Antisipasi Implikasi Negatif FTA


Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperkirakan potensi terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai dampak terburuk dari perdagangan bebas atau Free Trade Agreement (FTA) ASEAN-China yang mulai berlaku sejak 1 Januari lalu,  bisa mencapai 7,5 juta orang.
Hal itu bisa terjadi jika pemerintah tidak melakukan upaya-upaya konkrit untuk menekan imbas terburuk FTA seperti membendung serbuan produk-produk impor China dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Disebutkan, sekitar 7,5 juta orang terancam terdegradasi, setelah itu bisa menganggur, bisa jadi pengusaha dan lain-lain. “Ini kalau tidak ada upaya sama sekali.”

Kalau benar demikian, sudah barang tentu kita merasa prihatin. Apapun dalihnya, pemutusan hubungan kerja, tetaplah sebuah konsekuensi logis yang tidak mengenakkan, serta akan merugikan rakyat di level grass-root.

Ancaman PHK selalu ibarat palu godam atau semacam pil pahit yang tidak menyenangkan, dan selalu ingin dihindari setiap pekerja/ karyawan di manapun bekerja. PHK selalu menyakitkan bagi sang pekerja, lebih-lebih pada keluarganya.

Karena itu kita berharap pihak Pemerintah semestinya sudah mempersiapkan langkah antisipasi sejak dini, untuk meminimalisir dampak negatif pemberlakuan perdagangan bebas Free Trade Agreement (FTA) tersebut.

Antisipasi dini itu bisa berupa proteksi terhadap produk lokal, serta pemberian kemudahan pinjaman modal bagi kalangan pengusaha kecil. Pengembangan usaha di sektor riil, juga harus terus didorong dengan meningkatkan perhatian terhadap pengembangan program ekonomi mikro.

Dalam konteks ini, kita merasa prihatin dan kecewa dengan apa yang terjadi dengan kebijakan sejumlah pemerintahan provinsi dan kabupaten/ kota, yang mengabaikan ekonomi mikro. Hal ini bisa ditengarai dari tidak adanya penyebutan sektor ekonomi mikro dalam Rancangan Jangka Panjang dan Menengah Daerah (RJPMD).

Kendati kita akui, bahwa kesepakatan dalam FTA itu banyak melahirkan sisi negatif. Namun harus diakui pula banyak sisi positifnya. Keterlibatan Indonesia dalam FTA tersebut akan memberikan manfaat dalam bentuk perluasan pasar ekspor dan upaya untuk mencari sumber investasi.

Menurut keterangan, beberapa industri yang belum siap ikut dalam FTA, pemerintah telah menyiapkan dua skenario untuk mengatasinya. Skenario pertama adalah pertukaran barang yang belum siap dengan barang yang sudah siap. Kedua, adanya penundaan waktu dan modifikasi interval tarif.

Beberapa produk Indonesia yang diperkirakan akan memperoleh manfaat dari perluasan pasar ke China, antara lain kertas, alumina, permen, dan mebel. Implikasi positif FTA lain seperti penurunan biaya bahan baku sebesar  5 persen antara lain  untuk industri baja, bahan baku plastik, kain, hingga mesin pertanian

Kita berharap Pemerintah tidak bersifat pasif, dan defensif dalam menyikapi telah berlakunya FTA tersebut. Memang kesepakatan itu mengandung sisi positif. Namun di sisi lain, jika Pemerintah lamban, bisa jadi akan lebih dominan sisi negatifnya. Untuk itu diperlukan antisipasi dini dari segala lini pemerintahan, pusat, provinsi maupun kabupaten/ kota.

Iklan

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 7 Januari 2010, in Kehidupan, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Kita optimis saja dan hadapi semuanya dengan tenang, siapkan kemampuan lebih dan mental yang kuat untuk hadapi era persaingan itu, kita pun musti yakin bahwa rezeki Allah sudah mengatur dan disamping itu kita tetap berusaha dan ambil hikmahnya agar semua itu jadi cambuk agar kita bisa bangun dan berbuat sesuatu untuk memperkuat pertahanan, yang berbuat tentunya kita semua bukan mengandalkan pemerintah saja.

    @mikekono : betul banget,
    kita tak boleh selalu mengeluh
    harus senantiasa optimis….dan
    yakin usaha sampai 🙂

  2. Solusi terbaiknya adalah menggerakan dengan intens konsep CINTA PRODUK DALAM NEGERI…
    Indonesia sebenarnya tidak kalah saing. hasil pertanian dan kelautan kita melimpah ruah. kita tekankan pada keunggulan-keunggulan bangsa kita.

    @mikekono : bener sekali,
    cinta produk dalam negeri
    akan menyebabkan,
    produk lokal bisa bersaing
    dengan produk luar….thanks

  3. Wah … Bang Mike merambah jadi analis ekonomi juga nih 🙂

    China sekarang memang menjadi macan ekonomi Asia, yang siap mengaum dan menerkam ekonomi negara-negara Asean (hahah, lebay banget bahasanya … 😀 ). Produk China semakin bagus, dan harganya sangat bersaing. Yang sudah merambah masuk ke Indonesia dan membuat produsen lokal hampir ‘pingsan’ adalah garmen dan tekstil.

    China juga memproduksi furniture sekelas Da Vinci, dan produk ini khusus diekspor ke negara-negara Eropa dan Amerika. Seorang pengusaha Indonesia keturunan China yang memiliki akses khusus ke pabrik di China berhasil mendatangkan produk furniture ini ke Indonesia (saya nonton di Jakarta Convention Centre), dan kualitas produknya memang sangat bagus.

    Hanya saja, di bidang otomotif kelihatannya mereka masih belum berhasil dengan baik. Tapi tidak mustahil mereka akan mengulang sejarah otomtif Jepang : dulu dicemoh karena mutunya rendah, sekarang sudah mengalahkan bahkan produk mobil Amerika dan Eropa.

    Bagaimana menangkal ‘ancaman’ FTA ini? sudah pasti regulasi pemerintah yang memberikan kemudahan sekaligus perlindungan kepada pengusaha lokal sangat dibutuhkan, selain kreativitas dan daya juang pengusaha lokal sendiri yang harus terus digenjot.

    Maaf Bang, komennya kepanjangan dan sok teu … 😀

    @mikekono : soal ekonomi, sebetulnya
    saya tidak terlalu paham benar,
    so, komen mbak tuti justru lebih mengena
    dan menukik tajam……
    hmmm….tutinonka memng
    serba bisa……,allround ….. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: