Membudayakan Tradisi Mundur !


donRekaman percakapan Anggodo Widjojo dengan sejumlah oknum pejabat, yang disebut-sebut mengarah pada upaya kriminalisasi KPK, akhirnya mulai menemui babakan penutup, yang kita harapkan akan bermuara pada terjadinya reformasi hukum menyeluruh di negeri ini.
Mundurnya Komjen Pol Susno Duadji dari posisinya sebagai Kabareskrim Mabes Polri dan Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga, patut diapresiasi dan disambut positif. Soal ini, tidak perlulah terlalu diungkit-ungkit, apakah mereka memang mundur atau dipaksa supaya segera mundur.
Apapun yang menjadi historical background yang menyebabkan mereka mundur. Langkah kedua pejabat teras di institusi penegakan hukum, tetap patut diberikan apresiasi. Itulah konsekuensi sebuah jabatan. Akan selalu ada ganjarannya (baik dan buruk), bila kita menduduki sebuah jabatan.
Bisa ditebak, Susno Duadji dan Hakim Ritonga, pastilah merasa berat untuk meninggalkan jabatan dan posisi mereka yang sangat prestisius tersebut. Agar bisa dipercaya menduduki posisi strategis dan cukup berpengaruh, dipastikan membutuhkan perjuangan lumayan berat dan perjalanan karier yang lumayan panjang.
Bila memikirkan kepentingan pribadi dan kelanjutan karier masing-masing, pastilah Susno dan Ritonga tidak akan pernah menyatakan mundur. Tetapi, keduanya ternyata mau dan mampu bersikap legowo dan selanjutnya lebih mementingkan kepentingan institusi dan kepentingan bangsa.
Agar carut-marut dan implikasi politis yang semakin meluas dan sulit terkendali, tidak semakin berkepanjangan, akhirnya kedua tokoh itu memperlihatkan sikap ksatria dan penuh tanggung jawab, sekaligus akan berimplikasi positif terhadap tradisi kepemimpinan di negeri ini di masa mendatang.
Kita berharap, di masa mendatang, setiap pejabat yang dianggap dan dinilai telah terbukti menyalahgunakan kedudukannya demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, memang sudah sepatutnya menyampaikan permohonan pengunduran dirinya.
Langkah seperti ini memang sudah sepatutnya dilakukan, agar selanjutnya tidak semakin memperburuk citra institusi sang pejabat bernaung, serta tidak pula mempersulit posisi atasan yang bersangkutan.
Seorang atasan bisa jadi sebetaulnya sangat sayang kepada anak buahnya, yang selama ini dinilai cukup berprestasi dalam bidang tugas yang diembankan kepadanya. Tapi harus diakui pula, kedekatan antara bawahan dengan atasan, acapkali pula melahirkan implikasi negatif, karena yang bersangkutan kemudian merasa jumawa dan merasa bisa melakukan apa pun. Sebab menganggap dirinya akan mendapatkan proteksi dari atasannya.
Kecenderungan seperti ini sangat potensial merebak di dalam diri seorang pejabat, katakanlah seorang menteri, dirjen, kepala dinas, dan lainnya, manakala sang atasan sering menganakemaskan bawahannya, yang memicu pada munculnya perasaan arogan dan anggapan akan selalu dilindungi kendati melakukan kekeliruan.
Dalam konteks ini, dibutuhkan figur pemimpin yang tegas tanpa pandang bulu, serta senantiasa objektif dalam menilai dan memperlakukan bawahannya. Kecenderungan like or dislike, mesti dihilangkan. Reward and punishment harus diberikan secara adil dan sesuai dengan kinerja masing-masing.
Susno dan Ritonga telah mundur. Kita berharap ‘perseteruan’ antara KPK dengan Polisi, yang telah menguras tenaga dan nyaris mengganggu stabilitas di negeri ini, hendaknya segera diakhiri. Kedua belah pihak sepatutnya segera saling menghargai dan saling membantu dalam melancarkan tugas masing-masing.
Di sisi lain, peristiwa mundurnya Susno dan Ritonga, patut dijadikan sebagai momentum untuk segera membudayakan tradisi mundur di negeri kita. Siapapun yang merasa dirinya tidak mampu mengemban tugas negara, sebaiknya segeralah mundur.
Mundur dari jabatan bukanlah dosa. Bukan cuma Susno dan Ritonga saja, siapapun termasuk di dalamnya para menteri, kepala daerah, para wakil rakyat, dan aparat penegak hukum, bahkan Presiden sekalipun, kalau memang tidak optimal menjalankan amanah rakyat, tidak perlu segan-segan untuk mundur. Tradisi mundur memang patut dibudayakan. Hal itu tidak saja akan memberikan kebaikan bagi kehidupan demokrasi, melainkan juga sebagai bahagian dari komitmen mewujudkan clean and good governance……!(**)
-karikatur dari sini

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 6 November 2009, in Budaya, Politik and tagged , , , . Bookmark the permalink. 10 Komentar.

  1. Jiwa berbesar hati sangat diperlukan oleh pemimpin2 negeri ini ya bang🙂

  2. ternyata susno mundur sementara ketika mau menghadap tim 8, mas mike. selanjutnya, jabatan kabareskrim akan kembali disandangnya. saya kok melihat kekurangseriusan polri utk mereformasi diri. tadi malam saya sempat mengikuti tanya jawab polri dan komis 3 DPR RI. seperti biasa jawaban pak kapolri selalu normatif. yang mengejutkan, ternyata ada pengakuan ari muladi kalau dia telah berbohong dalam memberikan kesaksian kepada polri. kenapa bisa sampai kecolongan begini? ini yang perlu terus diusut. kalau sampai duwit dari anggoro yang diterima ari muladi itu ternyata tdk sampai ke candra terus gimana ini? sepertinya perkembangan kasus ini seperti membuka kotak pandora.

  3. harus diapain kalo sudah begini….

  4. Saya sependapat dengan Pak Sawali, mundurnya Susno nampaknya hanya sementara, untuk meredakan suasana saja. Pada sidang dengar pendapat di DPR (saya nonton sampai jam 01.00) Kapolri menyatakan bahwa Susno hanya mundur sementara, dan ada kemungkinan besok akan dikembalikan ke jabatannya semula. Yang lebih ‘mengagetkan’, Polri mendapat banyak dukungan dari anggota Dewan. Padahal pemutaran rekaman telepon Anggodo di MK begitu gamblang mengaitkan Susno …

    Anis Baswedan bahkan mempertanyakan, mengapa Kapolri tidak lansung memberhentikan Susno, padahal SBY sudah memerintahkan untuk mencopot pejabat yang namanya terkait dengan Anggodo. Kok Kapolri berani ‘membangkang’ pada Presiden? Atau, ada ‘perintah lain’ dari SBY?

    Wallahu a’lam ….

  5. kalo saya jadi presiden, korupsi meskipun sekecil biji zarah akan mendapat hukuman mati

  6. Bersepakat dengan paragraf terakhir … karena masalah bukan hanya urusan prosedural belaka, tapi bagaimana kita juga merasa berada dalam dunia etik dan moral, jadi benar mundur dari jabatan bukanlah dosa.

    Salam hangat

  7. sudah mendarah daging budaya ogah mundur bang…..apa kabar? lama tak mampir🙂

  8. tapi meskipun mundur harus ada konsekuensi yan9 alen ban9 mike,klu cuma mundur duankas mah 9ampan9 meski berat,hukumannya 9imana??

    harusnya berjalan ju9akan ?

  9. Mundur tenan apa ?? rasanya kok tidak itu…
    Rasanya semua bisa direkayasa …dibuat dan by design.Nah..kalau kira2 membahayakan…..maka baru ada wacana mundur…

  10. TERIMAKASIH INFORMASI DAN TULISANNYA. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: