Monthly Archives: Maret 2009

Rakyat pun Kehilangan Nurani


your_money_your_voteJelang Pemilu, rakyat pun ikut terkontaminasi dan kehilangan nurani ? Ahhhh…..masya’ ?  Kalau tak percaya, tanyakanlah hal itu kepada para caleg.

Para caleg  yang kini pontang-panting dan ngos-ngosan itu, pasti akan berkata senada. Mereka kerap bingung memahami apa maunya rakyat. Seperti halnya janji politisi dan pejabat yang banyak isapan jempol, caleg juga tak lagi mudah percaya pada janji-janji rakyat.

Rakyat pun bisa disebut telah kehilangan nurani. Sebab tatkala caleg menawarkan visi-misinya, mereka tak peduli soal itu. Mereka lebih peduli dengan komitmen nyata sang caleg, yang ditandai dengan adanya pemberian bantuan langsung tunai.

Cilakanya hal itu dipertontonkan secara terbuka. Misalnya, ketika caleg A datang, rakyat meminta bantuan memperbaiki jalan. Bantuan pun diberikan. Hari berikutnya caleg B datang ke tempat yang sama,  mereka minta dana pembangunan masjid, juga diberikan. Selanjutnya caleg C datang, diminta  membeli peralatan olahraga, sang caleg juga memenuhinya. Ketika  semua caleg menyanggupi, lalu siapa yang bakal dicontreng ?

Bukan itu saja, rakyat yang ditemui juga tak sungkan-sungkan menegaskan, dirinya tidak akan mau memberikan dukungan, jika tidak ada kejelasan (uang) buat mereka. Ada pula yang mengklaim, mampu menggaransi akan menyumbangkan 5 ribu suara, kalau disediakan uang sekian-sekian.

Wooow…..semakin mengerikan dan memprihatinkan. Jelang Pemilu, saat para caleg sangat membutuhkan dukungan suara. Rakyat pun mengambil peluang. Seolah-olah caleg dianggap sebagai gudang uang. Caleg kini jadi semacam ‘sapi perahan’.

Ketika rakyat pun kehilangan nurani. Dan menjadikan Pemilu legislatif sebagai ajang mengeruk keuntungan (materi) sebanyak-banyaknya serta mencontreng caleg, hanya karena iming-iming uang.

Dapat dipastikan Pemilu legislatif nanti tetap akan menghasilkan para politisi busuk dan oportunis, yang selanjutnya akan berupaya sekuat tenaga mengembalikan modal pencalegannya yang sudah banyak tersedot akibat ulah oknum rakyat, yang telah kehilangan hati nurani itu… !

Iklan

‘Politisi Lilin’, Adakah ?


politisi-lilinCap buruk dan imej negatif kerap kali dialamatkan kepada para politisi. Seolah-olah semua politisi itu, tidak bisa dipercaya serta suka menggunting dalam lipatan.

Asumsi demikian, terkadang memang ada benarnya. Para politisi memang banyak yang tak bisa dipercaya. Hari ini berkata A, besok berubah jadi B. Pemilu lalu mengenakan baju Partai Golkar, Pemilu kali ini sudah berbaju Demokrat.

Dalam konteks demikian, sudah sepatutnya rakyat diberi kesempatan untuk mencari ‘Politisi Lilin’. Yakni para politisi yang rela mengorbankan dirinya demi memperjuangkan kepentingan rakyat.

Rela mengorbankan tenaga, harta dan pikirannya demi rakyat, yang telah memberinya kepercayaan dan amanah menjadi representasi rakyat di DPRD Kabupaten/ Kota, Provinsi, DPR-RI dan DPD.

“Politisi Lilin’ ialah mereka yang tidak pernah mempolitisir rakyat demi kepentingan pribadi dan kelompoknya. ‘Politisi Lilin’ senantiasa, tak kenal lelah dalam mendengar keluhan rakyat serta selalu tulus memberi bantuan kepada rakyat.

‘Politisi Lilin’ selalu siap berkorban dan tak cuma jelang Pemilu saja kelihatan batang hidungnya. Pertanyaannya, adakah politisi yang rela berkorban seperti halnya lilin. ‘Politisi Lilin’, adakah ?

‘Politisi Lilin’, mungkin saja ada. Tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Sebab pada kenyataannya, yang banyak berseliweran dalam panggung politik kita, adalah ‘politisi ular’, ‘politisi kalajengking’, ‘politisi labi-labi’, ‘politisi serigala berbulu domba’, dan ‘politisi hipokrit’…..!

karikatur dari sini

Caleg, Tak Siap Kalah


Saat bincang-bincang dengan Ekonom kondang Sumatera Utara dan Dekan FE USU Drs H Jhon Tafbu Ritonga MEc, Rabu (18/3) pagi, dia mengingatkan saya agar mempersiapkan mentalitas untuk menerima kekalahan.

JTR, demikian dia biasa disapa, merasa perlu menekankan hal itu, terkait dengan posisi saya sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPRD Sumatera Utara.

Saya merasa beruntung diingatkan oleh senior dan teman diskusi saya itu. Kendati jauh sebelumnya saya sudah mempersiapkan diri untuk siap menerima kekalahan dan tak pula jumawa jika terpilih menjadi wakil rakyat.

Namun sangat banyak pula caleg-caleg lain, tak siap kalah. Indikatornya bisa dilihat dari sikap mereka yang terkesan jor-joran dalam menggelontorkan dana demi meraih simpati calon pemilih, walau peluang untuk terpilih sebetulnya relatif kecil.

Kecenderungan tak siap kalah juga bisa ditengarai dari banyaknya anggapan umum yang berkembang di tengah masyarakat, pelaksanaan Pemilu Legislatif akan ramai ditingkahi aksi dan upaya main curang dari sejumlah caleg.

Permainan curang sudah pasti memerlukan kesiapan dana yang tak sedikit. Dana ini diperlukan untuk ‘membeli’ beberapa oknum yang memiliki kepiawaian dalam menukang-nukangi data/ hasil penghitungan suara. Lazimnya, aksi main mata ini biasa dilakukan mereka yang tak siap kalah.

Indikasi permainan curang ini memang sulit dihindari. Dalam konteks demikian, kita cuma bisa berharap dan mengimbau agar seluruh perangkat penyelenggara Pemilu, mulai dari KPU, Panwaslu, PPK, PPS, dan lainnya hendaknya tidak mau terpengaruh dengan iming-iming uang, untuk merekayasa jumlah perolehan suara.

Jika para caleg yang tak siap kalah itu, kemudian memenangkan suara terbanyak dengan cara-cara tak fair, dapat dipastikan mereka tidak akan bisa menjalankan tugasnya dengan optimal sebagai wakil rakyat. Sebab, prosesi yang dilalui hingga terpilih menjadi anggota dewan, sudah dicemari perilaku negatif.

Kalah dan menang dalam sebuah perjuangan merupakan hal yang lumrah. Kekalahan/ kegagalan, suatu ketika juga diperlukan, demi mendewasakan serta memperkokoh mentalitas kita dalam menjalani kehidupan.

Bagi caleg yang hingga kini, tak siap untuk kalah, diimbau agar segera melakukan introspeksi, refleksi dan kontemplasi, agar pasca kekalahan dalam Pemilu, tak sampai membuatnya menjadi pasien rawat inap di Rumah Sakit Jiwa…. 😥

Pejabat Menyusahkan Rakyat ?


konvoiPejabat menyusahkan rakyat ? Ahhhh……masya ? Faktanya memang demikian. Kendatipun harus diakui,  banyak juga pejabat yang bekerja dengan baik sebagai abdi negara dan abdi rakyat. Tetap saja, masih lebih banyak lagi pejabat yang kerjanya cuma menyusahkan rakyat.

Contoh sederhana saja, kemarin pagi saat melintas di jalan raya kota Medan. Saya terkejut, jantung hampir copot. Mobil saya secepat kilat saya tepikan ke pinggir jalan. Apa pasal ?

Soalnya di belakang saya, sebarisan mobil meraung-raung dengan sirene tengah membawa rombongan pejabat dengan laju yang lumayan kencang. Daripada diseruduk, saya dan mobil lain di depan, terpaksa minggir.

Kalau rakyat biasa harus rela terjebak dalam kemacetan arus lalu lintas. Sebaliknya pejabat boleh melintas menerabas kemacetan itu, dengan menggunakan fasilitas negara.

Pejabat juga acapkali menyusahkan rakyat saat menggelar pesta. Di Kota Medan dan kota lain misalnya, beberapa pejabat dengan seenaknya menutup badan jalan umum, karena tengah menggelar pesta.

Alhasil masyarakat pengguna jalan mesti muter-muter sehingga memunculkan kemacatan, sekaligus mengganggu kelancaran dalam menyelesaikan urusannya.

Pada bahagian lain, rakyat juga menjadi korban dari side effect negative negatif yang ditimbulkan oleh ulah oknum pejabat yang candu menilep uang negara demi kepentingan pribadi.

Uang negara yang semestinya digunakan untuk membangun sekolah, memperbaiki infrastruktur, menambal jalan yang berlobang, acapkali disalahgunakan dan dialokasikan untuk kepentingan-kepentingan yang tak ada hubungannya dengan rakyat.

Ulah pejabat yang demikian sudah pasti menyusahkan rakyat. Bahkan lebih jauh, jika sedang apes, pada hakikatnya dengan mengkorup uang negara, pejabat juga telah menyusahkan diri sendiri, karena suatu saat bisa terendus KPK !

Pejabat kerap menyusahkan rakyat, karena mereka lebih sering ‘berumah di angin’ dan hidup dalam gemerlap kemewahan, hingga acap lupa berpijak ke bumi. Karenanya para pejabat yang prestasi kerjanya amburadul dan tak memberi manfaat buat rakyat, memang seharusnya diberi ganjaran setimpal, antara lain dengan cara diinapkan di hotel prodeo…!

Koalisi Tanpa Nurani !


koalisiii2Koalisi lazimnya dibangun oleh kelompok atau partai politik yang memiliki visi & misi yang relatif sama. Koalisi tak lazim terjadi antara dua kelompok yang secara ideologis sangat kontradiktif.

Misalnya antara PPP yang berasaskan Islam, kurang masuk akal jika berkoalisi dengan PDS. Bahkan PKS pun sejatinya tak cocok menjalin koalisi dengan PDI Perjuangan.

Idealnya memang demikian. Tetapi demi kursi (kekuasaan), koalisi akhirnya bisa terjadi antara kelompok manapun. Koalisi terjalin tanpa nurani. Demi upaya meraih kursi, sekat-sekat ideologis dan kendala psikologis pun kemudian mencair. 

So, tak mustahil, bakal terjadi koalisi antara PKS dengan PDIP atau antara PPP dengan PDS dan sejenisnya. Fenomena seperti ini sudah menjadi hal yang biasa pada penjaringan/ pengajuan bakal calon kepala daerah pada musim Pilkada lalu.

Koalisi untuk merebut kursi (kekuasaan), merupakan hal yang lumrah dan wajib dilakoni. Namun, patut pula diingatkan, koalisi yang mengabaikan hati nurani, berarti koalisi yang tak memiliki tujuan (yang benar).

Upaya meretas jalinan koalisi sudah sepatutnya didasari oleh adanya kesamaan visi & misi serta platform perjuangan partai. Tak sepatutnya koalisi cuma berorientasi pada kursi, ansich alias koalisi tanpa nurani.

Dengan kata lain, koalisi tidak boleh didasari oleh pikiran dan tujuan (dendam politik) untuk ‘menghabisi’ seseorang, sehingga muncul istilah ABS, ABM, ABJ, ABP, dll.

Koalisi yang hendak dibangun seharusnya dilandasi oleh tekad dan tujuan yang sama, yakni ingin memunculkan pemimpin nasional baru yang lebih baik, dan bukan semata-mata demi meraih kursi empuk kekuasaan plus jabatan-jabatan bergengsi lainnya.

Koalisi jangan hanya demi kursi ! Koalisi seharusnya bertujuan untuk menyelamatkan bangsa serta memberi peluang terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat…..!

foto dari sini

Cinta, Datang dan Pergi !


movies_kank01Jalinan kasih dan kehidupan perkawinan, banyak yang bisa bertahan dalam waktu relatif lama.Tapi, di sisi lain acapkali muncul perasaan, kebersamaan yang terbina cukup lama itu, kini terasa hambar.

Mengapa cinta bisa tiba-tiba meredup ? Mengapa rumah tangga yang dulu dibangun atas dasar cinta, tiba-tiba terasa hambar dan tak lagi menggetarkan hati.

Cinta, ternyata juga berproses. Cinta bisa datang tiba-tiba dan pergi seketika. Cinta bisa pula dalam sekejap melahirkan benci dan dendam. Atau mungkin itu bukan cinta dan hanya klaim atas nama cinta.

Cinta yang datang dan pergi. Cinta yang mendadak sontak pudar dan berganti dengan rasa benci, mungkin belum layak disebut cinta. Bisa jadi, baru sebatas simpati dan lampiasan birahi.

Cinta sejati mestinya tak pernah mati. Cinta sejati akan selalu abadi di hati. Jika cinta datang dan pergi, lalu berganti dengan rasa benci, pastinya itu bukan cinta sejati.

Cinta datang dan pergi, bukanlah cinta sejati. Sebab, cinta sejati tak bisa dibeli. Cinta sejati tak pernah mati, walau raga tak mungkin dimiliki. Cinta sejati selalu di hati, walau bersua sebatas mimpi…..!