Pejabat Kita Terjebak Rutinitas


pejabatPara pejabat kita  di pusat maupun daerah, memiliki kecenderungan yang sama. Mereka sudah terkungkung oleh jebakan rutinitas. Acara-acara yang dijalani mengacu pada aturan protokoler dan karenanya cenderung monoton.

Akibat sudah terpola pada rutinitas itu, para pejabat utamanya top figure, sering tak lagi kreatif. Mereka akhirnya lebih banyak bersifat pasif dan menunggu laporan anak buahnya, yang cilakanya lebih banyak bersifat Asal Bapak Senang (ABS) .

Sesekali coba perhatikan agenda kerja para pejabat di daerah Anda masing-masing. Kegiatannya lebih banyak diisi dengan aneka kegiatan seremonial dan rapat-rapat yang terkadang tak jelas outputnya.

Gubernur Sumatera H Syamsul Arifin misalnya, diberitakan media di Medan, dalam satu hari tak jarang menerima kunjungan audiensi 5 hingga 7 lembaga sosial kemasyarakatan dan politik. Yang lebih sering dibahas dalam kunjungan itu cuma sekadar meminta kehadiran  Gubernur membuka acara yang bakal digelar organisasi itu.

Kalau hanya ingin meminta kehadiran Gubernur, mestinya cukup memberikan undangan ke bahagian Sekretariat Kantor Gubernur, atau jika ngebet kali ingin bertamu ke kantor Gubernur, cukup diterima Wagub atau Sekda saja. Tak perlulah Gubernur sendiri menerima semua organisasi yang hendak bertamu.

Karena terpola pada rutinitas itu, alhasil tatkala terjadi bencana di negeri ini, acapkali para pejabat kita tak siap melakukan antisipasi serta mencari alternatif solusi mujarab dalam menghadapinya.

Sebagai contoh, Jakarta, Medan, dan beberapa daerah di Kalimantan, NAD, Sumbar, Sulawesi, dan lainnya, hampir setiap musim hujan tiba, selalu dilanda banjir. Namun hingga kini, belum juga terlihat kiat jitu para pejabat terkait untuk mengatasi banjir di daerah itu.

Alhasil setiap kali banjir datang melanda, upaya-upaya yang dilakukan untuk membantu para korban, selalu bersifat insidentil misalnya memberi bantuan sembako, dll. Sejauh ini belum terlihat solusi yang benar-benar ditujukan untuk mencegah atau meminimalisir kemungkinan datangnya lagi serangan banjir itu.

Padahal insitusi pemerintah seperti Pemprov, Pemkab/Pemko punya Dinas Pengairan, Tata Ruang dan Pemukiman, Jalan dan Jembatan, Kebersihan, Tata Kota, dan lainnya yang mestinya tanggap dan dapat melahirkan alternatif solusi mumpuni mengatasi banjir.

Para pejabat itu mestinya paham, bahwa banjir umumnya terjadi karena maraknya penggundulan hutan, sampah menumpuk, drainase tumpat, dan sejenisnya. Kalau sudah tahu akar masalahnya, kenapa frekuensi banjir yang melanda tak juga berkurang ?

Lagi-lagi mungkin saja hal itu disebabkan, karena para pejabat kita sudah terjebak pada kungkungan rutinitas. Mereka bekerja hanya mengacu pada agenda kerja monoton dan menghabiskan anggaran tersedia, tanpa disertai terobosan terobosan inovatif berorientasi pada penyelesaian masalah yang dialami rakyat.

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 19 Januari 2009, in Budaya, Kehidupan, Politik and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 34 Komentar.

  1. Pertamax nich….🙂

    @mikekono : harganya uda turun..hehehe

  2. Setuju Bro…

    Birokrasi kita cuma menghasilkan robot-robot yang bekerja secara mekanis. Tak ada lagi inisiatif dan kreatifitas yang bisa diharapkan dari kinerja birokrasi seperti ini.

    Kesadaran sebagai Pamong Praja yang berperan untuk memberikan public service tak pernah termanifestasi dalam sikap kerja yang teroragnisir.

    Perlu terapi kejut berskala besar untuk bisa membalik kesadaran yang sudah terlalu lama mengalami sociopathic yang akut. Tabik..🙂

    @mikekono : benar bro, diperlukan shock therapy,
    untuk menggedor
    para pamong yang melempem itu.
    Itulah sebabnya kita butuh
    pemimpin yg strong dan banyak
    gagasan segar yg bs segera direalisasikan

  3. Duh, para pejabat sih kayaknya bukan cuma “terjebak”, tapi udah KEENAKAN dengan rutinitas dan fasilitas tentunya.
    Ahahah.. ooT.

    @mikekono : pas banget, mereka keenakan dengan
    rupa-rupa fasilitas dan pelayanan serba VIP
    sehingga daya kreativitasnya menjadi tumpul
    thanks sista 🙂

  4. saya malah punya spekulasi pejabat daerah selain terjebak pada rutinitas, juga mempunyai kebiasaan pikiran kosong alias suka melamun, Pejabat kita masih suka bermalas-malasan daripada Meng-upgrade diri. Payah..Payah…

    @mikekono : hehehe….benar sekali,
    mungkin ada juga sejumlah
    pejabat yg asik melamun di ruang kerjanya,
    dan sibuk mencet tombol, seenaknya merintah
    ajudan dan bawahan…..hehehe

  5. iya, bener banget, mas agus, sepertinya sudah jarang pejabat yang mau turba dan terjun langsung melihat nasib rakyatnya. mereka seperti bertahta di atas puncak menara gading, memberhalakan status, dan berbagai perangkat status quo-nya sambil membangun kroni. repotnya lagi, mereka sangat menyukai upacara!

    @mikekono : itulah masalahnya mas Sawali, ntah sampai
    kapan mentalitas para pejabat itu begitu terus.
    Kalau kecenderungan itu tak kunjung berubah,
    niscaya rakyat akan semakin menderita
    di atas kebahagiaan para pejabat itu

  6. Selain itu mereka juga tidak berniat menghabiskan Anggaran Daerah untuk hal yang sebenarnya penting. Seperti penganggulangan banjir ini pasti tidaklah murah. Lebih senang menggunkana Anggaran tsb untuk keprluan yang menyenangkan jalan-jalan dll. Thanks

    @mikekono : betul Mbak, pejabat di daerah biasanya
    suka jalan-jalan ke Jakarta. alasannya sih rapat, hehehe

  7. Nampaknya perlu team kreatif untuk masuk kalangan pejabat. Bayangkan jika semua departemen memiliki team kreatif ya…..Pemerintahan yang entertainer saya pikir. Saya kadang nggak ngerti kenapa setiap kota yang nyaris mebgarah ke kota metropolis selalu mengalami banjir ya……??? mudah2an bukan hanya karena pejabatnya saja. Sekali lagi mudahan bukan hanya karena beliau saja. Karena kadang2 rakyat juga mau enaknya doank. Akhirnya saling menyalahkan.

    @mikekono : tim kreatif berupa staf ahli sebetulnya
    sudah ada, memang pejabatnya aja yg lebih suka
    nyantai dan pandenya cuma merintah doang

  8. mereka sudah terbiasa dengan rutinitas itu kayaknya, sehingga sikap mental yang terbentuk rata2 sama semua. makanya jika para pejabat tinggi suatu waktu nanti di pilih dan dicalonkan secara langsung umpamanya dari kalangan profesional, tentunya sikap mentalnya akan sedikit berbeda. akan ada terobosan dan inovasi dalam membangun daerahnya.

    @mikekono : ada benarnya juga, kalangan profesional perlu
    diuji menjadi pejabat (kepala daerah), apakah bs lebih baik
    atau malah sama saja

  9. ya emang seperti itu, buat mereka duduk dijabatan buat ngelancarin usahanya doank…tapi sumbangsih kenegara NOL…..

    dari daftar Wajib Pajak pembayar pajak terbesar dipastikan nama-nama pejabat tidak akan muncul padahal kita juga tahu usaha mereka banyak…..

    @mikekono : itu namanya penguasa merangkap jadi pengusaha
    hehehehe 😦

  10. HHmmm … kalau terjebak rutinitas … sepertinya mereka perlu Golf to Bro …

    What ? Golep ? … rutinitas lagi dong …

    hehehe

    @mikekono : golf ? wow itu bagian dari refreshing kalee ya
    golf boleh juga, asal selesai main, langsung
    bergairah memikirkan nasib rakyat….
    thanks bro 🙂

  11. jangan2 itu hanya awal2nya saja..maklum, kan baru terpilih

    @mikekono : pejabat yang sudah lama juga begitu bro 😉

  12. iyah bener tuch,dR taon ke taon a9endana masih sama..
    masalahna nDa terselesaikan ju9aa..

    wedeww…bihun ju9a,bTw headeRn baru ya ban9?ban9 mike yan9 mana?

    @mikekono : hehehe….bang Mike yg di deket micropon,
    lagi memberi wejangan, ecek-eceknya…….hmmmm 🙂

  13. uhuy!! headernya keren bang !! hehehehe

    @mikekono : ah, jangan ngejeklah yes !

  14. terjebak rutinitas, protokoler, seremonial, hmm… bagi saya bila memang itu yang membuat pembangunan terhambat kayaknya rugi banget deh mereka punya staf ahli, gimana tuh bang?

    @mikekono : itulah masalahnya, staf ahli cenderung
    jadi pajangan saja, menghabiskan dana yg ada ?

  15. Saatnya untuk berubah…tp siapa yg bisa merubah ?
    Saatnya untuk tidak terjebak…tp siapa yg bisa menolak uang ?

    @mikekono : perubahan kelihatannya masih sebatas slogan ?

  16. Ha..ha…nyindir nih…saya berdua suami tidak masuk golongan itu lho Bang…bukan jiwa kita..
    justru rutinitas dan seremonial paling menyebalkan buat kita…lha tapi buat merubah teman teman yang sudah…menahun,mendarah daging…angeeeel banget.

    @mikekono : inggih Bunda, yg dimaksud dalam postingan ini,
    para pejabat di Sumut, Jakarta, dan beberapa daerah lain….
    yang di Yogya ngga ikut menjadi objek pembahasan, sebab
    para pejabat di Yogya memang sudah bagus-bagus,
    saluuut dekh……..matur nuwun sanget

  17. selain tegas dibutuhkan juga pemimpin yang kreatif ya

    @mikekono : pemimpin tegas dan kreatif
    sepertinya masih sulit didapat

  18. Iya kalo terkungkung rutinitas yang sama para pejabat kita tidak inovatif , hiks sangat memilukan

    @mikekono : memilukan, memprihatinkan dan
    mengecewakan

  19. Assalamu’alaikum…

    Dah lama nggak mampir bang mike… 😀

    @mikekono : iya tuh……vae sibuk terus kalee ya,
    silaturrahmi tak boleh terputus 🙂

  20. Waaaa…kalo kawaii ayu sih…asal mikekono sensei senang…
    Sensei, aku mau curhat…aku lagi patah hati nih, hiks…..

    @mikekono : bagaimana Mike mau seneng,
    kl adiknya lagi patah hati….sabar ya……hiks 😥

  21. Halo Bang ….
    (maap Bang, lagi capek nih … just want to say hello ….😀 )

    @mikekono : hmmmm……lagi capek ya ?
    ngapain aja tuh ? jangan pusing-pusing melulu ….
    hehehehe 🙂

  22. Dan…tanpa kita sadari, pejabat ‘kita’ ini bukan mengatur bawahannya lagi tapi bawahannya yg mengatur dia…kemana hari ini, apa pidatonya, jam berapa blablabla, bahkan seolah2 pejabat kita ini tdk pernah lg tidur…super sibuk dgn seremonial.

    @mikekono : botul Lae, super sibuk menghadiri acara
    seremonial, capek tapi tak begitu jelas
    manfaatnya buat rakyat

  23. Menurut saya bukannya dari dulu pejabat kita sudah terlibat dengan rutinitas?? Dan mungkin untuk masa ke depannya (setidaknya dalam beberapa tahun ke depan) akan tetap sama.

    Ini bukan masalah beberapa pejabat saja yang kini berkuasa tetapi masalah mental bangsa ini atau lebih tepatnya para politisi….. Pertanyaannya bagaimana cara merubah mental tersebut?? Jangan2 mental tersebut juga ada pada diri kita sendiri……

    @mikekono : betul bro…..pejabat kita terjebak
    rutinitas, karena faktor mental….,
    kelihatannya mentalitas seperti itu
    sudah sukar diubah……

  24. Wah…. komen saya terjebak akismet??😦

    @mikekono : wow….kenapa bs begitu bro ?

  25. Sbnrnya mungkin gini Bang..
    tadinya para pejabat kita beranggapan kl ga ada kerjaan ntar dibilang makan gaji buta.. lha menghadiri acara2 seremonial kan bisa dibilang kerja jg, tp masalahnya justru mereka tenggelam sendiri dgn kegiatan seperti ini.. susah untuk keluar dr rutinitas yg sbnrnya bisa diwakili ato bila perlu ga ada aja sekalian.

    @mikekono : iya juga kalee, supaya kelihatan lg repot
    dengan kerjaan….akhirnya yg banyak dilakukan
    acara gunting pita, menghadiri seminar, sunatan,
    syukuran, ultah, dan sejenisnya……

  26. Ah sudah tidak kaget itu.:mrgreen:

    @mikekono : tak kaget, karena sudah mentradisi🙂

  27. lha memang mereka ingin jadi pejabat, itu bukan untuk ngurusi rakyat kok, bang. cuma pengen jadi selebritis, yg tiap kali acara senyum2, dadah2, sambil disorot kamera.
    buktinya…ngasih sumbangan saja, harus diliput.

    ya nggak, Bang ?

    @mikekono : betul bro….
    mereka jadi pejabat agar dapat
    menikmati kemewahan hidup
    bak raja-raja dan selebriti…..alaaamak

  28. Abang!!

    aku gak menghina!! aku memuji…tolong bedakan itu!!

    hehehe..

    sore bang..

    ngapainn…

    ngopi ngopi yuuksss

    @mikekono : ohhh….memuji toh
    hehehehe
    ngopi-ngopi, ayuuuuksss
    ajak Om Trainer ya
    ngopinya di mana neh ?
    hihihihi…….. 🙂

  29. mungkin mereka udah nyaman dengan keadaan seperti itu
    dan merupakan salah satu sifat buruk manusia, yakni tidak mau berpaling dari suatu hal jika sudah merasa nyaman dengan suatu hal, kecuali apabila ada hal baru yang lebih nyaman lagi

    @mikekono : sepertinya demikian,
    para pejabat itu sudah merasa nyaman
    pada tradisi yng menjauhkannya dari rakyat

  30. mungkin nggak ada mental pemimpin, keinginan untuk lebih maju, inovatif. nggak ada yang namanya kreator…follower aja. tapi pemimpin kok follower?

    @mikekono : iya mereka miskin kreativitas dan inovasi

  31. Gubernur menerima tamu untuk audiensi…?? gak aneh lae, mereka sangat suka itu, khan ada AMPLOP nya…hahahaha..

    horas lae,

    bonar
    http://sihotang407.wordpress.com

    @mikekono : sorry Lae, komennya kemarin
    lari ke spam….heran juga kok bs begitu

  32. Oh… komen saya sebelum ini nggak ada di kotak akismetnya????????😦

    @mikekono : komen yg terdeteksi sbg spam, sudah
    saya selamatkan……thanks bro

  33. emm..masalah rutinitas dan protokoler, karena ya ngikutin ajah, aturan maennya emang gitu.. ngikutin ‘pakem’nya gitu lho.. kalo misalnya ternyata itu kurang efektif, ya aturan maennya yang diubah dulu.. kecuali dalam acara2 informal, ya akan beda.. Masalah reflek dalam ‘menanggapi’ kejadian bencana, lha kan udah ada mekanismenya.. Tinggal di-aplikasikan ajah dengan benar.. Soal kejadian bencana alam, masing2 daerah, setelah otonomi, memang kudu siaga dan memahami benar dengan apa yang namanya tanggap darurat bencana alam.. Jika ternyata para pejabat di daerah kurang responsif, ya apa mau dikata bang.. Itulah salah satu sebab kenapa seorang pemimpin itu kudu pintar atau pandai, yeah paling tidak dia bisa tau apa yang harus diperbuat / dilakukan..berpikir cepat dan responsif terhadap kepentingan rakyat banyak..😀

    @mikekono : walaupun aturan maennya sudah begitu,
    tapi para pemimpin yg betul-betul ingin mengetahui
    derita dan masalah yg dihadapi rakyatnya, mestinya
    tak terlalu kaku mengacu pd aturan-aturan itu
    seperti yg dibilang mas ariefdj, pemimpin
    harus kreatif dan bijaksana…
    inggih…..matur nuwun 🙂

  34. acara seremonial bisa saja sebagai silaturrahmi atau sekedar rekreasi.. silahkan saja asal punya prestasi nyata buat kemaslahatan masyarakat luas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: