Monthly Archives: Februari 2009

Penguasa bukan Pemimpin !


Anda, sampeyan, beliau, boleh-boleh saja punya kekuasaan atau jabatan mentereng (Gubernur, Bupati, Walikota) serta menjadi ketua di sana-sini serta donatur di mana-mana.

Tetapi dengan jabatan segudang itu apakah Anda, otomatis layak disebut sebagai pemimpin ? Ooops…..tunggu dulu. Jabatan/ kekuasaan ternyata tidak serta merta membuat seseorang mengejawantah menjadi pemimpin.

Sebagai contoh, di kerajaan Sijujung Koden berbatasan dengan kerajaan Arkemomisen, terdapat seorang pejabat terpandang (Sultan) yang kerjanya kebanyakan melawak melulu.

Dan memang sang Sultan ini dikenal piawai mengocok perut dengan lontaran-lontaran joke-nya nan selalu memikat. Tak mengherankan, jika sang Sultan berpidato, pendengar selalu terpingkal-pingkal menyimak banyolannya.

Tetapi setelah itu, what next. Ya, itulah masalahnya…..setelah menikmati berbagai kelucuan itu, rakyat yang bermukim di kerajaan Sijujungkoden pun kuciwa, sebab tak kunjung melihat karya nyata sang Sultan buat rakyatnya.

Alhasil janji-janji kampanye Sultan dulu, belum terlihat ada tanda-tanda bakal terealisir. Bahkan rakyat di kerajaan sijujungkoden, semakin dibuat bingung, karena sang Sultan kini lebih dijejali berita-berita soal tandatangan kontroversialnya dalam sebuah surat persetujuan, yang konon dibubuhkan tak sesuai prosedur.

Cilakanya ketika tandatangan ini disorot, para hulu balang pula dijadikan sebagai sasaran ‘kambing hitam’ dengan dalih human error dan sejenisnya.

Menjadi pejabat/ penguasa bisa jadi karena sudah suratan tangan serta bisa pula karena berbagai upaya dan rekayasa. Jadi pejabat juga dimungkinkan karena pangkat dan golongan sudah memenuhi syarat.

Sebaliknya menjadi penguasa sekaligus pemimpin, ternyata tidak semudah membalik telapak tangan. Mewujud menjadi pemimpin yang baik, tidak cukup berbekal keberuntungan dan kepangkatan saja.

Kendati begitu seorang pejabat/ penguasa juga bisa sekaligus menjadi pemimpin yang baik apabila memiliki kemauan dan kesadaran untuk mereformasi diri, dengan cara tidak lagi menjadikan kepentingan (pribadi/ kelompok) di atas segalanya.

Pejabat akan dikenang sebagai pemimpin yang berhasil, jika dalam pola kemimpinannya tidak cuma piawai berpidato dan melucu, melainkan juga dibekali kemampuan memberi solusi, memperlihatkan keteladanan serta melahirkan berbagai kebijakan yang menguntungkan rakyat.

Pejabat akan berhenti sebatas pejabat, dan tidak akan pernah dikenang sebagai pemimpin, bila jabatan yang disandangnya dijadikan sebagai sarana untuk memenuhi syahwat, memperkaya diri serta mengakomodir kepentingan pribadi dan kelompoknya saja.

Iklan

Tabloid Hiburan Makin Sopan !


Hans Miller Banureah, Pemred XO

Hans Miller Banureah, Pemred XO

xo-covers411Tabloid hiburan kini sangat jauh berbeda dibanding era 80 hingga 90-an. Sejak beberapa tahun terakhir ini, tabloid hiburan terlihat semakin sopan dan mulai meninggalkan bupati (buka paha tinggi-tinggi) dan sekwilda (sekitar wilayah dada)

Doeloe kalau tengah membaca tabloid, misalnya Monitor (pelopor jurnalisme lher) serta tabloid lain yang suka mengumbar sensualitas wanita, waddduh….bisa keringatan dan panas dingin.

Selain Monitor beberapa penerbitan lain kemudian coba mengikuti jejak sukses tabloid yang dikomandoi Arswendo Atmowiloto itu. Sehingga muncullah tabloid Lipstik, Dugem, Boss, Kisah Nyata, dll plus sejumlah majalah hot semisal Popular, Oke dan Playboy Indonesia.

Tetapi belakangan ini, tabloid hiburan kini lebih didominasi tabloid berkualitas dengan liputan investigatif, informatif, edukatif, inspiratif, komunikatif dan sesekali ngegosip.

Salah satu tabloid hiburan yang menarik perhatian saya sejak setahun terakhir ini adalah tabloid XO (eXtreme shOt). Setelah beberapa lama mencermati, saya merasa tabloid ini cukup layak dijadikan sebagai rujukan tabloid hiburan terlengkap.

Mengapa saya sampai tertarik menjadi pembaca setia tabloid XO ini ? Tentu saja alasannya sangat jauh dari pertimbangan subjektif. Tabloid yang masih berusia relatif muda ini memang benar-benar layak dibaca, karena dikemas dengan gaya bertutur nan lugas, cerdas, menarik, dan obyektif. Karenanya, jika ingin mengetahui mengetahui informasi hiburan dan gosip selebriti terkini, bergegaslah membaca tabloid XO. Dijamin, tidak akan kecewa….!

Beberapa rubrik tabloid XO yang menarik dibaca antara lain : Berita Sampul, yang mengupas tuntas gosip terkini seputar selebriti yang menjadi cover story. Edisi terakhir misalnya mengulas soal Andy Soraya yang masih berseteru dengan Catherine Wilson gara-gara duren (duda keren) Tommy Soeharto.

Rubrik lain seperti Film, TV, Musik, Klip, Horoskop, Cerber, Cermin, Acara Hiburan Sepekan, Refleksi, Gaya Hidup, Kabar Idola, Serba-Serbi, Inspirasi, Aktual, semuanya dikemas dalam sajian gaya bahasa yang menarik dibaca.

Bagi saya secara pribadi, rubrik Refleksi, Cermin, serta Jendela di halaman 3, yang selalu menyajikan semacam pengantar redaksi ditulis langsung sang Pemimpin Redaksi Hans Miller Banureah (mantan Pemred Tabloid Citra), juga sayang dilewatkan alias perlu dibaca untuk mengetahui perkembangan terkini jagad hiburan serta masalah-masalah aktual lainnya.

Semoga tabloid hiburan yang semakin sopan dan cerdas itu, tetap eksis serta semakin mampu menjalankan fungsinya sebagai media pendidikan bagi masyarakat. Performance yang sopan itu hendaknya muncul dari kesadaran sendiri, alias tak sebatas antisipasi lahirnya UU Pornografi.

Media yang bertanggung jawab memang sudah seharusnya ikut berperan dalam meningkatkan kualitas intelektual serta pencerahan moralitas generasi muda bangsa, seperti dilakoni tabloid XO selama ini.

Ambooooi….Senyummu itu Hillary


hilllary-clSenyum Hillary, yang tak pernah pudar selama kunjungannya ke Jakarta, tak ayal telah menghipnotis setiap orang yang sempat bertemu dengannya. Saya dan banyak orang yang cuma bisa menyaksikan lewat media elektronik juga ikut terpesona.

Ambooi……senyummu itu Hillary….. 🙂 sungguh menggetarkan. Dan istri salah seorang Presiden AS paling sukses (Bill Clinton) itu, bukan cuma bermodal senyuman saja.

Ibunda Chelsea ini juga dianugerahi talenta sebagai seorang politisi perempuan ulung nan cerdas, penuh perhitungan, berkepribadian terpuji dan teruji dalam menghadapi berbagai tantangan.

Tantangan paling berat yang pernah dihadapi mantan senator New York ini adalah saat suaminya Bill terlibat affair dengan Monica Lewinsky. Hillary tegar menghadapinya dan tak gampang mengumbar kata cerai seperti kebiasaan selebriti kita.

Tantangan berat lainnya saat dia mengalami kekalahan dari Obama pada konvensi Partai Demokrat. Hillary tegar dan tabah menerima kekalahan menyakitkan itu, bahkan berbalik memberikan dukungan sepenuhnya kepada capres pilihan partainya itu.

Dalam konteks ini lagi-lagi Hillary memberikan ‘jeweran’ dan pelajaran berharga bagi politisi negeri ini. Soalnya politisi kita, hanya karena nomor urut calegnya saja tak cocok, sudah ngambek dan seenaknya saja pindah partai. Bahkan ada pula politisi kita ganti partai setiap Pemilu.

Sungguh banyak pelajaran berharga yang telah diberikan Hillary kepada politisi dan para pemimpin kita. Bahwa seorang pemimpin, harus senantiasa ramah dan menebar senyum yang tulus kepada siapa saja, tanpa pandang status dan jabatan. Jangan senyum saat jelang Pemilu atau Pilkada saja.

Ahhhhhh……..senyummu itu Hillary. Seandainya saja dirimu jadi capres Indonesia pada Pilpres 2009 nanti, saya yakin Mbak Hillary akan mampu mengalahkan Mbak Mega dan Pak SBY….! Ini sekadar berandai-andai……hehehe 😆

foto dari sini

Agama Yes, Politisasi Agama No


umraojaan3pMajelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat meminta partai politik menghentikan kampanye dengan mempolitisasi agama untuk meraih suara pada pemilu legislatif, pilpres maupun pilkada.

Seruan MUI ini untuk merespons munculnya iklan kampanye pada harian lokal di Indramayu yang mengaitkan agama dengan kegiatan partai politik.

Pada iklan tersebut tertulis,”Pilih pimpinan Golkar yang terbaik. Sebab kalau tidak kita akan termasuk golongan orang yang mengkhianati Allah, Rasul, dan kaum muslimin. Hal ini demi terwujudnya Indramayu yang religius”. Iklan ini ditandatangani Ketua Umum Partai Golkar M Jusuf Kalla dan Bupati Indramayu Indrianto MS Syafiudin.

Seruan MUI kali ini terasa berbeda dengan berbagai fatwa MUI sebelumnya yang terkesan kontroversial, seperti fatwa haram golput, haram rokok, dan berbagai fatwa lainnya.

Apa yang diingatkan MUI itu sangat beralasan. Bahwa agama memang tidak sepatutnya dipolitisasi dan dimanfaatkan untuk meraih tujuan-tujuan berbau politis-duniawi (jabatan, kekuasaan dan keanggotaan di parlemen).

Agama yes, politisasi agama no. Politisi memang sudah seharusnya beragama dan atau akan lebih baik bila dalam kiprahnya sebagai politisi, mampu mengimplementasikan ajaran agamanya dengan baik.

Tetapi tidak sepatutnya, lambang, institusi agama, tempat beribadah pun kemudian dimanfaatkan pula sebagai sarana berkampanye. Masih banyak tempat lain, caleg tak selayaknya kampanye di masjid, gereja, kuil, vihara, dan sarana ibadah lainnya.

Politisi beragama (mampu menjalankan ajaran agamanya dengan baik), memang dambaan kita. Tetapi, tidak sepantasnya politisi mengklaim partainya lebih beragama dan bermoral, dibanding politisi partai lain.
Semua parpol pada intinya sama saja. Sebab, semuanya berorientasi pada kekuasaan. Barangkali yang membedakannya, cuma cara dalam meraih tujuan.

Nah, dalam kaitan dengan cara meraih tujuan itu pula, kita berharap para politisi di negeri ini tak lagi mengklaim lebih beragama, karena kebetulan berasal dari parpol berasaskan agama, sembari mendiskreditkan parpol lain kurang berkualitas keberagamaannya.

Kualitas dan tingkat pengamalan ajaran agama, tidaklah ditentukan klaim dan simbol-simbol agama yang melekat di ‘baju’, melainkan lebih ditentukan oleh komitmen nyata dan kepedulian pada sesama.

Agama terasa meng-ada, jika seseorang tampil dalam sosoknya nan tulus, dan selalu ikhlas berbuat baik pada sesama. Bukan berbuat baik mengatasnamakan agama demi kepentingan menjelang Pemilu saja. Agama yes, politisasi agama no….!

Parpol Gurem pun Terancam


Hasil survei, Soetrisno Bachir dan Wiranto (Hanura), tak termasuk parpol gurem

Hasil survei, Soetrisno Bachir (PAN) dan Wiranto (Hanura), tak termasuk parpol gurem

Palu godam Mahkamah Konstitusi (MK) telah diketok. MK dengan tegas nenolak gugatan 11 parpol terhadap pemberlakuan sistem ambang batas parpol di parlemen (parliamentary treshold-PT) 2,5 persen.

Ketegasan sikap MK ini patut dipuji. Sebab, harus diakui jumlah parpol peserta Pemilu di negara kita sekarang (38 parpol), sudah over capacity. Untuk mewujudkan demokrasi yang sehat dan berkualitas, jumlah parpol peserta Pemilu, idealnya lima hingga tujuh partai saja.

Jumlah parpol sekarang, sudah terlalu banyak, sehingga kita tidak lagi bisa membedakan mana politisi dan mana pula yang sekadar ikut-ikutan berpolitik.Hal ini disebabkan pimpinan parpol mengalami kesulitan mencari orang yang mau dijadikan pengurus dan calon anggota legislatif. Alhasil saat ini saat banyak pengurus parpol dan caleg sama sekali tak paham soal tetek bengek politik.

Ketegasan sikap MK menolak gugatan perihal ketentuan parliamentary treshold itu sudah pasti merupakan tamparan keras bagi parpol parpol gurem.Kendati harus diakui, kualifikasi parpol gurem masih bersifat debatable. Tetapi, mengacu pada hasil kesimpulan berbagai lembaga survei selama ini, 10 besar parpol selalu berkisar di antara parpol berikut, di antaranya : Golkar, PDIP, Demokrat, PAN, PKS, PKB, PPP, Gerindra, Hanura, dan PBR.

Lalu, apakah parpol di luar 10 besar itu, bisa disebut sebagai parpol gurem. Bisa jadi demikian. Atau setidaknya parpol-parpol di luar 10 besar mengacu pada hasil survei di atas, posisinya sangat terancam.

Jika tidak mampu mendulang perolehan 2,5 persen suara pada Pemilu legislatif nanti, parpol-parpol tersebut tidak berhak mendudukkan anggotanya di parlemen. Dengan keluarnya keputusan MK itu, sejatinya bukan cuma parpol gurem saja yang terancam.

Para caleg parpol gurem yang sudah mengeluarkan dana ratusan juta hingga miliaran pun ikutan terancam. Sebab kendati mereka berhasil meraih suara terbanyak dan secara matematis memperoleh kursi DPR-RI. Semua akan percuma belaka, kalau parpol yang mengusungnya tak mampu meraih 2,5 persen suara pemilih pada Pemilu April 2009 nanti.

Sekarang, elite parpol gurem itu mungkin masih bisa tertawa dan selalu bersikap optimis. Usai pemilu, mereka akan ramai-ramai menangis dan menyesali diri, karena latah mendirikan partai……!


‘Lima Tangan’, Kiat Sukses Caleg


agus-mengepal-tinju

Ini dia salah satu caleg, yang terancam bangkrut

Seorang caleg jika ingin sukses ternyata tak cukup berbekal dua tangan. Diperlukan tangan-tangan lain agar peluang sukses semakin terbuka lebar. Setidaknya kiat sukses menjadi caleg sangat tergantung pada ‘Lima Tangan’.

‘Lima Tangan’ dimaksud adalah 1.Turun Tangan, 2. Buah Tangan, 3. Kaki Tangan, 4. Retak Tangan serta 5. Tanda Tangan. Tanpa kelima tangan ini, seorang caleg dipastikan akan sulit bersaing dengan caleg lainnya.

Caleg yang ingin dikenal rakyat, memang mesti turun tangan langsung bertemu rakyat. Rakyat saat ini sudah semakin cerdas dan tidak bisa lagi dibodoh-bodohi. Mereka tak lagi gampang terjebak pada praktik beli kucing dalam karung.

Karena sudah semakin pintar, caleg yang hendak bertemu rakyat, juga tak bisa Turun Tangan dengan Tangan Kosong. Sebelumnya kudu dipersiapkan pula Buah Tangan. Buah Tangan bisa berupa cenderatama, tapi lebih diharapkan lagi kalau tersimpan rapi di dalam amplop. Hmmmm…

Nah, agar sosialisasi dengan calon pemilih berjalan dengan rapi dan tertib, sudah barang tentu diperlukan keberadaan Kaki Tangan (semacam TS). Mereka ini pula yang bertugas menyebarluaskan kartu nama, kalender, memasang spanduk dan baliho.

Tentu dalam memilih Kaki Tangan ini, caleg mesti hati-hati. Sebab tak jarang Kaki Tangan (para TS) ini bekerja kurang tulus alias cuma mengharapkan kucuran dana dari sang caleg. Soalnya, saban komunikasi dengan Kaki Tangan, ujung-ujungnya fulus melulu……hihihi

So, tak mengherankan pula jika para caleg kini ramai-ramai diserang si Jamila (Jatuh miskin lagi). Sebab sudah kepalang basah dan kuatnya godaan menjadi anggota legislatif, hingga semuanya pun rela dilego.

Kalau lolos menjadi anggota dewan, alhamdulillah. Jika tidak, siap-siaplah bangkrut dan dikejar-kejar penagih utang. Duhhhh…….(kacian). Mikekono, yang nekad nyaleg juga ikut terancam (bangkrut)…….tolooooong.

Patut pula disadari, sehebat apapun perjuangan yang telah dilakukan dengan cara Turun Tangan membawa Buah Tangan serta dibantu para Kaki Tangan, semuanya akan menjadi percuma belaka, jika tidak ada Suratan Tangan.

Karenanya seorang caleg, juga dituntut agar senantiasa berada di jalan yang benar. Banyak-banyak berdoa, sering shalat tahajjud, serta selalu menghindarkan diri dari godaan rumput muda tetangga serta para ABG dan janda.

Jika hal ini sudah bisa dilakukan plus didukung oleh dewi fortuna (suratan tangan), selanjutnya para caleg tinggal menunggu Tanda Tangan di KPU. Puncaknya akan menerima Tepuk Tangan saat dilantik di gedung dewan….horeeee.

SBY Melesat, Mega Telat ?


megawati_soekarnoputri174-0Suka atau tidak suka, harus diakui pamor SBY kini makin melesat jauh meninggalkan para pesaingnya. Agaknya itulah salah satu keuntungannya sebagai capres incumbent.

Berbagai manuver dan kebijakan SBY belakangan ini terlihat jelas telah mendorong pencitraan yang dibangun (image building) terlihat wajar dan memberi kesan positif bagi rakyat.

Sebagai contoh,  SBY langsung memerintahkan Kapolri mengusut tuntas  tragedi 3 Februari di DPRD Sumut yang menewaskan Ketua Dewan Abdul Aziz Angkat. Reaksi cepat SBY ini dengan sendirinya berimbas pada cepatnya aparat membekuk para pelaku demo anarkis itu.

Kalau sampai SBY lambat bereaksi atau sama sekali tak berkomentar apa-apa, dapat dipastikan hal itu akan mengundang tanya, khususnya dari kompatriotnya Partai Golkar. Pasalnya, yang menjadi korban dalam tragedi itu adalah salah satu kader terbaik Golkar Sumatera Utara.

Bisa jadi setelah Tragedi 3 Februari itu mencuat menjadi keprihatinan nasional dan SBY berkali-kali menekankan soal perlunya penegakan hukum atas peristiwa itu, hubungan Partai Demokrat dan Golkar kini mulai mencair dan sudah melupakan soal iklan BBM yang kontroversial itu.

Nah, dalam konteks demikian, kita justru heran melihat Mbak Mega, yang sepertinya kurang memperlihatkan perhatian terhadap kasus yang terjadi di DPRD Sumut tersebut.

Tak terlalu keliru jika disimpulkan, Mega terkesan telat dan sudah mulai semakin jauh ditinggalkan SBY dari segi kepiawaian mengemas dan memanfaatkan isu nasional.

Jika ingin mengimbangi popularitas SBY, mestinya Mega harus selalu siap menyikapi berbagai isu nasional dengan melontarkan pikiran-pikiran jernih, responsif, cerdas dan konstruktif.

Lihatlah gerak manuver SBY, kini semakin cantik dan ciamik. Tawaran gelar DR (HC) ITB yang memicu kontroversi misalnya kemudian ditolaknya. Lalu, besan Aulia Pohan ini juga rajin menyambangi berbagai perayaan dari Imlek hingga Cap Go Meh. Ini sudah pasti membuat komunitas Tionghoa menyenanginya.

Sekali lagi harus diakui, itulah keuntungan (politis) SBY sebagai bakal capres incumbent. Tapi, apapun ceritanya, jika ingin mengimbangi laju SBY….,jangan sampai SBY dibiarkan melesat, dan Mega pun telat !

Demikian halnya capres lain :  Sultan HB X, Prabowo, Wiranto, Rizal Ramli, Amien Rais, Jusuf Kalla, Sutiyoso, Hidayat Nurwahid,  dll, harus lebih bekerja ekstra keras memacu dan memicu diri agar bisa ‘mengejar’ laju SBY yang terus melesat itu !

sumber foto dari sini

Sumatera Utara Berduka, Mikekono Menangis


2_februari_ketua_dprd_1c

Sumatera Utara berduka dan Mikekono pun ikut menangis. Meninggalnya Ketua DPRD Sumut Drs H Abdul Aziz Angkat MSP akibat aksi anarkis massa pendukung pemekaran Provinsi Tapanuli (Protap), Selasa (3/2) kemarin di gedung dewan, sungguh mengejutkan dan menyesakkan dada.

Mengapa Mikekono ikutan menangis ? Kesedihan yang menggelayuti hatiku, bukan saja karena saya lumayan dekat dengan almarhum dan sama-sama berasal dari etnis etnis Pakpak, Sidikalang Kabupaten Dairi. Tapi lebih didasari oleh fakta,  Aziz Angkat adalah pribadi menyenangkan, pimpinan bijaksana serta politisi cerdas.

Rasa kemanusiaan semakin teriris, sebab kematian Aziz Angkat terasa sangat tragis. Dia menjadi korban aksi massa mengatasnamakan demokrasi. Demokrasi tanpa nurani akhirnya berujung duka.

Demokrasi yang dilatari pemaksaan kehendak dan ambisi pribadi/ kelompok berbuah kegetiran dan luka mendalam. Semua umat beragama dan manusia berakal pasti merasa prihatin menyimak aksi massa yang beringas mengatasnamakan demokrasi itu.

Sebagai orang yang sudah lama bergaul dengan Aziz Angkat dan selalu berbahasa daerah Pakpak dengan almarhum semasa hidupnya, saya dan seluruh masyarakat Pakpak di manapun berada merasa sangat kehilangan putra terbaiknya itu.

Seperti diketahui, etnis Pakpak merupakan kelompok minoritas di Sumatera Utara. Tapi, berbekal pengalamannya sejak mahasiswa aktif di HMI, KNPI,  dan dosen di almamaternya IKIP Medan (kini Unimed), Aziz merupakan orang Pakpak pertama yang pernah menduduki posisi sangat penting sebagai Ketua DPRD Sumut.

s6300661

Istri almarhum (Tiurnalis Siregar MPd) dan salah satu putranya tak kuasa menahan kepedihan saat melepas Aziz ke tempat peristirahatan terakhir.

Aziz juga politisi handal hingga dipercaya sebagai orang nomor dua di DPD Golkar Sumut (Sekretaris) dan sudah sekitar 12 tahun menjadi anggota DPRD Sumut. Kendati telah meraih posisi puncak sebagai politisi, almarhum tak pernah sombong. Selalu ramah, murah senyum, suka bercanda dan saya selalu gampang menerobos ruang kerjanya tanpa protokoler.

Sungguh mengenaskan politisi relatif muda itu (51 tahun), yang hingga kini masih tercatat sebagai caleg DPR-RI, terlalu cepat pergi. Tragisnya lagi beliau meninggal sebagai side effect negative praktik berdemokrasi yang mengabaikan fatsun politik, moralitas dan nilai-nilai kemanusiaan.

Aziz Angkat korban kekacauan pemahaman dan praktik berdemokrasi. Dia menjadi ‘tumbal’ kurang sigapnya antisipasi terhadap aksi massa yang sewaktu-waktu bisa mengarah pada chaos.

Sumut berduka, Mikekono pun masih menangis. Tapi semuanya telah terjadi, semoga kejadian memilukan itu bisa menjadi pelajaran bagi semua kalangan di negeri ini agar senantiasa mementingkan harmoni, toleransi, dan nurani dalam menyampaikan aspirasi.

Teddoh deng ngo aku bamu bang, tapi ke nggo laus jolon. Melungun ateku itadingken ke. Kami relakan kepergianmu, segala kebaikan dan jasa-jasamu akan selalu menjadi kenangan terindah. Semoga DIA memberi tempat yang layak di sisiNYA 😥

foto atas dari sini

Selingkuh pun Berperiode !


Soal selingkuh kelihatannya tak pernah selesai dan selalu menarik  dibahas. Kali ini coba diungkap soal tradisi selingkuh, yang dijalani secara periodik alias gonti-ganti pasangan selingkuh setiap satu, dua atau tiga tahun.slingkoeh

Ini true story, seputar kisah perjalanan hidup beberapa teman saya di kota Medan. Kisah memalukan perihal ibu rumah tangga yang terlibat perselingkuhan menjijikkan.

Dikatakan begitu, sebab selingkuh yang dilakoni beberapa teman ini, betul-betul mengiris hati dan memalukan. Pasalnya, mereka melakoni selingkuh seperti halnya jabatan. Tak cuma jabatan ketua saja atau anggota dewan saja ada periodesasinya. Selingkuh pun ternyata berperiode.

Selingkuh periode awal dilakoni bersama teman sekantor. Lalu, selingkuh periode berikutnya dengan mitra kerja. Yang paling parah, periode selingkuh tak lagi mengenal perbedaan asal-usul, usia dan agama.

Ini menyangkut teman dan mitra kerja wanita saya, yang sudah bersuami. Pada awalnya mereka selingkuh dengan pria dengan keyakinan sama. Tak dinyana, setelah periode ini berakhir atau mengalami masa transisi, mereka  enteng saja melakoni selingkuh berbeda agama. Astaghfirullah, betul-betul tak masuk akal. Sangat memalukan, menyedihkan dan memuakkan…!

Para wanita bersuami yang melakoni selingkuh beda agama ini, ada yang berstatus sebagai karyawan di perusahaan swasta, dan ada pula pengusaha kecil menengah, bahkan kini tercatat pula sebagai caleg.

Dalam perspektif agama (Islam), selingkuh sesama penganut Islam saja, dosanya sudah tak ketulungan beratnya. Apalagi selingkuh melibatkan seorang muslimah dengan nonmuslim.

Sungguh, tak terhitung lagi bagaimana berat dosa yang bakal ditanggung. Dosanya sudah berlipat-lipat ganda, dan cuma taubatan-nasuha (tobat sebenar-benar tobat) yang bisa menolong mereka.

Semoga beberapa teman saya yang selingkuhnya pun berperiode serta kebetulan membaca postingan ini, segera sadar dan kembali ke jalan yang benar. Kalau tidak,  kavling di neraka sudah disediakan kepada mereka, dan akan kekal selamanya di sana. Nauzu billah min dzalik.