Monthly Archives: Mei 2009

Indonesia Tak Butuh Presiden Ngganteng


capresIndonesia tak butuh Presiden ngganteng. Indonesia membutuhkan figur pemimpin yang selalu bertindak cepat mengatasi persoalan bangsa serta senantiasa concern pada kepentingan rakyat.

Rakyat Indonesia juga tak peduli, apakah presidennya berasal dari etnis Jawa atau Luar Jawa. Bagi mereka, yang terpenting apakah sang pemimpin mampu mengubah nasib mereka, dari miskin menjadi lebih sejahtera.

Rakyat Indonesia, sejatinya juga tak terlalu bahagia sudah menerima BLT. Sebab saat mengambil jatah BLT itu, mereka selalu harus berdesak-desakan bak seorang pengemis. Mereka lebih membutuhkan bantuan modal dan lapangan kerja baru.

Ya, Indonesia memang tidak memerlukan Presiden yang ngganteng dan cantik. Rakyat mendambakan pemimpin yang selalu memikirkan dan berbuat nyata bagi rakyat.

Tapi, bukan berarti yang ngganteng dan cantik tak boleh memimpin negeri kaya tapi selalu salah urus ini. Justru akan lebih baik, jika kegantengan/ kecantikan Presiden itu disertai dengan komitmen dan karya nyata bagi rakyat ; yang bukan sebatas klaim-klaim keberhasilan dan janji-janji semu.

Perhelatan Pilpres tidak lama lagi. Kita cuma bisa berharap, agar rakyat Indonesia tak salah pilih dan tak terpesona pada tampilan fisik capres semata. Pilihlah capres dan cawapres yang sudah terbukti potensial mampu bertindak lebih cepat untuk kepentingan rakyat.

Bagi saya sendiri, siapapun terpilih dari ketiga capres itu (JK, Mega atau SBY), sama saja. Sebab nasib dan masa depan saya, tidak pernah tergantung pada siapa yang duduk sebagai Presiden di negeri ini.

karikatur dari sini

Pilpres 2009 Tak Menarik (Mestinya Prabowo Capres)


pilpres2009Pilpres 2009 Juli mendatang, dipastikan tidak akan menarik. Tak ada gregetnya sama sekali. Kurang seru, sebab capres yang ikut dalam pertarungan, orangnya itu-itu juga.

Cuma Prabowo Subianto dan Boediono, orang baru dalam Pilpres nanti. Sementara SBY, Mega, JK, Wiranto, sudah terlibat dalam pertarungan pada Pilpres 2004 lalu.

Prabowo memang ikut bertarung menghadapi SBY. Tapi posisinya yang hanya sebagai cawapres, membuat pertarungan menjadi tak menarik. Mestinya Prabowo bertarung sebagai capres. Hal itu dipastikan akan membuat Pilpres 2009 lebih ‘berwarna’.

Disadari atau tidak, rakyat di level grass-root, banyak yang mulai mengidolakan Prabowo. Tapi, dengan menjadi wakilnya Mega, mereka kemudian enggan menjatuhkan pilihan padanya, karena berada pada situasi dilematis. Di satu sisi menyukai Prabowo, di sisi lain kurang respek pada Mega.

Hal yang relatif sama kini berlaku pada pasangan SBY-Boediono. Bagi mereka, nama SBY sudah merupakan harga mati. Tapi keputusan memilih Boediono, membuat banyak fans SBY kecewa berat.

Fenomena ini justru tak berlaku bagi duet JK-Wiranto. Kedua pasangan ini relatif seimbang dan saling melengkapi, sekaligus merepresentasikan kebhinekaan (gabungan antara figur Jawa dan luar Jawa).

Sebaliknya SBY-Berboedi dan Mega-Pro, sama-sama berasal dari Jawa. Hal ini sudah barang tentu akan melahirkan kekecewaan bagi rakyat yang berada di luar Jawa. Solidaritas luar Jawa ini, jika bisa dimanfaatkan, akan memberi keuntungan bagi JK-Win.

Selain itu, kekecewaan pada figur Boediono serta ketidaksukaan pada posisi Prabowo yang cuma cawapres, juga akan menguntungkan JK-Win. Karenanya tidak mustahil dengan jargonnya Lebih Capet Lebih Baik itu, JK-Win akan memberikan kejutan, mengalahkan SBY-Berboedi dan Mega-Pro pada Pilpres 2009 Juli mendatang….!

karikatur dari sini

Ida Laksmiwati (Bukan Perempuan Biasa)


AntasariIda Laksmiwati, istri Ketua KPK nonaktif Antasari Azhar, layak disebut sebagai istri yang tangguh. Dia juga pantas diberi status sebagai, bukan perempuan biasa.

Ketika sang suami kesandung masalah, dan diduga berselingkuh dengan perempuan muda ; caddy golf Rhani Juliani, Ida Laksmiwati tetap menyatakan percaya kepada sang suami.

Saat Antasari Azhar masih dipuja-puji sebagai Ketua KPK, Ida justru hampir tak pernah tampil bersama suaminya yang memiliki kumis lumayan menggoda itu.

Barulah dikala suami dituduh terlibat sebagai aktor intelektual sebuah pembunuhan plus dugaan adanya skandal cinta segitiga, Ida hadir bersama suami, seraya berkata dia tetap mendukung dan percaya sepenuhnya kepada bapak anak-anaknya itu. Hmmm….heubat tenan.

Bahkan ketika Antasari sudah mengenakan baju tahanan, Ida rajin datang menjenguk. Dia kelihatan tegar, dan masih mau menebar senyum. Ida terlihat tidak kehilangan rasa memiliki terhadap sang suami.

Sungguh betul-betul mencerminkan karakter wanita hebat. Ida Laksmiwati, memang bukan perempuan biasa. Bandingkanlah misalnya dengan penyanyi dangdut Kristina.

Dikala suaminya, Amin Nur Nasution terpuruk dan mendekam di tahanan, dia justru menggugat cerai. Selain itu banyak juga istri, pacar, suaminya telat  pulang aja sudah marah-marah. Terlambat balas sms, ngamuk tak karu-karuan. Ada juga yang suka cemburu buta dan terancam cerai, cuma gara-gara istri/ pacarnya curiga melulu, tanpa disertai bukti-bukti akurat.

Sementara bagi Ida Laksmiwati, seolah apapun yang telah terjadi, apapun yang dituduhkan kepada suaminya, dia tetap setia dan memperlihatkan kasih sayangnya nan tulus pada sang suami.

Ida Laksmiwati……, sungguh terpuji dan mulia nian kepribadianmu. Semoga Allah SWT memberimu kekuatan menjalani hari-hari nan memilukan ini.