Pemimpin Gagal Harus Dihukum !


sby-megaDosen UI Boni Hargens dan Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) yang dipimpinnya berencana melaporkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke polisi pada 20 Januari 2009 karena dinilai gagal mewujudkan sebagian janji politiknya.

Janji yang gagal dipenuhi itu, kata Boni, antara lain mengurangi tingkat kemiskinan hingga 8,2 persen tahun 2009. Sebab, tingkat kemiskinan sekarang masih sekitar 14 persen atau 40 juta penduduk. Angka pengangguran, yang dijanjikan berkurang hingga 5,1 persen dari angkatan kerja, saat ini masih sekitar 8 persen.(Kps, 15/1)

Apa yang dikemukakan Boni Hargens di atas, tentu tidak mengada-ada. Sebab semua argumentasinya didukung oleh data dan fakta akurat. Yang hendak ditekankan di sini adalah kenyataan, betapa SBY sebagai pemimpin telah terbukti gagal merealisir janji-janji kampanyenya dulu.

Kalau sudah terbukti gagal, sudah sepatutnya rakyat Indonesia mencari pemimpin baru yang diyakini bakal dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dan mencerahkan.

Rakyat Indonesia harus mulai menumbuhkan tradisi menghukum secara legal, para pemimpinnya melalui Pemilu legislatif dan Pilpres 2009. Pemimpin yang telah terbukti gagal harus dihukum !

Dalam konteks ini, rakyat Amerika Serikat pada Pilpres beberapa bulan lalu telah memberikan pelajaran berharga bagi segenap masyarakat dunia, soal bagaimana mereka memberikan hukuman kepada pemimpinnya yang diangap gagal.

Presiden George W Bush Jr sudah dianggap gagal total dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang kepala negara, yang berimbas pada ambrolnya perekonomian AS. Konsekuensinya rakyat AS ogah memberikan dukungan kepada capres yang didukung Bush, John McCain.

Dalam konteks Indonesia, budaya menghukum pemimpin yang gagal, sudah sepatutnya mulai dan sejak kini ditumbuhkembangkan. Tak selayaknya lagi, rakyat dengan mudah melupakan janji-janji politik para pemimpin serta terpesona dengan tutur bahasa dan tampilannya doang.

Momentum Pemilu legislatif dan Pilpres 2009, hendaknya dapat dijadikan rakyat sebagai arena penghakiman terhadap para pemimpin yang banyak menebar janji-janji muluk pada Pemilu 2004 lalu, tetapi janji-janjinya itu urung ditepati.

Indonesia ke depan butuh sosok pemimpin yang strong, berwibawa, tegas, dan senantiasa memikirkan nasib rakyatnya selama 24 jam. Tak cuma berpikir saja, tetapi disertai dengan kebijakan-kebijakan nyata yang dapat mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran.

Untuk itu Indonesia memerlukan sosok pemimpin baru yang fresh, yang diyakini akan mampu membawa negeri ini ke jalan yang benar, menjadikan negeri ini lebih bermartabat dan disegani di seantero jagad.

Pemimpin baru Indonesia itu, hanya dimungkinkan bakal muncul memimpin negeri ini, apabila rakyat mau dan mampu memberi hukuman kepada pemimpin yang saat ini telah terbukti gagal !

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 15 Januari 2009, in Politik and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 34 Komentar.

  1. Komunikasi politik merupakan sebuah tantangan dan perlu dimodernisasikan sehingga tingkat keperdulian politik masyarakat meningkat.
    Sy pilih orang yang perduli terhadap lingkungannya.
    Salam

    @mikekono : setuju mas, komunikasi politik sangat perlu,
    tapi lebih penting lagi realisasi janji2 politik

  2. Dihukumnya dengan cara apa ya Bang?
    Waduhhhh….memang harus di kasih sanksi tuh bener Bang biar bisa pada mawas diri jadi pimpinan

    @mikekono : dihukum dengan cara tak memilihnya lagi
    supaya pemimpin berikutnya lbh hati2
    thanks sista🙂

  3. failure is one step behind of success:D

    @mikekono : hmmmm…..thanks bro🙂

  4. inih yan9 maseh belum tertanam di masy.ind ban9 mike..

    sebaikkna seeh 9ituh ya,harus aDa 9anjaran dari janji2 yan9 tak terpenuhi seperti yan9 dikoaRkan saat kampanye..

    @mikekono : tugas kita bersama
    menumbuhkan kesadaran itu !

  5. belum pernah terjadi tu…..

    sosok yg fresh, memikirkan nasib rakyat 24 jam, dan disegani di seantero jagad, sepertinya blm ada di Indonesia ini bang.

    mencari sosok seperti itu tidak gampang, calon yg muncul skrg masih saja wajah lama…..

    @mikekono : sebetulnya sosok seperti itu ada,
    cuma elite politik kita saja yg masih suka wajah lama.
    Banyak sosok yg fresh di negeri ini,
    sudah saatnya mereka diberi kesempatan
    thanks 🙂

  6. Hmmm… gimana ya?? Rasanya kegagalan adalah hal yang wajar. Kita harus obyektif, bahwasannya di setiap pemerintahan ada keberhasilan dan ada kegagalan. Tidak hanya pemerintahan di negeri ini saja, tetapi juga pemerintahan di negara2 lain. Kalau kita mau “menghukum”. Hukumlah secara fair. Buat dulu standard2 keberhasilan dan kegagalan. Lalu berdasarkan standard tersebut, nilailah keberhasilan/kegagalan pemerintah. Lalu kalau bisa buatlah score keberhasilan pemerintah…..

    Kalau menurut saya, yang adil dikasih kesempatan 3 kali. **halaah* Bukannya kebanyakan ya?? Lha wong presidennya aja dipilihnya maksimal cuma dua kali! Wakakakak……

    Yang penting menurut saya, jikalau pemerintah gagal ataupun berhasil, harus dilihat seobyektif mungkin dan lepas dari pandangan2 politis. Kegagalan adalah sesuatu yang universal, jangankan presiden, wong mahasiswa aja gagal ujian masih diberi kesempatan (emangnya presiden itu mahasiswa huehehe….). Kitapun kalau gagal dalam pekerjaan, mungkin orang masih memberi kesempatan pada kita. Yang penting adalah hukumlah secara proporsional dan obyektif, dan jikalau kita memuji, pujilah juga secara proporsional dan tidak berlebihan….🙂

    @mikekono : betul bro, kegagalan adalah hal yang wajar,
    tapi kalau kegagalannya cukup fatal, tentu sulit dimaafkan
    waktu lima tahun, sudah cukup panjang untuk membuktikan
    dan menilai, apakah sang pemimpin gagal atau berhasil.
    kalau lima tahun dianggap gagal, sepuluh tahun pun
    kemungkinan akan gagal juga
    thanks bro 🙂

  7. Setuju banget Bro…

    Hanya saja Boni Hargens dan LPI rasanya salah alamat kalau mengadukannya ke polisi mengingat ini bukan persoalan pidana tapi persoalan politik.

    Oleh karena itu, kegagalan SBY dalam memenuhi janji-janji politiknya semasa kampanye harus pula dihukum secara politik.

    Cara yang paling tepat adalah dengan mensosialisasikan atau mengkampanyekan secara cerdas kepada masyarakat tentang hasil penelitiannya sekaligus sebagai upaya pendidikan politik bagi rakyat.

    Artinya, ketika rakyat sadar bahwa pilihannya pada Pemilu 2004 ternyata salah, maka rakyat tentu tidak akan memilih lagi untuk kedua kalinya. Selain itu rakyat dalam Pemilu 2009 akan lebih cerdas dan hati-hati dalam menentukan pilihan kemana suaranya akan diberikan. Hanya keledai yang terantuk dua kali pada lubang yang sama.

    Cara yang kedua, adalah dengan melakukan pressure aksi massa kepada MPR-RI untuk menolak pidato pertanggungjawaban SBY sebagai Presiden karena dianggap gagal memenuhi janji-janji politiknya.

    @ Yari NK
    Kegagalan memang hal yang wajar ketika yang menanggung akibat dari kegagalan tersebut cuma diri sendiri seperti contohnya mahasiswa yang gagal ujian.

    Tapi ketika kegagalan itu berdampak pada masyarakat banyak, persoalannya menjadi berbeda. Kita tidak bisa membiarkan setiap kegagalan walaupun kita harus siap berbesar hati menerima kegagalan. Membiarkan setiap kegagalan itu sama saja artinya dengan memberi kesempatan kegagalan untuk terulang lagi.

    Hukuman atas kegagalan, adalah sebuah upaya agar kegagalan tersebut tidak terulang lagi. Artinya, kita harus memastikan bahwa siapapun Calon Presidennya, mereka tidak bisa seenaknya mengobral janji-janji politik yang penuh kebohongan demi keraih kekuasaan untuk kemudian dengan mudah mengabaikan janji-janjinya begitu saja.

    Tabik….😉

    @mikekono : pendapat Anda ada benarnya,
    kegagalan SBY tak bisa dipidanakan
    karena dia berada dalam ranah politik.
    Tapi, dari sisi pembelajaran dan pendidikan politik buat rakyat, langkah Boni Hargens itu dapat dipahami
    thanks saudaraku 🙂

  8. Sorry Bro ada yang lupa….

    Mau nanya…, itu photo di header kalau lihat nuansa birunya apa bukan lagi acara pembekalan kader di Partai Demokrat? Atau lagi ada acara kegiatan di KNPI?😉

    Tabik…😀

    @mikekono : hehehe…..
    soal foto header itu…..cuma untuk bikin lebih fresh aja
    bosan juga dengan theme dan tampilan yang lama…..
    thanks 😆

  9. Kita kan REPUBLIK, bukan kerajaan seperti malaysia bang. Hukumannya paling LENGSER PAksa. Kasian mereka ya…!

    @mikekono :
    sistem apa pun bs memberi hukuman,
    tak memilih lagi adalah hukuman
    yang cukup adil. thanks bro

  10. Hukumannya apa ya ?

    Mmm Boni Hargens dan LPI mudah-mudahan independen juga ya bang … atau ???

    hehehe …

    @mikekono :
    hukumannya, mari kita cari pemimpin baru !
    hehehe…….., ya juga sih, tapi di manapun
    sulit mencari yg benar2 independen
    LSI saja pun sudah mulai diragukan
    kredibilitas hasil surveinya
    thanks abanganda 🙂

  11. @Mahendra

    Nah… justru pemikiran ini yang agak keliru. Mahasiswa mengalami kegagalan tetap saja merupakan kegagalan. Dan sepantasnya juga patut dihukum. Nah, siapa yang menghukum mahasiswa tersebut? Karena dampaknya hanya pada mahasiswa itu sendiri sudah tentu seyogianya mahasiswa tersebut yang harus menghukum dirinya sendiri. Masalahnya anda kita seringkali tidak mau menghukum diri kita sendiri jikalau kita mengalami kegagalan. Jangankan menghukum, membuat komitmen terhadap diri sendiri saja kita tidak berani mau. Seperti contoh, beranikah anda kita seorang mahasiswa berkomitmen (yang sama nilainya dengan janji2 politik) bahwa “Jikalau saya gagal dalam satu tiga mata kuliah saya akan mengundurkan diri sebaggai mahasiswa….”. Nah, coba ada yang berani nggak mahasiswa berkomitmen seperti itu?? Jikalau ia gagal, maka yang menghukum harus dirinya sendiri…..

    Justru dari komitmen dari diri sendiri inilah yang nanti berkembang menjadi komitmen untuk orang lain dan juga komitmen untuk bangsa dan seluruh rakyat. Jikalau seseorang sudah tidak bisa berkomitmen untuk diri sendiri maka jangan harap ia bisa berkomitmen untuk orang lain apalagi untuk bangsa dan rakyatnya, seperti banyak politisi di negeri ini…..

    Nah, walaupun masalah menghukum itu adalah hak pertimbangan individu, namun saya pribadi tetap cenderung untuk menilai setiap kegagalan proporsional dengan keberhasilannya dan tentu saja obyektif dan tidak bias oleh motif2 politik. Hal ini tentu berlaku dalam menilai kegagalan2 orang lain maupun kegagalan2 diri sendiri atau kelompok sendiri…..

    @mikekono : wahhh…..antara Mas Yari dan mas Mahendra
    berpolemik pula di kolom ini…….hehehe
    tapi bagus juga itu, orang-orang pinter
    memang selalu berdebat dan selalu
    ingin mempertahankan argumentasinya
    thanks bro🙂

  12. saya pikir, hukuman perlu dilihat dampaknya.
    Jika malah akan membuat dendam berkepanjangan kayak yang terjadi pada gusdur itu report. kalau dihukum harus dalam porsi yang benar

    seharusnya hukuman datang dari nurani pemimpin sendiri

    @mikekono : exactly mas hilal,
    alangkah mulianya, jika para pemimpin yg dianggap gagal
    dengan legowo menyatakan mundur dan memberi
    kesempatan kepada yg lain, yg lbh potensial
    thanks bro🙂

  13. unsur kegagalan di negeri kita ini sangat subjective…
    masih banyak ketidaksukaan dari lawan politik yang tidak fair dan doyan menyerang sambil sembunyi jadi faktor yang tidak bisa dikecilkan artinya…
    seandainya semua berjalan bersama-sama, bersinergi satu sama lain dan ternyata kegagalan ternyata dipicu sendiri oleh sang pemimpin..bila perlu di guiloutinne aja..:)

    salam

    bonar
    http://sihotang407.wordpress.com

    @mikekono : pendapat Lae ada benarnya juga,
    tapi begitulah politik…., memang selalu melihat dari sudut
    kepentingan masing-masing…..syukur-syukur kepentingannya itu
    inheren dengan kepentingan rakyat….thanks

  14. sepakat, mas agus. hukuman terbaik buat pemimpin yang gagal adalah dengan cara tidak memilihnya pada pesta demokrasi 2009. repotnya, masih banyak juga yang tergiur oleh janji2 dan taburan pesona politik yang dihembuskannya.

    @mikekono : begitulah seharusnya mas sawali,
    menjatuhkan pemimpin yg gagal dengan black campaign
    dan character assasination, tak sesuai dengan kultur
    bangsa kita

  15. Sorry Bro…, pinjem kamar bentar buat diskusi setengah kamar sama Bung Yari…

    @ Yari
    Konteks postingan Bro Agus adalah soal menyikapi apa yang dilakukan oleh Boni Hargens terhadap SBY yang tidak memenuhi janji-janji politiknya semasa kampanye. Bukan soal mahasiswa yang tidak lulus ujian.

    Jadi cerita mahasiswa tidak lulus ujian itu tidak bisa digunakan untuk menganalogikan SBY yang tidak memenuhi janji-janji politiknya semasa kampanye.

    Saya setuju bahwa setiap orang harus punya komitmen dengan dirinya sendiri terlebih dulu sebelum berkomitmen dengan orang lain. Itu das solen, apa yang seharusnya.

    Sementara apa yang dilakukan oleh SBY adalah das sein, apa yang terjadi. Jadi pendapat yang sampaikan itu didasarkan atas apa yang terjadi, bukan pengandaian seperti halnya “seandainya seorang mahasiswa gagal ujian”

    Oleh karena itu, saya mengatakan bahwa SBY harus ‘dihukum karena ternyata tidak menepati janji-janji politiknya semasa kampanye. Karena ini persoalan politik, maka saya tidak setuju dengan Boni Hargens yang ingin melaporkannya kepada kepolisian.

    Saya berpendapat, karena ini persoalan politik lebih baik diberi sangsi politik pula. Yaitu dengan tidak memilihnya lagi. Atau memberi pressure kepada MPR untuk menolak pidato pertanggungjawaban SBY sebagai Presiden.

    Ini akan memberikan pembelajaran kepada rakyat agar bisa menggunakan suaranya dengan lebih cerdas pada PEMILU. Dilain sisi, ini juga akan memberikan pembelajaran kepada siapapun yang ingin jadi Presiden agar tidak mengumbar janji-janji politik yang menggiurkan rakyat, tapi pada akhirnya tidak mampu dipenuhi.

    Sekali lagi ini soal SBY yang tidak menepati janji-janji politiknya semasa kampanye.., bukan soal mahasiswa yang gagal ujian…

    Senang berdikusi dengan anda… Tabik..🙂

    Makasih Bro Agus ‘Mikekono’ Salim sudah pinjami kamar… Tabik😉

    @mikekono : mas Mahendra benar,
    pemimpin yang gagal memang kurang pas dilaporkan ke polisi.
    Pemimpin gagal harus dihukum lewat mekanisme konstitusional yang berlaku, yakni pada Pilpres nanti.
    Tapi rakyat kita yang terkenal pemaaf itu, acap blm bisa membedakan mana pemimpin gagal dan berhasil.
    Thanks bro 🙂

  16. Alamaaak … beberapa hari nggak menyambangi blog Bang Mike, sudah banyak yang berubah. Maap Bang, bukannya saya lagi sombong (hehe), tapi beberapa hari ini memang nggak sempat blog walking. Posting pun baru hari ini sempat.

    Bang, saya lama melototin header Bang Agus yang baru, saya tatap dari dekat, dari jauh …. tapi kok masih ragu juga. Emang itu foto Abang ya? Kok kayaknya beda dengan yang biasa …. qiqiqiqi ….

    Ragu yang kedua, di postingan ini Abang napsu banget (halah!) menghukum SBY, tapi jaket biru itu kok seperti warna Partai Demokrat ya? Atau Abang napsu menghukum SBY agar Abang bisa menggantikannya jadi Capres dari Demokrat? 😀 😀

    Oooo … boleh jadi birunya itu bukan biru Demokrat, tapi biru PAN. Walah, kalau ini berat Bang, mosok mau bersaing sama AR atau SB … Mending bersaing sama saya aja Bang (tapi bikin partai dulu, Partai Bloger … 😀 ).

    Lha terus, foto Megawati itu apa hubungannya dengan postingan Abang? (saya baru tahu kalau jari-jemari Megawati ternyata lentik juga …🙂 )

    Tentang ukuran kegagalan, bagaimana kalau dibuat standar kegagalan yang bisa diterima/ditolak? Misalnya, tercapai diatas separuh target dianggap berhasil, dibawah separuh target dianggap gagal. Jadi misalnya :

    Kemiskinan rakyat Indonesia semula 20%. Dijanjikan turun menjadi 8%, berarti target penurunan adalah 12 persen. Kalau ternyata sekarang kemiskinan masih 14%, berarti penurunan hanya tercapai 6%, atau separuh dari target. Nah, baru diputuskan, pencapaian yang hanya separuh target itu dinilai ‘gagal tanpa ampun’, ‘gagal tapi diampuni’, ‘berhasil tapi mengecewakan’, ‘berhasil dengan catatan’, atau ‘dianggap berhasil’ …..

    Halah, kok repot amat yaa …. ganti aje kenappee ??

    @mikekono : kl Mbak Tuti, sang novelis legendaris yang sombong, itu mah wajar dan masih bisa ditolerir.
    Tapi, kl Mikekono sombong, hmmm…apa kata dunia ? 😦
    Btw, kan Mbak Tuti pernah bilang, kok foto-foto saya kecil-kecil semua. Eh giliran dipajang besar-besar sebagai header, kok malah dibilang ngga kenal. Piye toh…….,
    bedanya kan cuma ngga pake kaca mata hitam aja
    Soal baju birunya itu….kebetulan aja kaleee,
    tak ada kaitannya dengan mereka itu
    Apapun bajunya, yang penting saya tetap menganggap Mbak Tuti sbg saudara…….ehem, boleh kan !😉
    hehehehe 🙂

    Oooops….hampir kelupaan
    soal foto Mega itu ikut dipajang, Mbak Tuti sendiri pasti bs menafsirkan maksudnya….., sesuai dgn judul postingan itu
    syukran katsir

  17. setuju bang….pemimpin gagal jangan dipilih lagi. apalagi yang tidak memenuhi janji-janji muluknya selama pemilihan, dan sepantasnya kita sebagai rakyat juga harus belajar untuk tidak semerta-merta percaya dengan janji-janji dan tebar pesona semata…agar bisa benar-benar memilih yang terbaik.

    @mikekono : oke, mari sama-sama memilih pemimpin baru
    yang diharapkan bakal bisa berbuat lbh baik
    dan memberi pencerahan bagi rakyat. thanks bro

  18. Nah, ternyata memang lebih jelas foto yang gede kan Bang. Apalagi yang seukuran baliho kampanye … hehehe …

    Apa pun bajunya, yang penting orangnya. Setuju, Bang. Dianggap saudara oleh bang agus? Whoa …. terimakasih sekali (sst … ntar kalo udah jadi anggota Dewan Yang terhormat, jangan lupa sama saudara Abang yang di Yogya ini ya … )

    Foto Mega saya pertanyakan, soalnya di postingan Bang Agus nggak nyebut-nyebut ibu itu. Lha kenapa foto Gus Dur nggak dipasang juga? Berarti Bang Agus menilai dia presiden yang berhasil?

    @mikekono : hehehe……kan ngga apa-apa saya sesekali
    nampang dgn foto yg jelas dan terang-benderang…..
    betul, sy merasa identitas golongan, asal-usul tak terlalu
    prinsipil. yang penting persahabatan/ persaudaraan
    tak terkait dengan ‘baju’ dan status
    Foto Mega dipajang karena memang
    termasuk pemimpin gagal, sementara Gus Dur,
    wah soal itupun Mba Tuti sudah tau, ya podo wae
    ……..hmmmm🙂

  19. kegagalan adalah sebuah pintu dari kesuksesan😀

    @mikekono : asal jangan gagal melulu….hehehe😦

  20. SBY dan Megawati dikawinin aja, biar mereka bikin rumah tangga sendiri. Yang satu pendiem, yg satu tukang matut-matut di kaca tivi, jadi kloplah. SBY bapak rumah tangga, Megawati ibu rumah tangga.

    Tuan kadinya? KPU… syaratnya mesti kayak Mulyana yg pernah masuk penjara.
    Saksi2nya? Yusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Taufik Kemas.

    Panitianya? Andi mallarangeng, Pramono anung, anas urbaningrum, mardiyanto, dll.

    nah, keperluan yg laen-laen, kyk pagar ayu, petugas keamanan, tukang parkir, dll …. bang Ujung lah yg nambahin ya … hihihihi

    Nah, anak yg dilahirkan dari pasangan ini, kita pinjam saja istilah Pak Taufik Ismail: “Malu Aku jadi Orang Indonesia”

    ===
    NB: ganteng kali gambar abang itu. Macam pernah aku liat hahahaha …😛

    @mikekono : gimana mau dikawinin, wong mereka
    saja sudah lama tak bertegur sapa……hehehehe
    tapi perpaduan keduanya memang cukup klop…..?
    btw, wacana pemikiran Mas Nirwan
    soal ‘perkawinan’ itu
    cukup brilian dan cerdas, tak kalah dengan
    Amien Rais……..hmmmm 🙂

  21. @Mahendra

    Yang dipermasalahkan saya di sini bukanlah masalah ‘bersalah’ atau ‘hukumannya’. Memang benar pemimpin yang salah harus ‘dihukum’. Hanya saja melihat atau mempertimbangkan sesuatu secara proporsional jauh lebih perlu. Itu yang ditekankan oleh saya. Karena itulah ciri masyarakat maju.

    Sementara apa yang dilakukan oleh SBY adalah das sein, apa yang terjadi. Jadi pendapat yang sampaikan itu didasarkan atas apa yang terjadi, bukan pengandaian seperti halnya “seandainya seorang mahasiswa gagal ujian”

    Seluruh apa yang terjadi yang dikaitkan dengan “janji” seperti kasus SBY (dan juga kasus2 pemerintahan lainnya) ini juga berawal dari “pengandaian”. Atau bisa saja dirubah begini dalam kasus si mahasiswa: “Saya berjanji jika saya gagal ujian……..” (janji pada diri sendiri). Nah, itu lebih tegas lagi kan?? Ada yang berani ngggak😉

    @mikekono :
    Mas Yari dan Mas Mahendra sama-sama
    benar dan sependapat soal pemimpin gagal
    mesti dihukum. Mungkin hanya cara pendekatan
    dan perspektifnya saja yang berbeda 😉

  22. Wah… ada yang lupa sedikit……

    Jadi kesimpulannya begini, janji2 politik kita memang sudah mengetahui bahwa itu adalah hal yang gombal. Karena janji tersebut memang ‘diperlukan’ dalam kampanye. Di manapun juga begitu. Nah, sekarang kita sendiri juga ‘menuntut’ para tokoh politik untuk ‘berjanji’……. Masalahnya apakah kita juga beranggapan bahwa politisi2 yang tidak berjanji lebih baik walaupun nantinya tidak berprestasi apa2? Apakah nanti sebaiknya para politisi tidak usah berjanji dalam kampanye mendatang?? Bentuk kampanye seperti apa dong ya yang nanti tidak mengobral janji? Karena berbicara dalam talk-show saja mungkin dikira udah berjanji………

    Saya sendiri juga melihat pemerintah banyak kegagalannya, namun tentu saya juga melihat pemerintah ada keberhasilannya. Yang jelas saya berusaha untuk menilai sesuatu secara obyektif. Dan yang jelas juga, saya tak berhak ikut2an menilai pemerintah karena saya sendiri waktu itu adalah golput😉

    @mikekono : ya….setiap politisi memang selalu
    berjanji dalam kampanyenya, ada yg berusaha merealisir
    janjinya….lbh bnyk pula yang lupa pada janji2nya itu
    btw, semua rakyat berhak menilai pemimpinnya
    thanks bro

  23. Yang jelas si boni itu bukan dari partai demokrat yah…heee..tapi wong sekarang ini pilihan banyak kok..saya pribadi senang sekali dengan pilihan yang banyak kayak gini..nggak cuman 2 atau 3 candidate aja…soal si boni, ya sudahlah apa kata dia aja. seems that semua orang pada cari muka dan menonjolkan diri masing masing menjelang pemilu 2009…kasi dah…

    @mikekono : si Boni berasal dari mana tidak terlalu penting.
    Yang pasti ide dan gagasannya lumayan berani
    dan patut diapresiasi….thanks bro

  24. Banyak petinggi negeri kalo sudah naik tahta, pasti ia tidak melaksanakan janji2 yang pernah diumbarnya dulu semasa belum memimpin………kawaii ayu butuh pemimpin baru yang benar2 bisa mempertanggungjawabkan kepemimpinanya………Mikekono sensei, ayo calonkan diri jadi Presiden, kawaii ayu dukung deh, he he he…..
    Sukses selalu untuk sensei

    @mikekono : kalau saya jadi calon presiden,
    paling banter yg milih Ayu sensei saja….
    Mbak Tutinonka memang mendukung jg,
    tp belum tentu memilih saya…..hehehe 🙂

  25. @ Yari
    Saya setuju…, yang harus dirubah adalah paradigma berpikirnya. Asumsi penilaian bukan pada janji tapi pada track record-nya.., karyanya.

    BUkan pada apa yang AKAN dilakukan tapi apa yang SUDAH dilakukan untuk bangsa dan negara. Ini lebih fair, karena ketika ada yang memanipulasi data akan ketahuan di awal.

    Artinya, kebohongan bisa dideteksi di awal bukan diakhir sehingga tidak perlu ada penyesalan di akhir. Tabik…😉

    @mikekono :
    yang pasti antara Mas Mahendra dan Mas Yari
    sama-sama cerdas dan komentar-komentarnya
    soal politik, cukup tajam kritis dan objektif
    maju terus bro 🙂

  26. Barangkali langkah tersebut baik untuk pembelajaran para birokrat agar tidak “asal” obral janji.

    Menurut saya, mencari kesalahan di dalam dunia politik pasti selalu ada. Barangkali mengukur “derajat kegagalan janji” dibanding para pendahulu adalah lebih bijaksana. Tapi biar bagaimanapun, keberhasilan yang sudah dicapai (termasuk yang diluar janji) perlu juga dipertimbangkan.

    @mikekono : supaya tak obral janji, pejabat
    yg bnyk mengumbar janji palsu mesti ‘dihukum’

  27. Saya liyat poto di atas kok jadi inget ma kesamaan keduanya yaa.. Yaitu sama2 suka MENGELUH dan MEMBALAS KRITIK DENGAN KRITIK >> sibuk membalas pers dan pengamat.
    Wiiii,,udah OoT ni.

    ************************************************

    “Hey masarakat endonesa,,salah elo kalee kenapa milih guwe. kan guwe waktu itu cuma janji.”

    Kita bisa apa?

    @mikekono : hehehe…..betul juga Ocha bilang,
    tapi bisa kok, rakyat bisa…., dengan cara
    tak lagi memilih keduanya……thanks sista 🙂

  28. Emang susah sih kalo pemimin yang mesti satu-satu dimintain tanggung jawab yang “tunggal”.

    Dia menjadi pemimpin karna apa?
    Karna banyak yang milih, toh.. Lha,,bisa nggak tuh yang milih ikutan dimintain pertanggungjawaban?
    Hayooooo…
    Pemilu 2004 Lalu saya enggak milih. Apa lantas saya bisa minta pertanggungjawaban ma yang milih ‘beliau’?? Padahal hidup saya bener2 dipengaruhi pilihan anda2 yang milih loh.

    @mikekono : kl dulu ada ikutan memilihnya, dan
    kini merasa pilihannya keliru, pada Pilpres 2009
    saatnya memilih yang lain ……., hmmm 🙂

  29. Ketika berkampanye memang mudah untuk berjanji, dan yang penting pada saat pemilu bisa terpilih. Masalah memenuhi janji lihat saja nanti jika sudha terpilih, kalau untung syukur bisa dipenuhi kalau yang tidak ya sudah hal biasa bagi Politikus. Thanks and take care Bro.

    @mikekono : kl cuma bisa berjanji dan janji
    tak ditepati, kan wajar nanti tak dipilih lagi……
    thanks sista

  30. waaaah…biruuuu nih ye….tapi biru yang sekarang banyak biru je…Biru matahari,biru bintang ,biru yang lain…juga ada…he..he…Asal nggak Haru Biru saja.
    Nah…itulah…soalnya rakyat kita tidak mau mengerti apa ukuran ukuran untuk menilai….jadi…yah…siapa yang mau menghukum..Apalagi sudah ada iklan…”terimakasih…BBM turun…”…waduuuh….melas tenan..

    @mikekono : hehehe……biru nih ye, betul Bunda
    asal tak mengharu biru
    kl rakyat tak mengerti, tugas Bunda
    dan Pak Wali untuk membuat mereka mengerti
    hehehe……inggih Bunda 🙂

  31. @Mahendra

    Nah…. apakah anda yakin bisa mendeteksi 100% siapa2 yang bakal mengobral janji mana yang tidak?? Saya kok tidak yakin…. Kalau yakin, siapa2 saja?? Pasti jawabannya tidak bisa to-the-point😉

    Sesuatu yang SUDAH selalu berkaitan dengan sesuatu yang AKAN.

    @mikekono : dipersilahken kepada bro Mahendra
    untuk menanggapinya……….hmmmmmmm 🙂

  32. ..yeah.. sampai saat ini, belum ada pilihan yang lebih baik bang.. Btw, koq dosen melaporkan masalah pelaksanaan janji politik yang terkendala ke polisi sih ? ..Lagipula, parameter pembandingnya gak ditampilkan, kan jadi kurang fair.. Mestinya, kalo emang mau memberikan pendidikan politik beneran ke rakyat, ya kudu dijelasin.. Saat si A memimpin, kondisinya di awal X(a), targetnya Y(a) dan kondisi akhirnya Z(a), terus saat si B, kondisi awalnya X(b), targetnya Y(b) dan kondisi akhirnya Z(b)…dst.. Dan kondisi2 yang dimaksudkan tersebut, bisa ajah akan berbeda buat setiap orang untuk dijadikan pijakan mendasar dalam menentukan seorang pemimpin negeri ini.. Selain itu, harus juga di-analisis kenapa bisa terjadi kegagalan2 tersebut.. Atau juga, dari sekian banyaknya janji2 politik tersebut, seberapa besar yang tercapai, kalo emang masih belom tercapai, tapi prospeknya meyakinkan untuk dicapai, ya kasih kesempatan lagi. Tapi jika emang bener2 gagal total, ya cari yang laen dah.. Btw, lebih baik pemimpin yang menjanjikan sesuatu dan kemudian berusaha mewujudkannya daripada pemimpin yang gak punya janji apapun akibat gak tau yang harus dilakukan..😀
    …bersambung…

    @mikekono : SBY mungkin sedikit lebih baik,
    dibanding capres-capres yang ada saat ini…
    tapi kita srng terlalu gampang mengatakan,
    tak ada pilihan yg lebih baik…..
    padahal alternatif pilihan blm dimunculkan,
    btw, yang hendak ditekankan di sini,
    rakyat Indonesia layak mendapatkan
    pimpinan yg lbh baik dibanding SBY
    karenanya sudah saatnya para pemimpin
    muda diberi kesempatan…..
    kl blm diberi kesempatan, terlalu dini
    menyatakan mereka tak punya kemampuan
    bersambung.…….

  33. LAGI-LAGI BONI HARGEN, ANTEK PDIP. DENDAM KESUMAT, KEDENGKIAN, CACIMAKI SEOLAH SUDAH MENDARAH DAGING PADA ORANG2 PDIP YANG DIWARISI DARI PIMPINANNYA, YAITU MEGAWATI.

    MANUSIA BEJAT (BONI HARGEN) INI SANGAT SUKA SEKALI PROVOKASI, MENEBAR FITNAH, DAN MENGADUDOMBA UMAT UNTUK KEPENTINGAN PRIBADI DAN KELOMPOKNYA.

  34. Mas aku percaya yang namannya seleksi alam, andai Megawati punya kemampuan yg lebih, rakyat pasti akan memilih kembali, begitu juga kalau Sby gagal dalam menjalankan pemerintahan ini, rakyat akan kapok, kalau memang harus di hukum karena ada tuntutan karena kegagalan Sby, ternyata rakyat dalam pemilu nanti memilih Sby sebagai pemenang, apakah pantas juga yg menuntut sebelumnya dituntut oleh yg rakyat yg memberikan kemenangan kepada Sby dalam pemilu nanti?kalau menurut saya, ini merupakan bentuk hukuman bagi yg kalah he he he he he, wong yg menghukum rakyat sendiri dengan tidak dipilihnya sebagai pemenang ya nggak mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: