‘Politisi Lilin’, Adakah ?


politisi-lilinCap buruk dan imej negatif kerap kali dialamatkan kepada para politisi. Seolah-olah semua politisi itu, tidak bisa dipercaya serta suka menggunting dalam lipatan.

Asumsi demikian, terkadang memang ada benarnya. Para politisi memang banyak yang tak bisa dipercaya. Hari ini berkata A, besok berubah jadi B. Pemilu lalu mengenakan baju Partai Golkar, Pemilu kali ini sudah berbaju Demokrat.

Dalam konteks demikian, sudah sepatutnya rakyat diberi kesempatan untuk mencari ‘Politisi Lilin’. Yakni para politisi yang rela mengorbankan dirinya demi memperjuangkan kepentingan rakyat.

Rela mengorbankan tenaga, harta dan pikirannya demi rakyat, yang telah memberinya kepercayaan dan amanah menjadi representasi rakyat di DPRD Kabupaten/ Kota, Provinsi, DPR-RI dan DPD.

“Politisi Lilin’ ialah mereka yang tidak pernah mempolitisir rakyat demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. ‘Politisi Lilin’ senantiasa, tak kenal lelah dalam mendengar keluhan rakyat serta selalu tulus memberi bantuan kepada rakyat.

‘Politisi Lilin’ selalu siap berkorban dan tak cuma jelang Pemilu saja kelihatan batang hidungnya. Pertanyaannya, adakah politisi yang rela berkorban seperti halnya lilin. ‘Politisi Lilin’, adakah ?

‘Politisi Lilin’, mungkin saja ada. Tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Sebab pada kenyataannya, yang banyak berseliweran dalam panggung politik kita, adalah ‘politisi ular’, ‘politisi kalajengking’, ‘politisi labi-labi’, ‘politisi serigala berbulu domba’, dan ‘politisi hipokrit’…..!

karikatur dari sini

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 23 Maret 2009, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 20 Komentar.

  1. hhmmm …
    Politisi Lilin …?
    Saya pikir ada Bang … tapi ya itu tadi seperti yang abang bilang …
    mereka tergerus oleh politisi yang abang sebut kan tadi …

    Salam saya

  2. Politisi lilin..!?
    Bahaya tuch… karena
    kalo dipanasin dia meleleh. (baca : digertak menciut)
    kalo didinginin dia membeku. (baca : didiamkan mengeras)
    cari politisi peduli ajah ach.
    salam hangat
    semoga sukses.

  3. hmm…kok dalam analogi saya politisi lilin maknanya negatif ya bang. Saya melihat lilin nyalanya terang saat masih besar dan sumbunya panjang. Begitu sumbunya habis maka akan adam. Seperti politisi yang berkoar2 menjelang pemilu, begitu suara dan posisi didapat, langsung padam…hilang lengkap dengan janji2nya. Beda sudut pandang aja ya bang, sah2 saja kan….🙂

  4. Sebenarnya yang merusak citra politisi ya politisi itu sendiri. Dan itu terus menerus terulang kembali. Andaikan ada politisi yang ‘jujur’ dan ‘berhatinurani’, iapun akan tenggelam oleh sebuah sistem yang melingkupinya. Dan tahukah kita siapa yang membuat sistem itu?? Ya betul!! Lagi-lagi para politisi juga !!

    Tapi tentu politisi tidak sendirian. Salesman juga citranya ‘rusak’ di mata masyarakat. Salesman identik dengan rayuan, bujukan, sedikit tipu-tipu bahkan kalau bisa sedikit paksaan. Mungkin ada kesaman antara politisi dan salesman. Masing2 sama2 ‘berjualan’. Salesman berjualn barang2 yang dijajakannya, sementara politisi (apa poliTIKUS??) berjualan citra dirinya dan partainya pada saat menjelang pemilu. Pantaslah kalau begitu kedua profesi tersebut jadi jatuh citranya di mata masyarakat !! Huehehehe… Just kidding bang!:mrgreen:

    Nah, untuk memperbaiki citra politikus (dan juga salesman), para politikus (dan juga salesman) harus berfikir jauh ke depan dan juga harus meluas. Politikus jangan hanya mengejar target pemilu saja, lebih baik ia mengejar target untuk memenangi hati rakyat secara permanen baik menjelang pemilu dan juga jauh setelah pemilu….. Sama juga seperti salesman, ia harus dapat memberikan atau menjamin layanan purnajual yang memuaskan, dan jangan hanya sekedar mengejar target penjualan saja….😀

  5. Mana rakyat mana Politisi Lilin? Politisi Lilin berasal dari Rakyat juga. Gonta-ganti partaipun bisa jadi karena ada sekolompok rakyat yang sudah terpecah, yang satu keompok partai X yang satu kelompok Partai Z, Kedunya sama2 ingin menjadikannya sebagai politisi untuk rakyat. ketika bosen di partai Z di pindah kepartai X. Itu bisa jadi dilakukan karena rakyatnya sendiri tidak satu. Rakyatnya sendiri sudah terpecah koq.

    Jika seorang Politisi X berhasil lolos karena Rakyat Q. Apakah Rakyat R akan menerima? Belum tentu bukan?

    Bukti konkrit, ketika banyak pihak ramai berkampaye aja. Ia ramah kepada setiap orang, menebar senyum dimana2. Setelah terpilih… kepada rakyat nya sendiri yang memberikan hak suara, dia bahkan lupa.

    Hari ini kita mengatakan ini, entah kelak setelah berada di kursi akankah kita memegang kendali untuk menjadi Politisi lilin atau tidak. Kita tahu, saat lubang satu di tutup, celah lain bermunculan. Inilah Indonesah….

    Aku puyeng bang. Mending liburan nyari Kalong jeeeeeee…puyeng 44…banyak kaleeee bang.

  6. Jadi politisi ya memang begitu, kadang jadi lilin, kadang jadi ular, kadang jadi kalajengking dan harus bisa mancla-mencle, kalo perlu halalkan segala cara, tuh baru namuanya politisi handal, biarin entar masuk neraka juga.

  7. ada seeh ban9 meski sedikit jumlahna..
    semo9a sajah den9an tepilihna aban9 bisa menambah banyak politisi politis yan9 jujur dan benar2 peduli den9an rakyat macam saiyah ban9..

  8. politisi lilin ??
    hmm….kalau pun ada ga akan mungkin bisa bertahan
    pasti akan terlindas dgn politisi yang serba ‘berbisa’

    dunia politik memang mengerikan
    kalau sdh tak dapat tempat
    kawan sendiri juga diembat

    btw, abang termasuk politisi yang mana ??

    *mudah mudahan ga diedit ma bang mike:mrgreen:

  9. Politisi lilin kalau bisa berbuat positif dalam artian mengedepankan kepentingan orang banyak dan mengesampingkan dahulu diri pribadi dan keluarganya mungkin akan bisa jadi panutan.
    Yang jelas rakyatpun harus sadar bahwa rakyat sendiri harus bisa berlaku sesuai omongannya jangan cuma mencela saja bisanya.

    Oh ya Bang, ada kejutan di blog saya silakan cek dan tolong email alamat lengkap ke ani.berta@yahoo.com
    ada oleh2 alakadarnya dari Bandung Bang🙂

  10. hidup amien rais! lho? hahahahahaha😀

  11. Istilah yang cerdas… Politisi lilin…

    Bahkan ada yang udah ganti partai sampai tiga kali. Udah kayak minum obat…

    Pat pat gulipat…, menggunting dalam lipatan…

    Konon…, kalau memaknai sikap dan ucapan politisi harus seperti melihat cermin. Kalau tangan kanan yang diangkat, dicermin malah tangan kiri yang terangkat… Tabik…🙂

  12. ibarat lilin yang rela mengorbankan diri demi menerangi sekitarnya, politisi memang sejatinya demikian.
    betul, bang. bukan gampang menemukan sosok yang rela berkorban demi orang banyak. mudah-mudahan pada saatnya bang agus dapat menjadi contoh dari yang tak banyak ini.

  13. Hem, kira-kira siapa dia yach bang (masih bingung nyari), karena sepertinya didaftar caleg belum pada terdaftar caleg dgn kriteria ini. Yang banyak yang nggak memenuhi kriteria nich bang, hahaha…..
    best regard,
    Bintang

  14. Politisi lilin?
    Yang banyak sih operasi lilin, Bang…
    Kalau Politisi ketupat ada nggak ya?
    Nah apa pula itu?

  15. Ada Pak. Tapi setelah dipilih pun oleh rakyat suaranya gak sekuat politisi ‘mainstream’. Makanya capek milihnya. Soalnya politisi lilin itu manusia biasa, bukan super hero.
    Seperti misalnya politisi lilin versi saya sekarang ini sedang duduk di warung kopi sambil ngobrol sana-sini dengan para pedagang sayur yang dari jam 3 pagi tadi nungguin sayur dagangannya di pasar tempel. Dan siang ini dia mau menjemur ‘gaplek’ atau ubi yang dikeringkan untuk disediakan bagi para caleg yang mau laku ‘ngere (kere)’ makan nasi thiwul biar dapat simpati.🙂

  16. Sepertinya dimana pun susah sekali mencari politikus yang seperti itu. Yang rela berkorban untuk rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi… 🙂

  17. politisi lilin ?
    keren juga istilah
    Bung Mikekono itu, bah

  18. Saya masih terngiang terus dengan istilah politisi lilin… Dalam makna yang sama, saya mungkin lebih suka menggunakan istilah ‘negarawan’…

    Seperti juga leadership…, saya lebih nyaman menggunakan istilah ‘Statementship’, atau kenegarawanan…

    Memang Habermass pernah mengatakan, “everything is politics”
    Namun politisi tetaplah Machiavellis… Segala cara dimungkinkan untuk mencapai kekuasaan…

    Saluuuuttt….🙂

  19. Janganlah memilih “politisi lilin”, karena dirinya sendiri habis terbakar, bagaimana dia bisa memperjuangkan kepentingan orang lain. Ha ha ha …

  20. Tentang Kutu Loncat antar partai itu silih, adalah kaum penganut realistis. Karena menganut sikap Utopia yang diajarkan Bung Karno, (kalau bukan yang ini, lebih baik tidak) sebagaimana digunakan dalam semboyan Merdeka atau Mati, maka akhirnya bisa benar-benar mati karena tidak kebagian (maklum sekarang berebit). Maka prinsip realistisnya itu: kalau nggak bisa lagi di partai A, ya pindah aja ke Partai B. Kecuali satupun partai nggak mau terima. Kata pepatah sekarang : Namanya juga usahaaaaa……..
    (Itu menurut pengamatan aku dari dunia lain alias outer space). Njuah-juah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: