Wanita Memang Materialis ?


Clint Eastwood & wife SMALL“Ada uang abang sayang, tak ada uang, abang ditendang”.Ungkapan ini sering diucapkan, dan kelihatan memang ada benarnya.

Coba perhatikan acara Take Him Out di televisi swasta, ketika seorang pria memperkenalkan diri sebagai seorang pengusaha sukses, dipastikan akan sangat banyak lampu menyala. Sebaliknya jika yang tampil cuma seorang guru atau seniman, hampir selalu tidak ada wanita yang mau menjadi calon pasangan mereka. Alaaamak….!

Dalam kehidupan rumah tangga juga demikian, saat suami tengah berjaya dan bisa memberi kemewahan, sang istri biasanya selalu happy dan memberi pelayanan terbaik bagi suaminya. Ketika suami terpuruk bangkrut, tak jarang sang istri mengajukan gugatan cerai. Nauzu billah min dzalik.

Ya, wanita memang materialistik atawa matre. Lihatlah misalnya di profil-profil fesbuk, sangat banyak kaum wanita yang sengaja bergaya di dalam mobil dengan mengenakan kaca mata hitam. Sejatinya itu memang tidak salah, tetapi fenomena itu memperlihatkan, kaum wanita memang selalu lebih nyaman dan merasa happy jika hidup bergelimang kemewahan.

Menyukai pria karena status kepangkatan dan hartanya, memang sah-sah saja. Tetapi, jangan sampai perasaan sayang itu, mendadak sontak pudar seketika, saat suami terpuruk atau tidak lagi berpenghasilan sebesar sebelumnya.

Cinta sejati adalah mencintai dalam keadaan apa pun. Mencintai saat kaya, dan tetap sayang saat tak lagi bergelimang harta. Sebab cinta yang sesungguhnya adalah selalu bersama sehidup semati, apapun konsekuensi yang dihadapi.

Dalam hal ini, kaum wanita perlu meneladani Tami, istri Pepeng, yang tetap setia merawat suaminya yang sudah hampir empat tahun dan hingga kini tetap dalam keadaan lumpuh.

Istri yang baik adalah mereka yang selalu tersenyum saat menyambut kepulangan suaminya, dan tak terlalu banyak menuntut dan membanding-bandingkannya dengan suami tetangga yang lebih makmur kehidupannya. Terimalah suami dan pacar Anda, apa adanya….!

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 1 Oktober 2009, in Budaya, Kehidupan and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 19 Komentar.

  1. Saya kira masih banyak sangat Wanita yang tidak melihat harta Bro …
    Contohnya istrinya Gugun Gondrong … dan banyak lagi yang lain

    Salam saya Bro …

    @mikekono : betul itu bro,
    Tutinonka, Imelda, Dyah Suminar,
    juga gak materialis,
    Jeunglala, Yu2n, dll nanti setelah jd
    istri, juga akan menjadi
    istri yg baik…..

  2. Aaaaah …… Abang ini kayaknya dendam banget sama perempuan …😦
    Yang isteri selingkuh lah, yang materialistis lah … hiks!

    Padahal sebenarnya masih sangat banyak lho perempuan yang baik di muka bumi ini (contohnya : saya … hahah😀 ). Tapi memang tidak sedikit sih perempuan yang punya hobi ‘ajaib’ : suka memoroti harta pria, tak peduli pria itu masih lajang atau sudah beristri. Makanya, punya suami kaya (apalagi gampang tergoda) itu makan hati. Tapi lebih makan hati lagi punya suami miskin, suka selingkuh pula …. hiks 😥

    Kayaknya Bang Mike perlu ganti lingkungan pergaulan deh … jangan di lingkungan yang dipenuhi perempuan-perempuan materialistis itu.

    Btw, besok foto saya di blog saya ganti dengan foto pakai baju compang-camping, duduk meringkuk di gubug derita ya bang …. (tapi teuteuuup pe-de aja, pasti tetep cantiiik euy … qiqiqiqi 😀 dan masih boleh pakai kacamata hitam to Bang …😀 )

    @mikekono : hehehe…..
    postinganku kan diangkat dari realitas kehidupan,
    bukan mengada-ada,
    tetapi kan jarang lho,
    seseorang memiliki istri dan teman
    seperti Tutinonka, yg slalu pengertian
    dan tidak terlalu menuntut macem-macem
    hmmmm…. 🙂

  3. Kayaknya Bang Mikekono ini selalu dikelilingi artis2 cantik deh, jadinya tergoda untuk mengeneralisir. Yang pasti, matre atau tidak bukanlah milik jenis kelamin tertentu. Siapapun, laki2 atau perempuan bisa memilikinya. Tergantung orangnya saja.

    @mikekono : weleh…weleh,
    mas Hery ngejek nih ye…..
    betul, akhirnya tergantung
    pada kualitas orangnya

  4. iya nih, mas mike. rata2 perempuan memang matrek, meski tak semuanya. mungkin take him out bisa menjadi potret kaum perempuan masa kini yang menjadikan kekayaan sbg salah satu pertimbangan dalam menentukan calon pasangan.

    @mikekono : ya mas sawali, pd dasarnya perempuan
    memang matre, walaupun sikap seperti itu
    tak selamanya negatif

  5. saya sekarang hidup yang dimana 100%nya cewek2 matre, tapi kalo pulang ke rumah liat istri katyaknya menemukan sesuatu yang berbeda mas…jadi gak semuanya mas. tergantung dilingkungan mana kita hidup, jangan terjebak dalam generalisasi.

    @mikekono : beruntunglah mas boyin
    punya istri yang baik budi…. 🙂

  6. Sebenarnya sifat matre (matre yang berapa bang?? Yang 3000 atau 6000??😛 ) pada dasarnya dipunyai oleh semua orang hanya saja kadarnya berbeda2. Dan sifat tersebut dipunyai baik oleh lelaki ataupun perempuan. Nggak percaya?? Lihat aja tuh pejabat2 kita dan juga para wakil rakyat kita (atau mungkin juga calon2 wakil rakyatnya dulu) mereka pasti motivasinya juga ditunggangi oleh motivasi2 materialistis. Bohong, jika motivasi mereka hanya ‘ingin mewakili rakyat’.

    Sebenarnya sifat matre yang terkendali bisa jadi positif jika itu bisa menjadi pemicu semangat berprestasi tinggi dan mencari uang dengan halal. Namun sifat matre yang berlebihan dan tak terkendali akan menjadi sifat negatif tentu saja karena jikalau ia tidak bisa mengimbangi dengan prestasinya sendiri ia akan cenderung untuk melakukan hal2 yang kurang terpuji seperti korupsi, melupakan kesetiaan dengan pasangan hidupnya dan lain-lain….

    Saya pribadi tidak mempunyai masalah bergaul dengan orang2 matre asal mereka bisa mencukupi dirinya sendiri, malah bagus itu. Namun yang bikin saya tertawa geli adalah orang2 matre seperti: istri yang hanya bisa membanggakan kekayaan suami (atau sebaliknya), anak yang hanya bisa membanggakan kekayaan orang tuanya, dan sebagainya. Padahal mereka sendiri mungkin penghasilannya cuma seupil dan nggak ada apa2nya kalau disuruh kerja. Orang kayak gitu sih nggak usah dianggep…. bener nggak bang?? Huehehe….

    @mikekono : bener sekali apa yang dikemukakan
    mas Yari, bahwa semua orang pd dasarnya matre,
    dan memang materi kunci kebahagiaan….
    walaupun materi tak selamanya membuat bahagia🙂

  7. Mencari pasangan yang mampu menghidupi saya dan anak-anak kami nanti adalah satu hal yang mutlak dimiliki oleh suami. Tidak perlu berlebihan, memang, secukupnya saja. Kalo diberi rezeki lebih, ya diterima saja dong.. hehe..

    Ini bukan materialistis, Bang, tapi ini realistis. Saya nggak akan mau menikah dengan pengangguran, kelak jika menikah malah akan menjadi benalu karena saya adalah perempuan pekerja. Kalau dia memiliki penghasilan sebagai seniman atau berprofesi guru dengan gaji yang tetap, juga nggak akan bikin saya mematikan lampu kalo ikut acara take him out. Asal dia bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami, di situlah saya akan mempertimbangkan seorang lelaki menjadi pasangan saya.

    Tapi benar seperti yang dibilang Bang Hery Azwan; materialistis tidak mengenal gender, usia, status sosial, dsb. Materialistis adalah salah satu sifat dasar yang bisa dimiliki oleh siapapun juga. Buktinya, mantan-mantan pacarku kebanyakan matrealistis semua.. hihihi.. curcol…🙂

    Apapun itu, semoga kelak aku menjadi istri yang baik buat suamiku nanti…
    Istri yang bisa menerima apa adanya suami… In sickness in health, in rich and poor, ’til death do us apart..🙂

    @mikekono : betul, itu memang sikap
    realistis. Dan so pasti orang sekaliber Lala
    pasti akan dengan mudah mendapatkan
    tipe suami seperti itu, I believe it
    btw, tapi jangan kelamaan dong…..
    hmmmm🙂

  8. menurut pengalaman saya tidak semua wanita begitu bro, tapi sebagian besar begitu😀

    @mikekono : iya, sebagian, tapi sebagian besar

  9. @ Bang Mike : ralat Bang, contoh wanita yang baik (pada komen saya di atas) itu bukan saya, tapi Lala 😀
    @ Lala : nggak sabar nunggu undangannya nih! (Syukur-syukur diajak sekalian honeymoon ke London …😀 )

    @mikekono : Lala dan Mbak Tuti, sama saja,
    sama-sama baik dan memesona
    iya tuh, ke London atawa ke Las vegas

  10. sore ……….wuih…………jika memeng sedemikian banyaknya wanita yang tak memandang aharta asyik juga yah
    dan kalau bisa carikan dong buat bue nich ehehhe……………
    salam hangat selalu

    @mikekono : itulah masalahnya bro,
    kebanyakan materi oriented….

  11. Aih, aih.. Bunda Tuti… bikin GR ajah..🙂
    Doain aja semua lancar ya, Bunda… Ntar kami berkunjung ke sana, insyaAllah😀

    @mikekono : turut berdoa, semoga
    semuanya lancaarrrr

  12. ban9 mike..
    nda smua loch… [ coz aku ju9a perempuan..😀 tP nda matre ]

    klu kata Aseeh perempuan ituh eman9 harus matre…hehe
    aku seeh cuma mu bil.kadar kematrealitisannya se9imana? klu berlebihan ya nda ba9uslah..

    tapi laki laki sekaran9 ju9a matre ban9..

    jadi perempuan matre wat laki laki matre ajah..😆

    @mikekono : betul, ndak semua kok
    saya yakin Wi3nd gak termasuk
    yang materialis, wl perlu materi
    thanks🙂

  13. Hem, memang harus dibedakan sich Bang , yang masih sifatnya standard (karena metri juga perlu) atau sudah mengarah ke materialistis (over).

    Dan betul juga seperti pendapat sahabat2 blogger yang lain, materalistis itu tidak hanya melanda kaum perempuan, kaum laki-laki juga nggak sedikit lho.

    So, hati-hati ini bisa jadi racun dlm kehidupan….bila sifat ini menempel pada diri kita maka akan sulit bahagia, hahaha. Kuncinya tetap harus pandai bersyukur 🙂

    Tidak semua hal dapat diukur dgn uang lho, salah satunya kesehatan itu adalah harta yang berharga🙂

    Nah, tinggal kita yang harus pandai2 memilih atau pandai mengarahkannya ke arah yang lebih baik / positif agar terhindar dari sifat matealistis.

    Tapi setiap sa’at tetap harus berusaha yang terbaik lho, agar hidup kita nggak kekurangan / dlm kesulitan, istilah lainnya Rejeki tetap harus dicari, diusahakan tapi tetap dgn cara2 yang baik, halal🙂

    Terima kasih sharingnya bang, See you bang Mike 🙂

    Best regard,
    Bintang

    @mikekono : iya adinda,
    materi memang penting, dan
    harus dicari secara maksimal
    melalui jalan yang halalan-thayyibah,
    semoga kita tak menjadikan
    materi di atas segala-galanya🙂

  14. umm.. tambahan nih, kayaknya lokasi dimana seseorang tinggal juga mempengaruhi tinngkat kematrean kali ya? kalo lingkungannya matre2, biasanya orang jadi ikut2an. manusia especially wanita yang bisa cuek dengan keadaan itu jadi wanita yang istimewa.
    misalnya wanita-wanita yang tinggal di kota besar kayak Jakarta, dll mungkin jumlah wanita matrenya lebih banyak. soalnya lingkungannya ya seperti itu. konsumtif sekali..
    kalo yang tinggal di kota kecil, yang masih kental suasana “kampung”nya ya nyantai sajah, wong tekanan untuk mencari uang sebanyak-banyaknya belum terlalu besar..
    yang penting hidup ga kekurangan, masih bisa buat jalan-jalan sebulan sekali, ya sudah, hepi-hepi sajah..^_^
    yang jelas, harta itu harusnya jadi sarana, bukan jadi tujuan..
    ya toh pak mike?

  15. Terpenuhinya hidup secara material adalah naluri semua manusia. Namun ketika naluri itu diberi atribut matre, itu yang menjadi salah kaprah…

  16. Hmm.. kayaknya masih buanyaaaak wanita yang tidak melihat pria dari sisi materialistis atau status kepangkatannya saja,
    contohnya : diriku sendiri, bang… (narsis, mode:ON )
    hehehehee…. kiding😛

    yaa… memang sih kriteria wanita yang seperti itu, bagaikan mencari jarum dalam jerami.

    *but, Do not just judge all women, because it depends on each individual *

    Pria pun buanyak yang materialistis, memandang wanita dari hal2 yang bersifat duniawi, seperti cantik, kaya, kedudukan/pangkat ortunya, dll.
    apalagi, pria seperti ini banyak aku temukan di FACEBOOK.

    *************************

    Jangan2 postingannya pengalaman pribadi yaa bang??
    xixixixixixiii…….. (kabuuuuuurrr… )

    salam kenal… (*_*)

  17. Aduh, kehabisan komen nih. Gara-gara datangnya belakangan, jadi keduluan sama yang lain… *ngeles*

    Hehe… kasih jempol aja deh, Bang.
    Lho, mana ‘like’nya? Klik dimana ya? (masih sindrom fesbuk)

  18. dalam kehidupan sekarang yg serba materialistis dan hedonis, kecenderungan seperti itu semakin menguat…
    memang tidak bisa digebyah uyah pukul rata.., tapi memang demikian adanya…
    beruntung saya mendapatkan seorang istri yang tidak seperti itu…

  19. yakinlah… masih ada perempuan yang tidak seperti itu…
    walaupun untuk menemukannya seperti mencari jarum ditumpukan jerami…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: