Sesama Caleg pun ‘Asah Parang’


berantemPemilu April 2009 sudah di ambang pintu. Tak heran, sesama calon anggota legislatif (caleg) pun kini terpaksa ‘mengasah parang’. Apa pasal ? Penyebabnya tiada lain, perkelahian antar caleg kini semakin meluas dan memanas.

Imbas penetapan caleg terpilih berdasarkan suara terbanyak, menyebabkan wilayah pertempuran di antara caleg tak lagi sebatas perang antar partai, melainkan sudah memasuki teritorial sendiri.

Perang saudara di internal parpol tak bisa dielakkan, karena suara terbanyak mengharuskan sesama saudara itu berjuang menyelamatkan diri masing-masing.

Demi menyelamatkan diri masing-masing pula, mau tau mau, suka atau tidak suka, para caleg itu sejak dini mesti ‘mengasah parang’ agar bisa bersaing dan tidak mudah dipecundangi lawan.

Lalu bagaimanakah cara caleg itu ‘mengasah parang’ masing-masing ? Caranya tiada lain dengan menempuh berbagai intrik menghalalkan segala cara (Machiavellism) untuk memikat dan meraih simpati calon pemilih di daerah pemilihannya masing-masing.

Perang spanduk dilancarkan, kaum kerabat pun dikerahkan. Iklan di media massa cetak, elektronik (tv/radio), dunia maya pun terus diluncurkan. Bahkan black campaign pun dihalalkan.

Cilokonya, ‘asah parang’ tersebut akhirnya menjurus pada retaknya silaturrahmi dan kekeluargaan antar caleg yang sebelumnya berasal dari keluarga dan habitat (partai) yang sama.

Mereka yang dulunya sohib kental dan selalu giat membesarkan partai, kini saling menjatuhkan. Mereka mati-matian ‘berkelahi’ dan mengasah parang masing-masing agar lebih tajam dan mengkilat, demi meraih tujuan akhir : menjadi anggota legislatif.

Padahal menjadi wakil rakyat sejatinya merupakan warga kelas dua, sebab posisinya cuma sebagai wakil-nya rakyat. Demi posisi warga kelas dua itulah, mereka rela ‘mengasah parang’. Alaaamak

foto diambil dari sini

About mikekono

politisi dan pemerhati sosial, yang selalu berpikir terbuka dan toleran pada perbedaan pendapat

Posted on 10 Januari 2009, in Politik and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 23 Komentar.

  1. nah, itu malah menjadi pertanyaan buat saya, Bang Mike.
    apa motif di balik itu ?
    sepertinya kok mereka bela2in buang duit, tenaga, dan lain2 bahkan dengan teman saja bisa tega gontok2an, ‘hanya’ untuk menjadi wakil rakyat.

    ingin menjadi wakil rakyat dalam arti sebenarnya dengan mengemban amanat sepenuh hati ? ah, rasanya kok susah mencari orang seperti itu.
    apakah masih ada, orang yang idealis abis ? saya kok pesimis.

    selamat sore Bang. apa kabar ?🙂

    @mikekono : motifnya sudah jelas :KEPENTINGAN
    demi kepentingan ingin duduk jd anggota legislatif,
    semua rela dikorbankan, termasuk pertemanan😉

  2. wooo….saya ketua kelas di sini. komen no. 1 !

    @mikekono : semoga bs jd ketua kelas yg baik

  3. susah memang minta nomor urut dicabut udah diturut
    tetap saja bikin ribut, bahkan sesama teman sendiri

    @mikekono : ya begitulah….ribut terus, terus ribut

  4. Bro…, ini salah satu sebabnya saya bikin tulisan ini… Tabik…🙂

    @mikekono : ohhh…….mantap itu bro

  5. Ujung2nya duit…tipikal duit mudah dan gak halal adalah membuat semua jadi buta kalo perlu bunuh2an…

    @mikekono : betul bro, ujung ujungnya
    duit…duit…dan duit

  6. Itulah sifat politikus manusia bang, jikalau kepentingan individunya ‘terancam’ maka walaupun ‘tinggal dalam 1 rumah’pun tetap akan asah parang, tidak peduli ia sudah tinggal seatap lama ataupun seakrab apapun, tidak ubahnya ia menghadapi orang yang sama sekali asing. Hasilnya?? Kepentingan bersama sudah pasti terabaikan…..

    So, bang, apa di negeri ini perlu dibuat semacam kode etik bagi para politikus caleg itu ya??

    @mikekono : usulan yang jitu bro.
    sepertinya perlu ada kode etik politikus ?
    tapi yg namanya Indonesia,
    aturan apapun pasti akan dilanggar juga….

  7. hmmm emang aneh bangeti ya bangsa ini… seharusnya kan jadi legislatif itu repot.. kok banyak yg mau ya… berdoa semoga kita bukan termasuk orang-orang yang ndeso… amiin..

    @mikekono : jd legislatif memang repot,
    tapi dompetnya tebel……..!

  8. aduh kalau sudah maen-maen parang, ngeri saya…
    meskipun itu maksudnya bahasa kias, tapi sebenarnya bisa saja terjadi perang parang-parangan, klu mereka belum siap kalah dan menang di pemilu april 2009.

    @mikekono : walau cuma bahasa kias,
    terkadang praktiknya bs lebih ngeri dibanding
    main parang-parangan

  9. satu hal yang tidak saya pahami sejak saya punya hak untuk memilih pada pemilu, para wakil rakyat yang sudah dipilih oleh rakyat justru kebanyakan tidak memihak kepada rakyat, kebanyakan justru mereka menjadi jumawa dan mau dijadikan warga kelas 1 yang punya previlege di mata umum, maunya serba didahulukan, padahal sebetulnya mereka harus menjadi “pelayan” bagi rakyat yang memilihnya. jadi sebenarnya mereka mewakili siapa yah di gedung DPR itu..??
    fenomena2 seperti ini banyak kita lihat dimedia massa, ada wakil rakyat yg jadi “calo” proyek utk daerah, supaya goal anggaran dari pusat, ada yang doyan maen cewek, ada yang doyan jalan2 ke luar negri dengan dalih studi banding, ada juga yang sok suci padahal semua udah tahu kedoknya…
    kalo melihat hal2 seperti ini koq jadinya saya lebih memilih menjadi “penonton” saja, daripada dari 1 suara yang saya sumbangkan menjadi dosa buat wakil rakyat yang saya pilih..

    this is only my opinion..

    horas,

    bonar
    http://sihotang407.wordpress.com

    @mikekono : opini Lae benar semua,
    memang faktanya anggota legislatif,
    sebelum jadi sll semangat teriak membela
    rakyat, setelah jd lupa pada rakyat

  10. Halah!!!

    bikin tulisan jatuh cinta aja lagi bang!!

    @mikekono : hehehe…..sabar, ntar ya

  11. ngeri euy kalo pada ngasah parang..

    pokoknya caleg yang bawa parang ngga akan saya centang namanya ntar.. (loh?!!!):mrgreen:

    *piss Bang…*

    @mikekono : iya ngeriiii itu,
    bagus yu2n caleg yg tak asah parang
    yang dicentang…….*piss yu2n*

  12. akhirnya akan terlihat mana yang pantas menjadi wakil kita, ya to.
    atau jangan2 malah kagak ada..
    wah bingung deh…

    @mikekono : bener, akan semakin mudah menilai
    mana yng pantes dan layak jd wakil kita

  13. wah.. jaedi bingung milihnya…

    @mikekono : tak usah bingung2lah bro

  14. aduch baru cale9 ajah da asah peran9..
    kLu da jadi asah 9oLok taH?

    bener..bener sadis yaa..

    @mikekono : ngeriii….sadis dan membahayakan
    hati-hati wi3nd

  15. jika abang jadi caleg jangan perang asah ya
    mending perang melawan penyakit..OK
    salam hangat selalu

    @mikekono : perang melawan penyakit ?
    penyakit apaan tuh bro

  16. emang susah ya… *UUD* juga

    @mikekono : ya begitulah !

  17. UUD sih alasanya bang pastinya😀

    @mikekono : betul, ujung-ujungnya duit🙂

  18. Iya ya Bro …
    sebetulnya warga kelas satu itu ya Para Rakyat …
    Sementara Anggota Legislatif itu menjadi warga kelas 2 karena mereka “hanya” wakil kita …

    But …
    Aku pribadi cuma bisa berharap …
    Jangan sampai diantara mereka jangan sampai sikut-sikutan deh …

    Salam saya Bro

    @mikekono : harapan abanganda tak kesmpaian,
    sebab sikut-sikutan itu sudah terjadi
    Demi menjadi warga kelas 2,
    mereka rela menghalalkan sgl cara😦

  19. Yaa..begitulah politik.
    Tidak ada kawan yang abadi. Yang abadi itu kepentingan politiknya.

  20. tp bang mike ga ikutan asah parang juga kan ???

    pisss bang……😀

  21. Boleh sih bersaing di dunia politik tapi jangan menghalalkan segala cara….

  22. Wuaaa…
    Asah aja parangnya,,saling bunuh,,trus MUSNAH!
    Tau rasa..

  23. Ada bagusnya Bang.. paling tidak, hal ini lebih menguntungkan partai2 kecil juga para pemilih lebih melihat figur orangnya ketimbang baju partai yang dipakainya.. Sepertinya diperlukan ‘management suara’ yang baik supaya bisa efektif, dan itu sangat sulit.. Saia rasa, untuk caleg bisa jadi anggota leg pada pemilu ini kali, kudu memahami apa yang namanya kapling politik.. Met berjuang ajah ya bang.. Dan jangan lupa agar kelak, loyalitas abang jangan pada partai, tapi pada konstitusi dan kepentingan rakyat banyak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: