Monthly Archives: Juni 2009

Rhoma, Ali dan Maradona


rhomaMalam minggu kemarin, kebetulan saya menyimak tayangan KDI 6. Yang membuatku terkesan, bukan tampilan para peserta kontes penyanyi dangdut tersebut, melainkan tampilan si Raja Dangdut Rhoma Irama.

Rhoma yang hadir secara akustik (tanpa diiringi Soneta Group), tampil sangat memesona. Menyanyikan lagu SYAHDU versi Indonesia dan India serta lagu Ani….., Rhoma menyihir dan seakan menghipnotis.

Mengapa performance Rhoma tetap memikat ? Padahal lagunya itu-itu juga. Penyebabnya tiada lain, karena cara Rhoma membawakan lagu-lagunya itu memang sangat memukau dan seolah ‘menembus jantung’.

Karena itu tak terlalu berlebihan, jika Rhoma saya sejajarkan dengan Muhammad Ali dan Diego Maradona. Begitu banyak petinju hebat bermunculan, tapi pesona Ali di atas ring tetap belum tergantikan hingga kini.

Begitu juga Maradona, kharisma dan style permainannya yang cantik dalam mendribble bola, hingga kini tetap belum ada tandingannya. Lionel Messi, Kaka, dan Christiano Ronaldo memang hebat, tapi tidak akan pernah sehebat Maradona.

Rhoma, Ali dan Maradona merupakan jawara di bidangnya masing-masing. Ketiganya tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Ketiganya akan selalu dikenang sebagai legenda sepanjang masa.

Ridho Rhoma memang hebat dan sudah mulai menapaktilasi perjalanan sukses ayahnya. Namun Ridho tidak akan pernah sampai menyamai kehebatan Rhoma Irama. Rhoma tetap akan menyandang gelar si Raja Dangdut itu selamanya. He’s never dies……..!

foto dari sini

‘Sandiwara’ Manohara


ManoDunia Ini Panggung Sandiwara/ Ceritanya Mudah Berubah/Kisah Mahabrata atau Tragedi dari Yunani/Setiap Kita Dapat Satu Peranan/ Yang Harus Kita Mainkan/Ada Peran Wajar dan Ada Peran Berpura-pura

Mengapa Kita Bersandiwara
Mengapa Kita Bersandiwara (Godbless)

Saya tidak ingin mengatakan, Manohara yang kini bikin heboh dan membuat Indonesia-Malaysia terancam ‘perang’ itu, tengah bersandiwara. Tetapi apa yang sedang dilakoni Manohara dan ibunya ada kemiripan dengan lirik dan judul lagunya Godbless itu.

Seolah Manohara tengah memainkan ‘sandiwara’.  Sepertinya wanita lumayan cantik ini tengah berada di sebuah panggung sandiwara, memainkan peran yang wajar, dan mungkin saja peran…………

Manohara dan ibunya pasti bakal marah disebut tengah ‘bersandiwara’. Namun bukan hal yang mengada-ada pula, jika istri pewaris Kerajaan Kelantan itu (Tengku Fachry ), disebut sebagai memiliki bakat bersandiwara.

Bakat sandiwara itu misalnya bisa dilihat dari performance Mano, yang hampir selama sepekan ini menghiasi seluruh media elektronik kita. Mano dan ibunya sepertinya sangat menikmati bidikan kamera.

Berbagai tuduhan terhadap Tengku Fachry, soal perilakunya yang disebut melakukan KDRT terhadap Mano, memang patut menjadi keprihatinan kita bersama.

Tetapi perlu pula dipertanyakan, apakah Manohara pernah berusaha semaksimal mungkin, menjelma menjadi istri yang baik ? Apakah upaya yang dilakukannya sudah cukup untuk mengubah tabiat suaminya itu, supaya berubah menjadi suami yang baik ?

Terlepas dari benar tidaknya tudingan bahwa suaminya cenderung memposisikannya sebagai properti belaka, sosok Manohara Odila Pinot sendiri memang masih terlalu muda dan belum cukup matang mengemban posisi sebagai istri Pangeran.

Orang seperti Manohara lebih pas diberi kebebasan mengembangkan talentanya sebagai model, bintang sinetron, dan sejenisnya. Dia memang suka kebebasan. Kurang nyaman berada di lingkungan Kerajaan.

Namanya juga Kerajaan, di mana-manapun tidak akan pernah memberi kebebasan dan keleluasaan. Lady Diana juga tak pernah merasakan kebebasan saat menjadi istri Pangeran Charles.

gambar dari sini