Solusi, Haruskah Lewat Demo ?


Beberapa hari lalu dan mungkin beberapa hari mendatang, hampir di seantero tanah air marak aksi-aksi demo, terkait dengan program 100 hari pemerintahan SBY-Boediono serta berbagai hal di negeri ini, yang dinilai belum memuaskan rakyat.

Berbagai masalah krusial dan silang sengkarut bak lingkaran setan, memang masih terus melanda negeri ini. Ketidakpuasan dan keprihatinan melanda di mana-mana. Tapi, apakah dalam menemukan solusi, harus selalu memerlukan demo ?

Demo dan budaya kekerasan tak cuma terjadi di rumah rakyat, melainkan juga merambah ke hampir semua sektor. Di lapangan sepakbola kita juga acapkali ditingkahi dengan perilaku kekerasan. Kekalahan tim kesayangan sekaliber Persib dan Persebaya, bisa memicu terjadinya aksi pertikaian yang berujung pada jatuhnya korban.

Harus diakui, pemerintahan kita di hampir semua tingkatan memang belum memberi kepuasan dan kenyamanan bagi masyarakat. Kepala daerah terlalu sibuk dengan rupa-rupa seremonial. Sementara para petinggi negeri di sumbu kekuasaan, tetap terlalu asyik dengan tebar pesona serta selalu bermain denga kata-kata penuh apologi.

Alhasil rakyat, utamanya di level grass-root, tetap merasa terkebiri hak-haknya serta sering merasa tidak mendapat perlindungan memadai dari negara. Akibatnya solusi penyelesaian masalah seringkali dilakukan lewat tekanan massa, melalui aksi demo.

Faktanya, rakyat memang kerapkali tidak merasa puas, bila mengadukan permasalahannya ke jalur-jalur konstitusional dan institusional. Saat berurusan dengan perkara hukum di pengadilan, rakyat miskin hampir selalu dikalahkan.

Ketika buruh membawa persoalan PHK sepihak ke gedung dewan meminta bantuan wakil rakyat untuk menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi, hasilnya juga selalu tidak memuaskan.

Sebab, yang didapat cuma sekadar janji wakil rakyat akan, akan, dan akan berupaya menuntaskan permasalahan yang dihadapi. Tapi, seringkali kesimpulannya cuma berhenti sebatas akan dan akan.

Pertanyaannya, haruskah semua masalah mesti dicari solusinya lewat demo ? Jawaban pertanyaan ini, tentu sangat tergantung pada kearifan dan kepiawaian pemerintah dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi rakyat.

Selama rakyat merasa dirinya tak cukup memperoleh perlindungan dan kepastian hukum dari pemerintah, dapat dipastikan selama itu pula aksi-aksi demo, yang potensial memunculkan korban, akan tetap mewarnai negeri ini.

foto dari sini

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 30 Januari 2010, in Budaya, Kehidupan and tagged , , , . Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. Demo yang damai gak masalah kali yah, soalnya aspirasi tetap harus disuarakan … terutama suara rakyat yang tak tertampung lagi karena penuhnya kepala para pejabat oleh hal hal lain.

    @mikekono : ya, demo tetap diperlukan
    asal dilakukan dengan damai
    dan tak memaksakan kehendak….🙂

  2. Yang jelas …
    saya kasihan sama bapak-bapak dan ibu-ibu yang mesti bekerja ekstra keras hari itu untuk membersihkan sampah-sampah sisa Demo …
    Entah sisa brosur, kertas, spanduk maupun kotak makanan dan botol plastik minuman para Demonstran

    Semoga kedepan … Indonesia bisa lebih baik lagi …

    Salam saya Bro

    @mikekono : iya bro
    mestinya sampah2 demo itu,
    juga dibersihkan oleh pendemo
    dan jangan dibiarkan berserakan…
    thanks abanganda🙂

  3. demokrasi????

    menyuarakan suara rakyat dengan turun ke jalan…
    bukan kuantitas yang jadi sorotan ketika terjadi aksi tersebut..
    namun suara2 yang tertulis dari selebaran , spanduk maupun stiker..

    mengapa harus turun ke jalan…
    apa yang terlihat jelas di pandangan luas kita, kebijakan2 yang sama sekali tidak menguntungkan kalangan bawah dan hanya menguntung kaum penguasa saja..
    apa toh gunanya mobil mewah wakil rakyat..
    apa toh gunanya pesawat pribadi itu..

    sementara menerapkan UUD 1945 ajja belum dapat ..
    fakir miskin dan anak2 terlantar TANGGUNG JAWAB SIAPA??
    SUSAHNYA LAPANGAN PEKERJAAN tanggung jawab siapa??

    tapi kesanggupan akan kebijakan yang hanya untuk kemewahan petinggi2 negara ini sanggup..

    teriakan2 para demonstran adalah amanah Rakyat..
    jgn pandang keanarkisan mereka saja,
    sebenarnya penguasa negeri ini lebih kejam daripada itu..

    HIDUP MAHASISWA

    @mikekono :
    mahasiswa sebagai agent of change,
    memang sudah seharusnya selalu
    menyuarakan kebenaran
    dan mengkritisi kebijakan
    pemerintah yang tidak tepat sasaran
    Mahasiswa tak sepatutnya berdiam diri
    dan cuma bs mikirin diri sendiri…
    HIDUP Mahasiswa…!

  4. demo memang bukan solusi…
    tapi demo adalah pilihan cara terakhir untuk bisa segera mendapatkan solusi ketika kekuasaan tak lagi bersungguh-sungguh mencari solusi atas krisis kerakyatan dan kebangsaan yg terjadi di negeri ini.

    @mikekono : exactly bro…
    semakin sering demo,
    berarti semakin kentara
    ketidakmampuan pemerintah

  5. demonstrasi adalah ekspresi ketidakpuasan rakyat atas kerja para elit politik. tidak hanya pemerintah, tapi juga para wakil kita yang bercokol di gedung termorhat di sana.

    setuju dengan kata bang mike, jika pemerintah dan politisi dapat bekerja dengan baik, tentu saja demo tidak perlu ada.

    .-= vizon´s last blog ..jamur & zupa =-.

    @mikekono : dan harapan agar elite politik
    bekerja dengan baik kelihatannya
    cuma harapan hampa😦

  6. buat saya sih demo bukan satu2nya jalan menyalurkan aspirasi atau bahkan cari solusi…apalagi disertai tindakan anarkis….bakar ban, bendera, foto atau bahkan saling lempar kerap mengiringi demo di negeri kita…apa masih belum cukup beban yg ditanggung rakyat. Kasihan para pedagang kecil yg saat demo berlangsung harus menyinkir demi menyelamatkan modal mereka yg tak seberapa…..

    @mikekono : jadi bagusnya bagaimana sista ?
    ketika aspirasi tak terselesaikan
    lewat jalur resmi, apakah mesti diam saja ?

  7. wah zaman blue masih jd mhs suka ikutan demo lho sama anak BEM…..hehehe malah ikut menerobos gedung mpr…….itu dulu sekarang……heheh malah lihat demo masaknya ibu ibu pkk….hahahah
    salam hangat dari blue

    p cabar,maz

    @mikekono : hmmm…ikutan demo
    masak ibu-ibu, bisa menambah kolesterol itu bro…hehe

  8. Demo aksi damai nggak anarkis
    Dialog n perang urat syaraf di media bisa jadi alternatif lain

    @mikekono : aksi memang sepatutnya dilakukan
    dengan damai, dan wacana di media
    memang jg diperlukan……

  9. Demo yang berjalan dengan damai menurut saya nggak apa-apa Bang, karena rakyat mau menyampaikan suaranya lewat mana lagi, wong para wakil rakyat seringkali sudah tidak mewakili rakyat? Tapi demo yang anarkhis, memang sebaiknya ditindak dengan tegas. Demo juga harus tetap menjaga sopan santun. Menginjak-injak foto orang, mencoreng-moreng dan membakar foto, menurut saya adalah cara bar-bar yang tidak bisa diterima.

    Di sisi lain, demo sudah menjadi ladang bisnis juga. Di beberapa kota besar, ada EO yang pekerjaannya adalah menerima order demo. Tinggal disebutkan, mau berapa orang pendemo, pakai bakar-bakaran atau cuma teriak-teriak, pendemo berwajah mahasiswa atau petani, dsb. Semua order ada tarifnya sendiri. ‘Hebat’ ya negeri kita ini?

    @mikekono : di negeri ini hampir semua
    aktivitas bisa diselewengkan, termasuk demo
    yang berubah menjadi demo pesanan….,
    tp yg pasti masih lbh bnyk lg demo
    yg murni demi kepentingan umum….
    btw, tp kadang2 mbak tuti
    suka demo juga kelihatannnya….
    kl komennya gak dibalas……hihihi

  10. dari beberapa demo yan9 terjadi apakah ada pemecahan mAalahnya?
    saya rasa belum ada yan9 tertuntaskan hin99a kini dari aksi aksi demo yan9 telah dilakukan..

    terlebih ada pendemo yan9 meman9 dibayar demi kepentin9an pihak2 tertentu..

    jadi ,..?

    aku seeh nda masalah klu demo2,tapi jan9an anarkis🙂

  11. kalau demonya memang membangun kenapa enggak? tapi kalau malah merusak? duh masih banyak hal lain yang bisa dikerjakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: