Agama Yes, Politisasi Agama No


umraojaan3pMajelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat meminta partai politik menghentikan kampanye dengan mempolitisasi agama untuk meraih suara pada pemilu legislatif, pilpres maupun pilkada.

Seruan MUI ini untuk merespons munculnya iklan kampanye pada harian lokal di Indramayu yang mengaitkan agama dengan kegiatan partai politik.

Pada iklan tersebut tertulis,”Pilih pimpinan Golkar yang terbaik. Sebab kalau tidak kita akan termasuk golongan orang yang mengkhianati Allah, Rasul, dan kaum muslimin. Hal ini demi terwujudnya Indramayu yang religius”. Iklan ini ditandatangani Ketua Umum Partai Golkar M Jusuf Kalla dan Bupati Indramayu Indrianto MS Syafiudin.

Seruan MUI kali ini terasa berbeda dengan berbagai fatwa MUI sebelumnya yang terkesan kontroversial, seperti fatwa haram golput, haram rokok, dan berbagai fatwa lainnya.

Apa yang diingatkan MUI itu sangat beralasan. Bahwa agama memang tidak sepatutnya dipolitisasi dan dimanfaatkan untuk meraih tujuan-tujuan berbau politis-duniawi (jabatan, kekuasaan dan keanggotaan di parlemen).

Agama yes, politisasi agama no. Politisi memang sudah seharusnya beragama dan atau akan lebih baik bila dalam kiprahnya sebagai politisi, mampu mengimplementasikan ajaran agamanya dengan baik.

Tetapi tidak sepatutnya, lambang, institusi agama, tempat beribadah pun kemudian dimanfaatkan pula sebagai sarana berkampanye. Masih banyak tempat lain, caleg tak selayaknya kampanye di masjid, gereja, kuil, vihara, dan sarana ibadah lainnya.

Politisi beragama (mampu menjalankan ajaran agamanya dengan baik), memang dambaan kita. Tetapi, tidak sepantasnya politisi mengklaim partainya lebih beragama dan bermoral, dibanding politisi partai lain.
Semua parpol pada intinya sama saja. Sebab, semuanya berorientasi pada kekuasaan. Barangkali yang membedakannya, cuma cara dalam meraih tujuan.

Nah, dalam kaitan dengan cara meraih tujuan itu pula, kita berharap para politisi di negeri ini tak lagi mengklaim lebih beragama, karena kebetulan berasal dari parpol berasaskan agama, sembari mendiskreditkan parpol lain kurang berkualitas keberagamaannya.

Kualitas dan tingkat pengamalan ajaran agama, tidaklah ditentukan klaim dan simbol-simbol agama yang melekat di ‘baju’, melainkan lebih ditentukan oleh komitmen nyata dan kepedulian pada sesama.

Agama terasa meng-ada, jika seseorang tampil dalam sosoknya nan tulus, dan selalu ikhlas berbuat baik pada sesama. Bukan berbuat baik mengatasnamakan agama demi kepentingan menjelang Pemilu saja. Agama yes, politisasi agama no….!

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 18 Februari 2009, in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 32 Komentar.

  1. Yup Bang
    Agama harusnya bisa mendasari semua budaya dan apapun kegiatan kita
    Dengan begitu apa yg tidak patut akan mudah tersaring dan insyaallah melakukan apapun hanya karena Allah swt bukan karena hal2 lain

    @mikekono : setuju adinda, agama harus dijadikan
    sbg sumber acuan dalam setiap hal apapun yang hendak kita lakukan

  2. Numpang beken lewat agama…
    woalaaaaaaah…citra diri mau ditaro dimana bapak…..bapak?
    Yang pernah campaigne lewat agamapun malah menyarankan jadi Golput….aaaarrrrrghh!! Kebangetannnnnn!

    @mikekono : hehehe……agama tak sepatutnya ditunggangi, agama seharusnya diyakini dan diamalkan dgn sepenuh hati, thanks Pakde

  3. Kedua…
    Jika agama punya peran korektif pada praktik politik atau agama memiliki kekuatan moral politik, bukankah itu sumbangan agama terhadap praktik dan perilaku politik? Politik tentu saja didasarkan pada nilai dan kepercayaan. Seberapa besar nilai dan kepercayaan ini berperan dalam politik, sangat ditentukan oleh pemegang kekuasaan politik. Sebab politik bagaimanapun adalah sebuah ruang dengan berbagai kemungkinan….

    @mikekono : ya mestinya agama bisa menjadi semacam rem serta
    menginspirasi para politisi agar lebih mengedepankan etika dan moralitas dlm berpolitik

  4. “Barangkali yang membedakannya, cuma cara dalam meraih tujuan …”

    Setuju bang …

    Dan terus terang … hal ini lah yang selalu saya cermati jika sedang mendengarkan atau membaca media massa …

    Mana yang “main” nya elegan …
    Mana yang norak …
    Mana yang kasar …
    Mana yang cantik …
    Mana yang cerdik – licik …
    Mana yang cerdik – cerdas …

    Salam saya bro

    @mikekono : ya, tergantung caranya
    semoga kita tak menghalalkan segala cara
    dlm meraih tujuan…..
    thanks bro

  5. Lihat komentar pak De Van de Kray diatas …

    Hah … cerdas juga sobat kita yang satu itu Bro …

    Hai Pak De ?
    Peace … !!!

    @mikekono : iya tuh…..
    Pak De van De Kray memang
    cerdas dan cerdik……..thanks🙂

  6. Agama memang seharusnya bersikap netral ya bang, karena agama adalah peneduh…dan peneduh harusnya terbuka untuk semua pihak. Tidak tersegmentasi..dan tidak mewakili satu golongan.

    Hai Bang, udah makan siang belum ?:)

    @mikekono : bukan cuma agama saja,
    Yessy juga harus netral…..hehehehe🙂

  7. hah..bang? kok masuk moderasiiiiiiiiiii??

    abang gak sayang lagiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!?!?

    @mikekono : kemarin ada penyusupan komen2
    tak bertanggungjawab, jd dimoderasi
    sementara saja….

  8. @ NH18 (KHUSUS UNTUK JURAGAN)
    Oooooommmmmm mampir ke Tungkal yo…..banyak barang seken om…hi hi hi….Darul, Faisal, Ukky…kita ajak serta dan urusan belanja ajak juga bu Nurul di bagian Finance…..woalaaaaaaaaaaaaaaaaah….(bongkar aja bongkar hua hua hua hua)

    Hi Om NH18.
    maafin guwedotcom yaaaaaa….(bersiul ah)
    Samakan dulu suarane…mariiiiiiiii
    Do re mi fa sol la si dooooooooo. Maen di nada Z ya…..satu…dua tiga….Zzzzz….zzzzz…..zzzzzz hua hua hua

    @mikekono : Pakde dan OM NH 18
    kelihatannya seleranya sama ya…..
    kalau lagi mejeng….ajakin kita dong
    hehehehe 🙂

  9. @Yessi
    Abang mau cerai sama Yessi katanya? kemaren sih bisikannya gicu….hua hua hua….
    Ampun bang..pakde kabur mode on hua hua hua

    @mikekono : cerai sama yessy?
    nikahnya kapan tuh……? hehehehe

  10. iyah sih……
    disini juga walau kampanye dah dilarang dilakukan disaat acara keagaamaan tpi cara mereka juga tak kalah liciknya….
    mkin itulah para caleg harus dipertanyakan agamanya….

    @mikekono : jangan-jangan calegnya
    terlihat beragama, pas saat kampanye saja
    huahahahaha

  11. Ass.

    “Agama terasa meng-ada, jika seseorang tampil dalam sosoknya nan tulus, dan selalu ikhlas berbuat baik pada sesama. Bukan berbuat baik mengatasnamakan agama demi kepentingan menjelang Pemilu saja”

    Yes ungkapan di atas, komoditasisasi agama no.

    @mikekono : ya begitulah, agama sebaiknya
    tak dicemari……

  12. se7 bang🙂

    @mikekono : hmmmmmmm

  13. Saya ndak tahu ada iklan itu.:mrgreen:

    Iya, Pak, saya setuju!
    *Walau saya ini tdk begitu peduli dg dunia politik.

    @mikekono : tak peduli politik ?,
    tapi perlu juga tau politik…thanks

  14. Iya, sekarang banyak partai yang bawa-bawa bendera agama, seolah ingin berlindung dari kesucian lambang agama yang dibawa… dari agama manapun dia berasal. Saya sebetulnya lelah sendiri melihat banyak partai yang mengatas namakan agama demi kepentingan politik semata… padahal kelakuan mah teteuppp… maen kotor, hehehee…

    Abang baca gak tentang caleg dari salah satu partai, (aku gak usah sebutin nama partainya yahhh)… yang ketangkap basah NYOLONG MOTOR…

    NYOLONG MOTOR???… what the Hell…🙂

    @pakdhe:

    Baru kali ini saya liat komen pakdhe yang bercanda kek diatas, hahaha… atau saya yang kurang gaul yah, soalnya tiap baca komen-nya disini atau di tempat om NH, selalu serius kayaknya, hehehe…

    btw, salam kenal pakdhe, salam hormat saya, kapan2 saya mampir yah… semoga orang konyol juga diterima disana🙂

    @mikekono : iya nih….tak sepantasnya
    agama ditunggangi untuk kepentingan
    politik…..caleg nyolong….?
    waddduuuuh

  15. DIMODERASI????… ohhh nooo… ada apa kah ini???

    Eh, apa karena link saya yang tadi salah???…

    ihh, jahat yahhh… pulang kampung ahhh…😛

    @mikekono : hehehe itu cuma
    kebetulan dan insidentil saja…hehehe

  16. loh, photo saya yah itu kang? saya bukan politisi jangan dipajang disini ah !!

    @mikekono : iya….itu fotonya Rindu
    waktu masih di Bollywood dulu…hehe

  17. Saya yakin semua hal yang dilandasi dengan agama adalah baik. Akan tetapi menarik simpati dengan mengatas namakan agama sepertinya terlalu dangkal. Disamping itu Indonesia bukan negara yang berazaskan agama tetapi Pancasila. Thanks

    @mikekono : betul, agama tak sepatutnya dijadikan tameng untuk meraih kepentingan-kepentingan sesaat yg tak berorientasi duniawi….

  18. bener pak, saya juga mendukung artikel bapak ini, karena agama adalah untuk kesejahteraan manusia, ajaran agama itu semuanya baik, dan seharusnya tidak dipolitiksasi.
    salam kenal, dari saya.

    @mikekono : thanks….salam kenal juga mas yatno

  19. @Silly…
    Tahu tuh si Pakde serius mulu bawaannya….
    Saya open mind Silly…siapapun boleh masuk….
    To Silly Peace Yooooooooo Mannnnnnnn (eh Peace yo jenk)
    wakakakkkk.

    @mikekono : hehehehe…..jadi ajang curhat nih
    hmmmmm 🙂

  20. jangan gunakan agama sebagai tameng politik
    duh…

    @mikekono : ya….begitulah

  21. Masing-masing memiliki frame.
    berjalanlah dikoridornya ajah dan jangan sampai tercampur meskipun dijadikan dalam satu frame.
    salam

    @mikekono : setuju mas….harus berjalan
    sesuai koridor masing-masing…..thanks

  22. kalau fatwa yang seperti ini, saya sepakat banget, mas agus. kalau dipikir-pikir, makin banyak yang keblinger tuh iklan2 politik. makin banyak yang mengaitkannya ke dalam ranah agama.

    @mikekono : selain itu banyk juga di antara mereka
    kelihatan beragama saat kampanye saja, setelah
    tujuan tercapai, mereka tak lagi peduli pd agama

  23. mana yang lebih baik?
    agama yang di-politik-isasi? atau politik yang di-agama-isasi?😀

    yang benar adalah jalani hidup ini dengan berlandaskan Agama.. bukan berlandaskan politik, cinta, atau lainnya..😉

    @mikekono : ya, bagusnya politik yang
    selalu berada dalam koridor agama,
    yang mewujud dalam etika politik

  24. Sempat tertegun saat membaca ternyata ditandatangani oleh “Ketua Umum” GK!!!….ini fantastik!, pasti tu iklan ditandatangani dulu baru dilengkapi Slogan yang berbunyi demikian!.. (ini kalau kita mau berbaik sangka)
    .. ….”Pilih pimpinan Golkar yang terbaik. Sebab kalau tidak kita akan termasuk golongan orang yang “mengkhianati Allah, Rasul, dan kaum muslimin”??. Hal ini demi terwujudnya Indramayu yang religius” ????…Ini terkesan “maksa” hehe…
    ” Yeaa…Bermacam-macam cara yang dilakukan, akupun tak merasa heran, kalau…… jadi rebutan..😀
    Politikus agamis, yeess, agama di-politisasi? nggak….

    @mikekono : iya juga kaleee, tandatangan dulu
    baru dibuat teks iklannya. Apapun dalihnya,
    sebaiknya agama jangan dimanfaatkan untuk
    kepentingan politik

  25. bang, no comment
    saya berkunjung mo liat abang aja😉

    @mikekono : hihihihi…..
    cam betul aja 😦

  26. Bang, sebelumnya tolong dikoreksi ya kalau saya salah. Saya pernah mendengar dan membaca hadis yang intinya berbunyi “Jangan pilih pemimpin yang minta dipilih”. Menurut Bang Mike, bagaimana kalau hadis ini diterapkan di dunia politik yang orientasinya adalah kekuasaan?

    Di Fakultas saya, budaya seperti ini sudah lama berlaku. Setiap ada pemilihan Dekan, Ketua Jurusan, dan jabatan apa pun, orang yang sibuk minta dukungan kanan kiri, pasti malah nggak pada dipilih. Yang terpilih justru orang yang rendah hati, tidak berambisi, dan teman-teman (dewan dosen) sudah tahu kualitas kepribadiannya. Tapi untuk pemilihan Rektor sih memang harus mencalonkan diri, menyampaikan visi-misi, program kerja, dll.

    Nah, untuk pemilihan jabatan-jabatan politik, memang susah ya kalau orang tidak mencalonkan diri dan minta dipilih. Yo wis lah … untuk jabatan politik, hadis tersebut nggak usah dipakai (lho???)

    @mikekono : saya kira hadits itu sudah pas,
    bahwa pemimpin sebaiknya figur yang
    tidak ambisius. Tetapi dipilih berdasarkan penunjukan langsung oleh rakyat karena sosoknya dianggap kredibel, jujur, adil, amanah, dan terpercaya.
    Sayangnya, saat ini sudah semakin sukar
    menemukan tokoh yang tak ambisius dan
    layak dipercaya untuk jadi pemimpin …
    Kalau Mbak Tuti sih, saya yakin bukan
    orang yang ambisius, jadi layaklah dipercaya
    menjadi Dekan atau Rektor…..hmmmmm 🙂

  27. Yang dimaksud maksa disini adalah semata hanya tertuju pada “kalimat seruannya”, bukan lainnya….:D

    @mikekono : iya betul itu……thanks my sista 🙂

  28. Wah jaman sekarang demi kedudukan apapun dijadikan alat untuk meraihnya, termasuk agama. Nah….para pemilih yang harus cerdas dalam menyikapi trend sejenis ini…..let’s be a smart voter🙂

    @mikekono : berpolitik dengan menghalalkan segala
    cara itu, harus kita lawan dan perangi

  29. salam kenal bos
    wah politisasi bisa berbahan baku apa saja……….
    menurutku semua bisa dilakukan
    atas nama……….(sesuatu) itu mudah banget

    thanks bos

    @mikekono : betul, politisasi bisa
    atas nama agama, etnis, kelompok,
    dan lainnya…….thanks

  30. setujuuu..jan9an mempolitisir masalah a9ama untuk hal2 yan9 demikian..

    jan9an dijadikan tamen9lah..sebab ne9ara kita bukan ne9ara teolo9i..

    @mikekono : wahhh….wi3nd makin bijak dan
    cerdas aja ya……..saluuut 🙂

  31. Numpang ngomentari ya mas..

    Saya setuju karena menurut saya.. memang sebaiknya agama tidak dijadikan alat… terlalu hina… Tetapi juga tidak tepat jika orang meletakkan agama tidak dalam prioritas utamanya… terlebih jika di”simpan sementara ” untuk mencapai tujuan politik..

    Yang seimbang sajalah… tetap beragama dengan baik.. tetap berpolitik dengan baik.. saling menghargai.. (jangan melecehkan sartu sama lain).. saling tepa slira.. dan tidak saling mengganggu…

  32. he..he…emang bisa tahu bahwa….seluruh anggota partai itu bisa dipercaya…??/ jangankan partai yang nasionalis , yang berbasic agama saja…belum tentu….OO…alaah…kalau musim kampanye kok apa2 jadi komoditi politik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: