    hehehe…….🙂

  2. sudah pasti pesta pasti berakhir,
    tapi masih sangat banyak orang
    yang berpesta hingga akhir,

    @mikekono : ya, itulah masalahnya….

  3. Kita semua harus sadari bahwa segala keindahan dunia sesungguhnya nisbi adanya.

    @mikekono : sayangnya, kesadaran itu datangnya
    sering telat……

  4. sepertinya masih lama berakhirnya karena juga belum merasa sedang berpesta

    @mikekono : sudah lama berpesta, tp tak jua merasa ya..hmmm

  5. tinggal bersih2 pasca pesta ya

    @shalimow : hehe….begitulah kira-kira 😦

  6. Lambat Laun pasti berakhir ban9…

    yan9 terserak hanyalah puin9 puin9 sisa pestanya….

    @mikekono : dan…..di antara puing-puing itu
    pun air mata menetes……,derasss …memelas 😥

  7. badai pun pasti berlalu
    *gak penting*😀

    @mikekono : semoga demikian adanya
    -penting itu kok-

  8. berakhirnya sebuah pesta, ketika botol minuman itu berisi oplosan. rumah sakit tak dapat menolong (rangkuman berita seantero bulan terakhir). ha ha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: