Penguasa bukan Pemimpin !


Anda, sampeyan, beliau, boleh-boleh saja punya kekuasaan atau jabatan mentereng (Gubernur, Bupati, Walikota) serta menjadi ketua di sana-sini serta donatur di mana-mana.

Tetapi dengan jabatan segudang itu apakah Anda, otomatis layak disebut sebagai pemimpin ? Ooops…..tunggu dulu. Jabatan/ kekuasaan ternyata tidak serta merta membuat seseorang mengejawantah menjadi pemimpin.

Sebagai contoh, di kerajaan Sijujung Koden berbatasan dengan kerajaan Arkemomisen, terdapat seorang pejabat terpandang (Sultan) yang kerjanya kebanyakan melawak melulu.

Dan memang sang Sultan ini dikenal piawai mengocok perut dengan lontaran-lontaran joke-nya nan selalu memikat. Tak mengherankan, jika sang Sultan berpidato, pendengar selalu terpingkal-pingkal menyimak banyolannya.

Tetapi setelah itu, what next. Ya, itulah masalahnya…..setelah menikmati berbagai kelucuan itu, rakyat yang bermukim di kerajaan Sijujungkoden pun kuciwa, sebab tak kunjung melihat karya nyata sang Sultan buat rakyatnya.

Alhasil janji-janji kampanye Sultan dulu, belum terlihat ada tanda-tanda bakal terealisir. Bahkan rakyat di kerajaan sijujungkoden, semakin dibuat bingung, karena sang Sultan kini lebih dijejali berita-berita soal tandatangan kontroversialnya dalam sebuah surat persetujuan, yang konon dibubuhkan tak sesuai prosedur.

Cilakanya ketika tandatangan ini disorot, para hulu balang pula dijadikan sebagai sasaran ‘kambing hitam’ dengan dalih human error dan sejenisnya.

Menjadi pejabat/ penguasa bisa jadi karena sudah suratan tangan serta bisa pula karena berbagai upaya dan rekayasa. Jadi pejabat juga dimungkinkan karena pangkat dan golongan sudah memenuhi syarat.

Sebaliknya menjadi penguasa sekaligus pemimpin, ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Mewujud menjadi pemimpin yang baik, tidak cukup berbekal keberuntungan dan kepangkatan saja.

Kendati begitu seorang pejabat/ penguasa juga bisa sekaligus menjadi pemimpin yang baik apabila memiliki kemauan dan kesadaran untuk mereformasi diri, dengan cara tidak lagi menjadikan kepentingan (pribadi/ kelompok) di atas segalanya.

Pejabat akan dikenang sebagai pemimpin yang berhasil, jika dalam pola kemimpinannya tidak cuma piawai berpidato dan melucu, melainkan juga dibekali kemampuan memberi solusi, memperlihatkan keteladanan serta melahirkan berbagai kebijakan yang menguntungkan rakyat.

Pejabat akan berhenti sebatas pejabat, dan tidak akan pernah dikenang sebagai pemimpin, bila jabatan yang disandangnya dijadikan sebagai sarana untuk memenuhi syahwat, memperkaya diri serta mengakomodir kepentingan pribadi dan kelompoknya saja.

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 27 Februari 2009, in Budaya, Politik and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 30 Komentar.

  1. Jabatan adalah amanah, pemimpin adalah pengemban amanah. Disamping kenikmatan yang didapat juga besar tanggungjawabnya. Thanks

    @mikekono : ya begitulah seharusnya. Pemimpin harus bertanggungjawab kepada rakyat.
    Thanks sista 🙂

  2. ga mudah untuk menjadi penguasa/ pimpinan
    selain hrs punya kecakapan, jg hrs bs menjadi teladan bagi yang dipimpinnya

    kalau bisanya cm melucu dan piawai mengocok perut
    saya rasa lebih baik jadi pelawak saja
    bisa lbh ngetop krn sering muncul di televisi

    btw, kerajaan sijujungkoden itu di mana ya bang ???
    saya cari di peta kok ga terdaftar
    heheee…… bingung saya 😛

    @mikekono : betul, tak mudah jd pemimpin

  3. Mudah2 banyak calon petinggi Negeri yang memiliki pemikiran seperti ini, Tahu persis mana yang baik dan belum baik. Hapal benar….mana amanah mana yang tidak diamanahkan…

    Kapan ya…para petinggi itu akan membaca blog pencerahan seperti ini?

    @mikekono : ya mudah-mudahan para pemimpin kita di masa mendatang bs menjalankan kepemimpinannya sesuai amanah rakyat
    btw, thanks atas apresiasinya Pakde ?

  4. Jaman sekarang ini (di Indonesia) jabatan bisa dibeli. Gampang kok, wong banyak penjualnya, banyak juga makelarnya. Maka, kalau punya modal kuat, atau ada sponsor kuat, seseorang bisa tiba-tiba jadi pejabat. Ditambah sistem politik yang berlaku sekarang ini, seseorang yang semula ‘nobody’ bisa mendadak menjadi ‘Mr. Number 1’ …

    Adapun seorang pemimpin, terlahir melalui perjalanan panjang. Tidak ada pemimpin yang instan. Seorang pemimpin memiliki karakter, integritas pribadi, dan kapasitas kepemimpinan yang merupakan bakat dan hasil tempaan selama sekian masa. Kita bisa melihat pemimpin-pemimpin besar bangsa kita seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, dan banyak lagi, yang memang sejak muda, bahkan kanak-kanak, sudah memperlihatkan bakat kepemimpinan serta menempa dirinya dengan bekal-bekal kecakapan memimpin.

    Sekarang ini, kalau Thukul Arwana mencalonkan diri jadi walikota, tidak mustahil dia menang …

    @mikekono : betul Mbak Tuti, jabatan bisa dibeli, cuma cinta yang tak bs dibeli…..?
    memang saat ini dari no body, bs mendadak sontak menjadi penguasa, misalnya jadi Gubernur atau bupati. Alhasil karena keberhasilannya lbh ditentukan kekuatan uang & popularitas, kepemimpinannya menjadi petaka buat rakyat
    syukurlah Mbak Tuti tak pernah membeli jabatan
    hehehehe 🙂

  5. Just passing by.Btw, your website have great content!

    _________________________________
    Making Money $150 An Hour

  6. HHmmm …
    Yes indeed …
    Penguasa … belum tentu Pemimpin …

    But …
    Yang kita idamkan tentu …
    Penguasa yang berjiwa pemimpin …

    Salam saya …

    @mikekono : semoga pada Pemilu dan
    Pilpres 2009 nanti, Indonesia bs mendapatkan
    sosok penguasa yg juga pemimpin amanah
    thanks abanganda 🙂

  7. Gitu ya Pak.
    Hehehe… ada teman saya (dari Sydney) dulu pernah bilang begini, “I think it is not general election going here, but election for General.”

    Saya pikir masih ada benarnya sekarang.

    @mikekono : ya ungkapan itu masih relevan
    hingga sekarang….thanks bro 🙂

  8. setuju sama om trainer, tidak semua penguasa bisa jadi pemimpin yang baik…🙂

    @mikekono : ya begitulah faktanya

  9. Mungkin pemimpin dan rakyat kita sama2 harus di-upgrade. Yah, pemimpin yang nggak becus lahir dari rakyat yang nggak becus.

    Kalau kita berkata, “mulai dari diri sendiri” itu udah klise walaupun tentu ada benarnya. Nah, sekarang selain “mulai dari diri sendiri” buka juga tuh otak dan hati nurani dua2nya selebar2nya. Kalau cuma satu aja yang dibuka, sudah pasti sangat belum cukup……..

    @mikekono : biasanya jika rakyatnya tak becus,
    itu merupakan konsekuensi logis dari ketidakbecusan para pemimpinnya

  10. Andaikan ada yah pemimpin yang berjiwa besar , rendah hati jujur, bertanggung jawab dan merakyat, sujud syukur deh…..dan kita akan kecipratan buat meneladaninya, aku rindu pemimpin spt itu

    @mikekono : sama…..saya juga merindukan
    pemimpin seperti itu….thanks sista 🙂

  11. Pemimpin selalu berada di depan dengan penuh tanggungjawab.
    Pemimpin selalui mengenal pasukan dan rakyatnya.
    Pemimpin selalu dapat membuktikan janji dan rencananya.
    Pemimpin selalu bertanya kekurangannya kepada pasukan dan rakyatnya.
    Pemimpin selalu bersama dengan pasukannya kemanapun demi rakyatnya.
    Pejabat? hehehe..sangat banyak dinegeri ini, lihat di mal-mal, lapangan golf, di tempat rekreasi nginap di hotel bintang lima, lalu perhatikan kelakuannya, dan nilai sendiri hehehe…

    @mikekono : exactly…..apa yang dikemukakan
    abanganda sangat pas dan memperkaya postingan ini
    thanks…….horas 🙂

  12. semoga abang nanti menjadi pejabat yang berjiwa kepemimpinan🙂

    @mikekono : amien ya rabbal alamin
    thanks adinda 🙂

  13. Pemimpin penguasa bukan bang?

    @mikekono : kek na iya…….hmmmm

  14. wah saya setuju dengan komen mbak yulism🙂

    @mikekono : saya juga setuju….hehe 🙂

  15. celakanya banyak pemimpin yang berlaku seperti penguasa, tidak sadar bahwa nanti akan dimintai pertanggungjawaban di akherat kelak

    @mikekono : itulah masalahnya, setelah jd
    pejabat, mereka sering lupa, bhw masih
    ada kehidupan di akhirat kelak

  16. eemmm..idem ajah deechh heheh
    sama sapah yaa??
    bentar…
    bentar..

    @mikekono : kok idem aja sih wi3nd
    hehehehe 🙂

    sama nh 18 dech..🙂

  17. Cinta nggak bisa dibeli ya Bang? Soalnya susah nentukan harganya …😀
    Wah … theme-nya ganti ya Bang? Foto Abang nggak nampak lagi dong 😦

    @mikekono : itu sih menurut saya, kl menurut
    Mbak Tuti gimana, bs dibeli ngggak ?
    themenya diganti, supaya bs bersembunyi
    hmmmmm 🙂

  18. Iya bang.. kalo secara genetika individual gak punya jiwa leadership, setinggi apapun jabatannya, dia tidak akan pernah bisa jadi pemimpin, meskipun para leluhurnya seorang kapiten eh pemimpin..🙂

    @mikekono : betul mas, memimpin
    juga membutuhkan talenta dan itikad baik

  19. betul bang…nggak semua penguasa itu pemimpin. terminologi penguasa aja konotasinya kan yang memiliki ya…kl penguasa negara berarti memiliki negara. padahal negara kan punya rakyat.

    @mikekono : itulah masalahnya,
    seringkali saat diberi mandat
    jadi pemimpin, mrk menjelma
    menjadi penguasa

  20. om numpang komen bikin hetrik ya,buat penguasa yang sok aja..salam om

    @mikekono : biasanya Lionel Messi
    suka bikin hetrik…..hehehe

  21. kurang 2

    @mikekono : lanjuttttt…..

  22. goallllllllllllll

    @mikekono : bobol nih 😉

  23. Anda ingin jadi pemimpin atau penguasa mas?

    @mikekono : sy pengen jd blogger aja
    mas 🙂

  24. penguasa …?? kalau gak punya jiwa pemimpin…wah ….bisa gawat.karena kalau sudah bicara kekuasaan tanpa bisa memimpin dengan baik…dia akan sewenang wenang…sak enake dewe..
    Btw…Kren abis blognya….bunda jadi iri nih….

    @mikekono : betul Bunda…..
    untunglah Pak HZ memiliki
    jiwa kepemimpinan yg baik…..

  25. Terlalu banyak pemimpin yang mengumbar janji demi menarik simpatik dan tak jarang mereka pun tidak menepati janji janji tersebut padahal setiap ucapan/janji itu dicatat dan akan dipertanyakan suatu saat nanti oleh-Nya…

    @mikekono : iya begitulah….
    kelihatannya mereka lebih suka
    nanti diberi hukuman olehNya di akhirat

  26. Betul sekali yang Lae sebutkan… Penguasa bukan Pemimpin…. sayang dari apa yang saya lihat dari Spanduk dan iklan atau segala macam kertas yang ditempeli sembarangan tempat… kita sudah bisa menilai Penguasa model apa yang akan “memimpin” Indonesia…
    Salam dari jauh….

    @mikekono : ya, bakal sulit memperoleh
    pemimpin yang betul-betul merakyat dan
    peduli pada nasib rakyat

  27. S7!. Kalo jadi penguasa, kayaknya langit dan bumi ini punya dia. Yang lain numpang.

    Tapi kalo jadi pemimpin, dibuatnya rakyat tidak lapar, tidak sakit, tidak bodoh, dan punya masa depan.

    Kalo itu terwujud, barulah boleh memimpin sambil melawak-lawak, wak! hehehehehe….

    @mikekono : hmmmm, seharusnya begitu masgus,
    sayangnya sultan itu keasikan melawak,
    sehingga lupa mengurus rakyat……

  28. Pemimpin masih bisa “menguasai” orang yang dipimpinnya.
    Penguasa belum tentu bisa “memimpin” orang yang dikuasainya.
    Waduh…mbulet jadinya…
    hehehe

    @mikekono : kl pemimpin repot ngurusin rakyat…
    sedangkan penguasa repot ngurusin harta
    hehehehe

  29. Wah-wah kalau semua orang jadi penguasa, Indonesia ini mau dibawa kemana yach. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang benar-benar bisa memimpin ke arah kemakmuran, kesejahteraan rakyat, bukan yang suka aneh-aneh yach bang ?. Hem, saya kok jadi sedih kalau lihat para penguasa yang sok jadi pemimpin di negeri ini lho bang Mike…(sambil ngelus dada, ngik…ngik…ngik…)

    See you bang Mike 🙂 🙂 🙂
    Best regard,
    Bintang

    @mikekono : karenanya pada Pilpres Juli 2009 nanti, mari sama-sama mencari sosok pemimpin yang benar-benar ingat dan peduli pada rakyat…..
    thanks sista🙂

  30. Wah, cemana kelanjutan kasus tanda tangan itu? Case closed?
    Rupanya Sultan itu cuma bisa melawak ya?
    Ha ha ha….Hancurlah kesultanan itu sampe lima tahun ke depan.
    Mudah2an nggak lah…

    @mikekono : kasus tandatangan itu kelihatannya
    diselesaikan lewat pendekatan politis alias
    jalan damai…….
    btw, kl Sultannya melawak terus,
    pastilah kesultanan itu akan hancur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: