Lebih Baik, Tak Selalu Menang


democrazyLebih baik, berpengalaman, lebih berkualitas serta dianggap lebih mampu, tak selalu menang. Figur yang pada kenyataannya lebih baik, tidak akan ada jaminannya akan dipilih oleh rakyat.

Pada Pemilu Legislatif lalu banyak calon anggota legislatif berkualitas, tetapi gagal total dalam memperoleh kursi di DPR dan DPRD. Sebaliknya, banyak pula tak layak jadi wakil rakyat, justru memperoleh suara signifikan hingga lolos menjadi anggota dewan.

Demikian halnya pada Pilpres kemarin ; apakah kemenangan SBY-Boediono, dikarenakan beliau lebih baik dari dua kandidat capres lainnya ? Jawabnya, belum tentu.

Dalam menjatuhkan pilihan pada Pilpres kemarin, rakyat kelihatannya lebih banyak dipengaruhi oleh faktor SBY, yang selama ini dicitrakan sebagai sosok yang santun, low profile, cerdas dan baik budi.

Tetapi apakah dalam hal kepiawaian memenej negara,  SBY lebih baik dari JK atau Mega ? Bisa jadi, sulit memberikan jawaban untuk itu, sebab tidak ada kompetisi head to head di antara mereka, seperti halnya pertandingan olahraga.

Dalam menjatuhkan pilihan, di Pilpres ataupun pada Pileg lalu, kelihatannya rakyat tidak sepenuhnya memberikan pilihan berdasarkan pertimbangan kompetensi atau kualitas sang caleg. Mereka memilih, hanya karena ada keharusan memilih.

Tetapi apapun ceritanya, itulah konsekuensi demokrasi. Vox pupuli vox dei. Rakyat telah menjatuhkan pilihannya. SBY-Boediono berhasil memenangkan Pilpres. Dan para caleg yang kualitasnya banyak dipertanyakan itu telah terpilih menjadi wakil rakyat.

Yang lebih baik memang tak selalu menang. Tetapi ketika rakyat telah memberikan pilihannya, apapun hasilnya, baik atau buruk, haruslah dihormati. Pilihan itu, suka atau tidak suka, mesti diterima dengan lapang dada.

Kita cuma berharap, seiring dengan perjalanan waktu, rakyat semakin cerdas dan pada Pesta Dermokrsi mendatang dapat memberi hukuman kepada mereka yang dianggap gagal dalam mengemban amanah rakyat !

karikatur dari sini

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 22 Juli 2009, in Budaya, Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. kita kaih kesempaTAn kedua ba9i yan9 terpilih ban9?
    smo9a sajah bisa jadi lebih baik,tokH diselanjutnya suda nda boLe la9i mencalonkan diri dan semo9a kelaK benar2 terpilih yan9 meman9 seharusnya terpilih..

    pa kabar ban9 ..🙂

    @mikekono : setuju……,kita beri kesempatan kedua
    ….saya kabarnya baik-baik aja wi3nd

  2. Mereka akan terbukti baik, kalau janji-janjinya dipenuhi, maka kita tunggu saja. iya kan bang?!

    @mikekono : oke….mari sama kita tunggu,
    walaupun kita tau mereka akan ingkar janji😦

  3. ” … rakyat semakin cerdas dan pada Pesta Dermokrasi mendatang …”

    Betul sekali bang …
    Semoga semua bisa menjadi lebih baik di masa yang akan datang

    Salam saya Bang

    @mikekono : ya….semoga demikian
    thanks abanganda 🙂

  4. Yang telah terjadi biarlah terjadi namun sekarang kita perlu banget buat cari solusi agar the right man bisa di the right place, kita perlu bukti konkrit dulu untuk mengedepankan kebenaran itu.

    @mikekono : ya….betul banget itu
    thanks Mbak Anny 🙂

  5. saking cerdasnya aja bisa bikin boom😀

    @mikekono : gitu ya ? hmmmm 🙂

  6. Bung…,
    jika seandainya dilaksanakan Pemilu semasa Mekkah dikuasai kaum Jahiliyah, kira2 Rassulullah terpilih gak yaa?

    atau jika sebelum Sodom dan Gomorah dihancurkan, kira nabi Luth akan terpilih gak jika diadakan Pemilu ketika itu?

    bagaimana menurut anda?

    @mikekono : bisa jadi mereka terpilih,
    sebab di masa itu belum dikenal money politics😦

  7. Kayaknya untuk mendapatkan jawaban yg MUTLAK mungkin harus tanya ke pemilih kali ya?kl menduga dan menduga,semua org punya PENDAPAT SENDIRI2:-D

    Kalau pencitraan menurutku Mega-pro dech.

    Liat aja,mereka buat pencitraan habis2an kl mereka pro rakyat dr awal mereka mengumumkan pencalonan ditpt sampah dan brlanjut di stp kampanye mereka.

    Tapi pemilu sudah usai, walau ak GOLPUT, tapi mari kita hargai suara rakyat itu😀

    @mikekono : betul bro, mari sama-sama kita hargai
    pilihan rakyat. Yang kalah sepatutnya mengakui yang menang
    dan yang menang jangan arogan

  8. Vox populi vox dei? Suara rakyat adalah suara Tuhan? Tapi di jaman sekarang, suara rakyat bisa juga adalah suara setan …:mrgreen:

    Dalam budaya Jawa, ada pepatah yang berbunyi “Becik ketitik, ala ketara”, yang artinya kira-kira “Kebaikan akan kelihatan, dan keburukan akan terbuka juga”. Cuma, karena jaman sekarang semua sudah terbalik-balik, maka yang terjadi adalah seperti yang Bang Mike tulis. Yang baik belum tentu menang, yang buruk belum tentu kalah.

    @mikekono : kalau udah Mbak Tuti yang komen
    saya cuma bisa manggut-manggut dan terkagum2
    sebab yg dibilang, semuanya pas banget…….
    thanks Mbak yg baik hati🙂

  9. Wah, tulisan abang mengisyaratkan sesuatu, tapi tidak menyudutkan yang lain. Sungguh bijaksana.

    Somehow bang, saya pun merasakan demikian. Jujur aja, saya memilih pak JK ketika pemilu kemarin (gpp yah dibocorin, dah lewat ini😛 ), saya merasa mendapat pembelajaran politik yang baik dari bapak ini. Tadi pagi baca dikoran, beliau disambut oleh warga di kampungnya, namun dia menjelaskan bahwa kampungya itu bukan cuma makassar, tapi seluruh Indonesia. Oleh karena itu, dia akan terus berkeliling membangun Indonesia. Tidak harus menjadi presiden atau wakil presiden untuk bisa berkarya bagi negara dan bangsa ini.

    Sifat lwgowo dan bijaksana yang ditunjukkannya juga luar biasa, meskipun dalam beberapa kesempatan, terkadang beliau terkesan terlalu tergesa-gesa, namun menurut aku yang pengetahuan politiknya cetek, negara ini justru butuh pemimpin yang bisa cepat2 membawa kita keluar dari keterpurukan. Pemerintah terus mengklaim bahwa negara kita sejahtera, aduh, permisi… sejahtera dari mana yah?, apakah data yang mereka punya bener2 valid?

    Jangan2 laporan palsu juga, sama seperti laporan intelegen pada beliau ketika peristiwa bom JW Marriot kemarin, yang membuat beliau jadi buru2 mengeluarkan statement yang sepertinya terlalu premature. Yang justru dibantah oleh kepolisian 2 hari kemudian, yg mengatakan ini tidak ada unsur politiknya. Malu khan jadinya?

    Ah, saya kagum pada sosok SBY, sebagai perempuan, saya pasti milih yang “CHASING’-nya paling bagus… tapi pengalaman pilpres kemarin membuat saya belajar mengenal pasangan yang menurut saya ‘underdog’ dan tidak saya perhitungkan sebelumnya. Tapi saya takut dan gak sreg sama org-org disekeliling beliau yang terkesan maruk jabatan dan greedy sekali…(aduh, maaf komennya panjang betul, hihihi… :P)

    Sekian dulu deh, takut malah rusak posting abang karena komen saya🙂

    @mikekono : setuju…
    kelihatannya mind-set kita memandang pesta demokrasi
    memiliki kesamaan. saya juga membela underdog, alias ingin
    ikutan memompa ‘ban kempes’………
    Tapi, apa boleh buat rakyat Indonesia
    masih lebih suka pd figur, performance, dan
    sejenisnya…., apa boleh buat
    pilihan mayoritas rakyat hrs kita hargai
    thanks sista🙂

  10. Betul, Bang. Yang lebih baik, tak selalu menang. Ketika sedang berkompetisi, apapun bisa terjadi. Banyak faktor yang bisa menjadi pengaruh, sehingga seringkali malah hasilnya di luar perkiraan.

    Tapi, ya sudahlah. Kontes telah berakhir. Siapapun yang terpilih, semoga bisa membawa biduk negara ini dengan lebih baik… amin.

    @mikekono : setuju La,
    kontes tlah berakhir…..
    mari sama-sama kt terima hasilnya
    semoga mereka benar2 ingat janjinya 🙂

  11. Menang kalah baiknya dianggap biasa. Yang penting proses menjadi juara dan proses menjadi kalahnya jadikan sebagai sebuah pelajaran.

    @mikekono : ya…setiap kekalahan sehrsnya dijadikan pelajaran

  12. Yang kalah tak berarti lebih jelek.

    Pertarungannya kan bukan mencari yang baik atau yang buruk, tapi memilih yang disuka….

    Kalau soal kesukaan, selera masing-masing lah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: