Monthly Archives: Agustus 2009

Fesbuk Menyesatkan, Jika……


fbTerus terang mandegnya kreativitas saya menulis di blog plus mulai jarang blogwalking belakangan ini, antara lain dipengaruhi keberadaan facebook/ fesbuk.

Kendati begitu, saya belum sepenuhnya merasakan kenikmatan berfesbuk-ria itu. Blog tetap saya anggap sebagai media paling pas menuangkan ide dan gagasan, walaupun harus saya akui bakat menulis saya tidak sehebat Tutinonka, Jeunglala, Ratna Siti Respati, Jumria Rahman, Yessy Muchtar, Dyah Suminar, Toga Nesia, Nirwan Panjaitan, Mas Goenoeng, Om Trainer, Syawali Tuhusetya dan lainnya).

Cuma satu kelebihan yang mungkin bisa saya rasakan dari fb. Lewat fesbuk, kita bisa berkomunikasi lebih intens dengan teman-teman serta bisa pula berinteraksi dengan rekan-rekan yang kebetulan kurang piawai menuangkan pemikirannya dalam tulisan panjang dan sistematis.

Tetapi, lama kelamaan, saya tiba pada kesimpulan : fesbuk akan menyesatkan seseorang, jika berfesbuk tak lagi peduli waktu serta dimanfaatkan sebagai sarana promosi diri dan say hello dengan teman-teman fb yang kebetulan lagi online.

Kalau tujuan chatting, sekadar berinteraksi antar teman, tak ada masalah. Kalau chatting-nya sudah mengarah pada rayuan gombal dan transaksi cinta, tentu akan menuai masalah.

Jika hal itu terjadi di antara dua anak manusia yang masih sorangan wae, tentu tidak akan menjadi soal. Akan menjadi problema besar, bila fesbuk kemudian membuat ibu-ibu dan bapak-bapak menjadi suka bergenit-ria lewat chatting.

Fesbuk juga akan menyesatkan, bila dijadikan sebagai sarana untuk mendiskreditkan orang lain. Untuk itu, fesbuk seharusnya hanya dijadikan sebagai sarana mempererat silaturrahmi, bukan sebagai alat mencari mangsa.

Fesbuk mesti dimanfaatkan seoptimal mungkin sebagai media berbagi rasa, pengalaman, serta berbagi ilmu. Boleh saja melontarkan kritik lewat fesbuk, asal bertanggung jawab dan disertai data-data akurat dan konkrit. Bukan kritik, karena didasari faktor like or dislike dan sentimen kepentingan.

Ramadhan, Ada Apa denganmu ?


ramadhanRamadhan datang lagi. Ramadhan memang selalu setia mengunjungi umat Islam saban tahun. Tapi, acapkali Ramadhan datang dan pergi, tanpa kesan….!

Ramadhan, ada apa denganmu ? Tak ada yang salah dengan bulan Ramadhan. Tak ada yang keliru di balik perintah menjalankan kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan itu.

Cuma para hambaNya saja, yang selalu saja lalai dan sekadar menjadikan Ramadhan sebagai sebuah rutinitas musiman. Ramadhan belum sepenuhnya sukses membuat mereka yang menjalankan ibadah puasa, benar-benar tampil sebagai pemenang pasca Ramadhan.

Puasa di bulan Ramadhan sejatinya bertujuan agar umatNya menjelma menjadi sosok hamba Allah yang laallakum tattaquun (menjadi orang yang bertakwa).

Orang yang bertakwa (muttaqin) itu sejatinya takut pada Allah SWT. Rasa takut itu ditandai dengan adanya kesadaran menjalankankan perintahNYA dan menjauhi segala laranganNYA.

Tetapi, pada kenyataannya, sudah bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun mereka berpuasa….,tetap saja kualitas iman dan akhlaknya begitu-begitu saja alias tidak pernah takut melanggar perintahNYA.

So, wajar jika muncul pertanyaan, Ramadhan, ada apa denganmu ? Mengapa Ramadhan belum juga mampu mengubah seseorang menjadi lebih baik.

Tentu semua itu bukanlah kesalahan Ramadhannya, melainkan karena kekeliruan si Ramadhan dalam menghayati makna esensial dan substansial yang terkandung di dalam perintah berpuasa itu.

Ramadhan belum mampu membentuk seseorang menjadi hambaNYA yang muttaqin, karena puasa dijalankan hanya sebagai rutinitas, bukan berawal dari sebuah kesadaran dan ketulusan dalam menjalankan setiap perintahNYA….!

Mengapa Istri pun Selingkuh…?


Jika terjadi perselingkuhan, seringkali tudingan hanya kepada pria atau suami saja. Padahal di era serba sophisticated sekarang, istri-istri juga banyak yang terlibat perselingkuhan.

Memang tidak ada data yang pasti perihal perselingkuhan para istri itu. Tapi, dari lalu-lintas pergaulan sehari-hari, perselingkuhan istri-istri sudah menjadi rahasia umum.

Kendati begitu, saya meyakini, masih lebih banyak lagi istri yang selalu setia kepada suaminya. Seperti halnya, suami juga masih terdapat di antaranya yang masih tetap setia dengan istrinya (monogami).

Lalu, mengapa para istri juga terlibat perselingkuhan ? Penyebabnya tentu sangat beragam dan bisa jadi masih sangat debatable. Sebab istri lazimnya tidak suka jika dituding terlibat selingkuh.

Dalam pengamatan saya, istri terlibat selingkuh antara lain karena beberapa faktor : pertama, kualitas iman yang lemah. kedua, mengalami degradasi cinta terhadap suami. ketiga, tidak dihargai lagi oleh suami. keempat, pelampiasan dendam karena suami ketahuan selingkuh. kelima, penghasilan suami lebih rendah.

Dengan demikian, perselingkuhan istri pada umumnya bukanlah semata-mata karena faktor seks dan cinta, melainkan lebih sering karena faktor ekonomi dan terkikisnya rasa cinta kepada suami, akibat perilaku suaminya yang kurang perhatian, over protektif atau sang suami terlibat affair.

Tetapi apapun menjadi faktor pemicunya, perselingkuhan para istri tetaplah tidak bisa ditolerir. Rumah tangga pasti akan mengalami kehancuran, bila salah satu di antara mereka (suami ataupun istri) telah pernah terlibat dalam perselingkuhan.

Dan satu hal yang pasti istri-istri yang bangga dengan perselingkuhan itu, niscaya akan mendapat tempat yang layak di neraka jahannam kelak. So, apapun ceritanya……..say no to betrayal….!